Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Bastian

“MOMMY SAMA DADDY NGGAK AKAN CERAI! NGGAK AKAN PERNAH!”

Suara Azzam terdengar lantang memenuhi ruang keluarga.

Bastian terdiam sesaat. Begitu pula Aretha yang tampak tidak menyangka cucunya berani membentaknya. Sementara itu, Anton justru tersenyum tipis, bangga melihat keberanian cucunya mempertahankan kedua orang tuanya.

Di tempat lain, Bastian terus mencoba menghubungi istrinya.

“Diandra, angkat, dong. Kamu di mana?”

Panggilannya kembali tidak mendapat jawaban.

Kecemasan mulai menguasai pikirannya.

Jangan-jangan Diandra benar-benar pergi?

Bastian segera berdiri.

“Aku mau cari Diandra dulu, Ma, Pa. Tolong jagain anak-anak.”

Tanpa menunggu jawaban, Bastian mengambil kunci mobil lalu bergegas keluar rumah.

Serly spontan hendak mengejarnya.

“Aku ikut, Daddy!”

Namun Anton menahan bahu cucunya.

“Biarkan Daddy-mu mencari Mommy sendiri. Kamu di sini dulu.”

Azzam mengerucutkan bibir, tetapi akhirnya menurut.

“Diandra?”

Perempuan itu langsung menoleh begitu mendengar suara yang begitu dikenalnya.

“Bu Liliana.”

Diandra berjalan cepat lalu memeluk perempuan yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu.

Liliana adalah ketua Yayasan Panti Asuhan Kasih Bunda. Perempuan itulah yang selama ini merawat dan membesarkan Diandra sejak masih bayi.

Bagi Diandra, Liliana bukan sekadar pengurus panti.

Dia adalah sosok yang selama ini Diandra anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

Setelah menikah, Diandra memang semakin jarang berkunjung. Kesibukan dan jarak membuatnya hanya bisa datang beberapa kali dalam sebulan.

“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Diandra setelah melepaskan pelukannya.

“Baik. Kamu sendiri bagaimana?”

“Aku baik, Bu.”

Liliana tersenyum lembut sambil mengamati wajah Diandra.

Sulit dipercaya bahwa gadis kecil yang dulu ditemukan di dekat gerbang panti kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa, menikah, dan memiliki keluarga sendiri.

“Yang penting kamu bahagia, Nak. Ibu selalu mendoakan itu.”

Diandra tersenyum kecil.

“Terima kasih, Bu.”

Dia kemudian teringat sesuatu.

“Oh iya, Bu. Aku tadi membawa beberapa makanan. Masih di mobil.”

“Kalau begitu, ayo Ibu bantu membawanya.”

Mereka berjalan menuju halaman depan.

Namun baru beberapa langkah, suara riuh anak-anak terdengar.

“Tante Diandra!”

Belasan anak kecil berlari menghampirinya.

Diandra langsung tersenyum lebar. Dia berjongkok dan membuka kedua tangannya.

Sekejap kemudian, anak-anak itu mengerubunginya.

“Tante Diandra datang!”

“Kangen!”

“Bawa makanan, kan?”

Tawa Diandra pecah.

Dia hampir kehilangan keseimbangan karena begitu banyak anak yang memeluknya bersamaan, tetapi dia tetap mempertahankan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Pelan-pelan, semuanya. Tante belum sempat berdiri!”

Anak-anak itu justru semakin tertawa.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, hati Diandra terasa jauh lebih ringan.

Di tempat inilah dia selalu merasa diterima.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada siapa pun yang memaksanya memilih antara bertahan atau menyerah.

Hanya ada kehangatan yang selama ini diam-diam dia rindukan.

“Kenan kangen Tante Diandra!”

“Putri juga kangen Tante Diandra!”

“Aku juga!”

Suara anak-anak kecil saling bersahutan. Mereka berebut menyampaikan rasa rindu setelah sekian lama tidak bertemu Diandra.

