Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut

Vivian menggenggam setir sambil sesekali melirik jam di dashboard. Presentasi koleksi terbarunya berjalan lancar. Kontrak dengan brand internasional pun tinggal menunggu tanda tangan.

"Akhirnya... semua kerja kerasku terbayar."

Senyum tipis terukir di bibirnya. Ponsel di dasbor bergetar sebentar. Notifikasi biasa dari grup kerja, tapi ia mengabaikannya. Fokusnya tetap ke depan. Hujan deras membuat jalan licin, jarak pandang menyusut.

Dari arah berlawanan, sebuah truk besar mendadak oleng.

"Astaga!"

Tiiinnn...!

Vivian refleks membanting setir. Ban mobil kehilangan traksi di atas aspal yang basah.

Sreeet! Mobil berputar tak terkendali.

"Ya Tuhan...!"

BRAK!

Pembatas jembatan hancur diterjang mobilnya. Dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur bebas ke arah sungai yang arusnya sedang deras.

"TIDAAAAKKK!"

BYURR!

Air langsung masuk ke dalam kabin. Vivian berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa.

Sabuk pengaman. Tangannya gemetar saat mencoba menekan penguncinya.

Klik.

Sabuk terlepas. Ia mendorong pintu sekuat tenaga. Tetap tidak bergerak. Tekanan air dari luar membuat pintu seolah terkunci rapat. Napasnya mulai memburu.

"Gak... Aku belum mau mati. Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak mimpi yang belum kucapai."

Air terus naik hingga menutupi dagunya. Vivian memukul kaca jendela berkali-kali.

Brak!

Brak!

Brak!

Sia-sia. Pandangannya mulai kabur. Dadanya terasa seperti terbakar karena kehabisan udara.

"Tidak...”

"Aku belum nikah..."

"Aku gak mau mati perawan..."

Gelembung udara akhirnya menutup bibirnya. Tubuhnya melemah. Kelopak mata menutup. Gelap dan dingin menyelimuti.

Ada jeda. Sesuatu seperti vakum. Kesunyian penuh tekanan. Lalu tubuhnya seolah dicabut dari kegelapan.

Vivian membuka mata dengan susah payah. Masih ada air. Tetapi aneh, ia tidak lagi berada di dalam mobil. Arus sungai tetap deras menyeret tubuhnya.

"A-apa...?"

Air yang dingin menyesakkan dadanya. Vivian meronta. Matanya terbuka lebar, tetapi yang terlihat hanya air keruh yang terus menyeret tubuhnya. Dadanya terasa seperti akan meledak karena kehabisan napas.

"Bukankah... aku udah mati?"

"Apa tadi cuma pingsan?"

"Kalau aku udah mati... Lalu sekarang, aku berada di mana?"

Belum sempat memahami keadaan, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat.

Vivian spontan meraih lengan pria itu, sementara kesadarannya masih dipenuhi pertanyaan.

Tubuhnya ditarik ke atas. Sesaat kemudian kepalanya muncul ke permukaan.

"Hosh...!"

"Uhuk-! Uhuk-! Uhuk-!"

Vivian terbatuk-batuk hebat. Air memenuhi mulut dan hidungnya hingga membuat dadanya terasa perih.

"Tarik! Sedikit lagi!"

Beberapa orang ikut membantu pria yang memegang lengannya. Anehnya, mereka tampak kesulitan.

"Ayo! Berat banget!"

"Pegang yang kuat!"

Vivian mengernyit bingung. "Kenapa mereka kelihatan susah banget narik aku? Memangnya berat badanku seratus kilo?"

Dengan susah payah akhirnya tubuhnya berhasil diangkat ke tepian sungai. Vivian masih terbatuk sambil memuntahkan air yang tertelan.

Belum sempat mengatur napas, sebuah suara dingin terdengar dari sampingnya.

"Ini terakhir kalinya aku nyelametin kamu."

Vivian mengangkat kepala. Seorang pria bertubuh tegap berdiri beberapa langkah darinya. Seragam loreng yang dikenakannya masih basah kuyup. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan wajah tampannya nyaris tak memiliki cela.

"Buset... ganteng banget."

