Indonesia
NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:912.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Kemarahan Dua Keluarga

     "Bughhh."

     "Bughhhh."

     Ayunan tinju dua kali mengenai peut Ardana, sampai Ardana membungkuk menahan rasa sakit.

    Darah keluar dari mulutnya. Semua yang melihat di sana menjerit kaget melihat Pak Idris dengan spontan meninju perut Ardana, disusul darah kental yang keluar dari mulutnya.

     "Jangan Idris, jangan lanjutkan! Ini bisa membunuh anakmu. Jangan selesaikan dengan kekerasan fisik," tahan Pak Kemal seraya menahan kepalan tangan Pak Idris yang siap meninju perut Ardana untuk ketiga kalinya.

     Tubuh Pak Idris mendorong tubuh Pak Kemal yang menghalangi, ia masih belum puas melampiaskan kemarahannya pada Ardana.

     "Anak kurang ajar. Lebih baik aku habisi, aku tidak habis pikir kenapa ia biarkan istrinya pergi. Ini pasti ada sesuatu serius yang membuat anakmu pergi." Pak Idris berkata dengan wajah yang merah padam. Kalau tidak ditahan Pak Kemal, bisa saja sesuatu yang lebih parah akan terjadi pada Ardana.

     Ardana terhuyung, tangannya menahan perutnya yang sakit. Sementara darah segar, kini keluar dari mulutnya menyusul darah kental yang sudah keluar tadi.

     Dobel sudah penderitaan Ardana, belum reda pipinya yang sakit akibat tamparan sang Mama, kini ditambah perutnya yang kena hantam tinju papanya.

     Melihat sang putra berlumur darah, Bu Karina menghampiri dengan was-was. Meskipun ia sangat kesal dengan Ardana, akan tetapi hati seorang ibu mana yang tega melihat anaknya berdarah-darah lalu mati konyol

     Ardana membungkuk sambil memegangi perutnya yang sakit. Lalu tangannya kiri dan kanan dipegangi Bu Karina dan Bu Lila, kemudian dipapah menuju sopa.

     Perlahan tubuh Ardana dibaringkan di atas sopa.

     Ardana terlihat meringis, sepertinya ada luka dalam yang dideritanya akibat tinju Pak Idris.

     Bu Karina berlari kecil ke dapur, dihampiri Bi Sumi yang ikut panik dari dapur sambil memberikan baskom berisi air hangat dilengkapi handuk kecil untuk mengompres darah di mulut Ardana.

     "Bu, ini air kompres."

     Bu Karina menatap sekilas Bi Sumi, ia merasa malu kejadian ini dilihat asisten rumah tangganya.

     "Terima kasih, Bi Sumi."

     Bu Karina segera kembali menuju sopa. Sementara Bu Lila, meskipun ia merasakan kemarahan yang sama seperti besannya, dengan telaten Bu Lila menyeka darah di sudut bibir menantunya dengan tisu basah yang berada di atas meja.

     "Kenapa kamu membuat kericuhan ini Ardana? Apa yang membuat menantu Mama pergi? Mama yakin kamu telah membuat hal yang fatal sehingga Nayra pergi. Kamu memang tidak tahu diuntung," omel Bu Karina sambil tidak berhenti tangannya mengompres wajah Ardana yang berlumur darah.

     Meskipun hati Bu Karina marah, akan tetapi melihat putranya berlumur darah, ia tidak tega. Hati ibu mana yang akan tega membiarkan anaknya mati konyol? Sebelum kematian itu sia-sia, Bu Karina akan meminta pertanggungjawaban Ardana, yaitu membawa kembali Nayra ke sisinya.

     "Andai saja Papamu tidak dihalangi Bapak mertuamu, sudah pasti kamu akan mati konyol. Tapi, Mama tidak kamu tidak mau kamu mati konyol sebelum kamu bisa hadapkan Nayra ke hadapan Mama," tandas Bu Karina menggebu-gebu.

     Ardana tidak menjawab apa-apa, ia hanya bisa meringis dan menyesali kepergian Nayra atas ulahnya.

     Beberapa meter di samping Bu Karina dan Bu Lila, keadaan Pak Idris kini sudah lumayan tenang setelah Pak Kemal berusaha meredam emosi besannya itu.

     "Kita duduk sama-sama, kita tanya Ardana baik-baik. Kamu harus tahan emosi dulu. Aku juga sebagai Bapaknya sangat marah. Tapi, apakah hanya dengan marah, semua akan bisa diselesaikan." Pak Kemal tidak patah smangat membujuk Pak Idris yang masih belum tenang.

