Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Keesokan harinya, Rama duduk di ruang kerjanya memandangi deretan data transaksi gelap milik David yang dikirim lewat e-mail anonim. Setelah menelusuri alur enkripsinya, sudut bibir perwira polisi itu terangkat. Ia tak menyangka dua bocah berusia tujuh tahun itu memiliki kejeniusan tingkat tinggi hingga sanggup membongkar kebusukan David yang tersimpan rapi bertahun-tahun. Rama pun memutuskan untuk mendatangi kediaman Ganendra hari itu juga guna menemui si kembar secara langsung.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah kawasan elite Jakarta, suasana justru terasa panas. David Ganendra berjalan bolak-balik di ruang tengah dengan raut wajah yang merah padam. Ia sangat geram setelah mendapat kabar bahwa anak buah yang dikirimnya ke Sukamakmur telah diringkus oleh tim kepolisian.
"Sialan! Polisi-polisi itu cepat sekali bergerak!" umpat David seraya menghempaskan cangkir kopi ke atas meja hingga pecah berkeping-keping.
Amanda, istri David sekaligus adik kandung Tuan Fernando, melangkah mendekat dengan wajah cemas. Ia menghela napas berat, mencoba menenangkan suaminya yang kian kalap.
"Mas, sudahlah... Hentikan semua aksi gila mu ini," ujar Amanda lirih namun tegas. "Melawan Mas Fernando dan Edgar itu tidak akan pernah mudah. Jangan membuat keluarga kita semakin hancur!"
David menoleh tajam, matanya menatap sang istri dengan penuh amarah. "Fernando kakakmu itu tidak adil terhadap kita, Amanda! Mentang-mentang kau seorang perempuan, saham yang kau miliki di Ganendra Group tidak merata!"
"Mas, itu sudah ketentuan dari mendiang kedua orang tua kami, bahwa anak laki-laki mendapatkan hak waris dan saham lebih besar dari anak perempuan. Sudahlah, Mas David, hentikan melawan kakakku!" balas Amanda memohon.
David memegang kedua bahunya Amanda, memasang raut wajah memelas yang penuh intrik. "Amanda, aku hanya ingin menuntut keadilan untukmu, Istriku! Aku melakukan semua ini demi masa depan keluarga kita, demi Aldo!"
Amanda terdiam terpaku, tak membalas sepatah kata pun. Dalam hatinya, wanita itu sudah sangat lelah. Ia tahu betul ambisi buta suaminya bukan lagi demi keadilan, melainkan keserakahan untuk menjadikan putra mereka, Aldo, sebagai pewaris tunggal Ganendra Group dan melengserkan Edgar dari tahtanya lewat berbagai rencana busuk.
'aku tidak akan membiarkan Edgar menguasai seluruh aset Ganendra, pria menyebalkan itu tidak pantas menjadi pewaris utama Ganendra Group, apapun caranya, Aldo putraku harus bisa berada di posisinya Edgar!' batinnya penuh ambisi.
*
*
Tak lama kemudian, sebuah mobil dinas kepolisian terparkir di halaman kediaman utama Ganendra. Rama melangkah masuk setelah disambut hangat oleh Tuan Fernando dan Edgar yang sudah menunggunya di ruang tamu.
"Pak Komisaris, ada perkembangan baru mengenai penyusup kemarin?" tanya Edgar serius.
"Pria itu sudah kami amankan dan sedang dalam proses pemeriksaan," jawab Rama tenang, lalu pandangannya beralih ke arah tangga. "Tapi kedatanganku ke sini hari ini sebenarnya untuk menemui dua peretas cilik yang ada di rumah ini."
Aruni yang baru keluar dari dapur membawa nampan minuman mendadak terhenti. "Maksud Kak Rama... Rayyan dan Zayyan?"
Rama tersenyum tipis, lalu mengangguk. tak lama kemudian, Rayyan dan Zayyan melangkah turun dari lantai dua dengan gaya tenang dan percaya diri.
"Paman Rama datang untuk menagih janji, ya?" tebak Rayyan dengan tatapan dewasanya.
Edgar dan Aruni saling melempar pandangan bingung.
"Rayyan, Zayyan... E-mail bukti transaksi gelap David Ganendra yang dikirim ke sistem kepolisian tadi malam... itu perbuatan kalian, kan?" tanya Rama lurus.
