Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12

Tarikan di Balik Pintu

Sehari setelah Den Nara berkata urusanku akan dia tangani, aku justru semakin rajin menghindarinya.

Aku makan sebelum dia pulang, selalu bersama Bu Nah. Kalau harus mengantar berkas ke ruang kerja, aku meminta pekerja lain ikut. Lorong lantai atas tidak lagi kulewati sendirian.

Cara itu berhasil selama setengah hari. Saat makan siang, piringku tetap penuh karena Bu Nah berdiri mengawasi. Aroma manis muncul tipis, lalu kututupi dengan mengupas jeruk. Ketika mobil Den Nara masuk sore hari, aku sedang menjemur pakaian dan segera memindahkan keranjang ke sisi lain.

Dia melihat. Aku tahu karena langkahnya berhenti di pintu belakang. Namun dia tidak memanggil, mungkin sedang mencoba menghormati jarak yang kuminta tanpa pernah mengatakannya.

Rasa bersalah muncul. Aku menolaknya. Menjaga jarak bukan kejahatan.

Bu Nah menyadarinya saat menyerahkan setumpuk pakaian bersih.

"Kau bertengkar dengan Den Nara?"

"Tidak."

"Lalu kenapa setiap dengar mobilnya kau belok seperti dikejar penagih utang?"

Aku merapikan lipatan handuk. "Bu Retno sudah bilang jangan memberi jalan untuk omongan."

"Benar. Tapi menghindar terlalu jelas juga jadi omongan. Bersikap biasa saja."

Biasa.

Tidak ada yang biasa dari lelaki yang mengetahui rahasia tubuhku, menyimpan alamat ayahku dalam map, dan duduk di dekat ruang kerja agar aku berani makan. Setiap kali melihatnya, rasa aman dan takut muncul bersamaan.

Aku membawa pakaian ke lantai atas menjelang sore. Lorong sepi, tetapi pintu kamar keluarga terbuka. Dari bawah terdengar Bu Nah mengatur meja. Aman, pikirku.

Pintu ruang kerja Den Nara terbuka tepat ketika aku melewatinya.

Dia keluar dan hampir menabrak tumpukan handuk di tanganku.

"Sekar."

"Permisi, Den."

Aku bergerak ke samping. Tangannya menangkap pergelangan tanganku, lalu menarikku setengah langkah ke ceruk dinding di balik daun pintu. Gerakannya cepat, tetapi segera melonggar ketika aku menegang.

"Maaf," katanya. "Saya hanya ingin bicara."

Pintu tetap terbuka. Dari posisi kami, tangga terlihat. Kami tidak berada di dalam kamar, hanya di sudut lorong yang terlindung daun pintu.

"Den bisa memanggil saya."

"Saya sudah dua kali. Kau selalu pergi."

"Kapan?"

"Di dapur, saat kau membawa teh. Di taman tengah, saat kau pura-pura memeriksa popok Arka."

"Arka memang perlu diperiksa."

"Tiga kali dalam sepuluh menit?"

Aku kehabisan alasan. Den Nara hampir tersenyum, tetapi segera menahannya.

"Saya bekerja."

"Kau menghindar."

Aku mencoba menarik tangan. Jarinya lepas seketika, tetapi panas bekas sentuhan tertinggal.

"Bu Retno benar," kataku. "Perhatian Den membuat orang curiga. Saya yang akan menanggungnya."

Wajahnya berubah. "Bayu mengatakan hal yang sama."

"Mas Bayu pintar."

"Jangan terlalu memujinya."

Aku menatap Den Nara, lalu nyaris tertawa. "Den cemburu kepada kepala keamanan?"

"Tidak."

Jawabannya terlalu cepat.

Untuk beberapa detik, kami hanya saling memandang. Jarak di antara kami tidak sampai satu lengan. Aroma sabun dari kemejanya terasa bersih. Aku bisa mendengar napasnya berubah ketika setumpuk pakaian di tanganku bergeser dan ujung jariku menyentuh dadanya.

Dia mengambil tumpukan paling atas, mungkin agar aku tidak menjatuhkannya, mungkin juga untuk menciptakan jarak.

"Bagaimana tanganmu?" tanyanya.

"Sudah sembuh."

"Polisi mungkin memanggilmu lagi minggu depan. Bayu akan mendampingi kalau kau mau."

"Iya."

"Soal Sukir..."

Tubuhku menegang.

Den Nara berhenti. "Tidak sekarang. Saya hanya ingin bilang dia belum tahu alamatmu. Keamanan rumah sudah diberi instruksi."