Diandra tertawa kecil. Matanya berbinar melihat wajah-wajah mungil yang begitu tulus menyambut kedatangannya.

Dia pun merindukan mereka.

Setiap kali pikirannya terasa penuh, tempat ini selalu menjadi pelariannya. Panti Asuhan Kasih Bunda bukan sekadar bangunan bagi Diandra. Tempat ini adalah rumah yang pernah membesarkannya sejak bayi hingga masa sekolah.

Di sinilah dia belajar arti keluarga.

“Sudah, anak-anak. Pelukannya dilepas dulu,” ujar Liliana sambil tersenyum. “Nanti Tante Diandra malah susah bernapas.”

Anak-anak itu akhirnya mundur, meski masih mengelilingi Diandra.

Di sisi lain, Ola hanya menghela napas sambil memutar bola matanya.

Pemandangan seperti ini sudah biasa baginya.

Setiap kali Diandra datang, anak-anak langsung berubah menjadi begitu bersemangat. Mereka berebut perhatian Diandra, sementara Ola yang setiap hari menemani dan menjaga mereka justru sering mendapatkan perlakuan yang jauh lebih dingin.

Diandra tidak mempermasalahkannya. Dia sudah terlalu terbiasa dengan suasana panti untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu.

“Tante membawa sesuatu untuk kalian.”

Diandra berjalan menuju mobil dan membuka bagasinya.

Begitu melihat tumpukan kotak makanan, mata anak-anak langsung berbinar.

“Waaah!”

“Ada kue!”

“Banyak banget!”

Liliana tertawa melihat kegembiraan mereka.

“Coba, sebelum mengambil, bilang apa sama Tante Diandra?”

“Makasih, Tante Diandra!”

Diandra tersenyum lebar.

“Sama-sama, sayang.”

Dia kemudian mulai membagikan tiga kotak besar kue kepada sepuluh anak yang sudah menunggunya.

“Tapi jangan berebut, ya. Semuanya kebagian.”

“Iya, Tante!”

Masih ada tujuh belas kotak lainnya yang sengaja dibawanya untuk anak-anak lain yang tinggal di panti.

Diandra memandangi mereka dengan perasaan hangat.

Panti Asuhan Kasih Bunda memang bukan tempat kecil. Hampir dua ratus anak tinggal di sana dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Ada anak-anak yang ditemukan terlantar di depan gerbang, seperti Diandra dahulu.

Ada yang sengaja dititipkan oleh keluarga dengan biaya bulanan karena orang tua mereka tidak mampu mengasuh sendiri.

Ada pula yang diserahkan kepada pihak panti karena keluarganya benar-benar tidak sanggup memenuhi kebutuhan mereka.

Bagi Diandra, setiap anak di tempat ini memiliki cerita masing-masing.

Dan mungkin karena pernah merasakan menjadi anak yang tidak memiliki siapa-siapa, Diandra selalu sulit menolak ketika mereka membutuhkan perhatian.

Dia mengambil satu kotak kue lagi lalu tersenyum.

“Yang lainnya kita antar ke dalam, yuk.”

Anak-anak langsung bersorak.

Untuk beberapa saat, Diandra bisa melupakan semua masalah di rumah.

Namun tanpa dia sadari, jauh di luar sana, Bastian masih mencarinya dengan perasaan gelisah.

Dan cepat atau lambat, mereka harus kembali menghadapi masalah yang membuat Diandra pergi tanpa mengatakan apa pun.

Panti Asuhan Kasih Bunda menyimpan begitu banyak cerita.

Ada kisah tentang anak-anak yang ditemukan tanpa keluarga, ada pula cerita tentang mereka yang ditinggalkan karena keadaan. Tidak sedikit kisah yang membuat hati siapa pun terasa sesak ketika mendengarnya.

Selama bertahun-tahun, panti ini bertahan berkat kemurahan hati para donatur. Beberapa mantan penghuni yang sudah berhasil juga rutin kembali untuk memberikan bantuan.

