Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elysia Valeriana Thessalia von Blumenkron Frederica de la Rochefoucault della Ve
Kejadian heroik Leo seketika dinodai oleh aksinya sendiri yang nekat mencopet dompet sang Elf. Merasa kecolongan, Elf yang sedang memegang batu magisnya langsung memasang batu tersebut ke busurnya.
Seketika itu juga, aura magis yang sangat kuat memancar darinya.
Melihat situasi yang berbahaya, Cheeta dan Rheno bergegas menyelinap untuk bersembunyi.
Namun, saat tiba di tempat intaian awal mereka, mereka baru menyadari bahwa Leo telah menghilang. Kepanikan pun melanda keduanya saat mulai mencari keberadaan Leo.
Di sisi lain, Leo yang masih berada di area peperangan terlambat menyadari situasi. Ia terlalu kegirangan karena baru saja mendapatkan hasil copetan segar dari bangsa Elf.
SLEB!
Sebuah anak panah yang terbuat dari angin padat menancap tepat di depan Leo. Pelakunya tak lain adalah Elf yang tadi baru saja ia selamatkan.
Leo langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. Siksaan dari Altur di masa lalu rupanya berhasil membuat Leo tidak se ugal-ugalan biasanya.
"Aku tahu dompetku ada padamu!" teriak Elf itu geram.
Leo berbalik secara patah-patah dengan wajah yang pucat pasi.
"Cantik sih, tapi seram!" ucap Leo blak-blakan.
Ia tampaknya belum belajar dari gurunya bahwa kata-kata jujur seperti itu selalu sukses membuat orang naik pitam.
Namun, entah apa yang terjadi, efeknya kali ini berbeda pada Elf di depannya. Kalimat ceplas-ceplos Leo untuk kedua kalinya itu justru berhasil membuat wajah sang Elf memerah. Nadanya pun langsung berubah drastis.
"A-apa yang kamu k-katakan?! P-percuma m-memujiku!" ucap Elf itu terbata-bata. Seketika, sikap lugas dan garangnya hilang entah ke mana.
Bagi Leo, perubahan itu malah terasa semakin seram karena perilakunya jadi semakin mirip dengan Altur. Tanpa buang waktu, Leo langsung melemparkan dompet sang Elf kembali. Pada saat yang sama, Cheeta dan Rheno datang bergabung.
"Leo! Kamu baik-baik saja? Siapa dia?" tanya Cheeta cemas.
Begitu mereka bertiga berkumpul, Leo kembali santai. Moto mereka adalah: bersatu kita teguh, bercerai tidak mungkin karena memang tidak ada pernikahan di antara mereka.
Cheeta dan Rheno menatap tajam ke arah Elf, memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan waspada.
"Leo, dia cantik banget!" bisik Cheeta iri. Rheno pun mengangguk, mengakui fakta tersebut.
Mendengar itu, sifat sombong maksimal Leo langsung kumat.
"Hem, dia salah satu fans beratku! Dia sedang marah karena aku menolak memberikan tanda tangan," ucap Leo sambil berpose narsis.
"Dia mencopet ku," potong Elf itu datar.
PLAK!
Mendengar pengakuan itu, tas kecil Cheeta langsung mendarat telak di wajah Leo.
"Kita kan sudah sepakat, jika ada lahan jarahan, maka kita tidak akan mencopet!" omel Cheeta, mengingatkan kembali kode etik profesi yang telah mereka buat bersama.
"Maaf," cicit Leo. Jika menyangkut kode etik, Leo sebenarnya patuh. Namun, entah apa yang membuatnya sampai kebablasan mencopet Elf tersebut kali ini masih menjadi tanda tanya.
"Woy, Elf! Aku sudah mengembalikannya, jadi kita anggap impas, ya!" seru Leo, gengsi untuk meminta maaf secara langsung.
"Rheno!" teriak Leo memberi kode.
Langsung mengerti maksud temannya, Rheno memukul tanah dengan keras hingga menciptakan kepulan asap yang tebal. Sang Elf terpaksa mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.
Setelah asap menyebar dan menghilang, Leo, Cheeta, dan Rheno sudah lenyap dari pandangan. Mereka meninggalkan sang Elf yang kebingungan mencari tahu ke mana arah perginya ketiga orang aneh tersebut.
Setelah merasa berada di tempat yang aman, mereka bertiga duduk bersandar dengan lega.
"Hei Leo, melihat Elf tadi, aku seperti mengingat sesuatu. Apakah kita pernah bertemu dengannya sebelum ini?" tanya Cheeta penasaran.
"Iya, kebetulan aku juga merasakan hal yang sama," sahut Leo sambil mengerutkan kening.
Karena tidak menemukan jawaban, mereka pun melanjutkan perjalanan dengan membawa hasil jarahan seadanya. Berjam-jam pun berlalu.
"Rheno! Air!" keluh Cheeta yang sudah ngos-ngosan kelelahan.
Dengan sigap, Rheno mengeluarkan dua botol air dan membagikannya kepada Leo dan Cheeta, lalu mengambil satu botol lagi untuk dirinya sendiri. Namun, saat mereka sedang minum, insting mereka tiba-tiba menangkap sinyal bahaya. Seketika itu juga, mereka langsung mencabut senjata masing-masing.
"Siapa di sana?!" seru Cheeta waspada.
Tidak ada jawaban. Untuk menunjukkan taji mereka, Rheno tanpa baidari langsung mencabut sebuah pohon bertangan kosong dan melemparkannya ke arah semak-semak yang dicurigai.