"Den membaca semuanya?"

"Hanya yang berhubungan dengan ancaman."

"Termasuk gudang kayu?"

Diamnya adalah jawaban.

"Saya tidak ingin semua orang tahu."

"Tidak akan. Catatan itu dibatasi pada saya dan Bayu. Bahkan Ibu tidak menerima salinannya."

"Kalau Bapak datang?"

"Gerbang tidak akan membukakan akses. Kalau dia menghubungimu, simpan pesannya. Kalau kau ingin menjawab, jawab dengan pendamping. Kalau tidak, kau berhak diam."

Setiap jawabannya memberi bentuk pada hal yang selama ini hanya berupa ketakutan. Gerbang. Bukti. Pendamping. Hak untuk diam. Ancaman Bapak tidak hilang, tetapi kini mempunyai batas yang bisa kulihat.

"Mengapa Den repot sekali?"

"Pertanyaan itu sudah kau ajukan."

"Jawaban Den belum jelas."

Dia menatapku lama. "Karena saya peduli. Itu cukup jelas?"

Napas berhenti di dadaku. Suara rumah menghilang sesaat, menyisakan kata peduli di antara kami.

Aku menunduk. Rasa malu lama merambat, tetapi sebelum menguasai, suaranya menyela.

"Kau tidak perlu malu atas sesuatu yang dilakukan orang lain kepadamu."

Aku menggenggam kain di tangan. "Mudah bagi Den mengatakannya."

"Benar." Dia menerima keberatanku tanpa membela diri. "Saya tidak hidup di tempatmu. Tapi saya bisa mengingatkan sampai kau percaya."

Kalimat itu membuatku mengangkat wajah.

Den Nara sedang menatap telingaku. Aku tahu telingaku memerah karena tatapannya turun ke sana, lalu tenggorokannya bergerak. Dia membuka mulut, menutupnya lagi, dan akhirnya berkata, "Hati-hati kalau membawa barang banyak."

Aku melihat dua handuk di tangannya. "Itu saja yang Den mau katakan?"

"Tidak."

"Lalu?"

Dia tidak menjawab. Ketegangan kecil memenuhi ceruk. Jari kami sama-sama menahan ujung handuk yang sama. Tak satu pun melepaskan.

Langkah terdengar dari tangga.

Kami mundur bersamaan. Handuk hampir jatuh. Den Nara menangkapnya, sedangkan aku membenahi kerudung dengan tangan gemetar.

Mas Bagas muncul di ujung lorong sambil menelepon. Dia hanya mengangguk kepada kami, lalu masuk ke kamarnya tanpa curiga.

Aku mengembuskan napas.

"Ini sebabnya saya menghindar," bisikku.

Den Nara mengembalikan handuk. "Dan ini sebabnya saya bilang hati-hati."

"Dengan pakaian?"

"Dengan saya."

Jawaban itu menghapus senyumku.

"Den mengancam saya?"

"Saya memperingatkan diri sendiri." Tatapannya turun ke tangan kami yang baru terlepas. "Saya belum tahu apa yang harus dilakukan dengan perhatian ini. Sampai saya tahu, jangan biarkan saya bertindak seolah berhak atas hidupmu."

Kejujuran itu lebih mengguncang daripada rayuan. Dia tidak meminta jawaban, tidak menyebut cinta, dan tidak membuat janji yang belum mampu dipenuhi. Dia hanya mengakui bahwa kedekatan kami bisa menjadi bahaya, terutama bagiku.

Dia masuk ke ruang kerja sebelum aku sempat bertanya apa maksudnya. Pintu tetap terbuka, tetapi jarak di antara kami terasa lebih berbahaya daripada pintu tertutup mana pun.

Aku meneruskan langkah membawa pakaian. Di ujung lorong, aku sadar telapak tanganku masih mengingat pergelangan yang tadi dia pegang.

Di kamar linen, aku salah menaruh handuk putih ke rak seprai tiga kali. Bu Nah yang datang belakangan mengembalikannya sambil menggeleng.

"Katanya tidak bertengkar. Wajahmu kenapa merah?"

"Panas."

"Pendingin lantai atas paling dingin di rumah."

Aku menutup lemari lebih cepat. Bu Nah tertawa kecil, tetapi tidak mengejar jawabanku.

Dan jauh di dalam dada, ada bagian kecil yang menyesal kami terlalu cepat melepaskan tangan sebelum sempat memahami apa yang sedang tumbuh di antara kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!