Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Bukan rumah impian

Usai menunaikan salat Subuh di sudut kamar yang asing itu, Aura berlutut cukup lama di atas sajadah. Tangannya yang gemetar terangkat ke udara, membisikkan doa tanpa suara di antara isak tangis yang berusaha ia redam.

Hanya pada Sang Pencipta ia bisa menumpahkan seluruh rasa sesak, keputusasaan, dan ketakutan yang menggebu. Ia tidak tau bagaimana harus melangkah menjalani hari-hari ke depan, namun ia sadar bahwa melarikan diri saat ini bukanlah sebuah pilihan.

Suara gemercik air dari kamar mandi yang setengah jam lalu di masuki Fadil perlahan terhenti. Aura bergegas melipat sajadahnya dan mengusap air matanya dengan kasar, dan berusaha tampil sekuat mungkin.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Fadil melangkah keluar dengan celana kain hitam dan kaos polos abu-abu. Rambutnya yang basah sedikit diusap dengan handuk kecil.

Pria itu sama sekali tidak menoleh ke arah Aura, seolah keberadaan wanita itu hanyalah angin lalu di dalam ruangan tersebut.

Tanpa menguarkan sepatah kata pun, Fadil meraih ponselnya di atas meja rias, memeriksa beberapa pesan bisnis yang masuk, lalu mengenakan jam tangannya.

"Mas... hari ini kita harus pulang ke rumah Mama atau ke rumah keluarga Mas Fadil?" tanya Aura yang memberanikan diri untuk bersuara.

Fadil menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan lengan kaos. Ia lalu berbalik dan menatap Aura dengan sorot mata yang datar dan dingin.

"Kita tidak ke mana-mana sebelum acara syukuran keluarga sore nanti," jawab Fadil singkat, bahkan terdengar begitu formal dan berjarak. "Dan satu hal lagi, Aura. Mulai hari ini, kamu ikut tinggal di rumahku. Papa dan Mama yang meminta agar kita langsung menempati rumah itu."

Glek!

Aura menelan ludahnya dengan susah payah. Membayangkan harus tinggal seatap hanya berdua dengan Fadil, pria yang menyimpannya dalam kebencian membuat nyalinya menciut.

"Tapi Mas, barang-barangku semuanya masih di rumah Mama..." bisik Aura.

"Nanti suruh orang rumah untuk mengambilnya," potong Fadil. Ia kemudian melangkah mendekati lemari pakaian untuk mengambil jasnya. "Satu jam lagi kita harus check-out dari hotel ini. Bersihkan dirimu dan rapikan gaun itu. Aku tidak ingin orang-orang di luar melihatmu seperti pengantin yang baru saja dibuang."

Kata-kata itu kembali menyengat ulu hati Aura. Namun, ia memilih diam. Aura hanya mengangguk pelan, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa riasannya yang luntur dan mengganti gaun pengantinnya yang amat berat dengan pakaian santai yang sempat dibawakan ibunya semalam.

Satu jam kemudian, mereka berdua berjalan menyusuri koridor hotel menuju area parkir VIP. Di sepanjang koridor, beberapa staf hotel menyapa mereka dengan ramah, mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.

Fadil menyunggingkan senyum tipis yang tampak sangat alami, sebuah topeng kesempurnaan yang ia pasang dengan sangat rapi di depan publik. Aura pun terpaksa mengulas senyuman tipis, meski tangannya meremas tepi tasnya dengan erat.

Di dalam mobil sedan hitam milik Fadil, suasana kembali hening membeku. Hanya suara deru mesin dan alunan musik radio ber volume rendah yang mengisi ruang di antara mereka.

Fadil fokus menatap jalanan ibu kota yang mulai dipadati kendaraan, sementara Aura memalingkan wajahnya ke luar jendela, dan menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu.

Drettt drettt!

Tiba-tiba, ponsel Aura yang berada di dalam tas bergetar hebat secara berkala. Aura merogoh tasnya dan merengkuh benda persegi tersebut hingga membuat jantungnya berdegup kencang saat melihat nama yang tertera di layar.

Farhan.

Ada puluhan panggilan tak terjawab dan belasan pesan singkat dari Farhan yang masuk sejak semalam.

