Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Tebing Tengkorak dan Upeti Darah
Dua minggu perjalanan mengubah pemandangan subur Kekaisaran Naga Langit menjadi tanah tandus yang retak dan beracun. Semakin jauh Lin Tian melangkah ke arah barat laut, semakin tipis qi alam di udara, digantikan oleh miasma kelabu yang membawa bau belerang dan pembusukan.
Rombongan pengungsi yang ia tumpangi akhirnya berhenti di perbatasan. Di hadapan mereka terbentang Pegunungan Seribu Iblis. Puncak-puncak gunungnya menjulang tajam bagai taring-taring raksasa yang menusuk langit, diselimuti oleh awan hitam yang sesekali memuntahkan petir merah. Tidak ada manusia waras yang mau melangkah masuk ke sana tanpa alasan yang kuat.
Lin Tian meninggalkan rombongan itu tanpa sepatah kata pun. Di tepi hutan mati yang mengering, ia melepas penyamaran pedagang tuanya. Topeng kulit ular iblis kembali melekat di wajahnya, kali ini mengubah struktur tulang dan auranya menjadi seorang kultivator pengembara berwajah pucat dengan bekas luka bakar di pipi—identitas fiktif yang ia sebut "Ye". Di dunia bawah tanah, wajah yang cacat dan aura yang dingin adalah pelindung terbaik dari perhatian yang tidak perlu.
Ia melangkah masuk ke dalam miasma.
Tujuan pertamanya adalah Kota Tebing Tengkorak, sebuah permukiman liar yang dibangun menjorok ke dalam dinding ngarai raksasa di kaki pegunungan. Kota ini tidak memiliki hukum, tidak memiliki tuan, dan tidak memiliki belas kasihan. Satu-satunya mata uang yang berlaku di sini adalah kekuatan dan batu roh.
Saat Lin Tian mendekati gerbang kota yang terbuat dari tulang rusuk monster raksasa, tiga pria berzirah kulit kadal menghadangnya. Aura Pengumpulan Qi tingkat tujuh dan delapan memancar dari tubuh mereka.
"Biaya masuk, sepuluh batu roh. Atau tinggalkan satu lengan dan cincin spasialmu," ucap pria terdepan yang memegang golok bergerigi, menatap Lin Tian dengan mata penuh keserakahan.
Lin Tian tidak mengeluarkan batu roh. Ia hanya menatap ketiga pria itu dan membiarkan satu tetes Lautan Qi Cair dari dantiannya mengalir ke meridiannya.
Perbedaan antara qi gas dan qi cair bagaikan perbedaan antara angin dan lautan. Saat Lin Tian melepaskan tekanannya, tidak ada ledakan angin atau cahaya yang menyilaukan. Yang ada hanyalah berat.
Udara di sekitar gerbang tiba-tiba menjadi seberat besi padat. Ketiga pemalak itu langsung membeku. Lutut mereka gemetar hebat, lalu menghantam tanah berbatu dengan suara retakan tulang. Wajah mereka memerah, pembuluh darah di leher menonjol seolah akan meledak, paru-paru mereka tidak mampu mengembang karena tekanan gravitasi spiritual yang menindas mereka.
"K-kau... siapa..." pria terdepan terengah-engah, darah merembes dari sudut bibirnya. Ia bahkan tidak bisa mengangkat goloknya.
Lin Tian melangkah melewati mereka, suara langkah kakinya terdengar santai di tengah keheningan yang mencekam. "Jika kalian masih hidup saat aku kembali, belajarlah untuk tidak menodong orang yang salah."
Ia melepaskan tekanan itu. Ketiga pria itu langsung ambruk, muntah darah dan pingsan seketika, meridian mereka rusak parah akibat beban qi cair yang tidak bisa mereka tangani.
Di dalam Kota Tebing Tengkorak, hiruk-pikuk kematian adalah pemandangan sehari-hari. Mayat kultivator yang gagal dijarah dibuang ke jurang di bawah kota. Lin Tian berjalan menuju sebuah bangunan berlantai tiga yang terbuat dari kayu hitam, dengan papan nama bertuliskan: Kedai Daging Iblis. Tempat ini dikenal sebagai pusat informasi dan bursa tugas bagi para pembunuh dan kultivator sesat.
Lin Tian masuk dan duduk di sudut yang gelap, memesan satu kendi arak kasar. Indra spiritualnya menyebar, menyadap percakapan-percakapan di sekitarnya. Sebagian besar membahas tentang monster, tambang batu roh, dan wilayah terlarang. Namun, di meja tengah, sekelompok kultivator berjubah merah tua sedang berbicara dengan suara keras dan arogan.
Jubah mereka memiliki bordiran bulan sabit berwarna merah darah di bagian dada.
Sekte Bulan Darah.
