Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belva and Luxas
Di bawah lampu yang berkelap-kelip, suara musik EDM berdentum kencang memenuhi ruang club malam.
Malam ini, Belva melenggang masuk dengan langkah ringan, mengenakan mini dress berwarna merah maroon yang membuat kulitnya terlihat makin terang. Rambutnya diikat setengah, beberapa helai poni jatuh menutupi dahinya.
"Eh, kok sepi amat nih VIP area?" Gumamnya sambil celingukan. Tangganya meraih satu gelas cocktail di atas meja, ia mengaduknya pelan lalu meminumnya.
Baru saja akan duduk di sofa, tiba-tiba datang seorang lelaki yang membuat pergerakannya terhenti.
"Belva." sapa lelaki itu, santai.
Belva mengejap beberapa kali, ia mencoba mengenali lelaki di depannya itu.
"Eh, iya, hai! Astaga, kamu siapa ya?" Belva tersenyum kikuk, ia benar-benar tidak ingat.
"Gila! Kamu lupa sama aku? Parah sih."
"Sumpah, aku tau muka kamu familiar, kamu ini Arga, ya?" Ia asal menyebutkan nama, siapa tau aja tebakannya benar.
"Bukan."
"Brama?"
"Bukan juga."
"Astaga... Harsen?"
"Masih salah."
Belva menepuk jidat, sedetik kemudian ia tertawa sendiri. "Sumpah aku sudah lupa, ingat mukanya doang."
"Yaudah, yaudah! kasih aku clue dikit dong," pinta Belva sambil nyender ke sofa, dua kakinya naik, duduk ala-ala manja. "Clue-nya jangan yang susah, lagi males mikir."
"Clue—nya... kita pernah main bareng di ranjang 2 bulan yang lalu."
Deg...
Mata Belva melotot. "OH MY GOD! Kamu Luxas?"
"Iya. Sekarang ingatkan?"
Belva tersenyum kemudian mengangguk antusias. "Ya ampun, Luxas! Kamu ngapain disini? Kamu datang sendirian?"
"Gue datang sama mereka," tunjuk Luxas ke arah teman-temannya yang berada di meja paling pojok.
Belva manggut-manggut, matanya berbinar melihat teman-teman Luxas yang tidak kalah tampannya.
Luxas terkekeh melihat binar di mata Belva, ia langsung paham apa yang sedang ada di dalam pikiran perempuan itu.
"Jangan mulai deh, Bel," ujar Luxas sambil ikut duduk di sofa, mengambil jarak yang cukup dekat hingga aroma parfum maskulinnya langsung menyengat indra penciuman Belva.
"Mereka emang cakep, tapi pawangnya galak-galak. Mending lu fokus sama gue aja malam ini."
Belva mencibir pelan, namun sedetik kemudian ia memberikan senyuman termanisnya. "Ih, siapa juga yang mau genit? Aku kan cuma mengagumi ciptaan Tuhan. Tapi... by the way, kok kamu bisa ada di VIP area yang sepi ini?"
"Gue emang sengaja mesen area ini buat anak-anak. Cuma mereka lagi pada gabung ke dance floor di bawah," Luxas menunjuk ke arah kerumunan orang di lantai bawah dengan dagunya. "Pas gue mau balik ke meja, malah ketemu lu yang lagi celingukan kayak anak ilang."
Belva tertawa kecil, meneguk kembali cocktail-nya hingga tandas. Efek alkohol yang mulai bekerja ditambah dentuman bas EDM yang menggetarkan dada membuat suasana di antara mereka mendadak terasa lebih intens. Ingatan tentang malam dua bulan lalu—yang sempat ia lupakan namanya—kini berputar kembali di kepalanya bagai film pendek.
"Jadi..." Belva memajukan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatap Luxas dengan pandangan menggoda. "Kebetulan yang menyenangkan ini mau kita bawa ke mana malam ini, Luxas?"
Luxas tidak langsung menjawab. Ia justru meraih gelas kosong di tangan Belva, meletakkannya di atas meja, lalu menggenggam jemari perempuan itu dengan cengkeraman yang lembut namun posesif.
"Tergantung," bisik Luxas, suaranya terdengar berat di antara bisingnya musik. "Lu mau lanjut minum di sini sampai mabuk, atau kita cari tempat yang... jauh lebih sepi dari VIP area ini?"