Syukurlah, seluruh bantuan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak hingga mereka mampu berdiri sendiri.

Di tengah suasana tersebut, Diandra melihat sebuah kotak makanan yang masih tersisa.

“Ola, kalau kamu mau, ambil saja.”

Ola menoleh dengan tatapan tidak suka.

“Cih. Sombong sekali kamu. Mentang-mentang sekarang menikah dengan orang kaya, gaya bicaramu jadi tinggi.”

Liliana langsung menegur.

“Ola, Diandra hanya menawarkan. Dia sama sekali tidak bermaksud merendahkanmu.”

Ola tertawa hambar.

“Memang sejak dulu Ibu selalu membela Diandra.”

“Kenapa kamu bicara seperti itu?” tanya Diandra.

“Aku juga yatim piatu, tapi kenapa perlakuan Ibu kepadamu selalu berbeda? Kamu disekolahkan sampai kuliah, sedangkan aku hanya sampai SMA.”

Diandra menghela napas.

“Bukannya Ibu sudah berkali-kali menyarankanmu melanjutkan pendidikan?”

Ola terdiam.

“Kamu sendiri yang memilih menikah karena mengira suamimu bisa menjamin hidupmu. Setelah pernikahanmu berakhir, jangan menjadikan Ibu sebagai penyebab semua masalahmu.”

Nada suara Diandra tetap tenang, tetapi tegas.

“Dan soal pendidikan, aku mendapat beasiswa sejak SMP sampai kuliah. Jadi jangan membuat seolah-olah semua yang aku punya berasal dari Ibu.”

Wajah Ola memerah.

“Kamu benar-benar—!”

Tangannya mengepal. Seolah hendak kembali terlibat perkelahian seperti saat mereka masih kecil.

“Sudah!” Liliana segera berdiri di antara mereka. “Jangan bertengkar di depan anak-anak.”

Ola mendengus.

“Sombong sekali kamu, Diandra. Aku doakan kamu dan suamimu bercerai. Biar kamu merasakan hidup susah seperti yang aku rasakan!”

Setelah mengatakan itu, Ola pergi meninggalkan mereka.

Diandra hanya menggeleng.

“Kalau diberi tahu kenyataan malah marah. Masih sempat mendoakan orang lain dengan keburukan.”

Liliana menyentuh lengan Diandra.

“Sudahlah. Kamu tahu sendiri bagaimana sifat Ola.”

“Aku heran Ibu masih mengizinkan dia tinggal di sini.”

“Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kita.”

Diandra terdiam.

Dia tahu Liliana memang seperti itu. Hatinya terlalu lembut untuk membiarkan seseorang yang kesulitan pergi begitu saja.

Berbeda dengan dirinya.

Diandra juga bisa bersikap baik, tetapi dia tidak akan membiarkan orang lain menginjak harga dirinya.

“Kalau ada yang menyakitimu, kamu pasti akan melawan,” ujar Liliana seolah membaca pikirannya.

Diandra tersenyum tipis.

“Memangnya Ibu tidak begitu?”

Liliana terkekeh.

“Tidak. Ibu lebih suka memaafkan.”

Keduanya kemudian berjalan menuju kamar Liliana.

“Oh iya, Ibu sebenarnya punya kabar baik untukmu.”

Diandra langsung menoleh.

“Kabar apa?”

Liliana tersenyum penuh arti.

“Kalung peninggalan ibumu yang dulu hilang... sudah Ibu temukan.”

Diandra membeku.

“Kalung Mama?”

“Iya.”

“Serius, Bu?”

Liliana mengangguk.

“Ayo, ikut Ibu.”

Liliana menggandeng tangan Diandra menuju kamarnya.

Sesampainya di sana, Liliana membuka sebuah kotak penyimpanan.

“Kemarin Ibu sedang mencari beberapa barang di gudang. Ternyata kalung ini tersimpan di salah satu kotak.”

Sebuah kalung sederhana dikeluarkan dari dalam kotak.

Mata Diandra langsung berkaca-kaca.

