[SEASON 3]
"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)
"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)
"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)
"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)
Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.
Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.
Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Perdebatan Ego Ketiga Pangeran Vampir
"Milikmu?!"
Sebuah suara bariton lain yang sarat akan nada penolakan instan memotong kalimat Jonah. Josiah Salvatore tiba di titik itu dengan napas yang sedikit memburu akibat berlari cepat.
Ia menatap lekat jemari pucat Jonah yang masih bertengger di atas bahu kecil Elisa dengan pandangan mata yang sangat tidak suka.
"Jangan membual, Jonah! Gadis ini adalah Mate-ku! Aku bisa merasakan getaran jiwanya secara mutlak semenjak pertama kali melihat wujudnya di halaman belakang kastil Pendragon tadi. Tanda gigitan vampirmu itu sama sekali tidak sah jika jiwa kami berdua sudah terikat oleh garis takdir kuno!"
Elisa memandang ketiga pemuda Salvatore itu secara bergantian dengan sepasang mata cokelat gelap yang memancarkan rasa tidak percaya yang teramat sangat.
"Berhenti... kumohon hentikan semua ini..." bisiknya parau dan lirih.
Namun, suara manusianya yang rapuh seketika tenggelam begitu saja di dalam badai perdebatan ego ketiga pria di sekelilingnya.
"Hanya karena kau merasakan riak ikatan Mate, bukan berarti kau bisa mengklaim hak kepemilikan mutlak atas dirinya secara sepihak, Josiah,"
Jonas memotong perdebatan adik-adiknya dengan nada suara otoriter yang tidak terbantahkan. Ia menatap kedua adiknya dengan binar kemuakan yang nyata.
"Gadis manusia ini adalah sebuah ancaman besar bagi eksistensi kita. Dia sudah mengetahui terlalu banyak perihal siapa jati diri kita yang sebenarnya. Aku tidak peduli siapa di antara kalian berdua yang ingin mengklaim tubuhnya, yang jelas saat ini dia harus dibawa ke hadapan Paman Alan Pendragon, atau memorinya tentang hari ini akan kuhancurkan dan kuhapus dari kepalanya sekarang juga."
"Coba saja kalau kau berani menyentuh atau melukainya, Kak! Aku bersumpah tidak akan tinggal diam!"
Josiah langsung memasang posisi kuda-kuda kokoh, sepasang matanya menajam, siap melesat maju untuk menyerang kakak sulungnya sendiri.
Melihat tingkah gila mereka, Elisa mengepalkan kedua tangan manusianya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Rasa amarah yang membakar dada mendadak memuncak, melampaui rasa ketakutan psikologis yang sedari tadi merantai tubuhnya.
"CUKUP!" teriak Elisa dengan suara melengking lantang, membuat ketiga pemuda Salvatore itu terdiam seketika di tempat mereka berpijak.
"Aku bukan seonggok barang mati yang bisa kalian klaim atau kalian perebutkan sesuka hati! Aku bukan kekasih, bukan milik, dan bukan Mate dari siapa pun di antara kalian! Kalian semua... kalian semua adalah segerombolan monster gila yang mengerikan!"
"Berani sekali tikus panti sepertimu mengumpat di hadapanku. Mereka berdua yang sudah kehilangan akal sehat, bukan aku," sahut Jonas dengan nada suara dingin yang menusuk hingga ke dalam tulang.
Jonas menegakkan tubuh tegapnya, menatap kedua adiknya secara bergantian dengan sepasang mata hitam pekat yang meremehkan.
"Sadarlah, kalian berdua! Di dalam hukum adat dunia kita, setiap individu Immortal hanya ditakdirkan memiliki tepat satu Mate sejati sepanjang hidupnya. Tidak mungkin ada hukum alam yang menyatakan bahwa seorang gadis manusia biasa bisa menjadi pasangan jiwa dari kalian berdua sekaligus. Carilah wanita dari ras agung lain yang lebih layak, jangan dia."
Jonas mengucapkan kalimat itu dengan penuh keyakinan mutlak. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebuah badai besar mendadak sedang berkecamuk hebat.
Logika sehatnya sebagai seorang darah campuran Vampir, Mermaid dan Demon menolak keras kenyataan ini, tetapi indra penciumannya yang super sensitif tidak bisa dibohongi.
Aroma manis yang kian menguar dari pori-pori tubuh Elisa—sebuah perpaduan magis antara keharuman bunga lili murni dan sesuatu yang terasa sangat sakral—saat ini sedang menghantam keras dinding insting kegelapan di dalam tubuhnya. Itu... adalah karakteristik aroma Mate miliknya sendiri.
Mustahil, ini benar-benar tidak masuk akal, batin Jonas merutuk geram dalam hati.
Tidak mungkin kami bertiga, tiga bersaudara Salvatore, memiliki satu wujud Mate yang sama persis. Fenomena gila ini benar-benar menyalahi dan merusak hukum alam kegelapan!