Senyum di bibir Belva makin melebar. Ia tahu persis ke mana arah pembicaraan ini, dan jujur saja, malamnya baru saja dimulai dengan sangat menarik.
Belva melepaskan tawa renyahnya, suara yang langsung tenggelam di antara dentuman bas yang bergetar hebat di bawah lantai VIP. Ia menarik pelan jemarinya dari genggaman Luxas, bukan untuk menjauh, melainkan untuk merapikan beberapa helai poni yang sempat jatuh berantakan di dahinya. Dengan gerakan sengaja yang lambat, ia kembali menyandarkan punggungnya ke sofa empuk, melipat kedua kakinya ke atas dengan pose yang begitu santai namun tetap memancarkan aura sensual.
"Tempat yang lebih sepi?" Belva memiringkan kepalanya, menatap Luxas lewat bulu matanya yang lentik. "Kamu ini tipikal cowok yang enggak sabaran ya, Lux. Kita bahkan belum sempat ngobrol banyak, dan kamu udah mau ngajak aku kabur aja?"
Luxas menyunggingkan senyum tipis, tipikal senyuman yang dua bulan lalu berhasil membuat Belva tidak berpikir dua kali untuk mengikutinya. Lelaki itu ikut menyandarkan punggung, merentangkan satu lengannya di sepanjang sandaran sofa di belakang bahu Belva, menciptakan ilusi seolah ia sedang merangkul perempuan itu tanpa benar-benar menyentuhnya.
"Ngobrol?" Luxas terkekeh, suara beratnya beresonansi dekat di telinga Belva. "Sejak kapan tempat kayak gini jadi tempat yang bagus buat deep talk, Bel? Suara musiknya bahkan bikin gue harus sedekat ini cuma buat denger lu ngomong."
Belva harus mengakui kebenaran ucapan itu. Jarak di antara mereka kini mengikis. Setiap kali Luxas berbicara, hembusan napasnya yang hangat menerpa kulit leher Belva, mengirimkan sengatan halus yang familier. Aroma campuran antara parfum woody yang mahal dan samar-samar aroma alkohol dari napas Luxas menjadi kombinasi yang memabukkan, bahkan sebelum alkohol di gelas Belva benar-benar menguasai kesadarannya.
"Lagian," Luxas melanjutkan, matanya turun menatap gaun merah maroon yang dikenakan Belva, sebelum kembali mengunci tatapan matanya. "Lu pakai baju kayak gini malam ini bukan buat duduk sendirian sambil dengerin lagu, kan?"
"Aku kesini mau healing, tau," kilah Belva sambil mengerucutkan bibirnya manja. "Pekerjaan lagi numpuk banget belakangan ini. Otakku rasanya mau pecah. Makanya begitu punya waktu luang, aku langsung ke sini. Eh, enggak taunya malah ketemu kamu."
"Oh, jadi gue ini bagian dari healing lu?" goda Luxas.
"Bisa jadi," tantang Belva, tidak mau kalah. "Tergantung seberapa pinter kamu bikin aku lupa sama stresnya kerjaan malam ini."
Luxas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih botol minuman baru yang ada di ember es di meja mereka, menuangkannya ke dalam dua gelas sloki berukuran kecil. Ia menyodorkan satu gelas ke hadapan Belva, yang langsung diterima perempuan itu dengan senang hati.
"Untuk malam yang kebetulan ini," ucap Luxas mementingkan gelasnya ke udara.
"Untuk ingatan aku yang untungnya cepat balik," balas Belva sambil tertawa, mendentingkan gelasnya ke gelas Luxas.
Mereka meneguk cairan pekat itu dalam satu sentakan. Rasa hangat yang membakar langsung menjalar turun ke kerongkongan Belva, menyisakan sensasi berani yang kian meluap-luap. Efek alkohol kloter kedua ini bekerja jauh lebih cepat. Pandangan Belva mulai sedikit berpendar, dan suasana klub yang tadinya bising kini terasa seperti latar belakang yang mengabur. Fokusnya sepenuhnya tersita oleh sosok lelaki di sampingnya.
Luxas meletakkan gelas kosongnya, lalu kembali memiringkan tubuh menghadap Belva. "Dua bulan lalu... lu langsung hilang paginya. Bahkan enggak ninggalin nomor telepon atau akun media sosial. Lu emang sengaja misterius, atau emang kebiasaan lu kayak gitu?"
