Zivana dan Aidil sudah menikah tiga tahun. Dan saat itu Aidil adalah seorang duda anak dua, sedangkan Zivana merupakan wanita yang pernah bekerja di salah satu butik ibu Aidil. Selama pernikahan mereka, Aidil memang belum mencintai Zivana, terlebih saat itu mereka menikah karena keinginan ibu Aidil yang kasihan melihat kedua cucunya yang masih kecil. Amora yang saat itu baru berusia dua tahun dan Khaisar lima tahun.
Selama tiga tahun Zivana menjadi sosok ibu dan istri yang begitu mencintai kedua anak-anak Aidil. Namun sayangnya, Zivana belum bisa mendapatkan hati Aidil, walau pria itu selama tiga tahun selalu bersikap baik padanya. Hanya saja, selama itu pula Aidil belum berani menyentuh Zivana.
Hingga menjelang tiga tahun pernikahan mereka akhirnya Stela, mantan istri Aidil yang pernah meninggalkannya kembali. Dan berusaha merebut perhatian kedua anak dan mantan suaminya.
Apa yang akan terjadi dengan pernikahan Zivana dan Aidil? Akankah mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zivana 8
Malam itu, jarum jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul delapan malam. Hujan gerimis yang turun sejak petang menyisakan hawa dingin yang menusuk kulit. Di kamar tidur anak-anak, suara tawa merdu yang biasa mengisi malam mini lenyap, berganti hening karena Khaisar dan Amora sudah tertidur lelap setelah Zivana mendongengkan kisah favorit mereka. Zivana menatap sebentar keduanya, dua anak yang dia sayangi seperti anaknya sendiri.
Anak yang dia besarkan dan juga dia rawat sepenuh hati, kini tumbuh menjadi anak-anak yang begitu ceria, pintar dan sopan santun. Zivana sudah berhasil mendidik keduanya, namun setetes air mata mulai menetis di kedua matanya. Mengingat jika dia hanyalah seorang ibu yang hanya merawat mereka dan kapan saja akan di buang jika sudah tidak di perlukan. Apalagi ibu kandung mereka sudah datang, dan pastinya mereka akan kembali bersama. Menjadi kelaurga yang utuh dan keluarga yang sesungguhnya.
Zivana melangkah keluar dari kamar anak-anak dengan gerakan amat pelan, lalu menutup pintu rapat-rapt. Begitu berbalik, ia mendapati Aidil sudah berdiri di ujung lorong dengan kemeja kerja yang kancing atasnya sudah terbuka dan lengan tergulung hingga siku. Pria itu tersenyum hangat, menatap istrinya dengan pendar mata yang lembut.
"Anak-anak sudah tidur, Ziva?" tanya Aidil seraya melangkah mendekat.
Zivana menundukkan pandangannya, enggan menatap iris mata cokelat yang tadi siang begitu tenang berbohong padanya.
"Sudah, Mas. Mereka kecapekan."
"Baguslah,"
Aidil mengulurkan tangannya, bermaksud merengkuh pinggang Zivana untuk dibawanya ke dalam dekapan, seperti rutinitas baru mereka beberapa hari terakhir.
"Ayo ke kamar, udara malam ini dingin sekali."
Namun, sebelum jemari Aidil sempat menyentuh kain bajunya, Zivana secara refleks mengambil satu langkah mundur. Gerakannya sangat halus, namun cukup jelas untuk membuat tangan Aidil mengambang kaku di udara. Aidil mengerutkan dahi, menatap jemarinya yang kosong, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Zivana. "
Ziva? Kamu kenapa?"
"Aku... aku mau merapikan sisa piring di dapur dulu, Mas. Mas duluan saja ke kamar," sahut Zivana datar tanpa emosi, lalu berjalan melewati Aidil begitu saja.
Aroma wangi vanila khas tubuh Zivana menyapu indera penciuman Aidil, namun ada sensasi dingin asing yang menyertainya. Pria itu membalikkan badan, memperhatikan punggung istrinya yang menghilang di belokan tangga. Dahi Aidil makin berkerut. Ada yang tidak beres, batinnya.
Setengah jam kemudian di kamar utama, lampu meja menyebarkan cahaya keemasan yang remang. Aidil duduk di tepi ranjang, menunggu Zivana yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur katun longgar. Hair dryer di tangan Zivana mendengung pelan saat ia mengeringkan ujung rambutnya di depan cermin rias.
Melalui pantulan cermin, Aidil terus memperhatikan raut wajah istrinya. Tidak ada senyum manis, tidak ada binar bahagia yang biasanya memancar saat mereka berduaan. Wajah Zivana pucat dan datar. Apalagi pipi yang bersemu merah saat pandangan mereka beradu di cermin, tatapn Zivana kali ini terlihat sangat datar.
Aidil bangkit dari ranjang, berjalan pelan menghampiri meja rias. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Zivana dari belakang, memijatnya pelan.
"Capek ya, Ziva?" bisik Aidil lembut di dekat telinganya.
"Hari ini kamu pucat sekali dari tadi telepon sore. Ada yang sakit?"
Zivana membeku. Sentuhan jemari Aidil yang tadinya menjadi sumber kebahagiaannya, kini terasa seperti torehan sembilu panas di atas lukanya. Bayangan tangan tegap itu saat mengambang kaku hendak memeluk Stela tadi siang langsung berputar di benaknya.
Zap.
