Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Kabur

"Bang, aku takut."

Wajah Kenzie pucat pasi dengan tubuh gemetaran karena ketakutan. Dua bocah itu disekap dengan tangan terikat. Namun Kenzo berusaha lebih tenang dan tidak berisik seperti kembarannya.

"Tenanglah, jangan menangis."

"Bagaimana aku bisa tenang, bang! Kita diculik, pasti mami nyariin kita. Kalau sampai mereka bunuh kita~~

"Diamlah. Aku lagi cari cara buat bisa kabur."

"Kabur gimana bang? Tangan kita aja diikat. Bagaimana kita bisa kabur?"

Seorang laki-laki dewasa berbadan kekar masuk dengan membawa kresek berisi makanan.

"Berisik kalian! Ayo cepat makan, atau kalian bakalan mati kelaparan."

"Kau tolol atau bego," seru Kenzo. "Kau meminta kami buat makan, tapi tangan kami terikat di belakang."

Skakmat. Pria itu mengatupkan bibirnya, sadar apa yang dikatakannya. Tapi dia diwanti-wanti agar menjaganya dengan baik agar tidak kabur.

"Kalian terlalu banyak alasan," cicitnya. "Kalian kan bisa makan langsung dari mulut, tidak perlu menggunakan tangan."

Kenzo mendengus dengan sorot mata elangnya. "Kami manusia, bukan binatang. Kau bisa mengerti bahasa manusia kan?"

Sial. Pria itu mendengus. Setiap ucapannya dibantah oleh bocah kecil itu.

"Ya sudah, aku lepaskan talinya, tapi janji jangan kabur."

Tidak ada jawaban. Kenzo memegang tangan Kenzie, dengan erat.

Pria itu mulai melepaskan ikatan talinya.

"Bang, adikku kebelet buang air kecil. Di mana toiletnya?"

Pria itu mendelik. "Kau ini!"

"Apakah dia harus kencing di celana? Kau itu sudah dewasa tapi bodohnya melebihi anak TK." Kenzo tak takut sama sekali. Baginya ia seorang pria sejati yang pantang untuk takut pada siapapun, terkecuali wanita yang melahirkannya.

"Di sini tidak ada toilet. Di sini adanya semak belukar. Kalau mau kencing di sekitar sini saja. Jangan terlalu jauh, di luar sangat gelap dan banyak hewan pemangsa."

"Hm..., aku mengerti."

Deringan suara handphone terdengar jelas di saku celananya. Buru-buru pria itu mengangkatnya. Bersamaan dengan itu Kenzo menarik tangan Kenzie untuk diajaknya keluar. Kenzie patuh dan memilih untuk bungkam tak bersuara.

"Bang, kita mau ke mana?"

"Ya kabur lah. Memangnya kamu mau berasa di tempat itu terus. Ini kesempatan yang ditunggu-tunggu. Ayo lari agak cepat."

"Baik, bang!"

Dua bocah itu berlari cepat menerobos semak belukar yang rimbun. Mereka tak terpikir akan bertemu hewan yang mungkin akan mencelakainya.

"Bang, kenapa sepi sekali. Di sini nggak ada rumah."

"Ini hutan, Kenzie. Nggak ada rumah di sini."

"Kalau sampai kita tertangkap gimana?"

"Ya makanya kita harus lari lebih cepat biar nggak ketangkap."

Pria yang sadar akan hilangnya bocah kecil itu langsung panik. Buru-buru dia mematikan handphonenya dan menyalakan senter untuk mencarinya.

"Sial! Kemana perginya bocah itu."

Dia langsung berlari keluar, mencari ke sekelilingnya, namun hasilnya nihil, tak berhasil ditemukan.

"Bodoh! Harusnya aku tak meninggalkannya. Harusnya aku tak melepaskannya. Kupikir mereka hanya bocah kecil yang dungu, ternyata mereka lebih cerdas dariku."

Dengan emosinya dia mengacak rambutnya kasar. Tak tahu bagaimana harus bisa menemukannya, apalagi jika sampai majikannya datang, harus buat alasan apa.

"Aku yakin mereka masih belum terlalu jauh. Mereka pasti masih ada di sekitar sini. Aku harus mencarinya sampai dapat. Kalau tidak, wanita itu pasti bakalan marah besar padaku."

Dengan jenjang langkah lebar pria itu keluar dari area persembunyiannya. Dia menelisik rerimbunan yang mungkin dijadikan tempat persembunyian dua bocah tersebut.