“Ra, tolong angkat telfonku. Apa yang terjadi kemarin? Kenapa kamu yang berdiri di pelaminan itu? Tolong katakan padaku ini semua salah!”

“Ra, aku di depan rumahmu. Tolong temui aku, Aura. Aku mohon...”

Air mata Aura mendesak ingin keluar lagi. Ibu jarinya gemetar di atas layar ponsel karena dilanda keraguan yang menyiksa antara ingin menjelaskan semuanya atau menghilang demi menjaga ikatan pernikahan yang sudah terlanjur terjadi.

"Siapa?" suara tegas Fadil tiba-tiba membuyarkan lamunan Aura.

Aura pun tersentak dan reflek mematikan layar ponselnya, kemudian menggenggamnya erat-erat di pangkuan. "B-bukan siapa-siapa, Mas. Cuma pesan dari teman."

Fadil melirik sinis ke arah ponsel di tangan Aura melalui kaca spion tengah. "Farhan?" tebak Fadil tepat sasaran.

Aura hanya membisu karena tak sanggup berbohong.

Fadil pun terkekeh dingin, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi mobil lalu berkata, "Selesaikan urusanmu dengannya, Aura. Jangan sampai pria itu membuat keributan di rumah keluargaku atau mendatangi kantorku. Kamu sekarang sudah menyandang status sebagai istri seorang Fadil Wijaksono. Jaga sikapmu jika tidak ingin membuat keluargamu makin menanggung malu."

"Mas Fadil tidak perlu khawatir," balas Aura dengan suara bergetar karena menahan amarah. "Aku tau batasan dan wewenangku sekarang. Aku tidak akan mempermalukan siapa pun."

"Baguslah kalau kamu sadar diri," ucap Fadil tanpa rasa iba sedikit pun.

Beberapa saat kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah berdesain modern minimalis di kawasan hunian mewah. Rumah itu adalah rumah yang sejatinya dibeli dan didesain oleh Fadil bersama Keisya untuk masa depan mereka setelah menikah.

Setiap sudut interiornya, mulai dari warna cat dinding, pemilihan sofa, hingga taman kecil di bagian belakang, semuanya dirancang berdasarkan selera Keisya.

Kini, Aura melangkah masuk ke dalam rumah tersebut dengan perasaan yang amat asing. Ia merasa seperti seorang penyusup yang melangkah masuk ke dalam wilayah milik orang lain.

"Kamar utama ada di lantai dua," ujar Fadil sambil melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa ruang tamu. "Kamu bisa pakai kamar itu. Aku akan menggunakan kamar kerja di lantai bawah untuk tidur."

Aura tertegun sejenak. "Mas Fadil tidak tidur di kamar utama?"

Fadil membalikkan badan dan menatap Aura dengan tatapan yang dingin. "Ruangan itu disiapkan untuk wanita yang kucintai, bukan untuk pengantin pengganti. Anggap saja itu fasilitas yang kuberikan agar kamu bisa tidur dengan tenang tanpa perlu berpura-pura menjadi istri yang baik di depanku."

Setelah mengucapkan kalimat menohok itu, Fadil melangkah pergi menuju ruangan kerjanya dan menutup pintunya rapat-rapat.

Sementara Aura, ia berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang luas dan sepi. Ia menatap tangga menuju lantai dua dengan pandangan yang hampa.

Langkah demi langkah ia lewati dengan beban berat di pundaknya. Saat memutar gagang pintu kamar utama, aroma harum bunga dan tatanan furnitur yang elegan menyambutnya.

Aura berjalan mendekati meja rias. Di sana, terpajang sebuah bingkai foto kosong yang belum sempat diisi foto pernikahan.

Ia merosot duduk di kursi rias, sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak. Di rumah yang megah ini, di antara bayang-bayang kakaknya dan kebencian suaminya, Aura menyadari bahwa perjuangannya untuk bertahan hidup baru saja dimulai.

"Kak Keiysa... Kakak dimana sebenarnya..."

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
iya mas Fadil, kamu juga milikku mas😂😂😂
Aurora: betul bangetttt 😅
total 11 replies
sunaryati jarum
Cie- cie mulai romantis nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!