Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Di dalam kamar yang sunyi, Sasi menatap lembaran kertas di meja samping ranjangnya dengan pandangan hampa.

Pikirannya melayang pada sang ayah yang tengah terbaring sakit di rumah.

Bayangan Hendrik yang bisa saja mendatangi dan menyakiti ayahnya membuat pertahanan Sasi runtuh seketika.

Dengan tangan yang masih menggigil hebat, Sasi memungut pulpen tersebut.

Ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas kontrak itu, menjual sisa kebebasannya demi perlindungan sang ayah.

Namun, sebelum menyerah sepenuhnya, Sasi mencoret dan menambahkan satu poin syarat tulisan tangan di bagian bawah kertas.

Ia melangkah keluar kamar dan mendapati Adrian serta Fitria yang masih berada di lorong.

Tanpa ragu, Sasi melempar kertas kontrak itu ke dada Adrian.

"Aku sudah menandatanganinya," ujar Sasi dengan suara dingin.

Tapi dengan satu syarat, aku mau kamar utama."

Fitria yang mendengar hal itu membelalak tegang.

Merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang wanita yang dianggapnya hanya sebagai perantara, Fitria melangkah cepat mendekat dan PLAK!—sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Sasi hingga wajah wanita itu terlempar ke samping.

"Jangan mimpi!" bentak Fitria dengan napas memburu dan mata menyala marah.

"Kamu itu cuma maduku! Jangan berani-berani mengatur rumah ini!"

Sasi mengusap sudut bibirnya yang terasa panas, lalu menatap Fitria tanpa rasa takut sedikit pun.

"Ya sudah, kalau begitu aku tidak mau."

Ia berbalik hendak masuk kembali ke kamarnya, namun suara tegas Adrian seketika menghentikan langkah semua orang.

"Aku setuju."

Fitria terperanjat, menoleh menatap suaminya tak percaya.

"Mas?! Apa-apaan kamu ini?!"

"Oke, kamar utama punyamu, Sasi," lanjut Adrian datar, mengabaikan teriakan Fitria.

Tanpa membuang waktu, Adrian langsung memanggil anak buahnya yang berjaga di ujung lorong.

"Bawa dan pindahkan semua barang-barang Sasi ke kamar utama sekarang juga. Dan barang-barang Fitria, pindahkan semuanya ke kamar atas."

"MAS ADRIAN!!" jerit Fitria histeris, tak menyangka suaminya tega mengusirnya dari kamar utama demi wanita yang baru saja masuk ke dalam kehidupan mereka.

Sasi melangkah masuk ke dalam kamar utama yang amat mewah.

Ruangan itu begitu luas dengan ranjang berukuran king-size, karpet tebal yang mengalas lantai marmer, serta pemandangan taman belakang yang megah dari balik jendela kaca besar.

Ini adalah kamar yang selama bertahun-tahun diduduki oleh Fitria sebagai ratu di rumah ini.

Sasi menatap sekeliling dengan wajah datar tanpa impresi.

Rasa sakit akibat tamparan Fitria di pipinya masih terasa hangat dan berdenyut, namun rasa panas itu justru membakar habis sisa kelemahannya.

Ia tidak akan lagi membiarkan dirinya diinjak-injak, diperlakukan seperti barang sewaan, atau dijadikan keset oleh Fitria.

Jika, rumah ini adalah medan pertempuran dan penjara yang dipaksakan padanya, maka ia akan mengambil kendali atas permainan ini.

Sasi berjalan mendekati cermin rias yang besar, memandangi bayangan dirinya sendiri—pantulan seorang wanita dengan luka memar di kulit, namun memiliki tatapan mata yang kini dipenuhi keberanian dan tekad tajam.

Kamu mau anak dari rahimku, kan? Dan kamu berpikir bisa mengendalikanku di rumah ini? batin Sasi seraya mengepalkan kedua tangannya erat-erat.

Lihat saja nanti, Fitria. Aku tidak hanya akan bertahan di kamar ini, aku akan membuat Adrian berlutut dan hanya mencintaiku.

Adrian melangkah masuk ke dalam kamar utama yang kini telah berpindah kepemilikan.

Ia mendapati Sasi sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan raut wajah tegas yang tak lagi menyembunyikan penolakan.

"Aku harus kembali bekerja," ujar Sasi tanpa basa-basi saat pandangan mereka bertemu.

Adrian menghentikan langkahnya sejenak, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

"Aku tidak mengizinkan kamu bekerja di kafe itu lagi."

"Adrian, tolong," Sasi membujuk, suaranya melembut namun menyirat keputusasaan yang mendalam.

"Aku tidak akan lari. Aku janji."

"Tidak, Sasi. Keputusanku mutlak," potong Adrian dingin tanpa ruang negosiasi.

Pria itu berbalik menuju lemari pakaian, melepaskan kemejanya yang bersimbah bercak darah semalam, lalu menggantinya dengan setelan pakaian kerja yang rapi dan licin.

Gerakannya tenang namun memancarkan otoritas penuh yang tak terbiaskan.

"Kamu harus tetap di rumah ini bersama Fitria," lanjut Adrian seraya merapikan kerah kemejanya di depan cermin besar.

