Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 : Penjara bernama pernikahan.
Suasana di dalam Bentley hitam itu terasa jauh lebih dingin daripada udara pendingin ruangannya sendiri. Keheningan menyelimuti keduanya, berat, mencekik, hanya terpecah oleh deru halus mesin dan bunyi detak jam di pergelangan tangan Damian yang terdengar nyaring seakan menghitung waktu.
Celine duduk di sampingnya, punggungnya lurus namun kaku tak bergerak sedikit pun. Jari‑jemarinya saling meremas di atas pangkuan, menyalurkan segala kegelisahan yang tak sanggup ia ucapkan. Di sebelahnya, Damian menyetir santai dengan satu tangan. Jas hitamnya tetap rapi tanpa kerutan sedikit pun, wajahnya datar dingin, rahangnya mengeras seakan wanita yang duduk di sebelahnya hanyalah udara kosong.
Keheningan itu akhirnya tak sanggup lagi ditahan Celine. Ia butuh sedikit kepastian sebelum langkah kakinya benar‑benar melangkah lebih jauh.
"Um..." suaranya terdengar pecah dan ragu. "Sebenarnya... kamu tidak perlu repot‑repot mengantarku."
Damian tak menoleh sedikit pun. Matanya tetap terpaku lurus ke jalan raya di depannya.
"Aku bisa pergi sendiri ke rumah sakit. Naik taksi saja... atau minta sopir." Celine terus berbicara, semakin cepat karena panik melihat pria itu diam membisu. "Kamu pasti sangat sibuk kan? Ada urusan perusahaan, urusan wilayah utara yang tadi malam..." Napasnya tercekat sejenak namun ia terus melanjutkan. "Ibuku juga pasti kaget kalau tahu aku datang bersama... bersama kamu. Lebih baik aku saja. Sungguh. Kamu cukup berikan alamat ruangannya saja padaku, nanti aku—"
"Berisik."
Satu kata. Diucapkan begitu rendah, begitu datar, namun sedingin es yang menusuk hingga ke tulang. Langsung memotong ucapan Celine seketika.
Celine membeku di tempatnya. Wajahnya seketika memerah panas, malu sekaligus takut karena tahu dirinya terlalu berlebihan.
Damian akhirnya melirik sekilas. Tatapannya gelap pekat, terlihat lelah namun penuh ketidaksabaran dan jengkel yang tertahan.
"Aku mengantar Nyonya Salvatore ke rumah sakit," ucapnya pelan namun tegas menekan setiap katanya. "Bukan karena aku punya waktu luang. Tapi karena itu adalah kewajibanku."
"Kewajiban?" Celine mengerutkan kening bingung.
"Ya." Damian kembali memusatkan pandangannya ke jalan raya. "Ibumu sedang dirawat di rumah sakit ini. Dan sekarang, akulah yang bertanggung jawab penuh atasmu. Luca sudah melaporkan segalanya padaku tentangmu, Nona Atharaya. Termasuk apa yang kau lihat semalam di kantor kekasihmu."
Jantung Celine seakan berhenti berdetak sesaat lalu jatuh terhempas ke perut. Dia tahu. Dia tahu Celine memergoki Jason berselingkuh.
"Kalau aku membiarkanmu pergi sendiri, lalu tiba‑tiba ada seseorang dari masa lalumu yang muncul..." Damian terdiam sejenak, sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum miring yang tak menyenangkan. "Siapa yang akan bertanggung jawab kalau terjadi sesuatu?"
Celine langsung terdiam seribu bahasa. Kata‑kata seseorang dari masa lalu itu menghantam dadanya lebih keras daripada pukulan apa pun. Ia menunduk dalam, kedua tangannya mengepal erat di pangkuan.
Mobil kembali hening sejenak, hanya suara ban yang bergesekan dengan aspal terdengar. Lalu Damian kembali bersuara, nadanya kini lebih rendah, lebih berat dan mendalam.
"Sekaligus..." Ia berhenti sejenak, jari‑jemarinya mengetuk setir satu kali. "Aku ingin membawamu bertemu seseorang."
Jantung Celine kembali berpacu liar, nyaris melompat keluar.
"Seseorang? Siapa?"
