Indonesia
NovelToon NovelToon
Kurebut Pacarmu

Kurebut Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Cassandra—gadis rebel yang kerap disalahpahami—terjebak dalam rasa yang salah. Ia jatuh cinta pada Narendra, pria hangat yang ironisnya adalah kekasih rival bebuyutannya, Anggita.

​Didasari dendam lama dan perasaan yang makin membara, Cassandra nekat menyusun rencana untuk merebut Narendra. Namun, semakin ia melangkah jauh, batas antara obsesi dan cinta sejati kian kabur.

​Mampukah Cassandra memenangkan hati Narendra, atau akankah obsesi ini justru menghancurkan mereka semua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Sisa-Sisa Kobaran Api

Dinginnya air laut malam menyengat seluruh kulit Cassandra dalam sekejap. Gelembung udara keluar memburu dari mulutnya saat tubuhnya tertarik makin dalam ke dasar pelabuhan yang gelap.

Rasa panik yang luar biasa mendadak menyergap pikirannya. Cassandra berontak sekuat tenaga, mengibaskan kakinya untuk melepaskan diri dari cengkeraman misterius di bawah sana.

Cahaya kobaran api di atas permukaan air menyinari sesosok objek yang melilit pergelangan kakinya. Rupanya itu bukanlah tangan mekanis penjahat, melainkan jaring besi sisa bangunan dermaga yang runtuh akibat ledakan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan berenang cepat mendekatinya dari arah samping. Narendra menembus kegelapan air, membawa pisau lipat kecil yang masih tergenggam erat di tangannya.

Dengan sigap, Narendra memotong jaring besi yang melilit kaki Cassandra. Ia meraih jemari cewek itu, lalu mendorong tubuh mereka berdua naik menuju permukaan laut secara bersamaan.

SPLASH!

Cassandra memecah permukaan air seraya meraup udara segar sebanyak-banyaknya. Dadanya naik turun memburu, memuntahkan air laut yang sempat tertelan olehnya.

Di sampingnya, Narendra ikut mengapung sambil meringis menahan nyeri hebat pada luka tembak di bahunya. Kobaran api besar dari bangkai kapal jet memantulkan warna jingga keemasan di atas permukaan air.

"Cas, lu enggak apa-apa?" tanyanya parau di tengah dentuman ombak malam.

"Gue enggak apa-apa, Ren!" jawab Cassandra, seraya merangkul bahu kanan Narendra untuk membantunya mengapung. "Kaki gue cuma sedikit lecet."

Mereka berdua berenang perlahan menuju tepian pantai berbatu yang aman dari jangkauan puing-puing ledakan. Suara sirine polisi dan ambulans meraung-raung di kejauhan, menandakan bahwa bantuan akhirnya tiba di lokasi dermaga.

Begitu mendarat di atas batu-batu licin, Cassandra langsung merobek bagian bawah kausnya untuk membebat luka Narendra yang kembali mengeluarkan darah.

Ibu Cassandra berlari membelah kegelapan dari arah jalan raya bersama beberapa petugas kepolisian. Ia menangis terisak seraya memeluk Cassandra erat-erat di atas batuan pelabuhan.

"Cassandra! Ya Tuhan, anakku!" tangis ibunya pecah, membelai wajah basah putrinya dengan jemari yang bergetar.

Cassandra membalas pelukan itu dengan penuh kehangatan, merasakan beban berat di dadanya akhirnya terangkat perlahan. Narendra yang bersandar pada dinding batu menyunggingkan senyum lega melihat kebersamaan ibu dan anak tersebut.

Beberapa menit kemudian, tim medis segera mengevakuasi Narendra dan Cassandra menuju mobil ambulans untuk mendapatkan perawatan intensif.

***

Dua Hari Kemudian.

Suara ketukan halus pada pintu ruang rawat inap membuyarkan lamunan Cassandra. Cewek itu berpaling dari jendela kamar rumah sakit, menemukan Narendra berdiri di ambang pintu menggunakan pakaian santai.

Pria itu kini memakai penyangga lengan pada bahu kirinya, namun raut wajahnya terlihat jauh lebih segar dan tenang daripada sebelumnya.

