Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:953.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Sean berdeham. "Aku mau nasi goreng."

Vivi menulis. "Oke."

Sean melanjutkan. "Sama roti bakar." Ditulis lagi. "Sama telur mata sapi." Ditulis lagi. "Sama sosis." Ditulis lagi. "Sama jus jeruk." Ditulis lagi. Sean mulai bingung. Kenapa wanita ini masih terlihat santai?

Giliran Yuan. "Aku mau pancake." Ditulis. "Kentang goreng." Ditulis. "Chicken nugget." Ditulis. "Susu cokelat." Ditulis. "Es krim."

Vivi mengangkat kepala. "Pagi-pagi?"

Yuan mengangguk polos. "Pagi-pagi." Ditulis juga.

Kini giliran Saka. Anak itu langsung bersemangat. "Aku mau mie goreng." Ditulis. "Bakso." Ditulis. "Donat." Ditulis. "Ayam goreng." Ditulis. "Sama puding." Ditulis.

Ella tidak mau kalah. "Aku mau bubur ayam." Ditulis. "Roti cokelat." Ditulis. "Strawberry." Ditulis. "Susu." Ditulis. "Sama kue." Ditulis.

Terakhir Lili. Dengan bantuan kakaknya ia berhasil menambahkan beberapa menu yang bahkan sulit dipahami. Ketika semuanya selesai, daftar itu hampir memenuhi satu halaman penuh. Anak-anak mulai saling melirik puas. Dapur bukan restoran. Mereka tahu itu. Tidak mungkin semua makanan itu bisa dibuat sekaligus. Apalagi oleh satu orang. Sean bersandar ke kursinya. Menunggu Vivi menyerah. Menunggu Vivi berkata, "Pilih satu saja." Atau, "Jangan macam-macam."

Tetapi Vivi justru menatap daftar itu cukup lama. Kemudian tersenyum. Senyum yang membuat Sean langsung waspada. Karena selama ini setiap kali wanita itu tersenyum seperti itu Biasanya mereka yang kalah. Vivi lalu berdiri. "Terima kasih."

Anak-anak berkedip bersamaan. "Untuk apa?"

"Sudah memberikan ide menu."

Sean mengernyit. "Tunggu."

Namun Vivi sudah mengambil spidol. Lalu berjalan ke papan tulis kecil yang ada di sudut dapur. Papan itu biasa dipakai mencatat belanja. Dan tiba-tiba Vivi menulis besar-besar, PROYEK SARAPAN KELUARGA

Anak-anak saling berpandangan. "Apa itu?"

Vivi bertepuk tangan. "Oke kelas."

Sean langsung memejamkan mata. Yuan menghela napas. Saka mulai punya firasat buruk. Karena nada suara itu Nada suara guru. Nada suara yang sangat mereka kenal.

"Kalian semua meminta total dua puluh lima menu." Vivi menulis angka besar. 25 MENU "Luar biasa."

Sean mulai sadar ke mana arah pembicaraan ini.

"Kalian kreatif." Anak-anak masih diam. "Masalahnya," Vivi menggambar jam. "kita cuma punya satu jam." Lalu menggambar satu orang. "dan cuma punya satu koki." Kemudian ia membalik badan. "Tapi tenang." Senyumnya semakin lebar. "Kita akan kerjakan bersama."

Sean langsung tegak. "Hah?"

Yuan juga terkejut. "Maksudnya?"

"Karena yang memilih menu adalah kalian." Vivi menunjuk daftar. "Maka kalian juga jadi tim dapur." Ruangan mendadak hening. Sangat hening. "Sean bagian roti."

"Wha,"

"Yuan bagian minuman."

"Tapi,"

"Saka bagian mencuci sayuran."

"Eh!"

"Ella bantu menyusun meja."

Ella berkedip bingung. "Lili tugasnya paling penting." Lili tersenyum. "Jadi pengawas." Lili langsung tertawa senang. Vivi menutup buku catatannya. "Nah. Kita mulai."

Anak-anak masih membeku. Karena rencana mereka sebenarnya sederhana. Membuat Vivi kerepotan. Membuat Vivi memasak sendirian. Membuat Vivi kewalahan. Tetapi entah bagaimana. Dalam waktu kurang dari lima menit Mereka justru berubah menjadi staf dapur. Dan lebih parahnya lagi Mereka tidak punya alasan logis untuk menolak. Karena semua berawal dari permintaan mereka sendiri.

Sean memandang Yuan. Yuan memandang Sean. Saka memandang keduanya. Lalu perlahan mereka menyadari kenyataan pahit. Wanita ini bukan hanya seorang guru. Wanita ini adalah guru yang sudah delapan tahun menghadapi murid-murid yang jauh lebih nakal daripada mereka.

Vivi mengikat celemek dapur. Lalu tersenyum puas. "Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di pelajaran pertama. Namanya kerja sama." Dan untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari dua belas jam Vivi kembali unggul. Skor sementara: Vivi 2 - 0 Anak-anak Baskara.

***

Sarapan pagi itu berakhir dengan perasaan yang sangat berbeda bagi setiap orang. Vivi cukup puas. Rumah tidak berantakan. Anak-anak makan dengan baik. Dan tanpa sadar mereka telah bekerja sama selama hampir satu jam.

