Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.
Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.
Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.
Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.
Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:
Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Hari Ketika Mereka Terdiam
Tongkat Api Berputar menghantam arena.
Boom!
Batu di bawah kaki Xiao Yi langsung pecah, meninggalkan lubang besar.
Xiao Yi sudah bergeser beberapa langkah sebelum serangan itu jatuh.
Matanya menyipit.
Kekuatan Tingkat Enam memang berbeda.
Meski hanya terpaut satu tingkat, Alam Penempaan Tubuh Tingkat Enam merupakan batas penting.
Qi Sejati di dalam tubuh kultivator pada tingkat ini jauh lebih padat dibandingkan Tingkat Lima.
Karena itu, kekuatan serangan mereka juga meningkat drastis.
Jika pukulan Xiao Xingyang tadi menghantam seseorang secara langsung, mungkin hanya menyebabkan luka berat.
Namun serangan Xiao Zimu...
Bisa benar-benar menghancurkan tulang.
Di luar arena, Xiao Xingyang yang baru saja kalah juga memasang wajah serius.
Ia menatap lubang besar di atas panggung.
Jika dirinya yang menerima tongkat tadi...
Ia bahkan tidak yakin bisa berdiri lagi.
Xiao Zimu mengangkat tongkatnya.
Senyum mengejek muncul di wajahnya.
"Sudah melihat perbedaannya?"
Ia menunjuk Xiao Yi.
"Masih belum terlambat untuk menyerah."
Xiao Yi menatap bekas retakan di arena.
Kemudian tersenyum tipis.
"Bagus."
Xiao Zimu mengernyit.
"Bagus?"
"Akhirnya ada seseorang yang membuatku perlu bergerak sedikit lebih serius."
Suasana langsung riuh.
"Dia masih berani bicara begitu?"
"Xiao Zimu berada di Tingkat Enam!"
"Selisih satu tingkat saja sudah sangat besar!"
Banyak anggota klan menggeleng.
Mereka menganggap Xiao Yi terlalu sombong.
Namun Xiao Zimu tidak lagi ingin berbicara.
"Kalau begitu, rasakan sendiri!"
Ia menerjang.
Tongkat panjang berputar.
Api menyembur sepanjang bilahnya.
Wus! Wus! Wus!
Bayangan tongkat memenuhi pandangan.
Kiri.
Kanan.
Atas.
Setiap serangan mengarah ke bagian tubuh yang berbeda.
Namun ekspresi Xiao Yi tetap tenang.
Ketika tongkat pertama menyapu—
Tubuhnya berputar.
Serangan meleset.
Tongkat kedua datang.
Pinggangnya melentur.
Kembali meleset.
Serangan ketiga.
Keempat.
Kelima.
Tidak ada satu pun yang menyentuh pakaiannya.
"Apa?"
Wajah Xiao Zimu mulai berubah.
Di mata para penonton, gerakan Xiao Yi menjadi semakin aneh.
Tubuhnya meliuk.
Meluncur.
Berubah arah tanpa pola yang jelas.
Seperti ular yang bergerak di antara bebatuan.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Api tipis menyelimuti kaki dan lengannya.
Jiwa Bela Diri Binatang Pengendali Api telah aktif.
Ledakan kecil dari api mempercepat setiap perubahan arah.
Gerakannya menjadi semakin sulit diprediksi.
Xingyiquan—Bentuk Ular.
"Apa teknik itu?"
"Kenapa gerakannya seperti tidak memiliki titik tetap?"
"Xiao Zimu bahkan tidak bisa menyentuhnya!"
Beberapa Diaken mulai memperhatikan lebih serius.
Bahkan para tetua menunjukkan ekspresi penasaran.
Mereka mengenal banyak teknik bela diri.
Namun gerakan Xiao Yi terasa asing.
Tidak seperti teknik Klan Xiao.
Tidak juga seperti teknik umum yang beredar di Kota Ziyun.
Xiao Zimu menggertakkan gigi.
"Sial!"
Tongkatnya semakin cepat.
Api berputar membentuk lingkaran.
Namun semakin terburu-buru dirinya menyerang, semakin mudah Xiao Yi membaca gerakannya.
Beberapa saat kemudian, napas Xiao Zimu mulai berat.
