Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Jebakan yang Tak Terlihat

Siang itu, matahari bersinar terik menyinari kota yang sibuk, namun di dalam kediaman Mo Han yang berada di atas bukit itu, suasana terasa hening dan sedikit mencekam. Su Yi duduk di tepi jendela di kamarnya, tangannya memegang sebuah buku namun matanya tak benar-benar membaca baris demi baris yang tertulis di halaman itu. Pikirannya terus melayang mengikuti sosok pria yang pagi tadi berangkat dengan wajah serius dan penuh tekad. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, seakan waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.

Di luar, angin berhembus pelan menggoyangkan dedaunan di taman. Su Yi menatap ke arah gerbang besar yang tertutup rapat, di mana dua orang pengawal berdiri tegak tak bergerak sedikit pun. Kehadiran mereka seharusnya membuatnya merasa aman, namun hatinya tetap saja merasa gelisah — ada firasat samar yang menyelinap di sudut hatinya, seakan sesuatu yang buruk sedang bersiap datang.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil terdengar dari arah luar gerbang, memecah keheningan siang itu. Su Yi segera berdiri dan melangkah mendekati jendela, menatap ke bawah dengan penuh harapan. Namun hatinya berdenyut kencang karena bukan mobil Mo Han yang berhenti di sana — melainkan sebuah mobil hitam yang tampak biasa saja namun berhenti tepat di depan gerbang. Dari dalamnya turun seorang pria berseragam, yang tampak berbicara dengan pengawal di gerbang sambil menyerahkan selembar surat.

Su Yi mengerutkan kening. Jika itu bukan Mo Han... siapa yang datang? Dan mengapa hatinya merasa tidak tenang sama sekali?

Tanpa berpikir panjang, ia segera berjalan turun menuju ruang depan. Sesampainya di sana, ia melihat salah satu pengawal sedang berdiri bingung memegang amplop tertutup yang diserahkan pria itu tadi. Saat melihat Su Yi datang, pengawal itu segera membungkuk hormat.

"Nyonya... pria itu bilang ini surat mendesak dari Tuan Muda. Katanya... Tuan Muda sedang terjebak dalam kemacetan parah dan meminta Nyonya segera datang ke rumah sakit pusat kota. Katanya... Tuan Muda mengalami kecelakaan ringan dan ingin melihat Nyonya secepatnya."

Dunia seakan runtuh seketika di telinga Su Yi. Wajahnya pucat seketika, napasnya tertahan di tenggorokan, dan tangannya gemetar hebat hingga nyaris tak sanggup berdiri. "Kecelakaan? Mo Han... Mo Han terluka?"

"Dia bilang hanya luka ringan, Nyonya. Tapi katanya Tuan Muda meminta Nyonya segera datang." Pengawal itu kembali menjelaskan, namun nada bicaranya terdengar ragu.

Su Yi tidak sempat memikirkan keraguan itu. Seluruh pikirannya tertuju pada dua kata — Mo Han terluka. Mo Han memanggilnya. Ia harus segera pergi ke sana. Ia harus menemui pria itu.

"Siapkan mobil! Sekarang juga!" Su Yi berteriak pelan namun penuh kepanikan, melupakan segala pesan yang diucapkan Mo Han sebelum berangkat pagi tadi — pesan agar ia tidak keluar rumah apa pun alasannya. Namun bagaimana mungkin ia tetap diam di sini saat orang yang paling dicintainya sedang terluka dan memanggil namanya?

"Nyonya... Tuan Muda berpesan agar Nyonya tidak keluar rumah apa pun yang terjadi. Mungkin ini..."

"Cepat siapkan mobil!" Su Yi memotong dengan suara bergetar namun tegas. "Jika terjadi sesuatu padanya... aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Aku harus pergi!"

Melihat ketegasan di wajah gadis itu, pengawal itu akhirnya menurut. Mobil segera disiapkan. Su Yi melangkah masuk ke dalamnya dengan jantung berdebar kencang, tak henti-henti berdoa dalam hati agar Mo Han baik-baik saja, agar kabar itu tidak seburuk yang dibayangkannya. Namun di dalam kepanikan itu, ia tak melihat sepasang mata yang mengawasi keberangkatannya dari balik pepohonan di kejauhan — sepasang mata yang menyala penuh kemenangan dan kejahatan.