Dia menerimanya dengan kedua tangan.

“Ya Tuhan... akhirnya.”

Selama dua puluh lima tahun, benda kecil itu menjadi satu-satunya petunjuk yang menghubungkan dirinya dengan masa lalu.

Diandra bahkan tidak tahu seperti apa wajah kedua orang tuanya.

Dia tidak tahu siapa mereka, di mana mereka berada, atau alasan mengapa dirinya ditinggalkan di depan panti asuhan.

Satu-satunya benda yang mungkin bisa membawanya kepada jawaban hanyalah kalung tersebut.

Namun benda itu sempat hilang.

Kini, setelah sekian lama, harapan itu kembali ke tangannya.

Diandra menggenggam kalung tersebut erat-erat.

“Terima kasih, Bu.”

Air mata akhirnya jatuh di pipinya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Diandra merasa mungkin saja masa lalunya masih menyimpan jawaban yang selama ini dia cari.

Dan tanpa dia sadari, penemuan kalung itu akan membuka sebuah rahasia besar tentang asal-usulnya.

“Sebentar, Nak.”

“Iya, Bu.”

Liliana kembali ke lemarinya dan mengambil sebuah kotak kecil. Dengan hati-hati, dia menyerahkannya kepada Diandra.

“Ini yang Ibu maksud.”

Jantung Diandra berdegup lebih cepat.

Setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya benda yang mungkin menjadi satu-satunya petunjuk tentang orang tuanya berada di tangannya.

Dia membuka kotak itu perlahan.

Namun ekspresinya seketika berubah.

“Bu...”

“Kenapa?”

“Tidak ada apa-apa.”

Diandra memiringkan kotak tersebut agar Liliana bisa melihat bagian dalamnya.

Kosong.

Liliana tertegun.

“Lho? Kok bisa?”

“Ibu yakin menyimpannya di sini?”

“Iya. Kemarin Ibu melihatnya sendiri.”

Liliana segera memeriksa lemari, meja, laci, hingga beberapa kotak penyimpanan lainnya. Diandra ikut membantu mencari.

Tidak ada.

“Jangan-jangan ada yang mengambilnya?” tanya Diandra akhirnya.

Liliana langsung menggeleng.

“Tidak mungkin anak-anak di sini mencuri. Ibu sudah mengajarkan mereka untuk tidak mengambil barang milik orang lain.”

“Aku bukan bermaksud menuduh anak-anak, Bu. Aku hanya—”

“Mungkin Ibu salah meletakkan. Nanti Ibu cari lagi dengan lebih teliti. Kalau ketemu, Ibu akan langsung mengabarimu.”

Liliana kemudian tersenyum.

“Sekarang kamu main saja dengan anak-anak. Mereka dari tadi menunggumu.”

Diandra mengangguk.

Dalam hati, dia merasa bersalah karena sempat mencurigai seseorang.

Sebenarnya ada satu nama yang langsung muncul di kepalanya.

Ola.

Sejak kecil, Ola memang beberapa kali mengambil barang milik Diandra tanpa izin. Namun Diandra tidak ingin menuduh tanpa bukti.

Apalagi Liliana sudah mengatakan kemungkinan besar kalung itu hanya terselip.

“Baik, Bu.”

Diandra meninggalkan kamar tersebut.

Dia memilih kembali menemani anak-anak di halaman.

Entah kenapa, hari itu Diandra belum ingin pulang.

Bahkan ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap tidak perlu kembali ke rumah dalam waktu dekat.

“Akhirnya sampai.”

Bastian mematikan mesin mobil lalu segera turun.

Sejak berangkat, pikirannya hanya dipenuhi satu nama.

Diandra.

Dia harus memastikan istrinya baik-baik saja.

“Pak Bastian?”

Bastian menoleh.

Liliana kebetulan sedang berjalan mengelilingi halaman untuk memeriksa keadaan anak-anak. Di sampingnya ada Ola.

