Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DARI GELAP KE CAHAYA

Hari-hari Akira perlahan mulai bergeser.

Di tengah kehampaan yang ditinggalkan Riyumi, tumbuh sebuah kesadaran baru di dadanya. Menyesali takdir tidak akan pernah mengembalikan apa pun. Jika ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk menghormati kepergian Riyumi, itu adalah menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi seseorang yang pantas berdiri dan menatap masa depan.

Pagi itu, getaran ponsel memecah keheningan kamar.

Sebuah pesan dari Nana terpampang di layar.

_“Aku mau ke pemakaman Riyumi. untuk melihat nya. Kamu mau ikut?”_

Akira menatap tulisan itu lama. Jemarinya bergerak.

_“Aku ikut.”_

Tepat pukul delapan, bel pintu berbunyi.

Yuki berdiri di luar dengan ragu seperti biasa. Matanya membelalak saat pintu terbuka.

Akira sudah rapi. Kemeja hitam. Rambut tersisir. Wajahnya masih pucat, tapi binar di matanya tidak lagi sekeruh hari-hari kemarin.

“Kamu... mau ke mana?” tanya Yuki pelan.

“Ke tempat Riyumi. Bareng Nana,” jawab Akira.

Yuki mengerjap. “Boleh... aku ikut?”

Akira mengangguk sekali.

Di perjalanan menuju stasiun, Yuki sempat berhenti di toko bunga. Ia membeli seikat lili putih.

Tapi kejutan yang sebenarnya menunggu di peron.

Nana. Yasiro. Dan belasan teman sekelas mereka sudah berkumpul di sana.

Akira tertegun.

Melihat begitu banyak orang hadir untuk Riyumi, dadanya yang kosong terisi sedikit kehangatan asing. Riyumi tidak pernah benar-benar dilupakan. Gadis itu dicintai banyak orang.

Di tengah kerumunan, Yuki melirik Akira cemas. Tangannya sempat terulur ragu, lalu ditarik kembali.

Tapi sebelum Yuki memalingkan wajah, jemari hangat Akira justru menggenggam jemarinya lebih dulu. Erat.

Tubuh Yuki membeku. Rona merah naik ke wajahnya. Jantungnya bergemuruh.

Beberapa teman menoleh. Tidak ada cemooh. Nana dan Yasiro hanya melempar senyum tipis yang penuh pengertian.

Angin musim semi bertiup lembut di area pemakaman. Kelopak sakura berguguran, menutupi nisan batu dingin bertuliskan nama Riyumi.

Nana tak sanggup menahan tangis. Ia berlutut dan memeluk nisan itu.

“Aku belum percaya... aku masih gak bisa percaya kamu udah pergi, Riyumi...”

Yasiro menepuk bahu Nana tanpa kata.

Akira hanya berdiri tegak, menatap langit jingga, menahan agar air matanya tidak jatuh. Di sampingnya, genggaman Yuki menguat. Menjadi jangkar satu-satunya yang menahannya agar tidak runtuh.

Satu per satu teman berpamitan.

Dari kejauhan, Nana berbisik pada Yasiro. “Mungkin yang paling hancur itu Akira. Tapi lihat... dia gak sendirian lagi. Ada Yuki. Riyumi pasti senang kalau tahu ini.”

Di persimpangan jalan, Akira menolak halus saat Yuki ingin mengantarnya pulang.

“Gak apa-apa, Yuki. Aku mau sendiri dulu sebentar.”

Malamnya, Yuki tak sengaja bertemu Nana di kafe remang di sudut kota. Cangkir teh hangat menjadi saksi bisu.

“Hubungan kalian... gimana?” tanya Nana.

Yuki mengaduk tehnya yang mulai dingin. “Kami... hanya sebatas teman.”

Nana menaikkan alis. “Tapi sedekat itu?”

“Aku cuma mau selalu ada untuk Akira,” bisik Yuki. “Dulu dia pernah menyelamatkanku. Mungkin ini caraku membalas budi.”

Nana mendesah. Pandangannya menerawang.

Ia bercerita. Tentang masa lalu Akira dan Riyumi yang rumit. Tentang kecelakaan yang membuat Akira sempat kehilangan ingatan demi melindungi Riyumi. Tentang takdir yang mempertemukan mereka lagi, sebelum maut memisahkan.

“Riyumi sayang banget sama Akira,” suara Nana bergetar. “Dia selalu mau jadi orang nomor satu yang mendukung Akira. Tapi sekarang... dia udah gak ada.”

Yuki mengepalkan tangan di atas pangkuan.

Nana menatapnya tajam, tapi teduh. “Dari caramu menatap dia, aku lihat sebagian sifat Riyumi ada di kamu, Yuki. Jadi tolong... lanjutkan harapan Riyumi. Tetaplah di samping Akira.”

“Aku gak akan pernah bisa menggantikan Riyumi,” jawab Yuki, matanya berkaca. “Tapi aku akan berusaha jadi versi terbaik dari diriku. Bukan untuk merebut tempat siapa pun. Tapi untuk meneruskan apa yang Riyumi titipkan.”

