Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsession

Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?

Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.

Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Lampu-lampu kota besar berpendar seperti deretan permata yang dingin di balik jendela mobil yang gelap.

Sienna duduk merapat ke pintu kendaraan, meringkuk rapat-rapat seolah berusaha mengecilkan tubuhnya hingga tak terlihat. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri akibat pukulan Nico tadi. Namun, rasa sakit di wajahnya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa dingin yang membekukan dadanya.

Di sampingnya, Frederick Nicolas Vance duduk dalam diam. Pria itu menyandarkan kepala pada sandaran jok kulit, matanya terpaku pada jalanan di depan. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya sejak mobil meninggalkan desa. Hanya deru halus mesin kendaraan dan helaan napas pendek dari Nico yang mengisi ruang sempit itu, sebuah keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan keras.

Mobil menyeberangi gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, memasuki kawasan kediaman pribadi keluarga Vance di pinggiran kota. Gerbang itu tertutup kembali secara otomatis dengan dentang berat yang bergema di kegelapan malam.

Sienna menatap ke luar jendela. Sebuah mansion bergaya klasik modern berdiri megah di tengah padang rumput yang terawat sempurna. Lampu-lampu sorot menyinari pilar-pilar batu yang kokoh, menciptakan kesan megah sekaligus angker.

Bagi orang awam, tempat itu adalah simbol kekayaan puncak. Namun bagi Sienna, bayangan jeruji besi penjara justru mendadak terasa lebih ramah dibandingkan bangunan megah di hadapannya ini.

"Turun," perintah Nico datar, tanpa menoleh.

Sienna memegang gagang pintu mobil dengan jemari yang gemetar hebat. Begitu kakinya menyentuh lantai marmer pelataran mansion, udara dingin malam langsung menusuk kulitnya yang hanya terbalut mantel lusuh.

Seorang pengawal tua berjas rapi menyambut mereka di pintu utama, menunduk hormat saat Nico melangkah masuk.

"Selamat malam, Tuan Nicolas. Kamar di sayap barat sudah disiapkan sesuai perintah Anda," ujar pengawal itu pelan.

Nico tidak membalas. Ia menghentikan langkahnya di tengah aula utama yang megah dengan lampu kristal menggantung di langit-langit. Pria itu memutar tubuhnya, menatap Sienna yang berdiri kaku di dekat pintu masuk, seperti seekor hewan buruan yang menunggu dieksekusi.

"Bawa dia ke bawah," kata Nico dingin pada pengawal itu. "Bukan ke kamar sayap barat."

Pengawal tua itu sempat ragu sejenak, menatap Sienna yang tampak begitu rapuh, lalu kembali menatap Nico. "Tuan, bukankah Nyonya Claudia dan Tuan Muda Liam sedang ada di-"

"Lakukan apa yang kukatakan, Pak Vincent," potong Nico dengan nada suara yang membahayakan.

"Baik, Tuan." Pak Vincent menunduk, lalu memberi isyarat pada Sienna. "Mari, Nona."

Sienna menyusuri koridor-koridor panjang yang sunyi. Langkah kakinya menyusuri lantai marmer yang mengilap, melewati lukisan-lukisan minyak berbingkai emas yang memancarkan aura kejayaan keluarga Vance. Namun, langkah mereka bertambah jauh ke arah belakang, menuruni tangga melingkar dari batu yang menuju ke area semi-basemen mansion.

Di situlah tempat tinggal para pelayan dan ruang penyimpanan. Udara di bawah sini terasa jauh lebih lembap dan dingin, membawa ingatan buruk Sienna kembali ke lorong-lorong sel tahanan remaja tempat ia menghabiskan masa mudanya.

Pak Vincent membuka sebuah pintu kayu tebal di ujung koridor. Di dalamnya terdapat sebuah kamar kecil berdinding cat putih kusam. Hanya ada sebuah tempat tidur besi tunggal dengan kasur tipis, sebuah lemari kayu kecil, dan sebuah jendela berterali besi yang menghadap ke dinding pembatas luar mansion.

"Ini kamarmu, Nona," kata Pak Vincent lirih. Matanya menyiratkan rasa iba yang berusaha ditutupinya. "Ada pakaian seragam di dalam lemari. Tuan Nicolas minta Anda bertukar pakaian sekarang."

Sienna menatap kamar sempit itu. Ia menarik napas pelan, mencoba menahan getaran di dadanya. "Terima kasih... Pak."

"Satu hal lagi, Nona," tambah Pak Vincent dengan suara yang sangat pelan, hampir berupa bisikan.

"Jangan pernah membantah Tuan Nicolas. Apapun yang Beliau katakan... turuti saja. Perasaan dendam telah mengubah Tuan Muda kami menjadi orang yang sama sekali berbeda sejak malam itu."

