Indonesia
NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Tira melipat surat itu kembali. Ia tidak membakarnya. Tidak perlu. Ia hanya memasukkan semuanya ke kantong besar, satu demi satu. Gelang. Boneka. Foto. Surat. Semua masuk ke sana. Tangannya sempat berhenti ketika menemukan hadiah pertama yang diberikan Dimas. Ia menatap benda itu beberapa detik. “Dulu aku sayang sekali sama kamu,” katanya pelan. “Tapi sekarang sudah selesai.”

Ia memasukkannya ke dalam kantong. Tidak ada tangisan hebat. Tidak ada adegan dramatis. Justru itu yang membuat Tira sendiri merasa aneh. Ternyata setelah benar-benar lelah, meninggalkan seseorang bisa terasa sangat ringan. Bukan karena cintanya dulu palsu. Bukan karena delapan tahun itu tidak berarti. Tira hanya sudah sampai pada batasnya. Ia sudah menangis. Sudah menunggu. Sudah bertanya. Sudah memberi kesempatan. Bahkan dua pekan lalu ia sudah mengatakan dengan jelas, kalau kamu tidak melamarku sekarang, kita selesai. Dimas tetap diam.

Setelah itu Tira berhenti berharap. Barangkali itulah yang membuat Dimas tidak memahami perubahan dirinya. Ketika Tira masih berharap, ia bisa menahannya dengan satu pesan, satu pelukan, atau satu kalimat sederhana tentang masa depan. Tetapi ketika harapan itu mati, tidak ada lagi yang bisa ditahan.

Tira berdiri dan membawa kantong itu keluar kamar. Ia membuang semuanya ke tempat sampah. Setelah kembali, ia mencuci tangannya dan menatap wajahnya di cermin. “Aku seharusnya punya batas waktu sejak dulu,” katanya kepada bayangannya sendiri.

Kalau sejak awal ia berani berkata, aku menunggu sampai usia sekian, kalau tidak ada kepastian aku pergi, mungkin ia tidak akan kehilangan delapan tahun hanya untuk menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Tira teringat perkataan ayahnya sore tadi. Kamu itu berharga, Nak.

Dulu ia mungkin menganggap kalimat itu hanya ucapan seorang ayah yang ingin melindungi anaknya. Sekarang ia mengerti. Ia memang berharga. Dan orang yang mencintainya seharusnya tidak membuatnya terus-menerus bertanya apakah dirinya cukup untuk diperjuangkan. Ia tidak menuntut rumah mewah. Tidak menuntut pesta besar. Bahkan ia tidak pernah meminta Dimas punya segalanya. Ia hanya meminta satu hal, kepastian.

Kalau Dimas belum siap, seharusnya ia berkata jujur. Kalau belum ingin menikah, seharusnya ia mengatakan itu. Kalau memang ada alasan, Tira bisa mendengarkan. Tetapi yang ia dapat selama bertahun-tahun adalah diam. Dan diam yang terlalu lama akhirnya menjadi jawaban. Tira kembali duduk di depan cermin.

Besok ia akan menikah dengan Fahri. Ia tahu lelaki itu bukan Dimas. Ia tidak ingin Fahri menjadi Dimas. Ia juga tidak ingin memaksa dirinya mencintai Fahri dengan cara yang sama. Cukup dengan membuka hati dan memberi kesempatan. Sisanya biar waktu yang menentukan. Tira mengambil ponsel.

Ada pesan dari Fahri. [Sudah istirahat? Jangan tidur terlalu malam. Besok kamu harus cantik.]

Tira tertawa kecil dan tanpa sadar pipinya merona. Ia membalas, [Memangnya kalau nggak cantik Abang batal nikah?]

Tidak lama kemudian balasan masuk. [Sudah terlambat. Undangan sudah tersebar.]

Tira tertawa sampai menutup mulutnya sendiri. Dasar.

[Tidur sekarang.] Pesan dari Fahri.

[ Iya, bang.] Tira meletakkan ponselnya. Ada rasa hangat yang tidak pernah ia paksa datang. Sederhana sekali. Tidak ada rayuan berlebihan. Hanya perhatian kecil dari seorang lelaki yang beberapa hari lagi akan menjadi suaminya.