Begitu melihat Bastian, sikap Ola seketika berubah.

Dia membenahi rambut dan merapikan bajunya.

Laki-laki seperti ini seharusnya tidak datang sendirian.

Ola memandang Bastian dari ujung kepala sampai kaki.

Kalau saja Bastian bisa berpaling dari Diandra...

Bukankah hidupnya akan jauh lebih mudah?

Bahkan jika harus menjadi istri kedua sekalipun, Ola merasa tidak keberatan. Apalagi jika kehidupan yang didapat jauh lebih nyaman.

“Selamat sore, Bu Liliana. Saya mau mencari Diandra.”

“Oh, Diandra sedang—”

“Halo, Mas Bastian.”

Ola sengaja memotong ucapan Liliana.

Dia mendekat dan bahkan mencoba meraih tangan Bastian.

“Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”

Senyumnya dibuat semanis mungkin.

Namun Bastian justru langsung menarik tangannya.

“Siapa?”

Senyum Ola membeku.

“Saya Ola, Mas. Masa Mas lupa? Saya—”

“Saya tidak datang ke sini untuk bertemu kamu.”

Nada Bastian datar.

“Saya hanya ingin mencari istri saya.”

Wajah Ola seketika berubah.

Dia kembali merasakan iri yang selama ini dipendamnya.

Diandra memiliki kecantikan, kehidupan yang mapan, karier, dan seorang suami yang tampan sekaligus sukses.

Dari luar, kehidupan Diandra memang terlihat sempurna.

Dan semakin Ola melihatnya, semakin besar rasa tidak sukanya.

Liliana akhirnya menjawab pertanyaan Bastian.

“Diandra sedang bermain bersama anak-anak di halaman samping.”

Bastian mengangguk.

“Terima kasih, Bu Liliana.”

Tanpa membuang waktu, Bastian segera berjalan menuju halaman samping.

Sementara Ola hanya bisa menatap punggungnya dengan kesal.

Dia tidak menyangka Bastian bahkan tidak memberinya kesempatan sedikit pun.

Dan tanpa disadari siapa pun, pertemuan singkat itu justru membuat niat buruk Ola semakin kuat.

Bastian tidak menunggu lebih lama. Setelah mendapat petunjuk dari Liliana, dia segera berjalan cepat menuju halaman samping.

Begitu sampai, langkahnya terhenti.

Dadanya yang sejak tadi terasa sesak perlahan mengendur.

Diandra ada di sana.

Istrinya baik-baik saja.

Bastian sempat mengira Diandra pergi meninggalkan rumah karena sedang marah. Berbagai kemungkinan buruk sudah memenuhi pikirannya sepanjang perjalanan.

Namun ternyata perempuan itu hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.

Bastian tidak langsung menghampirinya.

Dia memilih berdiri di balik salah satu pilar sambil mengamati.

Di tengah halaman, Diandra sedang menari bersama anak-anak.

Sebuah piano dimainkan oleh salah satu anak panti. Alunan musiknya terdengar lembut, sementara anak-anak lain mengikuti Diandra dengan riang.

Bastian mengangkat alis.

“Aku baru tahu dia bisa menari.”

Selama ini dia memang terlalu sibuk memperhatikan sisi Diandra yang selalu ada di rumah. Ternyata istrinya menyimpan begitu banyak hal yang belum pernah dia ketahui.

Anak-anak kemudian menepi.

“Tante, sekarang Tante menari sendiri!”

“Iya, Tante! Ayo!”

Diandra tertawa malu.

Bastian tanpa sadar ikut tersenyum.

Ada sesuatu dari senyum perempuan itu yang membuat pandangannya sulit beralih.

Manis sekali.

Seorang anak laki-laki kembali memainkan piano.

Nada-nada lembut mengalun memenuhi halaman.

Diandra mulai menggerakkan tubuh mengikuti irama.

“Beautiful...” gumam Bastian.

Tarian Diandra tidak berlebihan. Gerakannya lembut, tetapi tetap memiliki tenaga. Setiap langkah terlihat begitu natural dan anggun.