Sienna tersenyum getir. Sama sekali berbeda? pikirnya. Nico tidak pernah berubah di matanya. Pria itu adalah anak laki-laki yang sama, anak laki-laki yang berteriak penuh kebencian sebelas tahun lalu, dan kini kembali untuk menghancurkan sisa-sisa hidupnya.

Tiga puluh menit kemudian, Sienna berdiri di dalam ruang kerja Nico yang luas di lantai dua.

Ia telah mengenakan seragam pelayan berwarna abu-abu gelap dengan celemek putih yang terikat rapi di pinggangnya. Rambut cokelat keemasannya diikat ke belakang secara sederhana. Pakaian itu terasa kaku dan asing di tubuhnya yang kurus.

Nico duduk di balik meja mahoninya yang besar. Di tangannya terdapat seberkas dokumen, catatan riwayat hidup Sienna selama di penjara, termasuk laporan medis dan evaluasi perilakunya.

Di samping meja Nico, berdiri seorang wanita muda bergaun merah marun yang sangat elegan. Rambut hitamnya tertata sempurna, dan wajah cantiknya dipoles riasan mahal.

Isabelle Douglas.

Isabelle menatap Sienna dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang terang-terangan. "Jadi ini perempuan itu, Nico? Pembunuh ibumu yang baru keluar dari penjara?"

Nico tidak segera menjawab. Ia membalik lembaran dokumen di tangannya, membiarkan keheningan yang mencekat menguasai ruangan.

"Dia tidak terlihat seperti pembunuh berdarah dingin," lanjut Isabelle seraya melangkah mendekati Sienna. Sepatu hak tingginya berdetak nyaring di atas lantai kayu mahal. Ia memutari Sienna seolah sedang menginspeksi barang murahan. "Dia cuma terlihat... menjijikkan dan lusuh. Kenapa kau membawanya ke sini daripada membiarkannya membusuk di jalanan?"

Sienna menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai. Ia menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia sudah terbiasa dengan kata-kata kasar seperti itu selama sebelas tahun dipenjara. Namun, mendengar orang asing memperlakukannya seperti sampah di hadapan Nico tetap saja menggores luka di hatinya.

"Posisimu bukan untuk mempertanyakan keputusanku, Isabelle," jawab Nico datar. Pria itu akhirnya menutup berkas dokumen di mejanya dengan ketukan keras.

Isabelle bersedekap, bibirnya merengut sedikit namun matanya tetap menatap Sienna dengan kebencian tajam. Sebagai putri dari mitra bisnis utama keluarga Vance, Isabelle telah lama mengincar posisi sebagai istri Nico.

Ia tahu betul betapa tertutupnya Nico pada wanita lain. Namun, fakta bahwa Nico membawa seorang wanita dari masa lalunya, bahkan seorang bekas narapidana ke dalam mansion ini membuat naluri cemburunya terbakar.

Nico berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Sienna.

"Mulai hari ini," kata Nico, suaranya seperti bilah pisau yang dingin, "kau adalah pelayan pribadiku. Tugas utamamu adalah membersihkan ruang kerja ini, melayaniku saat aku di rumah, dan memastikan kau selalu ada di mana pun aku membutuhkanmu."

Sienna menahan napas, tetap menunduk. "Baik... Tuan Vance."

"Dan ingat satu hal," Nico memiringkan kepalanya, mendaratkan tangannya di bahu Sienna, cengkeraman yang cukup kuat hingga Sienna bisa merasakan buku-buku jari pria itu menekan tulangnya. "Satu kesalahan kecil dari mulutmu atau tindakanmu... akan berdampak langsung pada nenekmu di panti jompo itu."

Dada Sienna berdesir hebat. Nama Nenek Elena adalah senjata paling ampuh yang dimiliki Nico untuk melumpuhkannya.

"Saya mengerti," bisik Sienna lirih.

"Bagus," kata Nico seraya melepaskan cengkeramannya dengan gerakan menghempas yang dingin. Ia menoleh pada Isabelle. "Isabelle, kau bisa keluar sekarang. Aku ada dokumen bisnis yang harus kuselesaikan."

Isabelle tampak tidak puas, namun ia tidak berani membantah Nico saat pria itu sudah memasang wajah dinginnya. Sebelum melangkah keluar, Isabelle sengaja menyenggol bahu Sienna dengan kasar hingga Sienna sedikit limbung.

"Jaga sikapmu, Pelayan," bisik Isabelle tajam di telinga Sienna sebelum melenggang pergi keluar ruang kerja.

Pintu ruang kerja tertutup rapat, menyisakan Nico dan Sienna dalam kesunyian yang tegang.