"Bang! Lihat, di depan sana ada mobil."

"Oh iya. Ayo kita ke sana."

Melihat lampu mobil menyala dari kejauhan ada kelegaan di hati mereka. Mereka berharap ada orang yang mau membantunya.

Dengan napas tersengal-sengal mereka berlari kencang untuk sampai ke arah mobil yang berhenti. Sesampainya di tempat itu seorang perempuan memanggilnya.

"Kenzo..! Kenzie...!"

Ayuna segera keluar dari dalam mobil tersebut dan menghambur memeluk mereka dalam kegelapan.

"Mami...!"

Erlangga yang tengah berbincang di belakang mobil dengan anak buahnya langsung menoleh dan melihat dua bocah kecil berada dalam pelukan Ayuna.

"Itu mereka."

Pria itu langsung bergerak untuk memastikan bahwa dua bocah tersebut memang anak-anaknya.

"Ya ampun nak, kenapa kalian bisa berada di tempat seperti ini?"

Ayuna menangis dengan mendekap erat tubuh ringkih dua anaknya.

"Mami..., kami diculik sama orang jahat, tapi kami berhasil kabur.

"Kalian...? Kok kalian ada di sini?"

Erlangga berjongkok dengan mengusap surai dua bocah itu. Ini pertama kalinya ia dekat dengan putranya. Awalnya ia kurang suka dengan keberadaan mereka, karena mengira mereka itu buah hati Ayuna dengan pria lain.

"Kami kabur om," jawab Kenzie.

Seperti dihujam ribuan belati yang menusuk jantungnya saat anaknya sendiri tidak mengenalinya sebagai ayah kandung. Begitu jahatnya ia sampai tak menyadari wanita yang ditidurinya kala itu telah melahirkan benih yang tertanam di rahimnya.

"Kabur? Memangnya kalian tadi disekap di mana?" tanya Erlangga.

"Tadi kami disekap di rumah kosong. Ada di sana," tunjuknya ke arah di mana ia berlari.

"Syukurlah, kalian selamat. Tapi kalian nggak terluka kan?" tanya Ayuna sembari memeriksa apakah ada luka di tubuh putranya.

Dua bocah itu menggeleng. "Mami tidak usah khawatir. Kami baik-baik saja kok," jawab mereka kompak.

Hari sudah mulai gelap. Tidak ada penerangan sama sekali kecuali lampu mobilnya. Bahkan si kembar terlihat begitu lelah. Erlangga memutuskan untuk segera membawa mereka pergi dari tempat itu tanpa mencari pelakunya terlebih dulu.

"Ya sudah, ayo cepat masuk mobil. Kita pulang sekarang."

Saat beranjak hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba ada suara yang cukup keras.

"Kembar! Di mana kalian? Jangan coba-coba sembunyi kalian. Awas saja kalau sampai berani kabur, aku nggak bakal ampuni kalian."

Dua bocah itu langsung menghambur meraih tangan Ayuna. "Mami ..., takut. Penjahat itu ada di sini."

Ayuna berusaha untuk menenangkannya. "Sayang, tenanglah. Mereka nggak akan berani mengusik kalian. Ada mami di sini."

"Sebaiknya kalian tunggu di dalam. Biar aku yang akan menghadapinya."

Erlangga yang awalnya menunda mencari pelaku kini mendapatkan kesempatan emas saat pelakunya mulai mendekat. Ia terpaksa harus menunda kepulangannya dan berniat untuk menangkapnya.

"Sofyan..., kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan."

Pria dewasa itu mengangguk. Tidak banyak alasan dia langsung melakukan apa yang semestinya dilakukan.

Brak!!

Dalam gelapnya malam pria yang tengah berteriak mencari buruannya terjatuh karena dorongan keras secara tiba-tiba. Dia tidak mengetahui ada beberapa orang yang mengintainya.

"S—siapa? Kalian mau apa?"

Nampaknya dia terlihat begitu ketakutan. Hanya saja wajahnya tidak begitu terlihat jelas karena minimnya cahaya.

"Ikut denganku!"

"T—tidak! Tolong lepaskan!"

Tanpa rasa iba dua orang menyeretnya cukup kasar dan pada akhirnya didorong tepat di depan Erlangga.

"Jadi kau yang sudah menculik anakku?"

Erlangga berjongkok dengan menyalakan sebatang rokok dan membuang asapnya tepat di muka pria itu, terlihat arogan.

Pria itu gemetaran tak "A—aku hanya disuruh. Tolong lepaskan aku."

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!