Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Pojok Storyboard
Belajar dari tragedi ditinggal mobil sedan hitam tiga hari lalu, Nadhira kini menyangkal seluruh rasa kantuknya. Begitu alarm berbunyi pukul 05.30, ia langsung melompat dari kasur, mandi, dan berganti pakaian dengan sigap.
Bahkan jam tujuh kurang delapan menit, Nadhira sudah rapi duduk di kursi penumpang depan mobil Reyhan, siap meluncur menuju kampus.
"Kemajuan yang bagus," komentar Reyhan singkat saat memutar kemudi keluar dari gerbang perumahan. Pria itu mengenakan kemeja biru navy yang disetrika sangat licin, memancarkan aura dosen muda yang tampan sekaligus mengintimidasi.
"Jelas dong! Nadhira Anindya Putri nggak bakal jatuh di lubang yang sama dua kali," sahut Nadhira bangga, sambil mengoleskan lip tint warna merah muda di bibirnya.
"Bagus kalau begitu," balas Reyhan tenang, matanya tetap fokus menatap jalanan pagi yang mulai padat. "Ingat, tugas evaluasi elemen visual dikumpulkan paling lambat jam sepuluh pagi di meja kerja saya. Kumpulkan di map warna kuning."
Nadhira menepuk tas ranselnya yang terasa lumayan berat. "Aman, Pak Suami! Lembar storyboard sama analisis bentuknya udah beres dari semalam. Saya kerjain sampai keriting nih jari-jari!"
"Jangan panggil 'Pak Suami', Nadhira. Ini sudah masuk radius dua kilometer dari kampus," tegur Reyhan datar.
Nadhira memutar bola matanya malas. "Iya, iya, Pak Reyhan yang terhormat."
Sesuai Larangan Keempat dalam surat perjanjian mereka, mobil Reyhan berhenti mulus di samping minimarket, sekitar satu kilo meter sebelum gerbang utama universitas.
Nadhira dengan sigap menyambar ransel dan tabung gambarnya, membuka pintu mobil, lalu berjalan kaki berpura-pura menjadi mahasiswi polos yang baru turun dari angkutan umum.
Pukul 09.45 WIB, suasana di Studio Ilustrasi DKV lantai tiga mendadak sibuk. Suara gesekan kertas, ketukan papan ketik laptop, dan gerutuan mahasiswa yang panik mengejar tenggat waktu terdengar saling bersahut-sahutan.
"Aduh, Dhira. Ini layout gue yang belah kiri kurang simetris nggak sih?!" pusing Kania sambil menyodorkan lembar kerjanya dengan raut wajah frustrasi. "Pak Reyhan kan paling benci kalau garis tepi beda dua milimeter doang."
"Udah pas kok, Kan. Tinggal lo rapiin aja bagian shading-nya dikit," jawab Nadhira santai, sambil mengurutkan lembaran-lembaran kertas A3 milik tugasnya di atas meja studio.
"lo mah enak, Dhira. Gambarnya selalu estetik," puji Dimas dari meja sebelah yang sibuk memotong kertas dengan karter. "Gue dari tadi malam udah meriang ngebayangin muka Pak Reyhan pas meriksa tugas gue. Takut dilempar ke tempat sampah!"
"Makanya jangan suka nunda-nunda, Dim!" tawa Nadhira.
Nadhira menyusun lima lembar analisis visual A3 miliknya. Namun, saat hendak memasukkannya ke dalam map kuning, ia teringat ada satu lembar draf tambahan, lembar sketsa konsep headline yang tadi pagi ia coret-coret di meja makan rumah.
Nadhira merogoh tasnya cepat-cepat, menyambar selembar kertas A3 yang terlipat rapi di selipan buku catatan, lalu menumpuknya di bagian paling belakang berkas tanpa memeriksa ulang.
"Gue mau ngumpulin duluan ke ruangan Pak Reyhan ya, sekalian mau ke toilet," kata Nadhira bangga pada kedua sahabatnya.
"Sip, hati-hati di jalan, Dhira. Jangan lupa baca doa sebelum ngetok pintu ruangannya Pak Reyhan!" ucap Dimas yang langsung disambut tawa kecil mahasiswa lain.
