Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan di Meja Dewan
Keheningan yang mencekam pascacengkeraman dokumen raksasa di layar holografik aula utama Grand Ballroom terasa begitu pekat dan menyesakkan, seolah ribuan pasang mata para petinggi sindikat dunia hitam mendadak berhenti berkedip bersamaan. Suara gemerisik kain gaun sutra yang mahal, desir napas tertahan dari para tamu undangan, hingga denting halus gelas kristal yang bersentuhan dengan meja seketika lenyap tak bersisa. Ruangan megah yang tadinya dipenuhi oleh dengungan percakapan dan alunan musik orkestra klasik itu mendadak berubah menjadi sunyi senyap layaknya kuburan bawah tanah yang paling kelam, digantikan oleh suara detak jantung yang berpacu kencang di balik dada masing-masing orang yang hadir menyaksikan pertunjukan maut tersebut.
Tuan Marcus, tetua faksi barat yang tadinya berdiri tegak dengan penuh keangkuhan, dagu terangkat tinggi, dan senyuman meremehkan di bibirnya, kini membeku kaku di tempatnya bagaikan patung batu. Wajah tuanya yang berkerut mendadak pias seketika, kehilangan seluruh warna darahnya dalam hitungan detik, menyisakan rona pucat pasi yang mengerikan. Dokumen arsip digital berenkripsi tinggi yang terpampang megah di dinding utama aula itu bukanlah dokumen sembarangan yang bisa direkayasa; itu adalah bukti otentik, cap segel basah asli, dan tanda tangan darah dari para leluhur faksi barat yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di ruang arsip terdalam untuk menutupi sejarah pengkhianatan terbesar mereka terhadap dinasti The Crimson King.
"I-ini... ini tidak mungkin terjadi! Ini sebuah kesalahan besar!" suara Tuan Marcus bergetar hebat, pecah dan nyaris hilang di tenggorokannya yang mendadak kering. Jemarinya yang keriput mencengkeram tepi meja bundar dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna, berusaha menahan tubuhnya yang mendadak limbung kehilangan keseimbangan. "Dokumen itu... dokumen itu palsu! Itu adalah rekayasa busuk yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan kehormatan dewan konservatif kami di hadapan para petinggi dunia hitam!"
Ceisya melangkah maju satu langkah lagi dengan anggun tanpa keraguan sedikit pun. Gaun malam hitam berkilaunya menyapu lantai marmer dengan suara desiran kain yang begitu elegan namun mematikan, bagaikan langkah seekor macan kumbang yang mendekati mangsanya di tengah kegelapan hutan. Manik mata hijau terangnya menatap rendah ke arah sang tetua tua, memancarkan aura dingin seorang algojo elit yang siap menebas leher siapa saja yang berani menentangnya di atas wilayah kekuasaannya.
"Palsu?" suara Ceisya meluncur tajam, memecah kesunyian aula tanpa cela sedikit pun. Nada bicaranya terdengar sangat tenang, datar, namun menghujam langsung ke ulu hati siapapun yang mendengarnya. "Atau kau dan faksi barat hanya terlalu pengecut untuk mengakui kebenaran bahwa keluarga utamamu selama ini hanyalah segerombolan pengkhianat yang hidup di bawah belas kasihan The Crimson King? Kakek moyangmu bersujud memohon ampun dengan menandatangani kontrak pelayan abadi itu, dan sekarang keturunannya berani bertingkah seolah-olah mereka adalah pemilik sah singgasana ini?"
Bisik-bisik riuh langsung meledak seketika di antara meja para petinggi faksi independen dan faksi netral. Para tetua dari faksi lain, yang selama ini sering tertekan atau terpaksa tunduk oleh arogansi faksi barat, mulai saling berpandangan dengan tatapan penuh kecurigaan, keterkejutan, dan rasa jijik yang mendalam terhadap Tuan Marcus.
