“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-hal aneh
Aluna masuk dengan malas ke dalam apartemen Rafa. Wajah suntuknya tampak begitu jelas, memperlihatkan bahwa ia masih kesal karena pada akhirnya Rafa berhasil menahannya untuk menginap di apartemennya malam ini.
Tidak lama kemudian Rafa menyusul masuk setelah selesai menelepon orangtua Aluna. Awalnya kedua orangtua Aluna merasa khawatir dan bahkan ingin menjemput putri mereka malam itu juga. Namun Rafa terus meyakinkan keduanya bahwa Aluna aman bersamanya.
"Aku udah telepon Papa kamu," kata Rafa memberitahukan.
Ia kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan Aluna.
"Hmm," jawab Aluna cuek.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit nggak?"
"Nggak ada, Rafa. Aku baik-baik aja! Nggak usah khawatir terus gitu."
"Emang salah ya kalau aku khawatir sama kamu? Kamu kan tahu aku segitu sayangnya sama kamu."
"Aku tahu. Tapi kamu juga tahu, kan... dari dulu aku nggak suka dikhawatirkan berlebihan. Aku nggak suka, Rafa."
"Aku tahu kamu nggak suka. Tapi rasa khawatir aku saat kamu ada masalah nggak akan pernah bisa aku kendalikan ataupun aku hilangkan, Aluna."
Mereka berdua saling bertatapan cukup lama.
Rafa memberikan tatapan yang begitu tulus pada Aluna, sementara Aluna justru menatap sahabatnya itu dengan perasaan bersalah. Ia menyadari mungkin kali ini dirinya cukup keras pada Rafa, padahal Rafa hanya mengkhawatirkan keselamatannya.
"Aku mau tidur."
Aluna dengan cepat mengganti topik pembicaraan mereka. Ia merasa tidak enak jika terus bersikap ketus pada Rafa.
"Ke kamarku aja," ucap Rafa kemudian.
Aluna langsung menatap Rafa dengan tajam. Sedikit rasa panik muncul karena Rafa malah menyuruhnya tidur di kamarnya.
Wajah serius Rafa yang tadi menatap Aluna tiba-tiba mengembangkan seulas senyum di bibirnya.
"Ngapain senyum begitu?" tanya Aluna menatap sinis Rafa yang masih tersenyum ke arahnya.
"Nggak. Udah sana masuk ke kamarku. Tenang aja, kita nggak tidur bareng kok. Sekarang kan kita udah beda, masing-masing udah dewasa. Jangan berharap lebih ya. Dulu waktu kecil memang kita cukup sering tidur di kasur yang sama, tapi kalau sekarang..."
Rafa menggantungkan kata-katanya, membuat Aluna semakin heran menatapnya.
"Kamu belajar apa sih di luar negeri, Rafa?" tanya Aluna merasa tidak mengenal lagi Rafa kecil dan Rafa remaja yang dulu begitu manis.
"Belajar bisnis," jawab Rafa cuek.
"Diselingi hal-hal aneh ya? Jorok pikiran kamu."
Rafa langsung terkejut mendengar ucapan Aluna.
"Heh, aku cuma usil aja ya," protes Rafa karena Aluna memberikannya tatapan aneh yang tidak bisa ia artikan.
"Jadi takut aku sama kamu yang sekarang." Ujar Aluna kemudian sambil berdiri dan berjalan melewati Rafa.
"Alunaaa..."
Rafa langsung ikut berdiri dan mengejar Aluna ke arah kamarnya. Ia masih tidak terima jika Aluna sampai menganggap dirinya aneh sekarang.
"Aku laporin ke Mama kamu, baru tahu rasa kamu."
Aluna berhenti sejenak lalu berbalik menunjuk Rafa dengan telunjuknya.
"Aku cuma usil aja," rengek Rafa yang tidak ingin memberikan kesan aneh pada Aluna.
"Udah sana, aku mau tidur."
Aluna mengusir Rafa sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke kamar sahabatnya itu.
Pintu kamar langsung ia tutup, sementara di depan sana Rafa masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya sendiri hanya untuk meyakinkan Aluna bahwa ia benar-benar hanya bercanda.
"Alunaaa, beneran aku cuma iseng sama kamu."
Suara Rafa dari luar masih bisa didengar oleh Aluna yang sudah berada di dalam kamar.
Aluna tersenyum penuh kemenangan melihat Rafa yang kelabakan. Ia tahu Rafa kalau sudah mulai iseng memang seperti itu, hanya saja kali ini sedikit berlebihan sampai membuat Aluna sempat heran.
Namun kembali lagi, Rafa tetaplah Rafa bagi Aluna.
