menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI YANG CANGGUNG
Malam itu berlalu tanpa sedetik pun rasa kantuk.
Bagi Yuki, bayangan sore tadi terus berputar di kepala. Ciuman pertama. Di bawah hujan. Di rumah yang sepi.
'Aaaa Yuki...' Ia mengubur wajahnya di bantal. 'Gimana besok ketemu dia? Harus senyum? Nyapa? Atau pura-pura lupa?'
Detik demi detik terasa lama. Matanya melek sampai fajar menyingsing.
Di tempat berbeda, Akira juga bernasib sama. Ia menatap langit-langit kamarnya.
'Pastilah bakal canggung banget besok di sekolah...' gumamnya pelan.
Tangan tanpa sadar terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Lalu buru-buru diturunkan lagi. 'Sial.'
Pagi harinya, ketakutan itu menjadi kenyataan.
Koridor sekolah ramai seperti biasa. Tapi bagi Yuki, suaranya seperti mengecil.
Langkahnya ragu. Dadanya berdebar tiap kali melihat punggung laki-laki jangkung dari kejauhan.
'Jangan dia. Jangan dia.'
Tapi takdir punya selera humor yang buruk.
Di depan loker, Akira berdiri. Punggungnya menghadap Yuki, merapikan buku-buku dengan gerakan kaku.
Jantung Yuki langsung mau copot. Ia refleks memutar badan, niat kabur.
"Yuki?"
Suara itu.
Yuki membeku. Perlahan ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dunia sekitar mendadak senyap. Udara di koridor terasa menipis.
Wajah Akira yang biasanya tenang, kini memerah sampai ke ujung telinga. Tangannya gugup mengusap tengkuk belakang.
"P-pagi, Yuki..." Sapanya gagap, suaranya pecah di tengah.
"Pagi, Akira..." balas Yuki hampir berbisik. Ia menunduk dalam-dalam, berpura-pura sibuk mengutak-atik tali tas yang baik-baik saja. Pipinya panas.
Hening. Canggung. Sangat canggung.
Obrolan yang biasa mereka punya lenyap, digantikan keheningan yang memekakkan telinga.
_Brriiing_
Bel masuk berbunyi, menyelamatkan sekaligus menjebak mereka.
Di dalam kelas, Wali Kelas menepuk papan tulis. "Dengarkan ya. Untuk proyek kelompok minggu ini..."
Jantung Yuki dan Akira berdegup bersamaan.
"Untuk kelompok tiga: Akira dan Yuki."
Seketika.
Mata mereka membelalak dan saling bertabrakan lagi.
Di saat teman-teman lain mulai heboh menggeser meja, mereka berdua hanya bisa terpaku.
Tidak ada jalan kabur lagi.
Suara gesekan meja dan kursi yang dipindahkan teman-teman perlahan menyadarkan mereka berdua.
Mau tidak mau, Akira menarik kursinya. _Sreeet_
Setiap langkah membawanya ke meja Yuki terasa berat, seperti ada beban berkilo-kilo di kedua kakinya.
Duduk.
Sekarang jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter. Tapi rasanya seperti dipisahkan jurang yang sangat lebar.
Bau harum sampo Yuki yang biasanya samar, kini terasa jelas sekali di dekatnya. Otak Akira langsung error.
Ia menghela napas pelan, lalu memaksa diri membuka suara.
"J-jadi... kita mau bahas materi yang mana dulu?"
Suaranya serak. Ia menatap lurus ke buku paket, takut kalau menoleh sedikit saja wajahnya akan ketahuan memerah.
Di sampingnya, Yuki memilin ujung bajunya di bawah meja. 'Tenang Yuki. Napas.'
"Terserah kamu saja... Aku ikut," jawabnya pelan.
"Oke... Kalau begitu kita bagi dua aja ya. Aku kerjakan bagian teori, kamu ringkas bagian studinya. Gimana?"
"Boleh," sahut Yuki singkat. Terlalu singkat.
Mereka pun mulai menulis. Atau setidaknya, pura-pura menulis.
Suasana canggung itu tidak berkurang sedikit pun.
Sampai akhirnya...
_Duk._
Pensil Yuki terjatuh ke lantai.
Tanpa pikir panjang, tangan mereka bergerak bersamaan untuk mengambilnya.
_Srett._
Kulit mereka bersentuhan. Sekilas. Panas.
"Ma-maaf!" Akira langsung menarik tangannya secepat kilat. Wajahnya merah sampai ke leher.
"Nggak apa-apa! Aku aja yang ambil!" Yuki memotong cepat, buru-buru mengambil pensilnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar.
Di meja sebelah, dua orang teman saling pandang. Lalu tersenyum tipis penuh arti.
Merasakan tatapan itu, Yuki dan Akira kompak membenamkan wajah ke buku.
Berpura-pura sangat sibuk. Padahal tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala mereka saat itu.
*bel istirahat*
_Teeet... teeet... teeet..._
Bel istirahat pertama akhirnya berbunyi.
Membebaskan seluruh siswa dari ketegangan pelajaran.
Sekaligus... memicu ketegangan baru bagi Yuki dan Akira.
Biasanya, begitu bel berbunyi, Yuki akan langsung berdiri dengan semangat.
Kotak bekal dipegang, lalu ia akan menoleh ke belakang dan berteriak: "Akira, ayo ke atap!"
Atap sekolah. Tempat rahasia mereka. Benteng paling nyaman di dunia.