"Boleh gue masuk?" tanya Narendra pelan, melempar senyum hangat yang jujur dari bibirnya.

Cassandra mengangguk pelan, merapikan duduknya di pinggir ranjang pasien. "Bahu lu gimana? Katanya dokter bilang lu harus istirahat total selama seminggu."

Narendra melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kayu di samping ranjang Cassandra. "Dokter emang bilang gitu, tapi gue enggak betah diem di kamar sendirian."

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkannya dua botol minuman susu cokelat dingin, lalu menyerahkan satu botol pada Cassandra.

Cassandra tertawa kecil menerima minuman favoritnya tersebut. "Lu masih ingat aja sama susu cokelat."

"Gue bakal selalu ingat semua hal tentang lu, Cas," jawab Narendra tulus, menatap lurus ke dalam mata cokelat Cassandra.

Keheningan yang nyaman terjalin di antara mereka berdua selama beberapa saat. Suasana bangsal yang tenang diiringi embusan angin sore membuat segalanya terasa sangat damai.

"Pak Hermawan dan Rizal gimana?" tanya Cassandra memecah keheningan.

"Gue belum dapet kabar pasti dari polisi."

Narendra menyeruput susunya sebelum menjawab pelan. "Pak Hermawan dan Rizal berhasil ditangkap polisi di pinggir pantai beberapa jam setelah ledakan. Mereka berdua enggak sempat kabur karena seluruh jalur keluar dermaga sudah diblokir SWAT."

Ia menghela napas panjang, menatap pemandangan kota dari balik jendela. "Semua jaringan peretasan pasar gelap, dokumen korupsi bokap gue, sampai kejahatan Pak Hermawan sudah disita pihak berwajib. Semuanya benar-benar selesai."

Cassandra bernapas lega, menyandarkan punggungnya pada bantalan ranjang. "Akhirnya... kita bisa kembali jadi remaja normal."

"Tapi gue enggak mau kembali jadi orang asing buat lu, Cas," potong Narendra cepat, menatap Cassandra dengan sorot mata yang dipenuhi ketulusan mentah.

Ia mengulurkan tangan kanannya yang terbebas, memegang lembut jemari Cassandra di atas ranjang. "Papan catur kita emang udah hancur, tapi permainan hidup kita yang sebenarnya baru aja dimulai. Lu mau mendampingi gue sebagai mitra hidup yang jujur?"

Pipi Cassandra memerah merona mendengar pertanyaan tulus dari cowok di hadapannya. Ia membalas genggaman tangan Narendra dengan erat, menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun.

"Gue mau, Narendra," jawab Cassandra pelan seraya tersenyum manis.

***

Satu Minggu Kemudian.

Suara bising para murid SMA Garuda memenuhi area koridor utama sekolah saat jam istirahat berlangsung. Cassandra dan Narendra berjalan bersama menuruni tangga lantai dua dengan pakaian seragam yang rapi.

Kehadiran mereka berdua menjadi pusat perhatian murid-murid lain yang menatap dengan penuh kekaguman dan rasa ingin tahu. Namun, Cassandra tak lagi peduli pada tatapan orang lain. Ia merasa bebas dan utuh.

Saat mereka melangkah melewati depan laboratorium komputer yang kini dipasangi garis polisi, sebuah notifikasi pesan berdenting nyaring dari ponsel Cassandra.

Cassandra menghentikan langkahnya, merogoh saku roknya untuk mengamati layar ponsel.

Notifikasi itu berasal dari sebuah alamat email terenkripsi anonim yang tidak memiliki nama pengirim.

Ia membuka pesan tersebut dengan dahi berkerut bingung. Layar ponselnya menampilkan sebuah gambar dokumen sertifikat tanah atas nama almarhum ayahnya, disusul oleh sebuah teks singkat bertuliskan:

Pesan: "Terima kasih sudah membersihkan pion-pion kecil seperti Baskoro dan Hermawan dari papan catur ini, Cassandra. Sekarang, Raja yang sebenarnya menunggumu di babak berikutnya."

1
Ros Mawa Tyy
👍👍👍
gadis bucin: terima kasih 🤗🙏🏻
total 1 replies
gadis bucin
Teman-teman, silakan mampir dan baca karyaku. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!