Seberapa pun banyak hal yang berubah selama lima tahun mereka berpisah, Aluna tetap merasa nyaman berada di dekat sahabatnya itu.
***
Pagi harinya, Aluna terbangun saat matahari sudah cukup tinggi.
Ia meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, lalu menatap layar dengan mata yang masih berat.
"Ya ampun..."
Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan pagi.
"Aku tidurnya lama banget."
Aluna mengerjapkan matanya sambil memperhatikan sekeliling. Tempat asing yang sebenarnya cukup familiar membuatnya kembali teringat bahwa saat ini ia sedang berada di apartemen Rafa.
Dengan langkah gontai ia turun dari tempat tidur. Tubuhnya terasa sedikit pegal, mungkin karena efek dari kecelakaan kecil yang terjadi semalam.
Ia membuka pintu kamar lalu berjalan keluar sambil mencari keberadaan Rafa.
Apartemen itu tampak sepi.
"Rafa?"
Tidak ada jawaban.
Aluna lalu berjalan menuju dapur. Begitu langkahnya terhenti di sana, ia melihat segelas susu dan sepiring sandwich yang sudah disiapkan di atas meja makan.
Di sampingnya terdapat sebuah catatan kecil.
Aluna mengambil kertas itu lalu mulai membacanya.
"Sarapan dulu sebelum pulang. Aku udah telepon supir kamu dan dia udah nunggu di basement. Aku ke kantor hari ini karena mulai hari ini aku resmi bekerja di perusahaan Papa. Nggak usah buru-buru, makan yang banyak."
Begitulah isi pesan yang ditinggalkan oleh Rafa pagi tadi sebelum berangkat ke kantor.
"Panjang banget pesannya, kan bisa chat aja."
Aluna tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.
Namun entah kenapa, ia justru menyukai perhatian kecil seperti itu.
Rafa selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat orang-orang di sekitarnya merasa diperhatikan.
Aluna menarik salah satu kursi lalu mulai menikmati sarapannya.
"Jago juga dia bikin sandwich."
Puji Aluna sambil terus melahap sandwich buatan Rafa.
Tidak butuh waktu lama sampai piring di hadapannya hampir kosong. Setelah menghabiskan sarapannya, Aluna kembali ke dalam kamar Rafa untuk mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai, ia kembali mengenakan pakaiannya yang semalam. Aluna sebenarnya tidak nyaman memakai pakaian yang sama untuk pergi ke luar, tetapi tidak ada pilihan lain karena ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menginap di apartemen Rafa.
Ia mengambil ponselnya dan kembali melihat jam.
Supirnya mungkin sudah cukup lama menunggu.
Dengan cepat Aluna mengambil tasnya lalu keluar dari apartemen.
***
Lift menuju basement akhirnya terbuka.
Aluna bergegas ingin keluar, namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seseorang yang sedang berdiri di depan lift.
"Cewek resek ini lagi."
Gumam Kai sambil menatap Aluna dengan malas.
Aluna langsung menoleh tajam.
"Ngomong apa lo?"
Kai memasang wajah datar.
"Keluar sana, gue mau pakai liftnya."
"Dih, pakai aja. Kayak lift ini punya pribadi lo aja."
Sewot Aluna yang masih kesal setiap kali harus berhadapan dengan laki-laki itu.
Kai hanya mendengus pelan.
"Yaudah, cepetan keluar."
Aluna langsung melangkah keluar dari lift sambil terus memberikan tatapan tajam pada Kai.
"Dasar orang aneh," gumamnya.
"Lo yang aneh."
"Apa lo bilang?"
Kai tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam lift.
"Nyebelin banget sih!" seru Aluna sebelum pintu lift benar-benar tertutup.
Aluna kemudian berjalan menuju basement sambil terus bergerutu sendiri.
Pertemuannya dengan Kai di pagi hari itu benar-benar berhasil merusak suasana hatinya.
"Baru juga pagi udah ketemu bocah tantrum." Aluna menggelengkan kepalanya malas.
"Mana ketemu dua kali lagi."
Namun entah kenapa, di tengah kekesalannya, wajah laki-laki bernama Kai itu kembali terlintas di dalam pikirannya.
Tatapan penuh kemarahan yang ia tunjukkan pada wanita paruh baya semalam masih terus teringat dengan jelas.
Aluna kembali menggelengkan kepalanya.
"Ngapain juga gue mikirin dia."
Lagi pula, siapa peduli dengan laki-laki kasar, pemarah, dan menyebalkan seperti Kai?
Dengan langkah cepat, Aluna akhirnya berjalan menuju ke mobil yang akan membawanya pulang dimana sopirnya sudah menunggu.
Tanpa ia sadari, pertemuannya dengan laki-laki menyebalkan itu ternyata baru saja dimulai.