Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Mengering dan Jejak yang Tertinggal
Waktu adalah sebuah konsep yang berjalan secara ironis. Bagi Valerie, setiap detik di dalam unit apartemennya terasa berjalan melambat, menyiksanya dengan sisa-sisa bayangan masa lalu. Namun di luar sana, dunia kampus dan korporat tetap berputar tanpa memedulikan sekeping hati yang baru saja runtuh berkeping-keping.
Satu minggu sejak Carlo meletakkan sup hangat di gagang pintu apartemen Valerie, gadis itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari cangkang kegelapannya. Dia menolak untuk menjadi sosok menyedihkan yang dihancurkan oleh fitnah. Pagi itu, dengan kemeja flanel longgar dan celana jins kasual, Valerie melangkah memasuki koridor fakultas biologi. Penampilannya jauh lebih kurus, matanya masih menyiratkan sisa-sisa kelelahan mental, namun binar ekspresifnya yang dulu sempat mati, kini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang samar.
"Valerie!" Tiara yang sedang berdiri di dekat mading langsung berlari kencang begitu melihat sosok sahabatnya. Dia menghambur memeluk Valerie begitu erat, seolah takut gadis itu akan menghilang lagi. "Kamu akhirnya masuk kuliah! Demi Tuhan, aku cemas setengah mati seminggu ini!"
Valerie tersenyum tipis, menepuk punggung Tiara dengan lembut. "Aku tidak apa-apa, Ra. Aku tidak bisa terus-menerus mengunci diri di kamar dan mengorbankan nilai semesterku hanya karena masalah itu. Aku harus tetap hidup."
"Itu baru sahabatku!" seru Tiara dengan mata berkaca-kaca bangga. Dia kemudian menurunkan nada suaranya menjadi bisikan serius. "Oh ya, Val... soal Kak Carlo. Dia yang meminta alamatmu seminggu lalu. Apakah dia benar-benar datang?"
Sebelum Valerie sempat menjawab pertanyaan Tiara, dari arah ujung koridor, sosok pria bertubuh jangkung dengan senyum sehangat mentari pagi berjalan mendekat. Carlo. Senior tingkat akhir itu mengenakan jaket denim dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Begitu matanya menangkap sosok Valerie yang sedang berdiri di dekat mading, langkah kakinya mendadak menjadi lebih cepat.
"Pagi, Tiara. Pagi, Valerie," sapa Carlo, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan mereka. Matanya menyapu wajah Valerie dengan saksama, memastikan tidak ada lagi gurat keputusasaan yang pekat seperti minggu lalu. "Senang melihatmu sudah kembali ke kampus, Val. Bagaimana sup ayamnya waktu itu? Masih hangat?"
Valerie merasakan pipinya mendadak menghangat—sebuah sensasi asing yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Dia menunduk sedikit, menyembunyikan senyum canggungnya. "Pagi, Kak Carlo. Supnya sangat enak, dan... terima kasih banyak untuk kalimat di balik pintunya waktu itu. Itu sangat berarti bagiku."
Carlo tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang terdengar sangat tulus dan menenangkan indra pendengaran Valerie. "Sama-sama. Itu murni kejujuran, bukan sekadar kalimat penenang. Kalau kamu butuh teman ke perpustakaan untuk mengejar materi yang tertinggal seminggu ini, panggil aku saja. Aku kebetulan sedang senggang karena draf skripsiku baru saja diarsip oleh dosen pembimbing."
Tiara yang berdiri di samping mereka hanya bisa senyum-senyum sendiri, menyenggol siku Valerie dengan sengaja. "Nah, Val! Kebetulan sekali kan? Aku ada kelas tambahan setelah ini. Kamu bisa belajar bareng Kak Carlo di perpustakaan pusat."
Valerie menatap Tiara dengan pandangan melotot, namun di dalam hatinya, ada rasa lega yang luar biasa. Kehadiran Carlo yang penuh perhatian, tidak menuntut alasan logis, dan selalu menghargai keberadaannya sebagai seorang wanita, perlahan-lahan mulai mengeringkan luka menganga yang ditinggalkan oleh kepicikan Dean. Valerie yang selama ini merasa tidak dicintai karena selalu dibanding-bandingkan dengan Victoria di rumah, kini merasa menemukan oase baru di duniakah yang asing ini.