Ia berbalik memandang Sasi yang masih terpaku di tempatnya.

"Ayo, sekarang kita sarapan."

Sasi menghela nafas panjang, lalu melangkah kaku menuju ke ruang makan.

Suasana meja makan yang panjang itu terasa begitu tegang dan menyengat.

Di sana, ia melihat Fitria yang sudah duduk menunggunya dengan gaun rumahan yang rapi, namun raut wajah wanita itu masih dipenuhi sisa-sisa amarah dan dendam dari kejadian tadi subuh.

Begitu Adrian melangkah masuk ke ruang makan, wajah Fitria berubah seketika.

Ia menarik kursi di sebelahnya dengan senyum yang dipaksakan.

"Mas, sini duduk sama aku," ucap Fitria penuh nada kepemilikan.

Sasi mengabaikan pemandangan itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia sengaja melangkah terus dan mengambil posisi duduk di tempat jauh, di ujung meja yang berlawanan dari mereka berdua.

Adrian menghentikan tangannya yang hendak menarik kursi di dekat Fitria.

Pandangannya beralih menatap Sasi yang duduk menyendiri di ujung sana.

"Sasi, duduk sini," panggil Adrian tegas, menunjuk kursi kosong tepat di sisi kirinya.

Sasi bergeming, enggan bergerak dari posisinya. Namun tatapan mata Adrian menajam, memberikan tekanan tak kasat mata yang tak bisa ia sangkal.

"Layani suamimu ini," lanjut Adrian dengan suara berat yang menuntut kepatuhan.

Sasi mencengkeram erat tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih.

Menahan gejolak amarah yang membakar dada, ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati posisi Adrian dengan langkah pelan namun pasti.

Sasi memasang senyum tipis yang sarat akan sindiran, lalu menunduk menatap Adrian.

"Mas Adrian mau makan apa?" tanya Sasi halus, sengaja menirukan ucapan dan nada bicara Fitria sebelumnya.

Adrian sempat tertegun sejenak melihat perubahan sikap Sasi yang mendadak melunak, meski ia tahu ada kegetiran di balik senyuman wanita itu.

Pria itu menatap Sasi datar lalu menjawab, "Nasi goreng, telur dadar, dan susu kedelai."

Mendengar interaksi itu, raut wajah Fitria seketika berubah keruh.

Ia meletakkan sendoknya dengan hentakan kasar hingga menimbulkan suara denting yang nyaring.

"Mas, seharusnya aku yang melayani kamu!" ucap Fitria dengan nada menuntut, matanya menyala menatap Sasi penuh cemburu dan rasa tak terima.

Adrian menoleh perlahan ke arah istri pertamanya.

Dengan suara bernada dingin namun tegas, ia memotong protes wanita itu tanpa ragu.

"Fit, Sasi juga istriku."

Sasi meracik makanan di piring dengan sigap, lalu menyajikannya di hadapan pria itu.

"Ini, Mas," tutur Sasi, suaranya terdengar lembut namun menyimpan kehangatan yang dipaksakan untuk memancing emosi wanita di sebelahnya.

"Terima kasih, Sasi," balas Adrian seraya menatap mata Sasi dalam-dalam.

Melihat perhatian Adrian tersedot sepenuhnya, Fitria meletakkan piring kosongnya ke arah Sasi dengan wajah sombong.

"Ambilkan untuk aku juga," perintahnya dengan nada mengintimidasi.

Sasi menghentikan gerakannya sejenak. Ia melirik piring Fitria, lalu menatap wanita itu lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Ambil sendiri, kamu punya tangan," ujar Sasi dingin dan menohok.

Tanpa memedulikan wajah Fitria yang makin memerah menahan kemarahan, Sasi santai mengambil porsi nasi goreng untuk dirinya sendiri, lalu duduk di sebelah Adrian—mengabaikan sepenuhnya tatapan berapi-api dari sang istri pertama.

Sambil menikmati nasi gorengnya, suasana di meja makan mendadak hening.

Adrian mengunyah pelan, namun fokusnya sama sekali tidak berada pada makanan di piringnya.

Sesekali, matanya bergerak melirik wajah Sasi yang duduk tepat di sisinya.

Wanita itu tampak sibuk dengan piringnya sendiri, menyendok nasi dengan tatapan lurus ke depan—dingin dan tak tersentuh.

Namun di balik sikap keras dan keberanian yang baru Sasi tunjukkan pagi ini, ingatan Adrian justru tertarik kembali ke adegan di kamar tadi.

Bayangan tubuh Sasi saat melepaskan pakaiannya terngiang jelas di benak Adrian.

Kulit mulus yang seharusnya bersih itu justru dipenuhi jejak memar kebiruan dan lebam yang memilu—sisa kekejaman Hendrik yang membekas begitu dalam.

Sensasi sesak dan panas mendadak menjalar di dada Adrian.

Ada kemarahan yang membakar dari dalam, bersanding dengan rasa bersalah yang tak sanggup ia ucapkan di depan kedua istrinya.

Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, menyadari betapa hancurnya wanita di sebelahnya ini, dan betapa besarnya benteng pertahanan yang harus Sasi bangun hanya untuk bertahan hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!