Belva tersenyum misterius. Ia mengingat pagi itu, ketika sinar matahari menembus gorden kamar hotel dan ia terbangun dengan rasa puas namun juga kesadaran bahwa ia harus segera kembali ke dunia nyata. Belva bukanlah tipe perempuan yang suka mengikatkan diri pada hubungan yang rumit setelah satu malam yang menyenangkan. Bagi Belva, apa yang terjadi di bawah lampu kota malam hari, biarlah tetap tinggal di sana.
"Anggap aja itu aturan main aku, Luxas," bisik Belva, memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Sesuatu yang instan itu kadang terasa lebih berkesan kalau enggak ada kelanjutannya. Bikin penasaran, kan?"
"Sialan," umpat Luxas pelan, namun matanya berkilat penuh gairah. "Tapi harus gue akuin, trik lu berhasil. Gue sempat nyariin lu seminggu setelah malam itu."
"Benaran?" Belva menaikkan kedua alisnya, merasa menang. "Ah, masa sih cowok sekeren kamu susah nyari gandengan baru sampai harus mikirin cewek yang bahkan kamu enggak tau nama belakangnya?"
"Bukannya enggak ada gandengan, Bel. Tapi belum ada yang bisa bikin gue ngerasa... sepuas malam itu," jawab Luxas jujur, suaranya merendah menjadi bisikan intim yang sarat akan godaan.
Kata-kata Luxas seperti menyulut api di dalam dada Belva. Ego perempuannya merasa sangat tersanjung. Di bawah temaram lampu VIP area yang remang-remang, Belva bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan mata Luxas perlahan turun, tertuju pada bibirnya yang dilapisi lip gloss merah muda yang berkilau.
Detik itu juga, suasana di antara mereka berubah total. Ketegangan yang sedari tadi ditahan kini mencapai puncaknya. Luxas mengulurkan tangannya, jemari besarnya perlahan menyentuh rahang Belva, ibu jarinya mengusap lembut sudut bibir perempuan itu. Belva tidak menolak, ia justru memejamkan matanya menikmati sentuhan dingin tangan Luxas yang kontras dengan kulit wajahnya yang mulai memanas akibat alkohol.
"Jadi," Luxas mengulang pertanyaannya yang tadi, kali ini dengan nada yang jauh lebih menuntut dan penuh kepastian. "Gue tanya sekali lagi. Kita mau tetap di sini nontonin temen-temen gue yang lagi sibuk di bawah, atau kita pergi sekarang?"
Belva membuka matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Luxas yang menggelap. Rasa penat karena pekerjaan, stres yang menumpuk berhari-hari, semuanya menguap begitu saja digantikan oleh adrenalin yang berpacu cepat.
"Ambil jaket kamu, Luxas," jawab Belva dengan suara serak yang seksi. "Dan bawa aku keluar dari sini sebelum temen-temen kamu balik ke meja ini."
Senyum kemenangan terukir jelas di wajah tampan Luxas. Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung berdiri, menyambar jaket kulit hitamnya yang tergeletak di ujung sofa, lalu mengulurkan tangannya ke arah Belva. Belva menyambut uluran tangan itu, membiarkan Luxas menariknya berdiri.
Langkah kaki Belva sempat sedikit limbung karena efek minuman, namun dengan sigap tangan Luxas merengkuh pinggangnya, menahan tubuh mungil itu agar tetap seimbang. Mereka berjalan berdampingan membelah VIP area, bersiap meninggalkan hingar-bingar klub malam untuk melanjutkan babak kedua dari pertemuan tak terduga mereka.
Luxas menuntun Belva menuruni tangga VIP area, melewati kerumunan orang yang masih asyik bergoyang mengikuti ketukan musik. Tangan Luxas yang melingkar posesif di pinggang Belva seolah menjadi tameng, memastikan tidak ada satu pun orang mabuk yang menyenggol perempuan itu. Di bawah sorotan lampu laser yang berganti warna dari biru ke ungu, langkah mereka berdua terasa begitu tergesa namun penuh kepastian.