Keringat muncul di dahinya.
Menggunakan Jiwa Bela Diri terus-menerus menguras Qi Sejati.
Terlebih ia menyerang tanpa henti.
Sebaliknya, Xiao Yi hanya menghindar seperlunya.
"Kau lelah?"
Suara Xiao Yi tiba-tiba terdengar.
Xiao Zimu terkejut.
"Diam!"
Ia mengayunkan tongkat sekali lagi.
Namun kali ini—
Xiao Yi tidak menghindar.
Tubuhnya mendadak merendah.
Lalu menghilang.
"Apa?"
Mata Xiao Zimu membesar.
Di antara penonton, seseorang berdiri.
"Kecepatannya meningkat!"
Bayangan Xiao Yi melesat di arena.
Api mengikuti jejak kakinya.
Jika sebelumnya ia seperti ular, sekarang seluruh gerakannya berubah.
Cepat.
Pendek.
Mematikan.
Bentuk Macan Tutul.
Xiao Zimu bahkan tidak sempat memutar tubuh sepenuhnya.
Xiao Yi sudah berada di belakangnya.
"Sekarang giliranku."
Tubuh Xiao Yi berhenti mendadak.
Seluruh momentum yang terkumpul dari kecepatannya berpindah ke satu telapak tangan.
Kakinya menghentak.
Pinggang berputar.
Punggung mengencang.
Lalu—
Bentuk Harimau!
Raungan samar seperti terdengar di dalam arena.
Telapak Xiao Yi menghantam punggung Xiao Zimu.
Boom!
Api meledak.
Tubuh Xiao Zimu terangkat dari tanah.
"Puh!"
Darah menyembur dari mulutnya.
Ia terlempar beberapa meter sebelum jatuh keras di luar arena.
Bruk!
Seluruh tubuhnya berguling.
Tongkat Api Berputar menghilang.
Ketika ia akhirnya berhenti, Xiao Zimu sudah tidak sadarkan diri.
Bagian belakang pakaiannya robek.
Bekas telapak tangan hitam kemerahan terlihat jelas di punggungnya.
Hening.
Seluruh lapangan seakan kehilangan suara.
Beberapa saat sebelumnya, Xiao Zimu masih berbicara tentang mengalahkan Xiao Yi dalam tiga serangan.
Sekarang...
Ia bahkan tidak mampu bertahan dari satu serangan balasan.
"Satu serangan..."
Seseorang bergumam.
"Xiao Zimu kalah hanya dengan satu serangan?"
"Tidak."
Seorang Diaken menggeleng.
"Yang menakutkan bukan hanya serangannya."
Tatapannya tetap tertuju pada Xiao Yi.
"Dia sengaja membuat Xiao Zimu menghabiskan tenaga."
"Setiap gerakan menghindar memaksa lawannya terus menyerang."
"Ketika napas dan Qi Sejati Xiao Zimu mulai kacau..."
"Barulah dia membalas."
Tetua Keempat menyipitkan mata.
"Pengalaman bertarung yang luar biasa."
Tetua Keenam mengangguk.
"Gerakannya juga aneh."
"Teknik menghindar, ledakan kecepatan, lalu serangan terakhir..."
"Tiga pola berbeda."
Namun mereka tidak mengetahui satu hal.
Itu bukan tiga teknik terpisah.
Semuanya merupakan bagian dari Lima Bentuk Xingyi milik Xiao Yi.
Bentuk Ular untuk menghindar dan mengalihkan arah.
Bentuk Macan Tutul untuk ledakan kecepatan.
Bentuk Harimau untuk menghancurkan lawan dengan kekuatan paling ganas.
Dan sekarang, Xiao Yi telah mulai menggabungkannya dengan kekuatan Jiwa Bela Diri.
Hasilnya...
Jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Di sudut arena, Xiao Zhong berdiri terpaku.
Matanya memerah.
"Bagus..."
Suaranya sedikit bergetar.
"Bagus sekali..."
Bertahun-tahun ia menyaksikan Xiao Yi tumbuh.
Ia melihat anak itu dihina.
Dipukuli.
Ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Tetapi ia tidak pernah berhenti menjaganya karena janji kepada ayah Xiao Yi.
Hari ini...