"Pengumpulan upeti bulan ini akan dimulai besok," ucap seorang pria berjubah merah yang memiliki kultivasi Puncak Pondasi Awal. Ia menendang kaki mejanya, membuat para kultivator di sekitarnya menunduk takut. "Tetua Agung telah mengeluarkan perintah. Kita butuh seratus kultivator dengan akar spiritual api atau darah untuk Festival Panen Darah. Siapa pun yang menolak menyerahkan diri atau anak buah mereka, akan dijadikan pupuk untuk Pohon Daging."
Seorang pemimpin kafilah lokal memberanikan diri untuk bertanya dengan suara bergetar, "Tuan... seratus orang? Bulan lalu hanya lima puluh. Jika kami menyerahkan sebanyak itu, kafilah kami akan hancur..."
Pria Sekte Bulan Darah itu tertawa meremehkan. Ia meraih kepala pemimpin kafilah itu dan meremasnya tanpa ragu. Krak. Darah dan otak muncrat ke meja.
"Leluhur Iblis akan segera terbangun," ucap pria itu sambil menyeka darah dari wajahnya, menatap sekeliling dengan mata gila. "Darah kalian adalah kehormatan! Besok siang, semua pemimpin faksi di Tebing Tengkorak harus membawa jatah mereka ke Altar Luar di Lembah Kabut Merah. Jika ada yang kurang, seluruh kota ini akan kami bakar!"
Lin Tian meneguk araknya, matanya berkilat di balik bayangan topeng.
Festival Panen Darah. Altar Luar di Lembah Kabut Merah.
Ini adalah tiket masuknya. Markas utama Sekte Bulan Darah pasti dilindungi oleh formasi raksasa yang mustahil ditembus secara paksa olehnya saat ini. Namun, jika ia bisa menyusup melalui Altar Luar sebagai "pengawas" atau bahkan menyamar sebagai salah satu anggota sekte yang mengumpulkan upeti, ia bisa masuk langsung ke jantung wilayah mereka.
Lin Tian meletakkan kendi araknya dan berdiri. Ia berjalan menuju meja yang kini berlumuran darah itu. Para anggota Sekte Bulan Darah yang tersisa langsung menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kau cari mati, anjing liar?!" bentak salah satu dari mereka, menghunus pedang ganda yang memancarkan aura racun.
Lin Tian tidak memperlambat langkahnya. Tangan kanannya terulur, qi hitam keemasan yang kini berwujud cair dan padat melilit jarinya bagai cakar naga. Ia menepis pedang ganda itu dengan punggung tangannya. Pedang itu hancur berkeping-keping, dan lengan kultivator tersebut langsung terputus dari bahunya, darah menyembur deras.
Sebelum yang lain bisa bereaksi, Lin Tian sudah mencengkeram leher pemimpin mereka—pria Puncak Pondasi Awal yang tadi membunuh pemimpin kafilah.
"Aku butuh jubahmu, token identitasmu, dan peta menuju Altar Luar di Lembah Kabut Merah," bisik Lin Tian, qi cairnya mulai merasuk ke leher pria itu, membakar kulit dan dagingnya perlahan. "Beri aku apa yang aku mau, dan aku akan membiarkan jiwamu tetap utuh. Tolak, dan aku akan membuatmu memohon pada iblis untuk membunuhmu."
Pria itu menatap mata Lin Tian yang hitam pekat dan merasakan kedinginan yang berasal dari neraka sesungguhnya. Ia sadar, ia tidak sedang berhadapan dengan kultivator pengembara biasa. Ia sedang berhadapan dengan monster yang menyamar sebagai manusia.
"D-dalam... dalam cincin spasialku..." pria itu terbatuk, menyerahkan sebuah cincin besi hitam dengan tangan yang gemetar. "Semuanya... ada di sana... tolong..."
Lin Tian mengambil cincin itu, lalu dengan gerakan cepat, mematahkan leher pria tersebut. Ia tidak pernah berjanji untuk membiarkannya hidup, hanya berjanji untuk membiarkan jiwanya utuh.
Ia menatap sisa anggota Sekte Bulan Darah yang kini gemetar ketakutan di sudut ruangan. "Bersihkan kekacauan ini. Dan jika kalian memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi di sini, aku akan kembali dan menguliti kalian hidup-hidup."
Tanpa menoleh lagi, Lin Tian melangkah keluar dari kedai, meninggalkan Kedai Daging Iblis yang kini sunyi senyap. Di dalam cincin besi hitam yang baru ia dapatkan, terdapat jubah merah darah, sebuah token bulan sabit, dan peta rahasia menuju gerbang belakang Sekte Bulan Darah.
Malam ini, sang pembantai akan mengenakan warna musuh. Dan besok, Altar Luar akan menyambut kedatangan iblis yang sesungguhnya.