Nico melangkah kembali ke mejanya, membuka laptop, dan mulai mengetik tanpa memedulikan keberadaan Sienna. "Ambilkan aku kopi hitam tanpa gula. Sekarang."

"Baik, Tuan."

Sienna berjalan menyusuri lorong menuju dapur utama di lantai dasar. Mansion itu begitu luas dan megah, namun terasa seperti labirin yang pengap baginya.

Saat ia memasuki dapur utama yang luas berfasilitas profesional, suasana yang tadinya bising oleh kesibukan para koki dan pelayan mendadak hening total. Puluhan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi, sebagian besar berisi rasa takut, curiga, dan jijik.

Berita tentang siapa dirinya telah menyebar cepat di antara para pekerja rumah tangga. Bagi mereka, Sienna adalah seorang kriminal berdarah dingin yang baru saja bebas.

Sienna berusaha mengabaikan tatapan-tatapan itu. Ia melangkah mendekati mesin pembuat kopi. Tangannya yang gemetar membuat cangkir porselen putih di pegangannya beradu pelan dengan tatakannya, menciptakan suara denting yang kentara.

"Biar aku bantu."

Sebuah suara lembut terdengar dari sampingnya. Sienna tersentak dan menoleh.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian koki bersih tersenyum tipis padanya. Wanita itu mengambil cangkir dari tangan Sienna yang gemetar.

"Namaku Grace," bisik wanita itu pelan, memastikan para pelayan lain tidak mendengar. "Kau pasti Sienna, kan?"

Sienna mengangguk ragu. "Maaf... aku membuat kekacauan."

"Tidak apa-apa, Nak," kata Grace seraya menuangkan kopi hangat ke dalam cangkir. Matanya menatap Sienna dengan kehangatan yang sudah sangat lama tidak dirasakan Sienna dari seorang asing.

"Aku sudah bekerja di rumah ini sejak mendiang Nyonya Christina masih hidup. Aku kenal Tuan Nicolas sejak beliau masih kecil..." Grace mendesah pelan. "Hati Tuan Nicolas terluka sangat dalam sejak malam itu. Beliau bukan orang jahat, hanya saja..."

"Beliau sangat membenciku," potong Sienna pelan, melanjutkan kalimat Grace.

Grace menatap Sienna dengan tatapan sedih. "Berhati-hatilah, Nak. Rumah ini punya banyak mata dan telinga. Jangan percaya pada siapa pun di sini, terutama... Nyonya Claudia dan Tuan Liam."

Sebelum Sienna sempat menanyakan maksud peringatan Grace, sebuah suara tajam memotong pembicaraan mereka dari arah pintu dapur.

"Berani sekali kau bergosip saat jam kerja, Grace!"

Sesosok pemuda bersetelan santai namun mahal melangkah masuk ke dapur. Wajahnya memiliki kemiripan dengan Nico, namun ekspresinya tampak lebih sinis dan liar.

Liam Young Vance.

Para pelayan dan koki di dapur langsung menunduk rapat, menyapa Liam dengan nada penuh ketakutan. Grace menyerahkan cangkir kopi pada Sienna dengan terburu-buru, lalu mundur beberapa langkah.

Liam berjalan mendekati Sienna, matanya menelusuri wajah dan tubuh Sienna dengan pandangan meneliti yang tajam. Ada kilatan aneh di matanya, kombinasi antara rasa ingin tahu dan niat tersembunyi.

"Jadi ini dia..." gumam Liam seraya mengitari Sienna. "Gadis kurir yang menghancurkan keluarga Vance sebelas tahun lalu?"

Sienna memegang nampan porselennya erat-erat, matanya terpaku pada lantai. "Permisi, Tuan, saya harus mengantar kopi untuk Tuan Nicolas."

"Nanti dulu," kata Liam, menghentikan langkah Sienna dengan merentangkan tangannya di depan pintu dapur. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Sienna. "Kau tahu, Kakakku yang terhormat itu sangat terobsesi padamu. Sejak mendengar kau bebas, dia tidak bisa memikirkan hal lain."

Sienna diam mematung, menahan napas.

"Tapi tenang saja," bisik Liam dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Aku tidak seperti Nico. Aku tidak membencimu, setidaknya tidak seperti dia membencimu. Jika Nico terlalu keras padamu, kau selalu bisa datang padaku, Sienna."

Tawaran itu tidak terasa seperti uluran tangan penolong, itu terasa seperti jebakan lain yang jauh lebih berbahaya. Sienna bisa merasakan intuisi bahayanya membunyikan tanda bahaya. Liam Vance tidak peduli padanya, pria ini hanya ingin menggunakan dirinya sebagai alat untuk memprovokasi Nico.