Nana tersenyum lega. “Kamu... suka sama Akira?”

Yuki terdiam. “Aku... belum paham betul rasa ini. Tapi mungkin suatu hari nanti aku akan mengerti.”

Keesokan harinya, kelas gempar.

Akira masuk dengan penampilan lebih segar. Senyum tipis terukir di wajahnya saat ia berjalan lurus ke meja Yuki.

“Selamat pagi, Yuki.”

“WOOAAH! AKIRA NYAPA YUKI DULUAN!” teriak anak-anak cowok.

Wajah Yuki langsung merah. “S-selamat pagi...”

Ia buru-buru berlari ke toilet. Jantungnya seperti mau meledak.

Sejak hari itu, Akira sering mengajak Yuki pulang bersama. Desas-desus manis menyebar di koridor.

Sampai Megumi dari kelas sebelah muncul.

Gadis dengan paras paling menawan setelah Riyumi itu menghentikan Yuki dan Nana di kamar mandi.

“Kamu temannya Akira, kan? Bantu aku supaya bisa lebih dekat sama dia?”

Yuki dan Nana diam.

Senyum Megumi memudar. “Kalau kamu gak mau bantu... aku bakal ambil dia dengan caraku sendiri.”

Yuki berhenti melangkah. Ia menoleh. Menatap lurus ke mata Megumi.

“Aku gak akan pernah melepas Akira. Dan aku gak akan pernah memberikan dia ke siapa pun. Termasuk kamu.”

Megumi menyilangkan tangan. Tertawa sinis. “Berani juga. Kita lihat siapa yang akhirnya dipilih Akira.”

“Ini bukan kompetisi, Megumi!” potong Nana.

Yuki menarik napas. “Aku gak berniat bersaing. Dari awal aku gak pernah mau ‘merebut’ Akira. Aku cuma mau ada di samping dia. Saat dia jatuh, maupun saat dia bangkit. Itu saja.”

Siangnya, di bawah pohon sakura.

Megumi datang membawa dua botol minuman. Disusul Yuki yang canggung membawa bento buatan rumah.

Tiga orang di satu bangku. Canggung.

Megumi tersenyum manis. Yuki hanya menunduk, menyodorkan bekalnya.

Akira menatap bento itu. Lalu menatap minuman Megumi.

Tanpa kata, ia berdiri. Mengambil bento dari tangan Yuki. Mengembalikan minuman Megumi ke bangku.

“Aku makan di kelas. Dan aku gak haus.”

Ia pergi.

Megumi membeku. Senyumnya retak.

Di kelas, selembar kertas kecil mendarat di meja Yuki. Tulisan tangan Akira yang rapi.

_“Terima kasih bentonya. Enak.”_

Air mata Yuki jatuh. Disertai senyum paling tulus yang pernah ia punya.

Sore itu hujan turun deras.

“Ke rumahku dulu! Orang tuaku lagi di luar kota!” teriak Yuki.

Di rumah Yuki yang hangat, Akira mengeringkan rambut dengan handuk. Matanya tertuju pada bingkai foto tua di meja sudut.

Tiga anak kecil tertawa sambil memegang es krim.

Jantung Akira berdegup. Ia mengeluarkan foto kusam dari dompetnya. Foto yang sama persis.

“Yuki... kamu dulu tinggal di mana?” Suaranya bergetar.

“Di Osaka... tapi kecil aku sempat di Hokkaido,” jawab Yuki bingung, membawa dua cangkir cokelat panas.

Akira menyatukan kedua foto itu di meja. Sempurna.

Anak ketiga di foto itu... adalah Yuki.

“Ternyata... itu kita,” bisik Akira.

Ingatan yang terkubur jebol. Taman salju. Istana es. Janji bertiga.

Air mata Yuki tumpah.

“AKIRA!!”

Ia memeluk Akira erat. Tangisnya pecah di bahu Akira. “Aku gak nyangka... ternyata itu kamu... ternyata itu kalian...”

Akira terdiam sejenak. Lalu melingkarkan tangannya di pinggang Yuki.

“Selamat datang kembali, Yuki,” bisiknya serak di telinga Yuki.

Pelukan itu terurai. Jarak wajah mereka menipis.

Dalam napas yang berantakan, Yuki memajukan wajahnya. Mencium bibir Akira.

Singkat. Gemetar. Tapi hangat.

Akira membeku.

Yuki langsung mundur, wajahnya merah padam. “A-aku... maaf! Aku gak bermaksud— maaf, Akira... aku cuma refleks...”

Akira tidak marah.

Perlahan, tangannya terulur. Menyentuh dagu Yuki dan mengangkat wajah gadis itu.

“Yuki,” panggilnya lembut. Matanya tenang. “Terima kasih... untuk semuanya.”

Di luar, hujan masih turun.

Tiga takdir yang sempat terpisah kini bertaut kembali.

Riyumi mungkin menjadi kenangan abadi di masa lalu.

Tapi janji masa kecil mereka bertiga hidup lagi.

Terajut dalam setiap langkah Akira dan Yuki yang akan berjalan bersama menyongsong esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!