Damian memperlambat laju kendaraannya saat lampu lalu lintas berubah merah. Baru saat lampu itu menyala hijau kembali, ia menjawab datar tanpa perasaan.
"Orang yang memberiku batas waktu tiga hari untuk menikah." Ia melirik sekilas ke arah Celine, matanya tak terbaca. "Oma."
Dunia Celine serasa berhenti berputar seketika. Ia belum siap bertemu dengan anggota keluarga Damian yang lain. Apalagi setelah melihat sikap adik Damian pagi ini. Rasanya ia ingin mencabik-cabik mulut adik iparnya itu.
"A‑aku belum siap..." bisik Celine panik, tangannya berkeringat dingin. "Aku bahkan belum pernah bertemu beliau. Aku belum pantas menjadi—"
"Terlambat." potong Damian tegas tanpa belas kasihan. "Kita sudah hampir sampai."
Mobil kembali berhenti di lampu merah berikutnya. Tanpa menoleh, Damian merogoh saku jasnya dan melempar sebuah kotak beludru hitam kecil tepat jatuh ke pangkuan Celine.
"Buka."
Dengan tangan gemetar hebat, Celine membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya tergeletak sepasang cincin, satu untuk pria, satu untuk wanita.
"Pakai." perintah Damian singkat saat mobil kembali melaju pelan. "Mulai hari ini, kau pakai itu setiap saat. Ke mana pun kau pergi. Agar semua orang tahu siapa dirimu. Termasuk Oma."
Celine menatap cincin itu lama sekali, lalu menatap punggung tangan Damian yang memegang setir. Tenggorokannya terasa kering menyakitkan.
"Kalau aku tidak mau?"
Mobil itu mendadak mengerem pelan namun tajam. Damian menoleh sepenuhnya kali ini. Senyum miring yang mengerikan kembali terukir di bibirnya.
"Lalu kau mau aku yang memasangkannya sendiri... di depan Oma dan seluruh staf rumah sakit?" suaranya rendah penuh ancaman halus. "Atau... kau mau Oma tahu kalau pernikahan ini tidak tulus?"
Napas Celine tercekat. Tanpa menunda sedetik pun ia buru‑buru meraih cincin itu dan menyelipkannya di jari manisnya. Cincin itu terasa dingin dan berat, seperti borgol emas yang mengikatnya agar tak bisa lari ke mana‑mana.
"Bagus." bisik Damian terdengar puas. Ia kembali fokus ke depan. "Diam itu jauh lebih manis, Nyonya Salvatore."
Lima menit kemudian, mobil berhenti halus tepat di depan lobi Rumah Sakit St. Carolus. Damian turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Celine dan mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
Celine menatap telapak tangan kokoh itu ragu‑ragu sejenak. Namun akhirnya dengan napas tertahan, ia menyambutnya dan menggenggamnya erat.
Begitu pintu kaca lobi terbuka lebar dan keduanya melangkah menuju ruangan di mana Oma Rosalina di rawat. Semua mata yang ada di depan ruangan itu seketika berbalik serentak menatap mereka.
"Don." sapa mereka hormat, lalu salah satu segera membukakan pintu ganda besar itu lebar‑lebar.
Damian mengangguk pelan, lalu melangkah masuk bersama Celine.
Di dalam ruangan yang luas, hangat, dan penuh cahaya lembut itu, Oma Rosalina duduk tenang di kursi roda di dekat jendela besar. Wanita berambut perak itu perlahan menoleh saat mendengar langkah kaki mereka. Tatapannya yang tajam namun penuh wibawa langsung jatuh pada tangan mereka yang saling bertaut, lalu bergerak naik perlahan meneliti wajah Celine.
Damian menggenggam tangan Celine sedikit lebih erat, seakan ingin menyalurkan kekuatan. Mereka melangkah maju bersama, berhenti tepat dua langkah di depan kursi roda itu.
"Selamat pagi, Oma."
Suara Damian terdengar datar, dingin, tanpa senyum sedikit pun.
Oma Rosalina tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyapu seluruh tubuh Damian dari atas hingga ke bawah. Lalu perlahan pandangannya turun... jatuh tepat pada tangan mereka yang saling bertaut dan berhenti di sana, terpaku pada cincin berlian yang kini berkilau di jari manis Celine.