Bastian benar-benar terpaku.

“Diandra...”

Ada kekaguman yang perlahan muncul di matanya.

Selama ini dia merasa sudah mengenal istrinya.

Ternyata dia salah.

Masih ada banyak sisi Diandra yang belum pernah dilihatnya.

Dan entah kenapa, Bastian ingin mengenal semuanya.

Diandra sendiri terlihat menikmati setiap gerakannya.

Menari memang salah satu hal yang paling dia sukai. Ketika tubuhnya mengikuti alunan musik, untuk beberapa saat dia bisa melupakan semua persoalan yang sedang memenuhi pikirannya.

Dia berputar.

Melangkah.

Kemudian melakukan satu gerakan lompatan kecil.

Namun saat hendak mendarat—

“Ah!”

Kakinya kehilangan keseimbangan.

Sebelum tubuhnya jatuh, seseorang segera menangkap pinggangnya.

Diandra terkejut.

“Mas Bastian?”

Bastian menegakkan tubuh istrinya.

“Hati-hati.”

Namun bukannya langsung melepaskan, Bastian justru tetap menahan pinggang Diandra agar dia tidak kembali kehilangan keseimbangan.

Anak-anak langsung bersorak.

“Cieee!”

“Cie, Tante Diandra sama Om Bastian!”

Diandra langsung salah tingkah.

“Sudah, kalian jangan menggoda!”

Bastian malah tersenyum.

Dia mengangkat kedua tangan Diandra dan meletakkannya di bahunya.

“Ayo.”

“Mau apa?”

“Menari.”

“Mas, aku sudah selesai.”

“Bukannya kamu tadi bilang suka menari?”

Diandra memicingkan mata.

“Terus?”

“Sekarang menari sama suamimu.”

Anak-anak semakin bersorak.

Bastian kemudian menggerakkan langkahnya perlahan mengikuti irama piano. Diandra yang awalnya menolak akhirnya hanya bisa mengikuti gerakannya.

“Mas, sudah.”

“Kamu tidak mau menari dengan pangeranmu?”

Diandra hampir tertawa.

“Pangeran dari mana?”

Bastian mendekat sedikit sambil tersenyum.

“Pangeranmu.”

“Apaan, sih?”

“Tatap pangeranmu, Princess.”

“Mas Bastian!”

Wajah Diandra mulai memerah.

Dia akhirnya mendorong dada suaminya pelan lalu berlari menjauh dari halaman dengan wajah malu.

Bastian hanya tertawa kecil.

Anak-anak langsung mengerubunginya.

“Om Bastian bikin Tante Diandra malu!”

Bastian mengusap rambutnya sambil tertawa.

“Memang itu tujuannya.”

Setelah itu dia menyusul Diandra.

Hari mulai beranjak sore.

Diandra berdiri di bawah pohon apel yang tumbuh di halaman panti. Kepalanya mendongak, menikmati semburat jingga yang menghiasi langit.

Untuk beberapa saat, pikirannya terasa tenang.

Sampai tiba-tiba sepasang tangan melingkar lembut dari belakang.

“Hai.”

Diandra terkejut.

“Mas Bastian...”

Bastian menyandarkan dagunya sebentar di bahu istrinya.

“Kenapa pergi tanpa bilang?”

Diandra terdiam.

Bastian tidak memaksanya menjawab.

Dia hanya berdiri di sana, menemani Diandra menikmati senja.

Untuk pertama kalinya hari itu, keduanya sama-sama tidak ingin membicarakan pertengkaran mereka.

Mereka hanya ingin menikmati keheningan.

Namun bagi Bastian, ada satu hal yang semakin jelas.

Diandra ternyata jauh lebih mempesona daripada yang selama ini dia sadari.

“Mas, jangan begini. Nanti ada yang melihat.”

Diandra berusaha melepaskan diri dari pelukan Bastian.

“Biar saja.”

“Kamu nggak malu tadi disoraki anak-anak?”