"Terima kasih, Tuan Liam, tapi saya harus menjalankan tugasku," kata Sienna tegas, berusaha menjaga suaranya tetap datar. Ia melangkah melewati lengan Liam tanpa menatapnya lagi.

Liam menatap punggung Sienna yang menjauh dengan senyuman miring yang semakin lebar. "Menarik, Nico membawanya ke sini sebagai tempat pelampiasan dendam. Tapi jika aku mengambil wanita ini darinya... betapa bahagianya melihat wajah Nico yang hancur." batin Liam.

Sienna kembali ke ruang kerja Nico, membawa nampan berisi cangkir kopi yang masih berasap.

Pria itu masih fokus pada layar laptopnya. Sienna melangkah perlahan, meletakkan cangkir kopi itu di sisi kanan meja kerja Nico tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

"Kopi anda, Tuan Vance," bisik Sienna.

Nico tidak menoleh, namun tangannya terulur untuk mengambil cangkir kopi tersebut. Saat jarinya menyentuh cangkir, ia tiba-tiba menghentikan gerakannya. Pria itu menoleh menatap Sienna yang berdiri kaku di samping mejanya.

"Siapa yang mengizinkanmu bicara dengan Liam di dapur?" tanya Nico mendadak. Suaranya serendah guruh yang menggelegar di kejauhan.

Sienna tersentak. Bagaimana pria ini bisa tahu begitu cepat? Apakah ada kamera pengawas di dapur, atau pelayan lain langsung melaporkannya?

"Tuan Liam hanya... lewat dan menanyai saya beberapa hal, Tuan," jawab Sienna jujur, suaranya gemetar. "Saya tidak bicara banyak padanya."

Nico meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja dengan ketukan keras hingga sedikit kopi terciprat keluar. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah maju hingga Sienna terdesak mundur sampai punggungnya menabrak dinding kayu ruang kerja.

Nico mengurung Sienna dengan kedua tangannya menempel di dinding di kiri dan kanan kepala Sienna. Jarak mereka begitu dekat hingga Sienna bisa merasakan napas hangat Nico yang terengah pelan oleh amarah yang tersembunyi.

"Dengar baik-baik, Sienna," desis Nico, matanya yang kelabu berkilat oleh kebencian dan keposesifan yang berbahaya. "Kau milikku. Dendam ini milikku. Jangan pernah berani mencoba mendekati Liam, atau membiarkan dia menyentuhmu."

"Saya tidak..."

"Liam bukan penolongmu!" bentak Nico keras, membuat Sienna terlonjak kaget dan memejamkan matanya rapat-rapat. "Di rumah ini, tidak ada satu orang pun yang akan menyelamatkanmu dari tanganku. Kau mengerti?!"

Aroma parfum tembakau Nico dan tekanan fisiknya yang intens membuat dada Sienna terasa sesak. Ketakutan yang amat sangat melumpuhkan akal sehatnya. Sienna bisa merasakan air matanya kembali menggenang di sudut mata, namun ia menahannya sekuat tenaga agar tidak jatuh di hadapan pria ini.

"Jawab aku!" desis Nico lagi, cengkeramannya pada dinding semakin mengetat.

"I-iya... saya mengerti, Tuan Vance," bisik Sienna, suaranya serak menahan tangis. "Saya mengerti..."

Nico menatap wajah Sienna yang pucat dan gemetar di bawah kukungannya. Untuk satu detik yang sangat singkat, saat melihat sudut bibir Sienna yang masih memar akibat pukulan tadi pagi dan matanya yang dipenuhi ketakutan murni, membuat Nico sedikit puas.

Nico mundur dua langkah, merapikan kembali lengan jasnya dengan gerakan dingin. "Bereskan meja ini dan keluar. Besok pekerjaanmu dimulai dari jam empat pagi."

Sienna tidak membantah. Dengan jemari yang masih gemetar, ia membereskan tumpukan kertas yang berserakan di ujung meja, menyeka cipratan kopi, lalu mengambil nampannya kembali.

Ia menunduk memberi hormat tipis sebelum melangkah cepat keluar dari ruang kerja yang terasa mencekik itu.

Saat pintu kayu tebal itu tertutup di belakangnya, Sienna menyandarkan punggungnya pada dinding koridor yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes pelan, membasahi pipinya yang memar.

Di luar mansion, hujan deras mulai turun membasahi bumi, menyamarkan suara isak tangis pelan seorang wanita muda yang terperangkap dalam sangkar emas beracun. Sienna memeluk dirinya sendiri di koridor yang sunyi, menyadari bahwa perjalanan menuju kebebasannya kini terasa bertambah jauh, jauh sekali hingga tak bertepi.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!