Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 : REKONSILIASI DIBAWAH SENJA
Pagi harinya, suasana dermaga kayu Desa Teluk Mutiara pecah oleh riuhnya gelak tawa anak-anak desa.
Di sisi dermaga utama, sebuah perahu motor kayu berukuran besar bercat putih bersih dengan lambang bunga melati dan tulisan Aletta Foundation bersandar anggun. Perahu tersebut bukan sekadar kapal penumpang biasa, melainkan sebuah perpustakaan terapung yang dirancang khusus untuk menjangkau anak-anak di pulau-pulau terpencil. Di bagian dalamnya, deretan rak kayu menyajikan ribuan buku cerita berilustrasi, buku pengetahuan alam, alat lukis, hingga beberapa unit stasiun komputer pembelajaran yang ditenagai oleh panel surya di atas atap kapal.
Budi, Nisa, dan belasan anak sekolah desa berlarian menaiki tangga kayu kapal dengan mata berbinar-binar. Mereka disambut ramah oleh para relawan yayasan yang membagikan buku-buku baru dan kotak alat tulis.
Di geladak atas perahu, berdiri James Daniel.
Pria tegap itu mengenakan kemeja linen putih yang gulung tangannya hingga ke siku dan celana kain abu-abu santai. Rambut hitamnya sedikit terurai dipermainkan angin laut yang dingin. Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas geladak, menyimak riuhnya suara tawa anak-anak di bawah sana. Binar mata James yang dulu selalu diliputi oleh dinginnya angka-angka saham dan aura intimidasi korporasi kini tampak begitu tenang, jernih, dan dipenuhi oleh kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Langkah kaki yang halus terdengar menaiki tangga geladak.
Azahra Aletta melangkah mendekati James, membawa dua cangkir seng berisi teh melati hangat yang asapnya masih mengepul pelan. Gaun katun bersahaja yang dikenakan Azahra berdesir halus ditiup angin pesisir.
"Teh hangat untuk Pembina Yayasan?" sapa Azahra lembut, menyodorkan salah satu cangkir kepada James.
James menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kehangatan murni. Ia menerima cangkir seng itu dengan kedua tangannya. "Terima kasih, Azahra."
Keduanya berdiri berdampingan di tepi geladak, memandangi hamparan laut biru Teluk Mutiara yang membias emas di bawah sinar matahari pagi. Di bawah sana, Budi sedang menampakkan buku atlas bergambar hewan laut kepada teman-temannya sambil berteriak kegirangan.
"Melihat mereka tersenyum bebas seperti itu..." gumam Azahra pelan, matanya berkaca-kaca menatap anak-anak didiknya, "...rasanya seluruh luka, ketakutan, dan rasa sakit yang pernah kita lewati selama tiga tahun terakhir ini terbayar lunas tanpa sisa."
James menyesap teh hangatnya perlahan, membiarkan rasa pahit-manis melati menetralkan tenggorokannya. Ia mengalihkan pandangannya dari anak-anak, menatap garis cakrawala laut yang tak bertepi.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, Azahra," bisik James dengan suara baritonnya yang rendah dan tulus.
Azahra menoleh, menatap samping wajah James yang tampak begitu bersahaja di bawah terik matahari pagi.
"Selama tiga tahun..." lanjut James, suaranya terdengar bergetar halus oleh emosi yang tertahan di dalam jiwanya, "...aku hidup dalam neraka buatan egoku sendiri. Aku mengutuk diriku, membenci duniaku, dan berpikir bahwa jika aku bisa menemukanmu kembali, maka seluruh dosaku akan terhapus dan kamu akan menjadi milikku lagi. Aku menganggapmu sebagai barang berharga yang hilang dari genggamanku."
James menghela napas panjang, membiarkan hembusan angin laut menerpa wajahnya.
"Namun saat aku berdiri di desa ini... saat aku melihat caramu tertawa bersama anak-anak, caramu mengajar di bawah naungan atap rumbia, dan caramu menatap Ethan tanpa ada lagi bayang-bayang ketakutan... aku akhirnya tersadar," James memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata jernih Azahra. "Kamu tidak pernah dimaksudkan untuk dikurung dalam sangkar emas di Jakarta. Jiwamu milik kebebasan ini, Azahra. Kamu milik dirimu sendiri dan pantai ini."
Air mata haru menggenang pelan di sudut mata Azahra. Tidak ada lagi rasa gemetar trauma, tidak ada lagi dinding pertahanan yang ia bangun setiap kali pria di hadapannya menyebut namanya.