“Kenapa harus malu? Aku memeluk istriku sendiri.”

Diandra terdiam sesaat, lalu menyindir pelan.

“Kalau yang dipeluk mantan istri, masih nggak malu juga?”

Senyum Bastian menghilang.

“Jangan mulai lagi. Kita sedang baik-baik saja. Aku nggak mau kita bertengkar.”

“Memangnya kenyataannya—”

“Diam.”

Diandra menoleh.

Bastian tersenyum tipis.

“Atau aku cium kamu di sini.”

Diandra langsung merapatkan bibir.

Dia tidak ingin Bastian benar-benar melakukannya di depan orang-orang.

Akhirnya suasana kembali hening.

Bastian mempererat pelukannya dari belakang, sementara Diandra hanya berdiri diam.

“Kamu cantik sekali tadi.”

“Tadi kapan?”

“Waktu menari.”

Diandra mendengus.

“Berarti hari-hari biasa aku nggak cantik?”

“Cantik juga. Tapi tadi berbeda.”

“Berbeda bagaimana?”

“Jauh lebih cantik.”

Diandra tahu kalimat itu terdengar seperti rayuan sederhana. Namun tetap saja hatinya sempat bergetar.

Itulah yang membuatnya takut.

Perasaan yang terlalu dalam membuat seseorang bisa kembali luluh hanya karena satu senyuman, meski sebelumnya berkali-kali dibuat kecewa.

Namun Diandra tidak ingin kembali terjebak.

Apa pun yang Bastian lakukan setelah ini, keputusannya tetap sama.

Dia akan mencari bukti perselingkuhan suaminya dan mengajukan perceraian.

“Pulang, yuk.”

Bastian akhirnya melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan Diandra.

Diandra mengangguk.

Dia memang akan pulang.

Tapi pulang bukan berarti memaafkan.

“Mommy!”

Begitu pintu terbuka, Diandra langsung berlari menghampiri.

“Hai, Sayang.”

Diandra berjongkok dan membuka kedua tangannya.

Diandra langsung memeluknya erat.

Anton dan Aretha juga menghampiri mereka.

Sementara itu, putri kecil mereka hanya duduk di sofa. Azzura bahkan tidak menunjukkan reaksi ketika melihat Diandra pulang.

“Mommy dari mana?”

“Ke panti asuhan sebentar. Maaf ya, Mommy tadi pergi tanpa bilang apa-apa.”

Azzam melepaskan pelukan lalu memperhatikan wajah ibunya dengan serius.

“Mommy baik-baik saja?”

Diandra tertawa kecil.

“Mommy baik-baik saja, Sayang.”

Dia kembali memeluk putranya.

Hatinya terasa sesak.

Baru beberapa jam meninggalkan rumah, Azzam sudah begitu mencemaskannya.

Kalau suatu hari dia benar-benar pergi, bagaimana perasaan anaknya?

Azzam mungkin akan sangat kehilangan.

Dan sebenarnya, Azzam adalah alasan terbesar Diandra masih bertahan sampai sekarang.

Namun seorang anak saja tidak cukup untuk membuatnya terus hidup dalam pernikahan yang sudah kehilangan kepercayaan.

“Diandra.”

Suara Helena membuat Diandra melepaskan pelukannya.

“Iya, Ma?”

Helena menatapnya dengan serius.

“Cobalah lebih dewasa. Kalau ada masalah, selesaikan baik-baik. Jangan pergi begitu saja tanpa kabar.”

Diandra terdiam sesaat.

“Jadi menurut Mama, saya harus tetap berada di rumah dan berpura-pura tidak melihat suami saya kembali dekat dengan mantan istrinya?”

“Diandra.”

Bastian segera memperingatkan istrinya.

Dia tidak ingin pembicaraan itu berubah menjadi pertengkaran antara Diandra dan ibunya.

Namun Diandra sudah terlalu lelah untuk terus menahan semuanya.

Helena tertawa sinis.