Begitu mereka keluar dari pintu lobi utama klub, udara malam yang dingin langsung menyergap kulit Belva. Perempuan itu sedikit menggigil, kontras sekali dengan hawa panas yang membakar di dalam ruangan tadi. Kesadarannya agak kembali berkat angin malam, namun debaran di dadanya justru makin menggila.
"Dingin?" tanya Luxas, menyadari perubahan gestur Belva.
Tanpa menunggu jawaban, Luxas melepaskan jaket kulit hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Belva. Aroma parfum Luxas yang tertinggal di jaket itu langsung membungkus tubuh Belva, memberikan rasa hangat yang menenangkan sekaligus intim.
"Makasih," bisik Belva, merapatkan jaket itu ke tubuhnya yang terbalut gaun maroon pendek.
Luxas hanya tersenyum tipis, lalu mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Sebuah mobil sedan sport berwarna hitam metalik berbunyi klik, lampunya berkedip di area parkir valet. Luxas membukakan pintu penumpang untuk Belva dengan gestur yang sangat maskulin, lalu setelah Belva masuk, ia memutari kap mobil dan duduk di kursi kemudi.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, suara bising dari dalam klub langsung teredam sempurna. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru halus mesin mobil yang mulai menyala dan hembusan AC yang perlahan mendinginkan kabin.
Luxas tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia bersandar pada kemudi, memiringkan kepalanya untuk menatap Belva yang kini sedang merapikan rambutnya di depan kaca spion tengah.
"Jadi, ke tempat gue atau tempat lu?" tanya Luxas langsung pada intinya.
Belva menoleh, sebuah senyuman nakal terbit di sudut bibirnya. "Tempat kamu aja.."
Luxas terkekeh mendengar alasan itu. Ia memindahkan transmisi mobil, menginjak pedal gas, dan membawa kendaraan itu membelah jalanan ibu kota yang masih menyala terang oleh lampu-lampu kota meskipun waktu sudah menunjukkan dini hari.
Sepanjang perjalanan, keheningan di antara mereka tidak terasa canggung sama sekali. Ada ketegangan yang menyenangkan, sebuah antisipasi dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Tangan kiri Luxas sesekali turun dari kemudi, mencari tangan Belva dan menggenggamnya erat di atas konsole tengah mobil. Belva membiarkannya, jemarinya bermain-main di punggung tangan Luxas yang urat-uratnya terlihat samar.
Sekitar dua puluh menit membelah jalanan yang lengang, mobil Luxas memasuki area basemen sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Setelah memarkirkan mobilnya dengan mulus, mereka berdua berjalan menuju lift.
Di dalam lift yang berdinding cermin, Luxas berdiri tepat di belakang Belva. Matanya menatap pantulan diri mereka. Tanpa bisa ditahan lagi, Luxas memajukan tubuhnya, mengecup lembut pundak Belva yang terbuka karena jaket kulitnya sedikit merosot. Belva mendesah pelan, kepalanya bersandar pada dada bidang Luxas, menikmati sensasi geli sekaligus nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh satu. Luxas merangkul pundak Belva, menuntunnya keluar menyusuri lorong sunyi berkarpet tebal hingga berhenti di depan pintu nomor 706. Luxas menempelkan kartu aksesnya, dan bunyi bip pendek menandakan pintu telah tidak terkunci.
Begitu pintu terbuka dan mereka melangkah masuk, Luxas langsung menutup pintu di belakang mereka dengan sentakan pelan. Sebelum Belva sempat menyalakan lampu, tubuhnya sudah diputar oleh Luxas hingga punggungnya bersandar pada pintu kayu yang kokoh.
Dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu kota dari balik jendela besar apartemen, Luxas mengunci tubuh Belva.
"Gue udah nahan ini sejak di klub tadi, Bel," bisik Luxas, suaranya terdengar sangat berat dan serak.
Belva tersenyum di dalam kegelapan, tangannya naik untuk mengalungkan lengan di leher Luxas. "Siapa yang minta kamu buat nahan, Lux?"
Jawaban Belva adalah lampu hijau yang dinantikan. Luxas langsung menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut, panas, dan penuh dengan kerinduan yang terpendam selama dua bulan terakhir.
Belva membalasnya dengan tidak kalah intens, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam pesona Luxas malam ini, melupakan semua beban pekerjaan dan penat yang sempat menggelayuti pikirannya. Malam ini, di tempat ini, hanya ada mereka berdua.