Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Aiteria
Di dalam istana utama Kerajaan Aiteria, aula megah bernuansa arsitektur klasik berbalut marmer putih dan ukiran emas tampak diselimuti aura yang sangat dingin dan penuh intrik. Di atas meja bundar raksasa yang berada di tengah balairung rapat rahasia, para tokoh paling berpengaruh di seluruh daratan Aiteria berkumpul.
Di kursi utama, duduk Raja Valerius bersama Ratu Aiteria yang mengenakan mahkota bertahtakan permata langka. Di sisi kiri dan kanan mereka, hadir lima putra-putri kerajaan, penasihat agung istana, penyihir tertinggi bertongkat kristal, komandan tentara berzirah baja hitam, serta para pejabat tinggi kekaisaran.
Di antara kelima pangeran dan putri tersebut, sosok Pangeran Helix—anak ketiga Raja Valerius—menjadi pusat perhatian utama dalam rapat rahasia malam itu.
Helix berdiri dari kursinya, menyunggingkan senyuman tipis yang dipenuhi ambisi dingin. Ia berjalan melangkah mendekati peta besar daratan Magical World yang terbentang di atas meja bundar. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit berkualitas tinggi menunjuk tepat ke wilayah Kerajaan Imperial.
"Pernikahan politikku dengan Putri Celestia bukan sekadar aliansi biasa, Ayahanda," ucap Helix dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan rapat. "Tenggat waktu tiga hingga empat tahun yang diberikan oleh Raja David adalah masa persiapan yang sangat sempurna. Begitu aku dan Celestia resmi menikah kelak, struktur pemerintahan Imperial akan perlahan kita susupi dari dalam. Kerajaan Imperial... sepenuhnya akan bertekuk lutut dan menjadi wilayah kekuasaan Aiteria!"
Raja Valerius tersenyum puas, menganggukkan kepalanya perlahan. "Langkah yang sangat cerdas, Helix. Raja David terlalu sibuk memikirkan harga dirinya pasca-serangan perbatasan, hingga ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan kunci kerajaannya sendiri ke tangan kita."
Penasihat agung istana mengelus jenggot panjangnya seraya menambahkan, "Namun, Yang Mulia Pangeran, bagaimana jika ada pihak internal Imperial atau faksi petualang yang menyadari pergerakan ini dan mencoba membatalkan pertunangan tersebut di kemudian hari?"
Helix tertawa kecil, sebuah tawa percaya diri yang terpancar dari seorang bangsawan yang memiliki segalanya.
"Tidak akan ada yang berani," tegas Helix. "Selain kekuatan militer penuh Kerajaan Aiteria yang siap membackup keputusan ini, aku sendiri memiliki kartu as yang tidak bisa ditandingi oleh siapa pun di daratan Imperial."
Helix menoleh ke arah sudut kanan ruang rapat, di mana empat sosok asing berdiri tegap dengan aura tekanan energi yang sangat intimidatif.
Mereka adalah anggota party petualang Tier SSS terkuat dan paling ditakuti di seluruh Kerajaan Aiteria—sebuah kelompok tempur yang dipimpin langsung oleh Helix sendiri. Sebagai ketua party, Helix bukan sekadar pangeran bermanja harta; ia adalah seorang Fighter tangguh yang menguasai pedang bereliks api murni, memancarkan Api Biru berkekuatan pembakar yang sanggup melelehkan baja terbaik dalam hitungan detik.
"Perkenalkan faksi tempurku," ujar Helix mengarahkan pandangan seluruh pejabat istana ke sudut ruangan.
Sosok pertama yang melangkah maju adalah Raiven, seorang Assassin mematikan berpakaian serba hitam dengan rambut merah menyala yang sengaja dipotong miring menutupi mata kirinya. Di balik jemarinya, belati ganda beracun berkilat dingin. Raiven dikenal sebagai bayangan pencabut nyawa yang sanggup mengeksekusi target Tier SSS tanpa meninggalkan jejak suara.
Di samping Raiven, berdiri seorang wanita bergaun putih berukiran benang emas bernama Sisil. Ia adalah Healer utama kelompok tersebut, memegang tongkat sihir kayu suci yang sanggup memulihkan luka fatal dan memberikan benteng pertahanan sihir tingkat tinggi dalam skala pertempuran besar.
Kemudian, sosok wanita berzirah ringan dengan rambut dikuncir tinggi melangkah tegap membawa busur raksasa bernuansa listrik. Dialah Emma, seorang Marksman jenius yang menguasai Busur Petir. Panah-panah sihir yang dilepaskannya memiliki kecepatan serta daya tembus melampaui benteng pertahanan terkuat sekalipun dari jarak puluhan kilometer.
Dan sosok terakhir yang berdiri bagaikan tembok berjalan adalah Gorex, seorang pria bertubuh kekar berukuran dua meter lebih yang mengenakan armor batu granit padat. Gorex adalah seorang Pengendali Tanah dan benteng manusia yang sanggup memanipulasi struktur bumi, menciptakan dinding jurang atau gempa lokal untuk meluluhlantakkan formasi musuh.
Kombinasi antara kekuatan politik Kerajaan Aiteria, ambisi dingin Pangeran Helix dengan Api Birunya, serta keberadaan empat anggota party Tier SSS legendaris itu menjadikan Aiteria sebagai kekuatan yang hampir tak tertandingi di daratan.
"Dengan kekuatan kelompokku ini," lanjut Helix sambil mengepalkan tangannya yang memercikkan kobaran api biru tipis, "siapa pun yang mencoba menghalangi pertunanganku dengan Celestia—baik itu bangsawan pembangkang, maupun pemuda rendahan berdarah penempa yang dikabarkan memiliki petir ungu itu—mereka hanya akan menjadi debu yang terbakar oleh api biru milikku."
Penyihir tertinggi istana mengangguk kagum melihat dominasi aura yang dipancarkan oleh Helix dan party-nya. "Rencana yang sangat matang, Pangeran. Dengan demikian, Kerajaan Imperial hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh ke dalam genggaman Kerajaan Aiteria."
Helix tersenyum penuh kemenangan, memandang kembali peta Kerajaan Imperial di atas meja. Di dalam benaknya, ia sudah membayangkan hari di mana ia memegang tampuk kekuasaan penuh atas dua kerajaan besar, menjadikan Celestia sebagai pelengkap kemenangannya, dan menindas setiap potensi ancaman yang berani menantang takhtanya.
Tanpa mereka sadari di dalam aula rapat yang megah itu, roda takdir di luar sana terus berputar. Di ujung daratan lain, Zass dan party petirnya sedang menempa kekuatan hingga ke batas maksimal, bersiap menghadapi badai pertempuran terbesar yang akan menentukan nasib masa depan mereka beberapa tahun mendatang.