Nadhira berjalan menyusuri koridor jurusan yang agak lengang menuju koridor dosen. Sampai di depan pintu bertuliskan Ruang Dosen DKV - Reyhan Arkananta Wijaya, M.Des., Nadhira menarik napas panjang, merapikan kemejanya, lalu mengetuk pintu kayu itu tiga kali.
Knok, knok, knok.
"Masuk," terdengar suara berat Reyhan dari dalam.
Nadhira memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja Reyhan sangat rapi, beraroma kopi arabika dan kayu manis.
Di balik meja kerja besarnya yang dipenuhi tumpukan buku desain tebal dan monitor ganda, Reyhan sedang serius menatap layar komputer.
"Selamat pagi, Pak. Saya mau mengumpulkan tugas evaluasi elemen visual," ujar Nadhira formal, berusaha menjaga nada suaranya seprofesional mungkin.
Reyhan mendongak dari balik kacamatanya. Matanya melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Setelah memastikan tidak ada staf atau mahasiswa lain di sekitar sana, aura kaku pria itu sedikit mengendur.
"Letakkan di meja sebelah kiri," sahut Reyhan pendek.
Nadhira meletakkan map kuningnya di atas meja. Sebelum berbalik keluar, ia menyunggingkan senyum jahil ke arah Reyhan. "Rapi kan, Pak? Nggak terlambat satu detik pun."
Reyhan menatap Nadhira datar, meski ada kilat kehangatan tipis di matanya. "Ketepatan waktu adalah kewajiban, bukan sesuatu yang harus dipamerkan, Nadhira."
"Dih, dasar manusia es. Puji dikit kek," gumam Nadhira pelan sambil memonyongkan bibirnya. "Ya udah, saya keluar dulu, Pak Dosen."
Nadhira berbalik dan ngeloyor keluar dari ruangan kerja suaminya dengan perasaan lega luar biasa. Tugas selesai, nilai aman.
Satu jam kemudian, pukul 11.00 WIB.
Reyhan meraih tumpukan map tugas mahasiswa DKV kelas 6B yang sudah terkumpul di mejanya. Sebagai seorang yang sangat teratur, ia mulai mengoreksi lembar demi lembar dengan pulpen tinta merah di tangannya.
Ia mengambil map kuning milik Nadhira. Reyhan membuka sampul plastiknya dan mengamati lembar pertama. Analisis hirarki tipografinya sangat mendalam, garis-garis sketsanya tegas dan artistik.
Reyhan mengangguk-angguk kecil secara tak sadar. "Perkembangan mahasiswi satu ini memang sangat cepat," batinnya memuji istrinya dalam hati.
Namun, ketika Reyhan membalik ke lembaran paling belakang, lembar draf sketsa tambahan dahinya seketika berkerut parah.
Di pojok kanan bawah kertas A3 bernilai akademis tersebut, tepat di samping gambar sketsa logo bertema modernism, terdapat kotak bergaris spidol hitam tebal. Di dalam kotak itu, tertulis catatan dengan tulisan tangan rapi khas Nadhira yang dihiasi stiker kecil gambar wortel dan telur.
DAFTAR BELANJAAN RUMAH TANGGA (PAID BY PAK SUAMI!):
Telur ayam 1 tray (yang omega!)
Susu cokelat kotak 5 (buat persediaan Nadhira)
Roti tawar tanpa pinggiran + Selai Cokelat Hazelnuts
Sabun cuci piring rasa jeruk nipis (SOALNYA TANGAN DHIRA PEGAL BANYAK CUCIAN!)
Daging sapi 1/2 kg (Pak Reyhan bilang mau dibikin rendang, jangan lupa dibeliin!)
Cokelat biskuit yang ada hadiah mainannya (PENTING!)
Reyhan mematung. Pria itu menatap catatan belanjaan rumah tangga di pojok lembar tugas DKV tersebut selama sepuluh detik penuh tanpa berkedip.
"Nadhira..." bisik Reyhan pelan, memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut-denyut.