Aruni membelalakkan mata, hampir saja menumpahkan teh di nampannya.
"Apa?! Rayyan, Zayyan... kalian meretas sistem polisi?!"
Zayyan menyengir polos sambil berlindung di belakang punggung kakaknya. "Bukan cuma sistem Paman Rama kok, Bun... Sistem perusahaan Ayah, ponsel Paman Harry, sama akun si Paman Jahat juga sudah dipasang pintu belakang sama Kak Rayyan."
Edgar tersentak kaget, namun di detik berikutnya, sebuah ukiran senyum bangga yang sangat lebar terukir di wajah CEO Ganendra Group tersebut. Kejeniusan darah dagingnya sendiri kini resmi menjadi senjata paling mematikan untuk menghancurkan musuh keluarga mereka.
Aruni hampir menjatuhkan nampan di tangannya jika Edgar tidak dengan sigap menangkap siku wanita itu. Wajah Aruni pucat pasi, menatap kedua putra kembar mereka yang kini berdiri berdampingan di hadapan para pria dewasa di ruang tamu tersebut.
"Rayyan! Zayyan! Siapa yang mengajari kalian melakukan tindakan berbahaya seperti itu?!" omel Aruni dengan nada suara bergetar, campur aduk antara cemas dan tidak percaya. "Itu ilegal! Kalian bisa ditangkap polisi!"
Zayyan menyengir polos, lalu menunjuk ke arah Rama. "Paman Rama tidak akan menangkap kami kan, Bun? Lagipula, kalau kita tidak meretas akun Paman David, kita tidak akan tahu kalau dia mau membahayakan Bunda lagi!"
Rama yang berdiri tegap hanya bisa menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan rasa takjubnya. Pria berpangkat Komisaris itu berlutut di hadapan Rayyan dan Zayyan, menatap langsung ke dalam bola mata dua bocah jenius di hadapannya.
"Secara hukum, perbuatan kalian memang melanggar aturan," ujar Rama tegas namun dengan nada yang melunak. "Tapi... Paman mengakui, kemampuan kalian luar biasa. Data alokasi dana gelap yang kalian kirimkan adalah bukti vital yang selama ini kami cari untuk mengunci pergerakan David Ganendra."
Edgar melangkah mendekat, lalu berlutut di samping Rama. Pria tegap itu mengusap lembut kepala Rayyan dan Zayyan dengan binar mata memancar penuh kebanggaan.
"Kalian tidak salah, Sayang. Kalian sudah melakukan hal besar untuk melindungi Bunda," bisik Edgar penuh kehangatan, lalu menoleh menatap Aruni yang masih berdiri mematung. "Darah Ganendra mengalir deras di tubuh mereka, Aruni. Kejeniusan ini... adalah bukti bahwa mereka memang putraku."
Aruni membuang muka, menahan gejolak emosi di dadanya saat melihat Edgar menatap kedua putranya dengan begitu penuh kasih.
Tuan Fernando yang menyaksikan pemandangan itu dari sofa besar terkekeh bangga hingga dadanya naik turun.
"Hahaha! Cucu-cucunya Kakek memang luar biasa! Panggil tim IT terbaik Ganendra Group, Harry! Mulai hari ini, amankan seluruh perangkat si kembar dan fasilitasi kemampuan mereka!"
"Baik, Tuan Besar," sahut Harry buru-buru mencatat instruksi tersebut.
Rama kembali berdiri tegak, membetulkan letak seragamnya lalu menatap Edgar dan Tuan Fernando dengan raut wajah amat serius.
"Bukti dari si kembar sudah cukup bagi kami untuk menerbitkan surat perintah penangkapan dan penggeledahan terhadap David Ganendra," tegas Rama. "Hari ini juga, tim gabungan dari Mabes Polri akan bergerak menuju kediaman David. Saya sarankan Tuan Edgar dan Tuan Besar tetap di sini demi keamanan."
Edgar bangkit berdiri, rahangnya mengeras tajam. "Tidak, Komisaris Rama. Aku akan ikut denganmu. Aku ingin melihat sendiri saat serigala berbulu domba itu diseret keluar dari rumahnya!"
Bersambung...
untuk aldo, dona, nova dan david beri hukuman siksa dan mati🤭🤭🤭
puji Tuhan, hubungan Aruni dan papa kandungnya sudah membaik