Mobil melaju menuju rumah sakit pusat kota sesuai petunjuk yang tertulis di amplop itu. Sepanjang perjalanan, Su Yi menatap ke luar jendela dengan wajah pucat pasi, tangannya meremas ujung gaunnya erat-erat. Setiap detik terasa seperti seabad. Ribuan ketakutan melintas di benaknya — bagaimana jika luka-lukanya parah? Bagaimana jika... pikiran itu tak sanggup ia lanjutkan. Ia hanya memejamkan mata dan berdoa berulang kali agar Tuhan melindungi prianya.

Namun semakin jauh mobil melaju, jalanan yang seharusnya menuju rumah sakit itu justru semakin sepi dan semakin sempit. Gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi bangunan tua yang terbengkalai, dan akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah gudang besar yang terpisah dari bangunan lain, terletak di tepi kota yang sepi dan gelap.

Su Yi tersentak kaget. Ia menatap ke luar jendela dengan mata terbelalak penuh ketakutan. "Ini... ini bukan rumah sakit! Di mana kita? Mengapa berhenti di sini?"

Belum sempat pengemudi menjawab, pintu mobil terbuka dari luar. Dua orang pria bertubuh besar dan berwajah kejam berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang membuat darahnya membeku. Saat itulah Su Yi menyadari sesuatu yang mengerikan — ia telah terjebak. Ia telah tertipu karena kepanikannya sendiri.

"Maafkan aku, Mo Han..." Su Yi membisikkan pelan, air mata mulai mengalir deras di pipinya. "Aku tidak mendengarkan pesanmu... dan sekarang... aku telah masuk ke dalam jebakan mereka."

Tanpa perlawanan yang berarti, ia ditarik keluar dari mobil dan dibawa masuk ke dalam gudang tua yang gelap dan berdebu itu. Di sana, di tengah ruangan yang luas namun kosong, berdiri sosok yang dikenalnya — Jiang Chen. Pria itu bersandar pada sebuah tiang besi sambil tersenyum lebar, senyum yang penuh kemenangan sekaligus kebencian yang mendalam. Di sampingnya berdiri seorang pria tua berwajah licik dan dingin — Tuan Jiang, ayahnya.

"Selamat datang, Nyonya Mo." Jiang Chen berkata dengan nada mengejek sambil berjalan perlahan mendekati Su Yi yang ditahan oleh kedua orang anak buahnya. "Kau tampak lebih cantik dari yang kubayangkan. Tak heran jika Mo Han rela melakukan apa pun demi dirimu."

Su Yi menatapnya dengan mata yang berapi-api meski hatinya penuh ketakutan. "Apa yang kalian inginkan? Kalian pengecut! Menyerang wanita yang tidak berdaya hanya karena kalian takut menghadapi Mo Han secara jantan!"

Jiang Chen tertawa keras mendengar ucapan itu. "Pengecut? Biarkan saja Mo Han menyebutku apa pun. Yang penting... kau ada di tanganku sekarang. Dan selama kau di sini... Mo Han tidak akan berani melawan. Dia akan melakukan apa pun yang kuperintahkan. Termasuk menyerahkan seluruh kekayaannya dan pergi meninggalkan kota ini selamanya."

Pria tua yang berdiri di sampingnya akhirnya bersuara. Suaranya berat, kasar, dan penuh kebencian. "Cukup bicaranya. Kirim pesan kepada Mo Han. Beri tahu dia bahwa wanitanya ada di tangan kita. Beri dia waktu dua jam untuk datang sendirian ke sini. Jika dia membawa orang lain... atau jika dia tidak datang... maka wanita ini akan menjadi pengganti nyawanya."

Su Yi menegang mendengar itu. Mereka tidak hanya ingin memeras Mo Han. Mereka juga berniat melenyapkan pria itu setelah ia datang. Mereka berniat menghancurkan mereka berdua sekaligus.

"Tidak!" Su Yi berteriak sekuat tenaga meski ditahan dengan erat. "Jangan datang, Mo Han! Jangan datang ke sini! Ini jebakan! Lari selagi sempat!"