Gadis ceroboh itu keliru menyatukan lembar draf tugasnya dengan kertas memo belanjaan yang tadi pagi mereka bahas bersama di meja makan.
Reyhan langsung bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika lembar tugas ini diperiksa oleh dosen lain atau diarsip oleh Mbak Alya, sekretaris jurusan yang kenal seluruh gosip kampus. Tulisan "PAID BY PAK SUAMI!" dan "Pak Reyhan bilang mau dibikin rendang" sudah cukup untuk membuat gempar seluruh Fakultas Seni dan Desain dalam hitungan detik.
Dengan gerakan cepat dan sigap, Reyhan mengambil pulpen merahnya. Pria itu baru saja hendak memotong atau mencoret bagian catatan konyol itu, ketika tiba-tiba...
Klek.
Pintu ruangan kerja Reyhan terbuka tanpa ketukan yang jelas.
"Reyhan! Lagi sibuk nggak?"
Pak Bagas, dosen muda lain dari Jurusan Animasi yang terkenal santai, ramah, dan sangat suka bergaul melangkah masuk membawa dua cangkir kopi karton di tangannya.
Jantung Reyhan mendadak berdesir cepat. Tanpa membuang waktu, secara refleks Reyhan langsung menelungkupkan lembar tugas A3 milik Nadhira ke meja dan menutup map kuning itu dengan gerakan secepat kilat.
Bagas menaikkan alisnya heran melihat gerakan defensif Reyhan yang tidak biasa. "Lho? Kok kaget gitu, Bro? Muka lo kenceng amat kayak habis mergokin mahasiswa nyontek."
"Nggak apa-apa," sahut Reyhan secepat mungkin, berusaha mengembalikan raut wajah dinginnya yang biasa. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi dan melipat tangan di dada. "Ada apa, Gas?"
"Nih, gue beliin kopi dari kafe bawah," kata Bagas sambil meletakkan satu cangkir kopi di meja Reyhan. "gue bosen di ruangan gue sendirian. Mau numpang ngobrol sebentar."
Bagas berjalan santai mendekati meja kerja Reyhan, lalu matanya secara tidak sengaja tertuju pada tumpukan tugas di atas meja.
"Wah, lagi meriksa tugas anak DKV semester enam ya?" tanya Bagas kasual, tangannya mendadak terulur hendak mengambil map kuning milik Nadhira yang terletak paling atas.
"Tugas evaluasi elemen visual ya? gue denger kelas lo yang ini karyanya bagus-bagus."
Mata Reyhan membelalak lebar dalam skala milimeter. "Jangan sentuh map itu!" batinnya berteriak panik.
"Jangan disentuh, Bagas!" tegur Reyhan dengan suara agak keras dan ketus.
Tangan Bagas terhenti di udara, beberapa sentimeter dari sampul map kuning Nadhira. Pria itu menatap Reyhan dengan raut wajah kaget sekaligus bingung. "Anjir, Rey! Kenapa lo galak amat? gue cuma mau lihat-lihat draf anak-anak DKV doang."
Reyhan berdehem keras, mencoba mencari alasan rasional. "Itu... berkasnya belum selesai saya rekap. Masih ada nilai rahasia di dalamnya."
"Halah, rahasia apa sih? Orang cuma draf karya mahasiswa," kekeh Bagas curiga. Rasa penasaran dosen animasi itu justru makin terpantik gara-gara reaksi berlebihan dari kawan dinginnya ini. "gue mau lihat satu aja deh. Ini punya siapa?"
Sebelum Reyhan sempat menghalangi, tangan cepat Bagas sudah berhasil membuka sampul map kuning tersebut.
"Bagas!" bentak Reyhan, langsung berdiri dari kursinya.
Bagas menarik lembar kertas A3 paling atas milik Nadhira. Pria itu mengamati gambar sketsa logo di kertas tersebut. "Wah, keren nih! Garisnya bersih, arsirannya mantap. Punya siapa nih? Nadhira Anindya Putri ya?"
Bagas membalik halaman kertas tersebut untuk melihat draf pendukung di lembar kedua, lembar yang memuat catatan belanjaan rumah tangga.