Sementara itu, di seberang kota, di dalam ruang kerja CEO gedung perkantoran pusat, atmosfer kerja berjalan dengan sangat kaku dan sunyi. Dean duduk di kursi kebesarannya, menatap draf laporan keuangan yang baru saja diserahkan oleh divisi logistik. Minggu ini, penandatanganan kontrak dengan investor Singapura akhirnya tetap berjalan berkat pengerjaan ulang draf dokumen secara maraton oleh seluruh tim divisi IT dan administrasi. Secara materi, kerugian besar berhasil ditekan di menit-menit terakhir.
Namun, di dalam benak logis seorang Dean, ada sebuah anomali besar yang tidak bisa dia selesaikan menggunakan rumus matematika mana pun. Sudah satu minggu berlalu sejak dia mengucapkan kata putus kepada Valerie. Logika Dean memprediksi bahwa Valerie—gadis yang selalu histeris dan cemburu buta—akan berulang kali meneleponnya, mengirim pesan memohon ampun, atau nekat mendatangi apartemennya untuk menangis di depan pintu.
Tetapi kenyataannya? Kosong. Tidak ada satu pun panggilan masuk dari Valerie. Tidak ada satu pun pesan singkat. Gadis itu benar-benar menghilang dari hidupnya seolah-olah ikatan dua tahun mereka tidak pernah ada gunanya sama sekali. Kalimat terakhir Valerie di ruang kerjanya tempo hari—“Hari ini, aku benar-benar menyerah. Aku melepaskanmu, dan aku melepaskan seluruh rasa sukaku yang melelahkan ini”—terus terngiang-ngiang di dalam kepala Dean, memicu rasa bersalah dan rindu yang samar, yang terus dia tekan dengan dinding rasionalitasnya.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunan Dean. Dania masuk dengan langkah kaki yang sunyi, membawakan secangkir kopi hitam kesukaan Dean. Wajah sekretaris junior itu tampak begitu patuh dan anggun seperti biasanya.
"Kopi Anda, Pak Dean," ucap Dania lembut, meletakkan cangkir itu di meja kerja dengan sangat sopan. "Semua agenda pertemuan untuk besok pagi sudah saya rapikan di dalam folder tablet Anda."
Dean menatap cangkir kopi itu, lalu beralih menatap Dania. Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya yang tajam bak elang mengamati gerak-gerik sekretarisnya dengan pandangan menyelidik yang dingin. "Dania."
"Ya, Pak Dean?" Dania mendongak, memasang wajah polosnya yang biasa.
"Mengenai kejadian sabotase minggu lalu... apakah tim IT sudah selesai melakukan pelacakan menyeluruh terhadap server bayangan yang digunakan untuk peretasan?" tanya Dean, suaranya datar namun sarat akan penekanan yang mutlak.
Ekspresi Dania sedikit menegang selama sepersekian detik, namun dia dengan cepat menguasai dirinya kembali, menampilkan senyum santun yang penuh keprihatinan. "Sudah, Pak. Kak Timoty bilang, tim IT sudah mengunci log sistemnya agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Saya... saya juga merasa sangat lega karena proyek kita akhirnya bisa diselamatkan. Hanya saja..." Dania menundukkan kepalanya, memasang wajah penuh penyesalan. "Saya masih merasa sangat sedih karena kejadian itu harus merusak hubungan Anda dengan Kak Valerie. Saya harap Kak Valerie bisa segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada Anda..."
Dean tidak merespons kalimat Dania. Dia hanya terus menatap sekretaris juniornya itu dengan tatapan mata yang membekukan. Di balik kelegaan profesionalnya karena proyek terselamatkan, ada sebuah ganjalan logis yang mulai mengusik pikiran Dean. Mengapa Valerie, seorang anak kuliah jurusan biologi yang bahkan tidak mengerti sistem operasi dasar kantor, bisa memiliki flashdisk enkripsi yang begitu rumit di dalam tasnya? Dan mengapa Doni, anak magang IT, sempat mendeteksi adanya kejanggalan dalam log waktu peretasan sebelum dia diperintahkan untuk diam?
Logika Dean yang biasanya berjalan lurus tanpa cela, kini mulai mendeteksi adanya variabel asing yang tidak beres di dalam ruang kerjanya sendiri. Namun, dia membutuhkan bukti nyata yang logis sebelum mengambil tindakan apa pun.