     "Gimana aku bisa tenang Mal, putrimu telah pergi gara-gara anakku? Aku tidak bsia duduk diam membiarkan dia berdiri dengan muka bersalah dan minta maaf. Kalau bisa, aku buat mati saja anak itu." Pak Idris masih mengeluarkan unek-uneknya atas kekesalannya pada sang putra.

     Pak Idris merasa sangat malu dengan Pak Kemal. Bagaimanapun ia harus ikut bertanggung jawab atas ulah Ardana yang membuat Nayra pergi.

     "Iya tentu saja kamu marah, aku juga. Aku ayahnya. Betapa sakit apabila mendengar putriku disakiti. Tapi, kita belum tahu akar masalah yang membuat putriku pergi. Kita harus tanya baik-baik putramu dengan kepala dingin," bujuk Pak Kemal.

     Akhirnya Pak Idris setuju. Setelah emosinya sedikit mereda, ia bangkit menuju Ardana yang kini sudah didudukan di sofa.

     Tatap mata Pak Idris tajam masih diliputi amarah. Begitupun Pak Kemal, ia marah, was-was dan takut. Takut dengan keadaan Nayra yang kini entah di mana.

     "Biar aku saja." Pak Kemal mengangkat tangannya memberi kode biar dia saja yang bertanya pada Ardana.

      "Nak Arda, apakah kamu saat ini sudah cukup baik dan bisa menjawab pertanyaan Ayah?" Pak Kemal bertanya penuh perasaan, padahal hatinya dilanda gelisah dan galau memikirkan. Nayra.

     "Lumayan, Pak. Arda... Arda siap menjawab pertanyaan Bapak," jawab Ardana sedikit gugup. Kepalanya tertunduk tidak berani terangkat.

     "Hal apa yang membuat putri ayah nekad pergi? Karena setahu ayah, meskipun selama ini sikapmu masih datar dan dingin, tapi Nayra selalu bertahan. Padahal kamu tahu, berulang kali ayah pernah tanyakan apakah dia masih sanggup berada di samping kamu, yang tidak pernah menganggapnya? Kamu ingin tahu jawabannya? Dia selalu menjawab dengan tenang kalau sikapmu itu bawaan. Dia juga bilang, kalau dia sudah hamil pasti kamu akan menghangat."

     Pak Kemal berhenti, air matanya tiba-tiba menggenang dan ingin jatuh. Tapi pria paruh baya itu segera menyeka, tidak mau memperlihatkan bahwa ia sangat rapuh karena telah kehilangan putri tercinta.

     Bu Lila mendekat dan memeluk bahu Pak Kemal untuk memberi kekuatan.

     Ardana tiba-tiba bangkit, meskipun tangannya masih menahan sakit di perutnya, lalu kembali bersimpuh seperti pertama tadi saat baru beberapa saat tiba di rumah ini.

     "Semua salah Arda, Pak. Arda yang membuat Nayra pergi." Ardana menangis saat itu juga di pangkuan Pak Kemal.

     Semua mata tertuju pada Ardana penuh emosi.

     "Berikan petunjuk, ke mana mantuku pergiii? Cari petunjuk itu, jangan kau hanya menangis di pangkuan ayah mertuamu untuk menunjukkan bahwa kamu bersalah. Tidak cukup dengan mengakui kamu salah. Tapi kamu harus bertindak dan bertanggung jawab," pekik Pak Idris tiba-tiba, sebelum Ardana kembali bicara.

     Semua yang di sana terkejut.

     Ardana menatap Pak Idris takut. Ia mengangguk dan bangkit perlahan, bahwa ia akan menunjukan sesuatu sebagai petunjuk.

     Ardana segera bergegas keluar dengan langkah diseret menahan sakit menuju mobilnya, dan mengambil buku diary Nayra sebagai satu-satunya petunjuk kenapa Nayra pergi.

     Ardana kembali sembari memberikan buku diary itu.

     Pak Idris merebut buku diary itu kasar. Lalu dengan tidak sabar ia segera membuka dan membaca isi dari tulisan buku dari itu.

     Beberapa jenak keadaan ruangan hening, Pak Idris membaca lembar demi lembar sembari matanya berkaca-kaca.

     Pak Idris tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Ardana. "Jadi...dia pergi karena...."

     Belum selesai bicara, Pak Idris dengan cepat menghampiri Ardana lalu menampar keras pipi Ardana dengan tangannya sekuat tenaga.

     "Papa."

     Bu Karina berpekik terkejut.