"Maafkan aku atas segala ketakutan, paksaan, kekejaman, dan egoisme yang pernah kubawa dalam hidupmu dulu," kata James, menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gerakan kepasrahan mutlak dari seorang pria yang pernah dianggap sebagai raja korporasi tak tersentuh. "Hari ini, di atas perahu ini, di hadapan saksi bisu lautan luas... aku benar-benar mengikhlaskanmu, Azahra. Bahagialah bersama Ethan. Dialah pria yang sanggup mencintaimu dengan cara yang benar."
Azahra menyapu air mata yang menetes di pipinya dengan ujung jemarinya. Sebuah senyuman paling legawa dan paling indah terukir di bibirnya.
"Aku sudah memaafkanmu, James... sejak malam kamu memilih pergi meninggalkan desa ini dengan damai," jawab Azahra lembut. "Terima kasih telah datang kembali bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sahabat yang membawa harapan baru bagi anak-anak di sini. Semoga kamu juga menemukan kedamaian dan kebahagiaanmu sendiri di perjalananmu."
"Pasti," sahut James mantap, menyunggingkan senyum hangat.
Suara langkah kaki yang tegap dan berirama santai kembali terdengar menaiki tangga geladak. Ethan Austin berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kaos oblong linen santai dan celana kain panjang. Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang kayu kecil berisi buah mangga dan jeruk lokal yang baru dipetik dari bukit.
"Anak-anak di bawah hampir menghabiskan seluruh bekal buah para relawan," kekeh Ethan santai, meletakkan keranjang buah tersebut di meja kayu geladak.
Ethan melangkah mendekat, menyandarkan siku tangannya di pagar geladak tepat di samping James. Dua mantan penguasa jaringan korporasi terbesar yang dulu saling bertaruh demi gengsi dan harta itu kini berdiri berdampingan tanpa ada sedikit pun hawa permusuhan atau ketegangan.
"Sertifikat akta hibah tanah dan perlindungan lingkungan yang kau serahkan semalam sudah divalidasi oleh Pak Basri dan pengacara desa," kata Ethan, memandang James dengan rasa hormat murni. "Warga sangat berterima kasih. Desa ini resmi terlindungi dari ekspansi industri mana pun."
"Itu hal terkecil yang bisa dilakukan yayasan untuk menjaga tempat ini," sahut James tenang. "Bagaimana dengan jadwal pernikahan besok?"
Ethan menoleh pada Azahra, merangkulkan tangan kanannya yang hangat secara alami ke pinggang istrinya calon itu. Azahra menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke sisimu Ethan.
"Penghulu dan tetua desa sudah siap. Pesta rakyat di pantai dimulai tepat saat matahari terbit," jawab Ethan. Mata kelabunya menatap James penuh kesungguhan. "Kau akan bertahan sampai acara selesai, kan?"
James tersenyum tipis, menepuk bahu Ethan tegap. "Aku akan hadir menyaksikan ikrar suci kalian di tepi pantai besok pagi. Tapi tepat setelah makan siang, aku harus ikut berlayar bersama kapal ini menuju pelabuhan berikutnya di Nusa Tenggara. Ada tiga sekolah pesisir di sana yang sudah menunggu pengiriman buku dan laboratorium."
Ethan mengulurkan tangan kanannya ke tengah udara, menatap mata mantan rivalnya itu. "Pintu rumah kami di atas bukit Teluk Mutiara akan selalu terbuka untukmu kapan pun kau ingin berlabuh, James."
James menatap uluran tangan itu sejenak, lalu menyambutnya dengan genggaman tegap yang kuat dan hangat. "Terima kasih, Ethan."
Matahari sore perlahan mulai bergulir condong ke ufuk barat, membiaskan spektrum warna jingga keemasan yang luar biasa memukau di atas permukaan samudra raya. Gelombang ombak berdesir lembut menghantam lambung perahu perpustakaan, membawa kehangatan yang merengkuh seluruh sudut dermaga.
Tiga jiwa yang dulu terperangkap dalam jaring hitam obsesi, dendam, dan penderitaan kini berdiri berdampingan di atas geladak kapal yang melaju pelan ditiup angin sore. Bayang-bayang kelam masa lalu telah luruh sepenuhnya tanpa sisa, menyisakan lembaran baru yang bersih, luas, dan dipenuhi harapan abadi menyambut hari esok.