"Kembali bekerja, Dania. Pastikan semua berkas kerja besok tidak ada yang terlambat," ucap Dean kaku, menutup pembicaraan tanpa menyentuh kopi buatan Dania sedikit pun.
"Baik, Pak Dean. Saya permisi," jawab Dania lembut, membungkuk hormat sebelum membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan.
Begitu pintu jati tebal itu tertutup kembali, Dania mengembuskan napas panjang di koridor yang sepi. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Dia bisa merasakan tatapan Dean semacam itu bukan lagi tatapan seorang bos yang memujanya sebagai sekretaris teladan; tatapan itu adalah tatapan penuh selidik yang mulai meragukan keteraturannya.
Dania meremas jemarinya dengan gusar, menyadari bahwa dia harus segera menghapus sisa-sisa jejak digital pengerjaan skrip bersama peretas bayaran 'X' sebelum Dean yang jenius mulai menyelidiki lebih dalam. Dia telah berhasil menendang Valerie keluar dari hidup Dean, dan dia tidak akan membiarkan posisi yang sudah dia bangun dengan air mata buaya ini runtuh begitu saja akibat kecerobohan kecil di sistem IT kantor.
Sementara di seberang kota, di perpustakaan pusat kampus yang sejuk dan tenang, Valerie duduk berhadapan dengan Carlo di salah satu meja sudut dekat rak buku referensi biokimia. Di atas meja, beberapa diktat kuliah terbuka lebar, dipenuhi oleh coretan rumus struktur molekul dan format laporan laboratorium yang rumit.
"Jadi, untuk bagian isolasi DNA ini, kamu tidak boleh langsung mencampurkannya dengan larutan penyangga pada suhu kamar. Kamu harus memastikannya berada di dalam es batu agar ikatannya tidak rusak," jelas Carlo dengan nada suara yang sangat tenang dan sabar, jarinya menunjuk ke arah draf skema yang digambarnya di selembar kertas kosong untuk memudahkan Valerie memahami materi.
Valerie memperhatikan penjelasan Carlo dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari mulut senior tingkat akhirnya itu terasa begitu mudah dipahami, tidak ada nada meremehkan atau menghakimi seperti yang biasa dia terima dari keluarganya atau dari Dean di masa lalu. Carlo mengajarinya seperti seorang pelindung yang tulus, bersedia meluangkan waktu berjam-jam hanya untuk memastikan Valerie tidak tertinggal dalam akademisnya.
"Wah... begitu ya, Kak. Pantas saja hasil ujiku di laboratorium semester lalu selalu gagal di tahap akhir," ucap Valerie dengan binar mata yang mulai kembali bersinar ceria, sebuah tawa kecil yang ekspresif lolos dari bibirnya tanpa dia sadari.
Carlo menghentikan penjelasan penanya sejenak. Dia menatap wajah Valerie yang sedang tersenyum lepas di depannya—sebuah senyuman indah yang selama satu tahun penuh ini selalu dia perhatikan dari kejauhan di koridor fakultas tanpa berani mendekat. Hati Carlo berdesir hebat. Rasa suka yang selama ini dia kubur rapat-rapat karena menghormati status pacaran Valerie bersama Dean, kini mulai tumbuh mekar bagai benih yang disiram air hujan di musim semi.
"Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang tersenyum seperti itu, Valerie," ucap Carlo tiba-tiba, suaranya rendah dan penuh ketulusan pekat yang spontan keluar begitu saja dari lubuk hatinya.
Valerie tertegun sejenak. Kalimat pujian yang begitu lugas dari Carlo mendadak membuat jantungnya berdegup satu kali lebih cepat. Dia buru-buru menundukkan kepalanya, pura-pura kembali fokus pada draf buku biokimia di hadapannya untuk menyembunyikan semburat merah yang kian menebal di kedua belah pipinya.
Di tempat yang sunyi ini, di antara aroma buku-buku tua perpustakaan, Valerie mulai menyadari satu hal yang teramat berharga: proses penyembuhan hatinya yang hancur hancur-hancuran ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk dimulai, selama ada kehangatan tulus dari seorang pria bernama Carlo yang selalu bersedia berjalan beriringan di sampingnya tanpa melibatkan rumus logika yang kaku.