Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:343k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12.Tatapan yang Telah Hilang

"Eh, Kakak lagi belanja juga?"

Levia langsung mengenali suara itu. Potongan ingatan milik tubuh ini kembali muncul.

Risa Prameswari. Putri seorang jenderal. Wanita yang dulu pernah disukai Vandra. Setahun yang lalu, kabar bahwa Vandra berniat melamar Risa membuat Levia nekat menjebak Vandra hingga terpaksa menikahinya.

Levia hanya berkedip pelan. "Oh... jadi itu Risa."

Di sisi lain, Bram ikut menegang. "Astaga..."

Ia melirik putrinya diam-diam. Dulu, kalau Levia melihat Vandra berbicara dengan perempuan lain, apalagi Risa, pasti akan langsung mengamuk tanpa peduli tempat.

--

Di lorong sebelah...

Vandra menoleh. "Iya. Lagi beli beberapa keperluan. Kamu juga belanja?"

Risa mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Lagi beli beberapa kebutuhan di rumah."

Ia kemudian teringat sesuatu. "Oh iya. Aku dengar Kak Vandra jadi Satgas Perdamaian PBB ke Lebanon?"

"Iya." Vandra mengangguk. "Berangkat beberapa hari lagi."

"Wah... selamat ya," ucap Risa antusias.

"Terima kasih." Vandra tersenyum tipis. Ia melanjutkan belanjanya, berpindah ke lorong sebelah.

Risa mengikutinya. "Terus..." Ia menatap Vandra penuh rasa ingin tahu. "Levia gak marah? Gak bikin keributan?"

Belum sempat Vandra menjawab, langkahnya tiba-tiba berhenti. Beberapa meter di depannya, Levia sedang berdiri memilih yogurt di depan lemari pendingin.

Di sampingnya ada Bram Gultom yang sedang memasukkan beberapa botol air mineral ke keranjang.

Vandra sedikit membelalakkan mata.

Risa mengikuti arah pandang pria itu. Senyumnya langsung menghilang. "Levia..."

Refleks ia mengambil satu langkah mundur. Ia masih ingat jelas bagaimana beberapa bulan lalu Levia pernah memakinya hanya karena berbincang lima menit dengan Vandra.

Namun, yang terjadi kali ini justru berbeda. Levia sama sekali tidak menoleh. Ia membaca label kandungan gula pada kemasan yoghurt dengan wajah serius.

"Hm... yang ini gulanya lebih rendah."

Ia memasukkan dua cup ke keranjang. Seolah tidak melihat keberadaan mereka.

Bram yang sejak tadi waswas akhirnya mengembuskan napas lega. Lalu ia memilih menyapa lebih dulu.

"Van, belanja juga?"

Vandra mengangguk sopan. "Iya, Yah."

"Gimana persiapan keberangkatannya?" tanya Gultom.

"Sudah hampir selesai."

"Syukurlah."

Percakapan mereka berlangsung singkat. Namun selama berbicara, tatapan Vandra berkali-kali melirik Levia.

Wanita itu tetap sibuk memilih belanjaan. Tak sekalipun ia menoleh. Tak ada tatapan posesif. Tak ada kecemburuan. Tak ada amarah.

Seolah-olah, Vandra hanyalah orang asing yang kebetulan sedang berbelanja di minimarket yang sama.

Entah mengapa... Perasaan itu justru membuat dada Vandra terasa sedikit ganjil.

 

Mobil Vandra melaju meninggalkan area minimarket. Tangannya memutar setir secara otomatis, tetapi pikirannya justru masih tertinggal di dalam toko.

Bayangan Levia terus muncul tanpa diminta.

Malam saat ia datang ke rumah keluarga Gultom, Levia tidak menyambutnya. Tidak memeluk lengannya. Tidak menangis.

Bahkan memilih duduk di samping Bram Gultom seolah dirinya hanya tamu biasa.

Lalu sore ini...

Levia melihatnya bersama Risa. Namun wanita itu sama sekali tidak bereaksi. Tidak marah. Tidak cemburu. Bahkan tidak menoleh lebih dari sekilas.

Yang dipedulikannya justru kandungan gula pada yogurt yang sedang dipilih.

Vandra mengembuskan napas panjang.