Elisa hanya bisa berdiri terpaku di bawah batang pohon pinus, menatap ketiga pria tampan namun mematikan itu dengan perasaan campur aduk yang mengerikan. Ia merasa layaknya seekor domba kecil tak berdaya yang sedang dikepung dan diperebutkan oleh tiga ekor serigala lapar di tengah hutan sepi.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan apa pun isi hukum alam buatanmu itu, Jonas!" sahut Josiah dengan nada suara yang menantang, menatap lurus ke arah sang kakak sulung.
"Jantungku yang mati mendadak berdegup hanya untuknya sejak pertama kali sepasang mataku memandangnya. Aku tidak akan pernah melepaskannya untuk siapa pun."
"Dan aku sudah terlanjur mencicipi kelezatan darah murninya," timpal Jonah dengan seulas senyuman tipis yang terasa sedingin es.
"Darah di dalam tubuhnya mengenali eksistensiku jauh lebih dalam daripada siapa pun yang berdiri di tempat ini, Jonas. Gadis ini adalah milikku, terlepas dari apa pun pendapat kuno yang keluar dari mulutmu, Kakak Sulung."
Jonas mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga urat-urat kehitaman di sepanjang lengan kekarnya menonjol keluar. Ia mengambil langkah maju yang mengintimidasi, kembali mengunci pandangannya pada wujud Elisa yang kian memucat.
"Dengar baik-baik, Gadis Kecil. Entah sihir atau kutukan apa yang kau gunakan sampai bisa membuat kedua adikku kehilangan akal sehat mereka, tapi aku akan membawamu pergi dari sini sekarang juga. Kita akan membuktikan kebenarannya langsung di hadapan orang tua kita... siapa jati dirimu yang sebenarnya."
Elisa melangkah mundur dengan panik, sepasang matanya bergerak dinamis mencoba mencari celah sempit di antara semak-semak untuk kabur.
"Aku tidak peduli dengan urusan Mate gila kalian! Aku hanya ingin pergi menemui keluargaku sekarang juga!"
"Kau pasti akan bertemu dengan mereka,"
Jonas bergerak secepat kilat, menyambar pergelangan tangan Elisa dengan paksa menggunakan cengkeramannya yang sekeras batangan baja.
"Tapi, tentu saja dengan menggunakan caraku."
"Lepaskan aku, Bajingan! Aku tidak mau ikut dengan kalian!" teriak Elisa histeris sembari meronta-ronta dengan brutal.
Jonas sama sekali tidak memedulikan teriakan histeris gadis itu. Dengan satu gerakan tangan yang luar biasa kasar dan bertenaga besar, ia mengangkat tubuh mungil Elisa ke atas bahunya, memosisikannya layaknya sedang memikul sekarung beras.
Elisa berontak dengan sisa seluruh tenaga manusianya; ia memukul-mukul punggung lebar Jonas yang rasanya sekeras dinding beton, bahkan nekat menancapkan giginya pada pundak pemuda itu.
Di tengah keputusasaannya, Elisa mencoba memusatkan seluruh sisa energi gelombang otaknya untuk menghipnotis Jonas, membisikkan perintah manipulasi memori agar pria itu melepaskan dekapannya saat ini juga.
Namun, hasilnya nihil. Jonas tidak terpengaruh atau linglung sedikit pun.
Kenapa kekuatanku sama sekali tidak bekerja pada pria ini? Apakah kemampuan memoriku benar-benar hanya seonggok sampah tak berguna di hadapan ras mereka? batin Elisa dirundung rasa putus asa yang teramat sangat.
Tepat di saat Jonas hendak mendudukkan tubuh Elisa secara paksa di atas jok belakang motor sport hitamnya, sebuah kehadiran energi asing yang luar biasa masif dan kuat mendadak muncul membelah kegelapan dari balik bayangan rimbun pohon cemara.
Atmosfer di sekitar jalan raya tersebut seketika berubah menjadi sangat sunyi, seolah-olah waktu dipaksa berhenti berputar.
Seorang pria jangkung berwajah luar biasa tampan dengan rambut pirang keemasan sehalus sutra dan sepasang manik mata hijau zamrud yang berkilat tajam kini berdiri tegap di sana.
Aura supranatural yang dipancarkan dari tubuhnya terasa sangat tenang, sejuk, namun entah bagaimana mampu mengimbangi dan meredam tekanan energi kegelapan Demon milik Jonas Salvatore.
"Jangan pernah memaksakan kehendakmu pada seorang gadis jika dia sendiri menolak untuk ikut bersamamu," ucap pria berambut pirang itu dengan nada suara yang teramat dingin.
Suaranya terdengar datar, namun sarat akan otoritas absolut yang tak terbantahkan.
Elisa memutar kepalanya ke arah sumber suara. Jantung manusianya seketika mencelos hebat begitu ia mengenali postur tubuh dan wajah familier sosok tersebut.
"Tuan... Tuan Cedric?"