Pemuda yang selalu dianggap tidak berguna itu akhirnya berdiri dengan kepala tegak di depan seluruh Klan Xiao.
Xiao Zhong mengusap sudut matanya.
"Kalau Patriak bisa melihatmu sekarang..."
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Namun wajahnya dipenuhi kebanggaan.
Di sisi lain, suasananya sama sekali berbeda.
Krek!
Cangkir di tangan Tetua Kelima pecah.
Air teh menetes ke lantai.
Wajahnya gelap.
"Mana mungkin..."
Xiao Ruohan bahkan lebih sulit menyembunyikan kemarahannya.
Tangannya mengepal.
Kapan dia menjadi sekuat ini?
Setengah bulan lalu, Xiao Yi bahkan tidak layak masuk perhitungannya.
Sekarang ia baru saja mengalahkan Xiao Zimu.
Salah satu lima besar generasi muda Klan Xiao.
Dan melakukannya dengan sangat mudah.
Untuk pertama kalinya...
Xiao Ruohan merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
Ancaman.
Di atas arena, Xiao Yi berdiri dengan tenang.
Tidak ada kegembiraan berlebihan di wajahnya.
Seolah mengalahkan Xiao Zimu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan.
Tatapannya beralih kepada para peserta Tingkat Enam lainnya.
"Siapa lagi?"
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa pemuda yang sebelumnya mencibir kini menghindari pandangannya.
Mereka tahu kekuatan Xiao Zimu.
Kalau bahkan Xiao Zimu kalah secepat itu...
Apa gunanya mereka naik?
Cari malu?
Wasit menunggu beberapa saat.
Tidak ada yang maju.
Ia akhirnya mengangkat tangan.
"Karena tidak ada lagi penantang..."
Suaranya menggema di seluruh arena.
"Pertandingan ini dimenangkan oleh—"
Ia berhenti sebentar.
Tatapannya kepada Xiao Yi kini tidak lagi seperti sebelumnya.
"Patriark Muda Xiao Yi!"
Kerumunan kembali bergemuruh.
Namun kali ini tidak banyak ejekan.
Lebih banyak keterkejutan.
Bahkan beberapa anggota klan tanpa sadar mengulang gelar itu.
"Patriark Muda..."
Selama bertahun-tahun, hampir tidak ada yang memanggil Xiao Yi dengan hormat seperti itu.
Di dunia yang menghormati kekuatan, penghormatan sering kali lahir dari satu hal sederhana.
Kepalan yang cukup keras.
Wasit tersenyum.
"Patriark Muda, kau boleh turun dari arena."
Namun Xiao Yi tidak bergerak.
"Tunggu."
Ia berbalik.
Tatapannya langsung menuju tempat Xiao Ruohan duduk.
Ribuan pasang mata mengikuti arah pandangannya.
Wajah Xiao Ruohan mengeras.
Xiao Yi tersenyum.
"Xiao Ruohan."
Suara itu terdengar jelas di seluruh lapangan.
"Sepertinya kau masih ingat taruhan kita."
Suasana mendadak berubah.
Semua orang baru teringat.
Benar.
Turnamen ini bukan hanya soal siapa yang masuk Gua Ziyun.
Ada taruhan antara dua orang.
Jika Xiao Yi berhasil mendapatkan tempat dengan kekuatannya sendiri...
Maka Xiao Ruohan harus menyerahkan tempat miliknya.
Xiao Yi mengangkat dagu sedikit.
"Kau bilang aku tidak akan mampu mendapatkan tempat."
Ia menunjuk arena di bawah kakinya.
"Sekarang aku berdiri di sini."
Kemudian tangannya mengarah kepada Xiao Ruohan.
"Dan kau..."
Senyumnya perlahan menghilang.
"...kalah."
Dua kata itu seperti tamparan lain.
Bukan di wajah.
Melainkan di depan seluruh Klan Xiao.
Wajah Xiao Ruohan langsung berubah gelap.
Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai genius.
Dipuji.
Dikagumi.
Hampir tidak pernah merasakan kekalahan.
Namun hari ini...
Di hadapan ribuan anggota klan...
Xiao Yi membuatnya mendengar satu kata yang paling tidak ingin ia dengar.
Kalah.
......................
Bersambung...