Namun teriakannya segera dibungkam. Mulutnya disumpal kain tebal, dan ia didorong ke sudut ruangan lalu diikat ke tiang besi yang dingin dan berkarat. Jiang Chen menatapnya sebentar dengan senyum mengerikan, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala — nomor yang menjadi harapan sekaligus ketakutan terbesarnya saat ini.

Di kantor pusat Grup Mo, Mo Han sedang berdiri menatap tumpukan laporan di atas meja kerjanya dengan wajah dingin dan penuh amarah yang tertahan. Rencana untuk menghancurkan keluarga Jiang sudah tersusun rapi, tinggal menunggu waktu untuk melaksanakannya. Namun ponsel di atas meja tiba-tiba berdering nyaring, memecah keheningan ruangan. Saat melihat nama peneleponnya, alis tebalnya berkerut dalam — itu nomor asing yang tidak dikenalnya.

Mo Han mengangkatnya dengan suara rendah dan tegas. "Siapa?"

Suara Jiang Chen terdengar dari seberang sana, penuh kemenangan dan ejekan. "Selamat siang, Mo Han. Kau sedang mencari sesuatu? Atau lebih tepatnya... seseorang?"

Jantung Mo Han seketika berdegup kencang dengan rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia segera berdiri tegak, mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa yang kau lakukan? Di mana dia? Jika kau berani menyentuh sehelai rambut pun di kepalanya... aku akan menghancurkanmu dan seluruh keluargamu hingga tak ada sisa!"

"Tenanglah. Wanita cantikmu masih aman untuk saat ini." Jiang Chen tertawa sinis. "Tapi itu hanya berlaku jika kau menuruti perintahku. Datanglah sendirian ke gudang tua di kawasan pelabuhan tua dalam waktu dua jam. Jangan bawa siapa pun. Jangan beri tahu siapa pun. Jika kau terlambat... atau jika kau membawa orang lain... maka kau akan menemukan wanitamu dalam keadaan yang tidak akan kau kenali lagi."

Sambungan terputus.

Mo Han berdiri terpaku di tempatnya, napasnya memburu, matanya menyala dengan amarah dan ketakutan yang meluap-luap. Seluruh tubuhnya gemetar — bukan karena takut akan ancaman terhadap nyawanya sendiri, melainkan karena membayangkan apa yang mungkin mereka lakukan terhadap Su Yi. Ia tahu tempat itu. Ia tahu betapa berbahayanya tempat itu. Dan ia tahu bahwa pergi ke sana sendirian berarti berjalan langsung ke dalam maut.

Namun apa pun pilihannya? Bagaimana mungkin ia tetap diam di sini saat nyawa Su Yi dipertaruhkan? Bagaimana mungkin ia membiarkan gadis yang telah menunggunya sepuluh tahun itu terluka karena ketidakpeduliannya?

Mo Han segera berlari keluar dari ruangannya, melesat menuju lift sambil menekan tombol panggil pengawal kepercayaannya. Suaranya bergetar namun penuh ketegasan yang mengerikan saat berbicara di telepon.

"Kumpulkan semua orang yang bisa kau bawa. Segera menuju gudang tua di kawasan pelabuhan tua. Tapi tetap jaga jarak. Jangan masuk sebelum aku memberi isyarat. Jika terjadi sesuatu padanya... hancurkan tempat itu dan bunuh siapa pun yang ada di dalamnya tanpa ampun!"

Sambungan terputus. Mo Han berlari masuk ke dalam mobil dan melaju secepat kilat menuju pelabuhan tua. Di sepanjang perjalanan, kedua tangannya mencengkeram setir dengan erat, urat-urat di lehernya menonjol hebat. Matanya merah padam, dan di dalam dadanya, amarah yang belum pernah dirasakannya sebelumnya berkobar menjadi api yang siap melahap apa pun yang menghalangi jalannya.

"Tahanlah sebentar lagi, Yi." Mo Han berbisik pada keheningan di dalam mobil, air mata amarah dan ketakutan menetes di pipinya yang keras. "Tahanlah... aku datang. Aku datang menyelamatkanmu. Dan kali ini... aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Tidak peduli apa pun harganya. Bahkan jika aku harus mati di sana... aku akan memastikan kau pulang dengan selamat."

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!