Mata Reyhan membelalak. Dalam gerakan refleks paling ekstrem yang pernah dilakukan seorang dosen berdarah dingin, Reyhan menyambar kertas A3 itu langsung dari genggaman Bagas dengan satu tarikan cepat!
Srak!
Kertas itu berhasil berpindah ke tangan Reyhan dalam hitungan milidetik. Pria itu langsung mendekap kertas A3 itu erat-erat di dadanya, membelakangi Bagas dengan napas yang sedikit memburu.
Bagas berdiri mematung di tengah ruangan, matanya berkedip-kedip menatap Reyhan dengan raut wajah penuh keterkejutan luar biasa.
"Bro..." panggil Bagas pelan, suaranya dipenuhi rasa heran yang tak membendung. "lo... lo kenapa sih? Kenapa lo posesif banget sama lembar tugas mahasiswi nama Nadhira itu?"
Reyhan menghentikan napasnya. Pria itu memejamkan mata sejenak, mengutuki kecerobohan istrinya dan reaksi refleksnya sendiri yang kelewat kentara. Ia memutar tubuhnya perlahan, mencoba menampilkan raut wajah paling datar dan dingin yang ia miliki.
"Kertas ini... ada noda tinta dari pulpen saya," kata Reyhan beralasan dingin, suaranya dibuat sekaku mungkin. "Saya tidak mau kamu melihat karya mahasiswa dalam kondisi tidak sempurna. Itu tidak profesional."
Bagas menatap Reyhan dari atas ke bawah dengan tatapan sangat curiga. "Noda tinta? Cuma gara-gara noda tinta lo sampai nyambar kertas kayak pemain rugbi gitu?"
"Ya," sahut Reyhan singkat tanpa ragu.
Bagas terkekeh pelan, lalu menyipitkan matanya penuh selidik. Pria itu melangkah mendekati Reyhan dan berbisik goda, "Rey... lo nggak lagi naksir sama mahasiswi lo yang namanya Nadhira itu, kan? lo dari kemarin-kemarin gue perhatiin sering banget merhatiin dia pas lagi di studio."
Jantung Reyhan serasa berhenti berdetak sejenak. Namun sebagai dosen yang terbiasa menghadapi situasi pelik, Reyhan mempertahankan ekspresi mukanya tetap seperti batu ukir.
"Jangan bicara sembarangan, Bagas. Jaga ucapan kamu di lingkungan akademis," tegur Reyhan tegas dan tajam. "Nadhira hanya mahasiswi biasa yang kebetulan pengerjaan tugasnya butuh banyak koreksi dari saya."
Bagas tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kaku kawan dosennya itu. "Bercanda, Bro! Kaku amat lo kayak kanebo kering. Yaudah deh, gue balik ke ruangan gue dulu sebelum disemprot dosen killer."
Bagas menyambar cangkir kopinya, menepuk bahu Reyhan sambil tertawa kecil, lalu melangkah keluar dari ruangan kerja Reyhan.
Brak.
Pintu akhirnya tertutup rapat kembali.
Ruangan itu kembali hening. Reyhan menarik napas panjang dan berat, lalu menghembuskannya perlahan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke pintu kayu, mengusap wajahnya yang terasa hangat karena gabungan antara panik dan emosi.
Pria itu melihat kertas A3 di tangannya. Di pojok kanan bawah, tulisan 'PAID BY PAK SUAMI!' seolah-olah sedang mentertawakan aksinya barusan.
Reyhan menyambar ponsel di atas meja dan mengetik pesan singkat dengan jemari yang menekan layar agak keras.
Reyhan: Saudari Nadhira. Segera ke ruang dosen sekarang.
Reyhan: BAWA PENGHAPUS DAN SPIDOL HITAM.
Dua menit kemudian, Nadhira berlari-lari kecil menyusuri koridor dosen dengan wajah polos tanpa dosa. Ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Reyhan.
"Ada apa, Pak Reyhan? Ada draf saya yang kurang ya?" tanya Nadhira ceria.
Reyhan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya berdiri di balik mejanya, mengangkat lembar tugas A3 milik Nadhira, dan menunjuk bagian pojok kanan bawah kertas tersebut dengan jari telunjuknya.