Senyum tipis yang terasa penuh arti sekaligus mengandung bahaya samar perlahan terukir di bibirnya.
"Jadi kau benar‑benar berhasil..." suaranya terdengar rendah, sedikit serak namun begitu jelas hingga terdengar di seluruh penjuru ruangan. "Kau benar‑benar menikah."
Damian mengangguk sekali, "Ya."
Kini pandangan Oma beralih sepenuhnya ke Celine. Wanita tua itu menatapnya lama sekali, meneliti setiap inci wajah Celine, seakan bisa membaca isi hati dan masa lalunya sekaligus. Celine menunduk, tak kuat menatap balik. Lututnya terasa lemas seakan mau menyerah kalah di bawah tatapan itu.
"Hm." Oma mendengus pelan, tak bisa dibaca apakah itu puas atau belum. "Perkenalkan dirimu."
Celine menarik napas dalam‑dalam, dadanya naik turun menahan kegugupan. Ia memaksa dirinya berbicara meski suaranya bergetar hebat.
"S‑saya Celine Atharaya..." ia berhenti sebentar, mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menyebut kata yang paling berat sekaligus mengubah segalanya. "...Istri Damian."
Hening menyelimuti ruangan itu sejenak, begitu sunyi hingga detak jantung Celine sendiri terdengar nyaring di telinganya.
Oma Rosalina mengangguk pelan, tak mengeluarkan komentar baik pujian maupun cemoohan.
"Bagus." ucapnya singkat, lalu menatap mereka berdua dengan sorot mata yang kembali tegas dan penuh ketetapan. "Karena kalian sudah menikah, Oma tidak ingin kalian menunda lagi untuk segera memiliki anak."
Dunia Celine serasa runtuh seketika. Wajahnya seketika pucat. Anak? Baru saja menikah satu hari dan sekarang dituntut hal sebesar ini?
Di sebelahnya, Damian tetap tak bergeming. Wajahnya sedatar dinding beton, tak ada sedikit pun terkejut atau goyah. Namun genggaman tangannya di tangan Celine mengencang perlahan, menegaskan kendali sekaligus menyiratkan penahanan halus agar wanita itu tak runtuh di tempat.
Oma Rosalina menyandarkan punggungnya di sandaran kursi roda perlahan, menatap Celine yang terpaku mematung dengan sorot mata yang penuh kepuasan dingin.
"Bagaimana?" tanyanya pelan, namun menekan begitu berat. "Kau sanggup melakukannya, Nyonya Salvatore?"
Belum sempat Celine menjawab, suara Damian terdengar datar dan tegas, membelah keheningan mencekam itu.
"Itu urusan kami, Oma." ucapnya tenang namun tak bisa dibantah. "Dan kami akan mengurusnya sesuai waktu kami sendiri."
Oma tertawa kecil, bunyinya kering dan tajam, tak menyisakan kehangatan sedikit pun.
"Bagus." ucapnya pelan namun jelas, matanya menyipit puas menatap cucunya. "Itu jawaban yang layak dari seorang Salvatore."
"Ingat, Don." bisik Oma lagi. "Di keluarga ini, kita tidak menikah karena cinta. Kita menikah karena nama. Karena kekuasaan. Karena kewajiban."
Ia lalu menatap Celine. "Dan kau... kau sekarang bagian dari kewajiban itu."
Lalu ia melambaikan tangan pelan, memberi isyarat penutup.
"Cukup. Aku sudah lelah bicara. Kalian bisa keluar sekarang."
Damian mengangguk kecil, "Kalau begitu, kami pamit, Oma."
Ia menoleh Celine sekilas, lalu berbalik menuntun Celine bersamanya keluar dari ruangan itu. Begitu pintu ganda besar itu tertutup rapat di belakang mereka, memisahkan mereka dari wanita yang mengatur segalanya, Celine langsung menarik tangannya dengan kuat hingga terlepas dari genggaman Damian.
"Cukup!" suaranya bergetar hebat, meledak pelan namun menyayat hati. "Cukup! Aku tidak mau! Aku tidak mau hidup dengan iblis seperti kalian!"
-
-
-
Bersambung...