Hampir saja Vivian mengatakannya keras-keras. Namun, saat tatapan pria itu bertemu dengan matanya, ia langsung mengurungkan niat.

Sorot mata pria itu begitu dingin, seolah baru keluar dari lemari pendingin.

"Apa orang ini dibuat di freezer?"

Belum sempat Vivian mengalihkan pandangan, pria itu kembali bersuara dengan nada yang sama dinginnya.

"Kalau lain kali kamu mengancam bunuh diri lagi, aku bakal biarin kamu."

Vivian mengernyit. "Bunuh diri? Aku?"

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya yang mungkin sedang diajak bicara. Namun, pria itu masih menatap lurus ke arahnya.

"Berarti... dia ngomong sama aku?"

Vivian semakin bingung.

"Aku bahkan gak pernah kepikiran buat bunuh diri. Karierku lagi naik, hidupku baik-baik aja. Aku juga belum punya pacar, belum sempet ngerasain indahnya jatuh cinta. Ngapain aku bunuh diri? Konyol."

Seorang wanita paruh baya segera berlari menghampiri. Air mata membasahi pipinya.

"Sudah, jangan marahi Via lagi."

Wanita itu berjongkok, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Vivian dengan tangan gemetar.

"Levia... jangan nekat lagi ya, Nak. Kamu tahu betapa khawatir Ibu dan ayahmu. Apa yang harus Ibu bilang sama ayahmu jika terjadi sesuatu sama kamu."

"Levia?"

Vivian menatap wanita itu kebingungan.

"Siapa Levia?"

Nama itu seperti potongan teka-teki. Vivian mendengar sendiri, jelas ia dipanggil Levia.

Pria berseragam loreng itu mendengus pelan. "Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Vandra!" hardik wanita paruh baya itu. "Jaga ucapanmu!"

Vandra... Nama itu terasa begitu familiar. Vivian membeku.

Vandra... Levia...

Potongan-potongan ingatan mendadak bermunculan seperti banjir yang tak terbendung. Kepalanya mendadak nyeri hebat seperti dihantam benda tumpul.

Novel. Nama tokoh. Alur cerita. Ia pernah membaca novel itu beberapa minggu lalu. Judulnya masih membekas. "Arvandra: Janji yang Memaksa". Dan pemeran figuran yang bernama... Levia.

Ia ingat adegan ini; tiga halaman terakhir, Levia menenggelamkan diri karena putus asa.

"Gak... gak mungkin...."

Jantungnya berdetak semakin cepat.

"A-aku...."

Ia benar-benar masuk ke dalam dunia novel. Dan yang lebih mengerikan, ia bukan menjadi tokoh utama.

Melainkan Levia. Wanita obesitas yang tergila-gila pada teman masa kecilnya, Kapten Arvandra Jayasena. Demi memiliki pria itu, Levia bahkan menjebaknya hingga terpaksa menikah.

Seorang istri yang dibenci suaminya sendiri.

Menurut alur novel yang pernah dibacanya, hari ini seharusnya menjadi hari kematian Levia. Putus asa karena gagal mempertahankan pernikahannya, wanita itu memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sungai.

Mendadak Vivian teringat bagaimana dulu ia berkali-kali mengumpat Levia saat membaca novel itu.

"Dasar bodoh! Ngapain sih ngejer orang yang jelas-jelas gak cinta sama kamu? Sampai ngancem bunuh diri berkali-kali lagi. Mending fokus nurunin berat badan, terus cari laki-laki lain yang benar-benar ngehargain kamu. Masokis banget sih!"

Saat itu ia begitu yakin tak akan pernah bersimpati pada karakter Levia. Namun sekarang... Justru ia yang berada di dalam tubuh wanita itu.

Dengan gerakan kaku, Levia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Lengannya membulat. Jari-jari montok. Tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri. Pipinya terasa penuh. Lalu ia mencubitnya. Empuk. Perutnya juga menonjol.

"Ya ampun...." Wajahnya memucat. "Jadi sekarang... aku yang gendut?"

"Aaaaaa!"

Teriakannya menggema di sepanjang tepian sungai hingga membuat semua orang menoleh dan menatapnya dengan bingung.