Zivana segera mematikan hair dryer, lalu berdiri dari kursinya. Tindakan spontan itu membuat tangan Aidil terlepas kasar dari bahunya.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Cuma agak mengantuk," potong Zivana cepat, melangkah memutari Aidil menuju sisi ranjangnya sendiri.
Aidil berbalik, menatap Zivana dengan sorot mata yang mulai dihinggapi rasa cemas dan kebingungan.
"Ziva, tatap aku."
Zivana yang sedang menarik selimut mematung sejenak, namun ia menolak mendongak.
"Sudah malam, Mas. Besok Mas harus bangun pagi untuk ke kantor."
"Zivana, tolong," panggil Aidil, suaranya naik satu nada. Pria itu melangkah mengitari ranjang, lalu duduk di sisi tempat Zivana berbaring. Ia meraih pergelangan tangan Zivana, menahannya erat namun hati-hati.
"Sejak aku pulang tadi, kamu terus menghindar dariku. Bahkan kamu tidak mau menatap mataku. Kalau aku ada salah, tolong katakan, jangan diam seperti ini."
Zivana merasakan matanya memanas, air mata tumpah ruah menumpuk di pelupuk matanya. Ia berusaha keras menarik tangannya dari genggaman Aidil.
"Tidak ada yang salah, Mas. Aku cuma capek."
"Kamu bohong," bisik Aidil tegas, ibu jarinya mencoba mengusap punggung tangan Zivana, namun Zivana meremas jemarinya sendiri menghindar.
"Kamu tidak pernah seperti ini. Ada apa sebenarnya? Soal perbicangan kita kemarin malam? Atau soal anak-anak?"
Soal Mbak Stela. Soal kebohonganmu tentang besok sore, jerit Zivana di dalam hatinya. Rasanya ia ingin menumpahkan seluruh kepedihan itu, berteriak di depan wajah suaminya bahwa ia tahu tentang wanita masa lalu itu dan rencana pertemuan rahasia besok. Namun, bayangan senyum bahagia Khaisar dan Amora menahannya. Zivana tidak ingin ego dan rasa sakitnya merusak takdir anak-anak yang mungkin membutuhkan ibu kandungnya.
"Mas..."
Zivana akhirnya mendongak, mengunci tatapannya pada mata Aidil. Bola matanya yang basah berkilat di bawah temaram lampu, memancarkan rasa luka yang begitu dalam hingga membuat dada Aidil mendadak berdenyut nyeri tanpa tahu sebabnya.
"Kalau besok Mas membawa anak-anak jalan-jalan, tolong jaga mereka baik-baik, ya. Jangan biarkan mereka jajan es krim apalagi cauaca sedang tidak bagus seperti ini..."
Aidil tersentak pelan. "Tentu saja aku akan menjaga mereka, Ziva. Mereka anak-anakku."
"Maksudku..." suara Zivana bergetar tipis.
"Pastikan mereka bahagia. Pastikan... siapa pun yang menemani mereka besok, bisa membuat mereka merasa disayangi."
Dahi Aidil berkerut makin dalam. Kalimat Zivana terdengar sangat aneh, seolah ada makna tersirat yang sangat berat di dalamnya.
"Ziva, kenapa kamu bicara seperti itu? Yang menemani mereka kan cuma aku..."
"Aku mau tidur, Mas. Tolong matikan lampunya," sela Zivana pelan.
Ia menarik tangannya secara paksa hingga terlepas dari genggaman Aidil, lalu membalikkan badan, memunggungi suaminya sepenuhnya dan menarik selimut hingga menutupi bahu.
Aidil terpaku di tepi ranjang. Tangannya menggantung kosong di udara. Rasa bersalah yang amat besar mendadak menghantam dadanya, walau ia tidak menyadari secara pasti apa yang telah diketahui istrinya. Pria itu menghela napas panjang yang terasa berat, lalu perlahan mematikan lampu meja rias.
Kamar itu kini tenggelam dalam kegelapan. Aidil berbaring di sisinya, lalu mengulurkan tangan mencoba merengkuh tubuh Zivana dari belakang. Namun, Zivana dengan halus menggeser tubuhnya sedikit menjauh, menyisakan jarak kosong yang membeku di antara mereka.
Di balik kegelapan malam dan deru napas Aidil yang gelisah di belakangnya, Zivana memejamkan mata rapat-rapt. Air matanya menetes tanpa suara, menyerap ke dalam bantal, meratapi cinta yang terasa makin menjauh tepat ketika ia baru saja mulai menggenggamnya.
bahagia selalu ziva ,,
urusan amora Dan khaisar tdk perlu di pikirkan ,, kalo mereka udh dewasa ,, mereka akan mencari km ,, meski km bukan ibu kandung ny ,,
tp mereka tau km tulus menyayangi Dan mengurus mereka dulu
papa bagas yg urus tuh s pewangi ruangan stela, buka semua borok nya k publik, bayi yg d kandung jg pat bkn bayi nya aidil kan
kasian khaisar n Amora jd broken home
hrusnya tegas saat stella datang .... tiba" mngusik keluargamu...
bukan mlah ngasih tempat & mmbuka pintu krusakan lebar"
kmunya aja yg suka trgoda nafsu setan🙄🙄
gmn lgi ya..... kmunya hobi asal main celup sih... jdi g salah lah klo km di jdikn tumbal ayah pengganti anknya stella
🤣🤣🤣🤣