"Aneh...." Jemarinya mengetuk pelan kemudi. "Kenapa aku malah terus kepikiran?"

Ia kembali mengingat tatapan Levia. Tidak ada lagi sorot mata penuh cinta yang selama ini selalu membuatnya merasa tertekan.

Tatapan itu... Benar-benar hilang.

"Mungkin ini cuma akting." Vandra mengangguk pelan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Iya. Pasti begitu."

Kalau selama ini terus mengejar tidak berhasil, mungkin sekarang Levia sedang mencoba cara lain.

Berpura-pura tidak peduli. Berharap dirinya penasaran.

Sudut bibir Vandra sempat terangkat tipis. "Hampir saja berhasil."

Namun senyum itu perlahan menghilang. Kalau memang hanya akting...

Kenapa semuanya terlihat begitu alami?

Cara Levia berbicara. Cara Levia menatapnya. Bahkan caranya memperlakukan Bram Gultom terasa jauh lebih hangat daripada saat bersamanya.

Ia kembali teringat surat persetujuan cerai yang ditinggalkannya.

"Paling beberapa hari lagi dia bakal bilang suratnya hilang. Atau sengaja disobek. Atau pura-pura lupa."

Bukankah selama ini Levia selalu melakukan apa saja agar perceraian batal?

Logikanya, kali ini pun pasti sama.

"Tapi..." Vandra tanpa sadar menggenggam setir sedikit lebih erat. "Kenapa aku sama sekali gak melihat harapan itu di matanya?"

Padahal selama ini, tatapan penuh cinta itulah yang paling membuatnya risih. Sekarang tatapan itu menghilang.

Bukankah seharusnya ia merasa lega?

Ia mengusap wajahnya pelan. "Kenapa malah jadi begini?"

Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Levia berhenti mengejarnya. Berhenti mengganggunya. Berhenti membuat keributan.

Namun entah kenapa, justru perubahan itulah yang terus memenuhi pikirannya.

***

Beberapa menit setelah kembali dari minimarket, Levia menuruni anak tangga menuju dapur.

Begitu melihatnya, Ninis yang sedang membantu menata bahan makanan langsung tersenyum.

"Nona."

Di dekat kompor, Bu Sari, juru masak keluarga Gultom yang sudah bekerja lebih dari dua puluh tahun ikut menoleh.

"Nona mau makan apa? Saya masakin."

Levia menggeleng pelan. "Mulai hari ini, aku mau minta tolong."

"Tolong apa, Non?" tanya Ninis.

Levia menyapu pandangan ke meja dapur yang dipenuhi mentega, krim, keju, cokelat, dan berbagai bahan makanan tinggi kalori.

"Mulai sekarang jangan masak makanan yang terlalu manis, terlalu berminyak, atau terlalu banyak santan."

Bu Sari tampak bingung. "Kalau menu Bapak bagaimana, Non?"

"Untuk Ayah juga dikurangi minyak dan garamnya," jawab Levia. "Dokter bilang tekanan darah dan kolesterol Ayah harus dijaga."

Bu Sari langsung mengangguk. "Baik, Nona."

Namun senyum Ninis sedikit memudar. "Non..." ucapnya pelan. "Diet itu gak boleh dipaksain. Nanti Nona malah stres."

Levia menoleh.

Ninis melanjutkan dengan nada lembut. "Lagian selama ini Nona paling bahagia kalau makan black forest, donat, atau es krim. Kata orang, makanan manis bisa memperbaiki suasana hati."

Ia tersenyum seolah benar-benar peduli. "Kalau Nona lagi sedih karena Kak Vandra, jangan sampai malah nyiksa diri."

Levia hanya menatapnya beberapa detik. "Lucu juga."

Ninis berkedip. "Hah?"

"Dokter bilang aku harus mengurangi gula." Levia tersenyum tipis. "Sedangkan kamu malah nyuruh aku makan lebih banyak."

"T-tapi maksudku...."

"Apa?"

 

...✨"Saat seseorang memilih mencintai dirinya sendiri, ia tak lagi mudah dikendalikan oleh masa lalu."...

..."Musuh yang paling berbahaya bukan selalu yang terang-terangan membenci, melainkan yang tampak paling peduli."...

..."Ada perhatian yang menguatkan, ada pula perhatian yang diam-diam membuat seseorang tetap terpuruk."✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!