 

...✨"Jangan pernah menertawakan takdir orang lain. Kita tidak pernah tahu kapan takdir itu memilih kita sebagai pemeran utamanya."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha

Anitha

mampir kak...
kasihan juga itu Vivian arwahnya masuk ke tubuh Levia yang Obesitas🤣

2026-08-03

1

Siti Hawa

Siti Hawa

aku baru mampir thoor semoga ceritanya bagus, Dan tamat gak gantung... 🙏💪

2026-08-17

1

LibraGirls

LibraGirls

Kok ceritanya sama iyk murip² novel mu yg lapak lg satu Na kejadian di novel jadi nyata

2026-08-07

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2 2. Hidup Sebagai Levia
3 3. Levia yang Berbeda
4 4. Misi Mengubah Takdir
5 5. Senyum Penuh Kepalsuan
6 6. Firasat Seorang Ibu
7 7. Sebelum Keberangkatan
8 8. Di Ambang Perpisahan
9 9. Orang Asing di Ruang Tamu
10 10. Satu Tahun untuk Berubah
11 11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12 12.Tatapan yang Telah Hilang
13 13.Masakan Pertama Levia
14 14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15 15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16 16. Yang Datang Karena Khawatir
17 17. Malam yang Tak Terduga
18 18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19 19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20 20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21 21. Dulu, Bukan Sekarang
22 22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23 23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24 24. Niat Baik yang Palsu
25 25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26 26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27 27. Ayah yang Selalu Ada
28 28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29 29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30 30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31 31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32 32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33 33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34 34. Jangan Sampai Menyesal
35 35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36 36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37 37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38 38. Batas yang Mengubah Segalanya
39 39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40 40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41 41. Jarak yang Mulai Terasa
42 42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43 43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44 44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45 45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46 46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47 47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48 48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49 49. Di Balik Perubahan Levia
50 50. Foto yang Mengundang Curiga
51 51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52 52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53 53. Masih Istriku
54 54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55 55. Keraguan yang Terucap
56 56. Mulai Tertinggal
57 57. Sweet memories
58 58. Kesempatan yang Ditunggu
59 59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60 60. Pertanyaan yang Terlambat
61 61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62 62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63 63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64 64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65 65. Aku yang Mulai Tertinggal
66 66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67 67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68 68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69 69. Kepulangan Sang Kapten
70 70. Bukan Karena Kamu Berubah
71 71. Pulang ke Rumah Istri
72 72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73 73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74 74. Tak Lagi Yakin
Episodes

Updated 74 Episodes

1
1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2
2. Hidup Sebagai Levia
3
3. Levia yang Berbeda
4
4. Misi Mengubah Takdir
5
5. Senyum Penuh Kepalsuan
6
6. Firasat Seorang Ibu
7
7. Sebelum Keberangkatan
8
8. Di Ambang Perpisahan
9
9. Orang Asing di Ruang Tamu
10
10. Satu Tahun untuk Berubah
11
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12
12.Tatapan yang Telah Hilang
13
13.Masakan Pertama Levia
14
14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16
16. Yang Datang Karena Khawatir
17
17. Malam yang Tak Terduga
18
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20
20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21
21. Dulu, Bukan Sekarang
22
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23
23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24
24. Niat Baik yang Palsu
25
25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26
26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27
27. Ayah yang Selalu Ada
28
28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31
31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33
33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34
34. Jangan Sampai Menyesal
35
35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36
36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37
37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38
38. Batas yang Mengubah Segalanya
39
39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40
40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41
41. Jarak yang Mulai Terasa
42
42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43
43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44
44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45
45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46
46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47
47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48
48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49
49. Di Balik Perubahan Levia
50
50. Foto yang Mengundang Curiga
51
51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52
52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53
53. Masih Istriku
54
54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55
55. Keraguan yang Terucap
56
56. Mulai Tertinggal
57
57. Sweet memories
58
58. Kesempatan yang Ditunggu
59
59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60
60. Pertanyaan yang Terlambat
61
61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62
62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63
63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64
64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65
65. Aku yang Mulai Tertinggal
66
66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67
67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68
68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69
69. Kepulangan Sang Kapten
70
70. Bukan Karena Kamu Berubah
71
71. Pulang ke Rumah Istri
72
72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73
73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74
74. Tak Lagi Yakin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!