Di sudut ruangan yang agak tersembunyi di balik pilar marmer besar, Bianca mencengkeram erat pegangan kursi rodanya hingga kuku-kukunya hampir menembus kulit lapiknya yang empuk. Napas wanita itu memburu pendek, dadanya naik-turun dalam kepanikan yang teramat sangat hingga membuatnya nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Sial... sialan! Rencana ini berbalik menghancurkan kami sepenuhnya! batin Bianca histeris, manik mata biru terangnya melotot tak percaya melihat bagaimana dengan hanya beberapa kalimat telak, Ceisya telah membalikkan seluruh opini publik dewan sindikat dalam sekejap mata.
Sylus tetap berdiri di tempatnya dengan postur santai namun mematikan. Sebelah tangan pria itu masih melingkar protektif dan posesif di pinggang ramping Ceisya, sementara manik mata merah menyala miliknya menyapu tajam ke seluruh penjuru aula, memastikan tidak ada satupun pengawal faksi barat yang berani bergerak atau mencabut senjata. Suhu di dalam ruangan megah itu kembali merosot drastis hingga titik beku, membuat keringat dingin bercucuran lebat di pelipis para pengawal faksi barat yang berjaga di tepi dinding.
"Kalian datang ke perjamuan ini untuk mempertanyakan kelayakanku?" suara Ceisya kembali menggema, langkah kakinya bergeser perlahan mendekati meja Tuan Marcus, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa besar hingga membuat sang tetua terpojok. "Kalian mencoba menyebarkan gosip murahan di forum gelap bawah tanah, menggali masa laluku sebagai anak buangan, berharap aku akan hancur dan berlutut memohon ampun di kaki kalian? Maaf... kalian telah salah memilih mangsa."
Tuan Marcus terhuyung mundur dengan langkah limbung, kakinya menabrak kursi belakang hingga hampir terjatuh ke lantai marmer. "Cukup... hentikan omong kosong itu! Penjaga! Amankan wanita lancang ini!" teriaknya panik, memanggil pengawal pribadinya dengan suara sumbang.
Namun, tidak ada satu pun pengawal faksi barat yang berani bergerak maju walau satu langkah pun. Di hadapan The Crimson King yang berdiri menatap mereka dengan tatapan haus darah, menggerakkan satu jari saja berarti memilih kematian instan dalam waktu kurang dari tiga detik. Logan, yang berdiri tegap di dekat pintu masuk utama, sudah mengarahkan laser senapan sniper tersembunyi dari balik balkon tepat ke arah dahi Tuan Marcus.
Sylus akhirnya membuka suara. Suara bariton pria itu terdengar rendah, berat, dan menggelegar memenuhi setiap jengkal aula, meremukkan sisa-sisa mental terakhir di ruangan itu tanpa ampun.
"Di wilayah kekuasaanku, tidak ada seorang pun yang boleh menaikkan nada suara di hadapan Ratu-ku," ucap Sylus dingin, setiap suku kata yang keluar dari mulutnya bagaikan vonis mati yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. "Tuan Marcus, kau telah melanggar batas kesabaran dewan sindikat dengan membawa omong kosong ke hadapanku. Dan faksi barat... telah kehilangan seluruh hak istimewa mereka malam ini."
Sebelum Tuan Marcus sempat memohon ampun atau meloloskan sepatah kata pun untuk membela diri, dua pengawal elit berpakaian serba hitam bergerak kilat dari bayang-bayang pilar, mencengkeram kedua lengan sang tetua tua dengan kasar dan menyeretnya keluar dari aula di atas lantai marmer yang mengkilap, meninggalkan jejak kepanikan yang luar biasa di antara para pendukung faksi barat lainnya.
Ceisya menatap kepergian Tuan Marcus dengan senyuman kemenangan yang tipis namun menakjubkan. Ia kemudian memutar tubuhnya perlahan, mengarahkan pandangan tajamnya langsung ke arah sudut gelap tempat Bianca bersembunyi di balik kursi roda. Meskipun tertutup bayangan pilar, mata hijau Ceisya seolah menembus kegelapan itu, mengirimkan pesan telak kepada sang saudari tiri: Giliranmu yang berikutnya.