Sementara di sisi lain meja, Sean merasa sedang mengalami kekalahan yang memalukan. Ia mengunyah roti panggangnya tanpa semangat. Matanya sesekali melirik ke arah Vivi yang sedang membereskan meja bersama Ella. Dua kali. Dalam waktu kurang dari satu malam. Dua kali mereka mencoba mengerjai wanita itu. Dua kali pula mereka berakhir menjadi pihak yang kalah. Dan yang paling menyebalkan, Vivi tidak pernah menang dengan marah. Tidak pernah membentak. Tidak pernah mengadu kepada Ayah. Justru sebaliknya. Ia menang dengan tenang. Seolah semua kenakalan mereka hanyalah soal matematika yang mudah diselesaikan. Sean tidak menyukai itu. Sama sekali tidak. Karena jika Vivi marah, ia tahu cara melawannya. Jika Vivi galak, ia tahu cara membencinya. Tetapi bagaimana cara melawan seseorang yang bahkan tidak mau bertengkar?

"Itu karena kamu kurang mikir." Yuan tiba-tiba berbisik. Mereka sedang membereskan piring masing-masing.

Sean menoleh. "Apa?"

"Kamu terlalu terburu-buru. Makanya kita kalah."

"Belum. Ini baru dua ronde." Sean menjawab. Matanya kembali mencari sosok Vivi. Wanita itu sedang menggendong Lili sambil mengelap mulut anak kecil tersebut yang belepotan selai. Lili tertawa. Vivi ikut tertawa. Pemandangan sederhana. Tetapi membuat Sean tidak nyaman. Karena rumah ini terasa berubah. Dan Sean tidak suka perubahan.

Setelah sarapan, Baskara berangkat bekerja. Rumah menjadi lebih tenang. Hanya ada Vivi dan anak-anak. Situasi yang sebenarnya cukup berbahaya. Karena Sean akhirnya memiliki waktu untuk berpikir. Sebagai anak tertua, ia bukan hanya pemimpin kelompok. Ia adalah orang yang paling mengingat ibunya. Paling memahami bagaimana ibunya berbicara. Bagaimana ibunya tersenyum. Bagaimana ibunya memeluk mereka. Dan karena itulah Sean merasa memiliki kewajiban. Jika ia gagal mengusir Vivi Bukankah itu berarti ia membiarkan posisi ibunya direbut? Pikiran itu membuat dadanya terasa berat.

Sean naik ke kamarnya. Menutup pintu. Lalu mengambil sebuah kotak dari bawah tempat tidur. Kotak kenangan. Di dalamnya ada foto-foto lama. Surat. Gambar yang pernah dibuatnya untuk ibunya. Dan sebuah buku kecil. Buku harian milik mendiang ibunya.

Sean membuka halaman pertama. Tulisan tangan yang begitu dikenalnya menyambutnya. Air mukanya langsung berubah. Kerinduannya kembali menyeruak. "Ma..." Sean menunduk. Sudah dua tahun. Tetapi rasanya masih sama. Masih sakit. Masih sepi. Dan sekarang tiba-tiba ada wanita lain yang tinggal di rumah mereka. Memakai dapur yang dulu digunakan ibunya. Duduk di kursi makan yang dulu ditempati ibunya. Bahkan tidur di rumah yang sama.

Sean memejamkan mata. Lalu mengambil keputusan. Kalau cara-cara kecil tidak berhasil Maka ia harus menggunakan cara yang lebih besar. Sore harinya. Vivi sedang menyusun buku-buku di ruang keluarga ketika Sean muncul. Sendirian. Ini pertama kalinya anak itu mendatanginya tanpa adik-adiknya.

Vivi menoleh. "Sean?"

"Aku mau bicara." Nada suaranya serius. Sangat serius.

Vivi langsung menutup buku yang sedang dipegangnya. "Oke."

1
Inooy
karena bu Mega tau kamu wanita baik Vii, dn beliau percaya kamu mampu menjaga dn melindungi kluarga Baskara...🥹
Inooy
kebaikan seseorang akan terlihat dr banyak nya doa yg d kirimkan dr orang2 yg pernah d bantu nya....
jd banyak2 lah berbuat baik, karena kebaikan qta yg akan menolong qta kelak d akhirat..🥺
Inooy
ketika bu Mega memaksa Vivi utk jd bagian keluarga nya,,seakan akan itu sebuah pertanda bahwasanya takdir tentang kehidupan tengah menghampiri nya..bu Mega seolah olah mengatakan "Vii, titip anakku dn cucu2 ku..hanya kamu yg bisa ibu percaya utk mengurus dn merawat mereka ketika ibu sudah tidak ada..karena waktu ibu sudah semakin dekat"

hhaaaa,,makin mewek aq ka Fitriiii 😭😭😭
milk shake🍓🥤
semogaa cepat terbongkar dan dokter Sinta dipenjara karna bikin laporan palsu dan kliniknya ditutup
milk shake🍓🥤
jgn cuman keklinik tantemu itu berobat, sesekali perlu kerumah sakit,
Isna
keren...keren..seru bgt ceritanya..
rahmah
ceritanya bagus Vivi wanita luar biasa yg baik hati gak pernah marah tapi banyak ujian mulai ditipu puluhan tahun sama tante yg sudah menganggapnya anak sendiri sampai dia menangis setiap hari karena vonis tidak bisa punya anak dan itu juga dia tinggal kekasihnya karena vonis itu sampai dia diminta menikah dg anak pemilik yayasan tempat dia mengajar duda 5 anak bernama Baskara yg sibuk dg pekerjaannya(sepertinya Baskara cuma taunya menambah anak saja 🤭) anak²nya yg sudah menolak 32 calon ibu berbagai cara dilakukan anak²nya pada Vivi juga begitu tapi Vivi masih bisa mengatasinya sampai anak² menerima Vivi sebagai ibu mereka tapi cobaan Vivi tidak berhenti disitu hingga dia akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki² yg bernama Hanan dan dia bahagia bersama suami dan 6 anak²nya..🥰
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!