     Ardana terhuyung dengan kepala kejedot ujung meja.

1
Ade Chubi
kebanyakan readers kalo tokoh utama nya di khianati suami nya ,readers suka langsung nyuruh minta cerai 😁walopun gak dapet apa apa
Lina Zascia Amandia: Iya Kak betul. Gtegetan readersnya kayaknya...
total 1 replies
Boru Angin
lanjut enak cerita nya 👍
Lina Zascia Amandia: Silahkan Kak... 🙏🙏
total 1 replies
Boru Angin
aneh sekali punya suami kayak gitu
irma hidayat
cerita yang bagus
Tatan Utari
Apa ga salah Bandung / Bogor sampai 6 jam
vera tri
kesel liat nay ..terlalu lemah😢
vera tri
tinggali aj nay..ngapain menunggu orang yg tidak mencintai kita😢
Siti Saodah
pasti yng liatin itu si jalang Tiana
Siti Saodah
harusnya si Tama jangan menggangu rumah tangga nayra, meskipun dia dulu menemani nya dan cuma mau ketemu Nara,dia harusnya menghargai Arda
Siti Saodah
cukup Naira,kasian Arda dia sudah berusaha dan membuktikan kalau dia berubah
Siti Saodah
aku sampai nangis Thor di episode ini😭😭
Lina Zascia Amandia: Ya Allah, maafkan saya ya Kak, udah buat Kakak menangis... 😢😢😢🙏🙏
total 1 replies
Siti Saodah
tapi aku yakin kalau misalnya si Arda gak tau Tiana pernah hamil dia bakal tetep nikahi jalang nya itu
Siti Saodah
bodoh kalo kamu berfikir seperti itu nai,kamu rela di sakiti hanya karena punya mertua baik fikirkan kebahagiaan mu nai
Siti Saodah
dasar laki gak punya perasaan istri lagi demam bisa bisa nya di gagahi
Siti Saodah
ya lagian si nayra pengen banget di sentuh,udah tau kaki dingin gitu masih aja bertahan
Nok Denok
kirain cerita Bagus,,ga taunya cerita Oneng,,lebayy
Lina Zascia Amandia: Terimakasih Kakak. Maaf sudah lebay, karena si Onengnya udh ditinggal pergi oleh Bajuri...
total 1 replies
Zheevanya Putri
penulis ny lebay apa" d ksh note apa apa d note udah gitu pake curhat segala..
Lina Zascia Amandia: Hahhaa... maafkan saya yg lebay ya. Ini bentuk protes sy kepada pihak NT Kak. Masa iya nulis lelah2 tidak dpt reward. Maaf juga mental seseorang tdk sama satu sama lain. Mungkin saat kecewa sy bisanya lebay seperti apa yg kakak katakan. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sholawat Nariyah
AUTHOR MEMUAKKAN..
WANITA di jadikan objek perlakuan semena suami
Lina Zascia Amandia: Maaf ini hanya hiburan. Saya tidak bermaksud memberi kesan kalo wanita adalah objek semena2 suami. Kakak baca sampai tamat dong.
total 1 replies
Sholawat Nariyah
MEMUAKKAN, cerita ini cerminan dari diri Author yg menjadi Wanita lemah saat ada laki laki yg menginjak injak harga dirinya
Lina Zascia Amandia: Gak juga Kak, saya hanya memenuhi permintaan PF dengan tema Air Mata Pernikahan. Jangan terlalu menjudge dr tampilan isi tulisan ya Kakak cantik. Ini hanya hiburan, kalau gak sesuai jangan memojokkan penulisnya atau menuduh penulis seperti apa yang ditulisnya. Kalau tuduhan Kakak tdk sesuai, maka akan jadi dosa untuk kakak lho. Tapi berhubung saya gak mau menjadikan tulisan sy ini dosa bagi orang lain, saya maafkan Kakak saat ini juga agar saya gak menuntut Kakak kelak di akhirat. Alhamdulillah nama Kakak Sholawat Nariyah, banyak2 baca sholawat agar dpt syafaat dr Kanjeng Nabi Besar kita Muhammad SAW. Makasih kehadirannya ya Kakak cantik. Selamat dunia akhirat. 🙏🙏🙏
total 1 replies
Nok Denok
mampir Thor,, kayaknya bagus nih, tp letak paragraf awalannya sedikit mengganggu
Lina Zascia Amandia: Wah, makasih byk Kak.... paragraf awal? Ok, saya cek? Ganggunya di mananya, biar sy perbaiki. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!