"Di sana!" ujar Rheno. Namun, tempat itu kosong.
Tidak mau kalah, Cheeta melesat dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya seraya berpatroli. Ia melemparkan beberapa proyektil belati ke setiap sudut yang menunjukkan gerakan mencurigakan.
"Di sana!" seru Cheeta.
Leo tidak mau ketinggalan. Ia mengubah ukuran pedangnya menjadi raksasa, lalu menebas rata daerah di sekitarnya yang ia anggap mencurigakan.
"Keluar!" teriak Leo lantang.
Sementara itu, Elf yang sejak tadi mengikuti mereka hingga memicu alarm bahaya kini sedang gemetar ketakutan di balik sebuah pohon.
Hutan di sekitarnya hancur berantakan seolah-olah area itu hendak dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Dalam benaknya, sang Elf membatin ketakutan: 'Kekuatan penghancur mereka mengerikan, lalu kenapa tadi mereka malah lari dari hadapanku?'
Setelah beberapa menit menonton pertunjukan horor tersebut, Rheno secara kebetulan mencabut pohon tempat si Elf bersembunyi.
"Hey, di sini!" seru Rheno. Seketika, Leo dan Cheeta langsung merapat.
"Elf?!" seru Leo bingung.
Kini mereka kembali berhadapan. Namun, situasinya tidak seperti sebelumnya. Kali ini, ketakutan murni terpancar jelas di wajah sang Elf.
"Ada apa lagi? Aku kan sudah mengembalikan semuanya?" tanya Leo bingung.
Elf itu hanya diam seribu bahasa.
"Woy! Bicara dong! Apa kamu tidak bisa bicara?!" bentak Cheeta, sudah mirip seperti wanita barbar.
Mendengar bentakan maut itu, Leo dan Rheno serentak mundur satu langkah karena ngeri. Menyadari kedua temannya malah ketakutan pada dirinya, Cheeta langsung mengayunkan tas kecilnya dan menampar wajah Leo dan Rheno berturut-turut.
Plak! Plak!
Leo yang mencoba mencairkan suasana kembali bertanya, "Kamu... tertinggal dari pasukanmu?"
Seketika, Elf itu mengangguk pelan.
Melihat respons tersebut, mereka bertiga saling menatap dan mulai paham apa yang sedang terjadi.
"Tidak tahu arah jalan pulang?" tebak Cheeta.
Elf itu kembali merespons dengan anggukan kepala yang lemah.
"Seorang Elf tersesat! Lucu sekali," ucap Rheno dengan wajah lempeng dan nada lurus tanpa dosa, merangkum seluruh penjelasan rumit dalam satu kalimat menohok.
Wajah sang Elf langsung memerah karena tidak kuat menahan malu. Tak lama setelah mendengar ucapan jujur namun menyakitkan dari Rheno, pertahanannya runtuh dan ia pun mulai menangis.
Cheeta dan Leo langsung melemparkan tatapan sinis ke arah Rheno, seolah-olah ingin berkata: 'Tega banget kamu membuat anak orang menangis!'
Namun, sekelas Hakim Ikn saja tampaknya tidak akan sanggup membuat Rheno merasa bersalah. Rheno tetap berdiri lempeng dengan ekspresi datar seperti biasanya.
Karena hari sudah sore dan sebentar lagi gelap, mereka akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di sana. Kebetulan, tanah dan lingkungan di sekitar mereka sudah menjadi sangat luas dan rata efek dari aksi brutal mereka bertiga saat mencari tempat si Elf bersembunyi tadi.
Saat malam tiba, tempat untuk tidur sudah siap dan api unggun telah menyala dengan hangat. Cheeta sibuk menyiapkan masakan untuk makan malam, sembari sesekali ikut menginterogasi sang Elf yang duduk lungset di dekat mereka.
"Leo, Cheeta, dan Rheno," ucap Rheno memperkenalkan tim mereka. Singkat, padat, dan tanpa ekspresi.
"Nyonya Elf..." lanjut Rheno flat.
"Nona!" sahut Leo cepat-cepat menegur Rheno.
"Oh,iya! Nona Elf! Bisa berikan namamu? Sangat menyebalkan menyebutmu dengan 'si Elf' atau 'Nona Elf'," ucap Rheno lagi, terdengar memaksa sang Elf untuk memperkenalkan diri.
Ke Lempengan wajah Rheno yang tanpa filter itu sukses membuat sang Elf ketakutan. Matanya mulai berkaca-kaca, bersiap untuk menangis lagi.
Melihat gejala itu, tiba-tiba dari arah belakang meluncur tas kecil Cheeta dengan kecepatan tinggi, mendarat telak di belakang kepala Leo.
BUK!
"Jangan biarkan Rheno yang menanganinya!" omel Cheeta kesal, ide menyuruh Rheno yang bicara tadi adalah ulah licik Leo yang malas ribet.
Merasa terdesak oleh aura mencekam di sekelilingnya, sang Elf akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan gemetar.
"Elysia Valeriana Thessalia von Blumenkron Frederica de la Rochefoucault della Vega."
Seketika itu juga, ketiganya terdiam seribu bahasa.
Otak mereka mendadak freeze, seolah-olah baru saja mendengar rumus pemuaian galaksi akibat reaksi kosmik beruntun yang menciptakan paradoks metafora dunia paralel.
Setelah hening beberapa detik yang menegangkan, mereka bertiga kompak berseru dengan wajah blank:
"Ely... Sa... Thesa... Bulhkin... APA?!
"BERSAMBUNG