Tira mematikan lampu kamar. Sebelum naik ke ranjang, ia sempat melihat tempat sampah di sudut kamar. Semua kenangan tentang Dimas sudah berada di sana. Untuk sesaat ia teringat delapan tahun yang baru saja ia tutup. Tetapi kali ini ia tidak merasa ingin mengambilnya kembali. Ia sudah tahu alasan kenapa ia pergi. Ia pergi karena sudah terlalu lelah. Karena terlalu lama menunggu. Karena cinta yang membuat seseorang bahagia seharusnya tidak membuatnya merasa seperti sedang memohon untuk dipilih.

Tira menarik selimut sampai ke dada. “Aku berharga,” bisiknya. “Aku pantas mendapatkan cinta yang setara.” Setelah itu ia memejamkan mata. Besok ia akan menjadi pengantin. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menunggu Dimas datang. Ia menunggu hari esok bersama Fahri.

***

Pagi itu kamar Tira sudah dipenuhi aroma hairspray dan bedak. Sejak subuh, rumah mereka ramai oleh suara orang-orang yang sibuk mempersiapkan akad. Tira duduk diam di depan cermin, sementara perias menyelesaikan sentuhan terakhir di wajahnya.

Ketika akhirnya selesai, Tira menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama. Ia mengenakan baju kurung putih yang sederhana tetapi anggun. Selendang panjang menjuntai dari bahunya, dihiasi tiara kecil yang membuat penampilannya terlihat semakin manis.

Tira tersenyum malu. Rasanya seperti sedang melihat perempuan lain di dalam cermin. Perempuan yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri.

“Sudah selesai, Mbak,” kata perias sambil merapikan sedikit bagian selendangnya.

Tira mengangguk. “Terima kasih.”

Pintu kamar kemudian terbuka. Ayahnya muncul dengan langkah pelan. Begitu melihat Tira, lelaki itu langsung berhenti di ambang pintu. Wajahnya berubah. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia buru-buru tersenyum. “MasyaAllah...” Ayah berjalan mendekat. “Ini putri Ayah?”

Tira tertawa kecil. “Iya, Yah. Masa bukan?”

“Cantik sekali, pangling lho nak. Kalau kata orang-orang, auranya keluar. Begitu kan?" Ayah berdiri di belakang Tira dan melihat pantulan mereka berdua melalui cermin. “Rasanya baru kemarin Ayah menggendong kamu. Sekarang sudah mau jadi istri orang.”

Tira tersenyum, tetapi matanya mulai panas. “Jangan ngomong begitu, Yah.”

“Kenapa?”

“Nanti Tira nangis.”

Ayah langsung menunjuk wajah putrinya. “Jangan menangis.”

Tira tertawa kecil. “Belum juga nangis.”

“Ayah tahu. Mata kamu sudah mulai.”

Tira mengerjapkan mata berkali-kali. “Tira bahagia.”

“Ayah juga.” Suara ayahnya terdengar sedikit berat. Ia lalu berdiri di depan Tira. “Kamu harus bahagia, ya, Nak.”

Tira mengangguk. “InsyaAllah, Yah.” Ia terdiam sebentar. Senyumnya perlahan menghilang. Ada sesuatu yang sejak tadi ia tahan. “Tapi Tira takut.”

Ayahnya langsung memperhatikan wajahnya. “Takut apa?” Tira menunduk, memainkan ujung selendangnya. “Kalau sudah nikah...” Suaranya mengecil. “Tira tetap jadi putri kesayangan Ayah, kan?”

Ayahnya terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa langsung menghantam dadanya. Ia tahu Tira akan menikah hari ini. Ia tahu setelah ini putrinya akan memiliki rumah sendiri, suami sendiri, kehidupan sendiri. Tetapi mendengar Tira mengatakannya dengan suara kecil seperti anak perempuan yang takut kehilangan tempat pulang, membuat hati seorang ayah terasa berat. Ayah langsung merentangkan tangan. “Sini.”

Tira bangkit dan memeluknya.

Ayah memeluk putrinya erat. Tira menyandarkan kepala di dada ayahnya, sementara tangan lelaki itu mengusap punggungnya pelan. “Kamu menikah bukan berarti kamu berhenti jadi anak Ayah,” katanya. “Kapan pun kamu butuh Ayah, pulang.” Tira mengangguk dalam pelukan. “Rumah ini tetap rumah kamu. Jangan pernah berpikir setelah menikah kamu kehilangan Ayah.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!