Tapi hari ini berbeda.
Yuki hanya duduk terpaku. Tangannya meremas kantong kain berisi kotak bekal sampai buku-buku jarinya memutih.
'Harus ngajak nggak? Kalau nggak ngajak nanti aneh. Tapi kalau ngajak... duduk berdua di atap sepi... aaaa mau mati.'
Di sampingnya, Akira juga berpura-pura sibuk. Pensil dimasukkan satu-satu ke kotak. Lambat. Sengaja.
Dalam hati ia berdoa. 'Tolong Yuki ngajak. Tolong banget.'
Menit berlalu. Kelas kosong. Hanya tersisa mereka berdua.
Akhirnya, Yuki menggigit bibir bawahnya. Memberanikan diri.
Ia menoleh pelan. "A-Akira..."
Akira langsung menegang. Ia menoleh cepat, seolah sudah menunggu dari tadi. "I-iya, Yuki?"
"Kamu... mau ke atap?" tanya Yuki lirih. Jarinya menunjuk kotak bekal dengan ragu. Matanya tidak sanggup menatap lurus.
Mata Akira membelalak. Lalu napas lega yang panjang keluar.
Sebuah senyum tipis, canggung, tapi tulus muncul. "Iya... ayo."
Perjalanan ke atap terasa 10x lebih panjang dari biasanya.
Tangga demi tangga dilewati dalam diam. Tidak ada tawa. Tidak ada celoteh tentang anime.
Hanya ada suara langkah kaki yang bersahut-sahutan.
_Krek_
Pintu atap terbuka. Angin siang langsung menyambut, membawa sedikit kesejukan ke pipi mereka yang panas.
Mereka berjalan ke sudut favorit. Di bawah bayangan pembatas beton.
Dulu, mereka duduk sangat rapat. Bahu bersentuhan. Sekarang...
Ada jarak satu meter di antara mereka. Satu meter yang terasa seperti lautan.
Yuki membuka bekalnya pelan. "Hari ini ibu masakin sosis sama telur gulung..." katanya, suaranya kecil.
"W-wah, kelihatan enak," jawab Akira buru-buru. "Aku cuma bawa sandwich ham."
Mereka mengunyah dalam diam. Hanya suara angin dan kunyahan pelan.
Akira melirik. Profil Yuki saat pipinya menggembung karena mengunyah terlihat... manis sekali.
Tiba-tiba.
"Uhuk!"
Yuki tersedak.
"Eh! N-nih!" Akira panik. Ia langsung menyodorkan botol minumnya sendiri.
Yuki meneguk cepat. Beberapa kali.
Baru setelah lega, otaknya baru memproses.
Botol itu... milik Akira.
Yang berarti... bibirnya barusan menyentuh tempat yang sama dengan bibir Akira.
_DUG_
Darah di wajah Yuki langsung naik. Merah. Meledak.
"AH-" Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Yuki menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya merah padam sampai ke leher.
'Botol Akira. Bibirku. Botol Akira. Bibir Akira.'
Otaknya nge-lag. Dunianya berputar.
"A-aku... kenyang duluan," gumamnya pelan. Suaranya hampir tidak terdengar karena tertutup tangan.
Tanpa menunggu jawaban, ia buru-buru menutup kotak bekalnya. _Klik._
Akira yang dari tadi mencuri pandang langsung salah paham.
'Apa dia risih aku kasih botol?'
Jantungnya mencelos. Rasanya seperti ditusuk jarum kecil. "O-oh... oke," sahutnya pelan. Ia ikut menutup bekalnya juga, padahal bekal nya baru di sual sekali.
Keheningan kembali turun di antara mereka.
Kali ini lebih berat. Lebih dingin.
Angin atap yang tadinya sejuk, sekarang terasa menusuk.
Mereka sama-sama menatap langit. Menatap pembatas beton. Menatap apa saja...
Kecuali satu sama lain.
Satu meter jarak di antara mereka rasanya berubah jadi satu kilometer.
_Drrrtt... drrrtt..._
HP Akira bergetar di saku. Notifikasi grup kelas.
Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani bergerak untuk mengecek.
Waktu berjalan lambat. Sangat lambat.
Sampai akhirnya...
_Teeet... teeet... teeet..._
Bel masuk. Menyelamatkan mereka. Sekaligus menghukum mereka.
Mereka berdiri hampir bersamaan. Merapikan barang dengan gerakan kaku.
Tanpa sepatah kata pun, mereka berjalan turun.
Masih dalam diam.
Masih dengan jarak satu meter.
Langkah kaki mereka menuruni tangga dengan irama yang sama.
Tapi hati mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Yuki tidak bisa fokus sama sekali.
Setiap kali ia menulis, yang terlintas di kepalanya hanyalah rasa botol plastik yang dingin di bibirnya.
'Gila Yuki... itu botol Akira.'
Akira juga bernasib sama.
Ia menatap kosong ke papan tulis. Di benaknya terulang terus kalimat terakhir Yuki: '"Aku kenyang duluan."'
'Apa aku bikin dia gak nyaman ya...'
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Yuki langsung membereskan bukunya secepat mungkin dan berlari keluar kelas.
Takut. Kalau bertemu Akira lagi, ia pasti akan meledak karena malu.
Akira hanya bisa melihat punggung Yuki yang menjauh dari kejauhan.
Tangannya mengepal di atas meja.
Malam ini... pasti akan sama panjangnya dengan malam kemarin.
[Bersambung]