Nadhira mendekat dan menunduk membaca bagian yang ditunjuk Reyhan.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Seketika, seluruh warna darah di wajah Nadhira menguap tanpa sisa. Matanya membelalak selebar piring porselen, dan mulutnya menganga lebar.
"ANJIIIRRRR!" jerit Nadhira spontan sambil menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan. "I-INI KOK BISA ADA DI SINI?!"
"Kamu yang menyatukan kertas ini di map tugas kamu, Nadhira," ujar Reyhan dengan suara yang tenang, namun dipenuhi aura intimidasi yang membuat bulu kuduk Nadhira berdiri. "Hampir saja Pak Bagas membaca catatan belanjaan rendang kamu ini."
"P-Pak Bagas?! Pak Bagas lihat?!" pusing Nadhira panik setengah mati, kakinya mendadak lemas sampai harus berpegangan pada tepi meja.
"Hampir. Kalau saya tidak menyambar kertas ini dari tangannya," sahut Reyhan dingin.
Pria itu menyodorkan spidol hitam besar ke tangan Nadhira. "Sekarang, blok hitam seluruh catatan tidak berguna ini sampai tidak bisa dibaca lagi. Sekarang juga."
"I-iya, Pak. Maafkan saya, Pak!" seru Nadhira panik. Dengan tangan gemetar hebat, mahasiswi DKV itu langsung menggoreskan spidol hitam tebal di atas tulisan belanjaan rumah tangganya, mencoret-coretnya secara brutal hingga seluruh kotak itu berubah menjadi blok hitam pekat.
Reyhan memperhatikan istrinya yang sedang sibuk dan panik mencoret kertas dengan napas memburu. Kecerobohan Nadhira memang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tak teratur.
Namun di saat yang sama, ada rasa geli dan gemas yang tak bisa ia pungkiri di dalam hatinya saat melihat tingkah Nadhira ini.
Setelah seluruh catatan belanjaan itu tertutup blok hitam tebal, Nadhira menatap Reyhan dengan raut wajah memelas yang kelewat mengasihani diri sendiri.
"Udah, Pak. Udah item semua," cicit Nadhira pelan, takut-takut. "Jangan kasih saya nilai E ya, Pak..."
Reyhan mengambil kertas itu, memeriksanya sejenak, lalu meletakkannya kembali ke dalam map kuning. Pria itu menatap Nadhira lurus-lurus dari balik kacamatanya.
"Nilai kamu tetap saya potong lima poin karena kecerobohan yang membahayakan ini," tegas Reyhan formal.
"Yah... Kok dipotong lagi sih," desah Nadhira merengek.
"Masih mending dapat pengurangan poin daripada rahasia pernikahan kita terbongkar satu kampus," tembak Reyhan lugas. Pria itu memajukan tubuhnya sedikit ke arah Nadhira. "Dan satu hal lagi, Nadhira."
"A-apa lagi, Pak?"
"Nanti sore saat kita ke supermarket, sabun cuci piring rasa jeruk nipisnya tetap akan saya belikan," ujar Reyhan dengan nada suara yang sangat pelan dan hangat, berbeda dari bentakan dosen di kelas. "Agar tangan kamu tidak pegal lagi."
Nadhira tersentak. Pipi mahasiswi DKV itu seketika merona merah padam sehangat kepiting rebus. Perhatian kecil yang tak terduga dari dosen killer di depannya ini sukses membungkam seluruh protes di bibirnya, membuat jantungnya kembali berdebar heboh tak karuan.
"S-sekarang... boleh saya keluar, Pak?" bisik Nadhira salah tingkah, tak berani menatap mata Reyhan lagi.
"Silakan," jawab Reyhan datar. "Dan pastikan lain kali kamu tidak menyatukan nota belanja dengan tugas akademis kamu."
Nadhira mengangguk cepat-cepat, lalu berbalik dan kabur keluar dari ruangan kerja Reyhan dengan langkah seribu, meninggalkan Reyhan yang akhirnya tidak mampu lagi menahan senyum tipisnya di dalam ruangan yang hening itu.
...Bersambung......