Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.
Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!
"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"
Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14: Kabar Buruk yang Mengancam Masa Depan
Beberapa minggu berlalu dengan penuh kebahagiaan. Hubunganku dengan Ethan berjalan begitu indah dan tenang—penuh perhatian kecil, kata-kata lembut, dan kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Kami sering berjalan pulang bersama, berbagi kue di taman sekolah, dan belajar bersama di perpustakaan hingga sore hari. Ethan selalu memperlakukanku dengan lembut, menghormatiku, dan tak pernah memaksaku melakukan apa pun yang tidak kuinginkan. Mark tetap menjadi teman terbaik kami, sering bergabung saat kami bertiga, dan aku melihatnya perlahan kembali ceria, meskipun kadang ada tatapan jauh yang tersisa di matanya. Elena juga semakin dekat dengan kami, dan kami berempat menjadi kelompok yang paling akrab dan disukai di sekolah.
Namun takdir sepertinya belum selesai menguji kami. Suatu sore, saat aku sedang duduk di ruang tamu rumah sambil membantu Tante Lisa melipat seragam, telepon rumah berdering panjang dan mendesak. Tante Lisa mengangkatnya, dan wajahnya yang tadinya cerah perlahan berubah pucat pasi. Tangannya gemetar memegang gagang telepon, dan saat ia menoleh ke arahku, matanya penuh ketakutan dan keputusasaan.
"Ada apa, Tante?" tanyaku segera berdiri, merasakan ada sesuatu yang sangat buruk baru saja terjadi.
"Itu… itu Ayahmu, Nona Lily," suaranya bergetar. "Perusahaan Ayahmu… mengalami masalah besar. Ada laporan keuangan yang tidak beres, dan banyak klien besar menarik investasi mereka secara mendadak. Kalau tidak segera diselesaikan… perusahaan itu bisa bangkrut. Dan… dan seluruh aset keluarga bisa disita untuk menutupi kerugian."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Dunia seakan berhenti berputar di sekitaranku. Perusahaan itu bukan sekadar bisnis—itu adalah sumber kehidupan keluargaku, tempat Ayah bekerja keras selama puluhan tahun, dan fondasi kehidupan yang selama ini kami miliki. Dan kalau perusahaan itu hancur… bukankah itu berarti akhir cerita yang tragis di dalam buku itu mulai terjadi? Bagian di mana keluarga Lily jatuh miskin?
"Ayah dan Ibu di mana?" tanyaku dengan napas yang terasa sesak.
"Mereka sedang di kantor pusat sekarang, mencoba menanganinya. Tapi… katanya situasinya sangat buruk. Tidak ada yang tahu dari mana masalah ini bermula."
Aku segera berlari ke lantai atas, mengambil tas dan kunci mobil. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan menunggu semuanya hancur. Aku harus pergi ke sana. Aku harus membantu Ayah. Meskipun aku masih muda, meskipun aku tidak mengerti segalanya—aku tahu cerita ini. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi tanpa perlawanan.
Sesampainya di gedung perkantoran keluarga, suasana di dalamnya sangat tegang. Karyawan berjalan terburu-buru dengan wajah cemas, telepon berdering terus-menerus, dan suara orang berbicara dengan nada tinggi terdengar dari ruangan Ayah. Saat aku masuk ke ruang kerjanya, Ayah sedang duduk di balik meja yang penuh tumpukan kertas, wajahnya tampak lelah dan berusia jauh lebih tua dari biasanya. Ibu berdiri di sampingnya, matanya bengkak karena menangis.
"Ayah, Ibu!" panggilku pelan, membuat mereka berdua mendongak.
"Lily? Kenapa kau ke sini?" tanya Ayah dengan suara berat dan lemah. "Ini bukan tempat untuk anak-anak. Pulanglah ke rumah."
"Aku tidak akan pulang sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi," jawabku tegas, berjalan mendekat. "Tante Lisa bilang perusahaan bangkrut. Apa yang sebenarnya terjadi, Ayah? Bukankah laporan keuangan selalu sehat dan menguntungkan?"
Ayah menghela napas panjang, lalu menunjuk berkas-berkas di mejanya. "Ada ketidaksesuaian dana yang sangat besar, Lily. Ratusan miliar hilang tanpa jejak, dan semuanya terlihat seolah-olah kesalahan pengelolaan dari pihak kami. Para investor panik dan menarik dana mereka sekaligus. Bank juga menolak memberikan pinjaman tambahan. Kalau dalam waktu tiga hari kami tidak bisa menutup kerugian ini… perusahaan akan dilikuidasi, dan semua aset keluarga akan dijual untuk melunasi utang."
Tiga hari. Hanya tiga hari untuk menyelamatkan sesuatu yang membutuhkan puluhan tahun untuk dibangun. Hatiku terasa dingin. Ini persis seperti yang tertulis di buku. Tapi di dalam buku, Lily asli tidak pernah tahu tentang ini sampai semuanya terlambat. Dia hanya mendengar berita itu saat sudah tidak ada harapan lagi. Tapi sekarang… aku tahu sebelumnya. Dan aku tidak akan membiarkannya berakhir sama.
"Ayah, aku tidak percaya ini sekadar kebetulan," ucapku perlahan namun tegas. "Ada yang mengatur ini semua. Dan aku akan mencari tahu siapa pelakunya."