“Wah, sekarang kamu sudah berani membantah.”

Diandra mengangkat alis.

“Atau jangan-jangan selama dua tahun ini kamu hanya berpura-pura menjadi menantu yang baik?”

Diandra tersenyum tipis.

“Benar, Ma. Mungkin ini memang salah satu versi asli saya.”

Dia berpikir sejenak.

“Tapi tenang saja, saya masih punya banyak versi lain.”

Azzam yang mendengar itu terkikik.

Anton pun ikut tertawa.

“Misalnya versi Power Ranger,” lanjut Diandra santai.

Azzam semakin tertawa.

Sementara wajah Helena semakin memerah.

“Kamu benar-benar kurang ajar! Begini caramu berbicara kepada orang yang lebih tua? Sekarang kamu malah menertawakan Mama!”

Diandra hendak menjawab, tetapi Bastian lebih dulu memotong.

“Diandra, masuk kamar saja bersama Azzam.”

Diandra menatap suaminya beberapa detik.

“Aku masuk sendiri.”

Belum sempat Bastian berkata apa-apa, Azzura sudah berdiri dari sofa.

“Aku juga bisa ke kamar sendiri.”

Dia meraih tas sekolahnya lalu berjalan menuju kamar di lantai satu tanpa menoleh sedikit pun.

Suasana ruang keluarga kembali hening.

Dan Bastian tahu, masalah rumah tangganya belum selesai.

Bahkan mungkin baru saja memasuki babak yang jauh lebih sulit.

“Mommy, ayo.”

Azzam tersenyum lalu menggenggam tangan Diandra.

Diandra membalas senyumnya dan membiarkan putranya menariknya menuju kamar.

“Diandra, tunggu! Mama belum selesai bicara!”

Langkah Diandra terhenti.

Namun sebelum dia berbalik, Anton lebih dulu menghampiri istrinya.

“Sudahlah, Helena. Cukup.”

Anton menahan lengan istrinya dengan sabar.

“Cukup bagaimana? Kamu dengar sendiri cara Diandra berbicara kepada Mama.”

“Kalau kamu tidak memancingnya, dia juga tidak akan membalas seperti itu.”

Helena menatap suaminya seolah tidak percaya.

“Kenapa sejak dulu kamu selalu membela Diandra?”

Anton menghela napas panjang.

Helena yang sudah terbawa emosi justru semakin jauh berpikir.

“Jangan-jangan kamu punya perasaan kepada Diandra?”

Anton memijat pelipisnya.

“ Helena...”

“Papa suka sama dia? Papa mau menikah dengannya?”

Anton menatap istrinya beberapa detik dengan ekspresi datar.

“Dari semua ucapanmu hari ini, yang satu itu paling tidak masuk akal.”

Helena terdiam.

“Sudahlah. Papa sudah terlalu pusing.”

Anton mengambil kunci mobilnya.

Sebelum pergi, dia menoleh kepada Bastian yang masih berdiri di ruang keluarga.

“Bastian, dengarkan Papa.”

Bastian menatap ayahnya.

“Perlakukan istrimu dengan baik selama dia masih menjadi istrimu.”

Bastian terdiam.

“Jangan sampai suatu hari nanti kamu menyesal karena perempuan yang selama ini kamu abaikan akhirnya memilih menjadi istri orang lain.”

Kalimat itu membuat Bastian membeku.

Anton tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia langsung meninggalkan rumah.

Helena menatap kepergian suaminya dengan kesal.

Kemudian pandangannya beralih kepada Bastian.

“Bastian.”

“Iya, Ma.”

Helena menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan sesuatu yang selama ini terus dia pikirkan.

“Mama mau kamu menceraikan Diandra.”

Bastian langsung terdiam.

“Ma...”

“Tidak ada tapi. Mama ingin kamu mengakhiri pernikahan ini.”

Bastian mengepalkan tangannya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus menjawab ibunya atau mempertahankan perempuan yang kini perlahan mulai menjauh darinya.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!