5. Senyum Penuh Kepalsuan

Ninis menyodorkan nampan ke arah Levia. "Non, dimakan dulu, ya. Dari tadi belum makan. Biar badan Nona gak lemas."

Pandangan Levia kembali jatuh pada sepotong black forest, beberapa donat dengan aneka topping, serta segelas cokelat hangat yang dipenuhi krim tebal.

Sebagai seorang desainer yang paham bentuk tubuh, ditambah baru saja mendengar penjelasan dokter, pikirannya langsung menghitung perkiraan kalorinya.

"Ini bisa lebih dari seribu kalori. Kalau tiap hari makan beginian, bukan turun berat badan, aku malah bisa berubah jadi gajah."

Levia tersenyum tipis. "Terima kasih, Nis. Tapi aku lagi gak pengen yang manis-manis."

Ninis tampak terkejut. "Loh? Bukannya Nona paling suka black forest?"

"Sekarang enggak."

Levia sempat menangkap perubahan kecil di wajah gadis itu. Sangat singkat, hanya sepersekian detik. Namun sebelum sempat dipahami, senyum ramah itu kembali menghiasi wajah Ninis.

"Kalau gitu aku simpan aja dulu." Ninis meletakkan nampan di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang dekat Levia. "Non... Kak Vandra tadi masih marah?"

Levia mengangguk singkat. "Biasa."

Ninis mengembuskan napas panjang. "Kalau aku jadi Nona, sih, aku gak bakal rela diceraiin."

Levia terdiam. Ingatan pemilik tubuh ini kembali bermunculan.

Dulu, saat Vandra pertama kali mengajukan gugatan cerai, Ninislah yang memberi saran.

> "Kalau Kak Vandra tetap ngotot cerai, pura-pura bunuh diri saja, Non. Biar dia takut dan batalin niatnya."

Sejak saat itu, setiap kali Vandra hendak pergi atau kembali membahas perceraian, Levia selalu mengancam mengakhiri hidupnya.

Sampai akhirnya...

Hari ini, Levia benar-benar melompat ke sungai.

"Mana ada orang yang bener-bener sayang sama temen ngasih saran seekstrem itu?" batinnya. "Gak bener nih cewek. Itu bukan saran, tapi penyesatan."

Tatapannya perlahan beralih kepada Ninis. "Kalau dia mau cerai..." ucap Levia tenang, "...ya cerai aja."

"Hah?" Ninis spontan menoleh cepat. Matanya membelalak beberapa saat sebelum kembali tersenyum.

Namun Levia sempat menangkap kilatan kekecewaan yang melintas di sana. Sangat tipis. Hampir tak terlihat.

"Ekspresinya... Aneh," pikir Levia.

Sementara itu, di balik senyumnya, pikiran Ninis mulai dipenuhi tanda tanya. "Kenapa jawabannya beda?"

Biasanya Levia pasti menangis. Memohon. Atau marah-marah. Sekarang justru terdengar dan terlihat begitu tenang.

Ninis berdeham pelan. "Kalau... Nona mau, aku bisa bantu cari cara supaya Kak Vandra berubah pikiran."

Levia menatapnya tanpa berkedip. "Cara?"

"Iya."

Ninis berpura-pura berpikir. "Mungkin Nona bisa dateng ke rumah Ibu Ratih besok. Tunjukkin kalau Nona benar-benar nyesel. Terus bilang ke Kak Vandra kalau Nona gak bisa hidup tanpa dia. Laki-laki itu kadang cuma gengsi. Kalau Nona terus berjuang, lama-lama hatinya pasti luluh."

Levia hanya tersenyum tipis. "Enggak usah."

"Tapi, Non...."

"Aku capek."

Jawaban singkat itu membuat Ninis kehilangan kata-kata. Beberapa saat kemudian ia tersenyum canggung. "Nona hari ini beda banget."

"Beda?" Levia mengangkat sebelah alis.

"Iya." Ninis tertawa kecil. "Biasanya Nona pasti langsung panik kalau dengar soal Kak Vandra."

"Mungkin..." Levia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Aku sudah terlalu lelah."

Ninis mengangguk pelan. "Kalau begitu Nona istirahat saja."

Ia merapikan kembali nampan di atas meja, lalu berjalan menuju pintu.

"Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya, Non."

"Iya."

Pintu kamar tertutup perlahan. Begitu berada di lorong dan memastikan tak ada siapa pun di sekitarnya, senyum ramah di wajah Ninis lenyap seketika. Tatapannya berubah tajam.

"Sial...." Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Hampir saja berhasil."

Bayangan kejadian di tepi sungai kembali terlintas di kepalanya.

Sejak awal ia sudah mengawasi Levia dari kejauhan. Bahkan saat melihat Levia berjalan menuju sungai, ia sengaja mengalihkan perhatian beberapa warga agar tidak ada yang menyadari tindakan nekat itu.

Menurut perhitungannya, tidak akan ada seorang pun yang sempat menolong Levia.

Namun... Siapa sangka seorang pemancing yang berada di balik rimbunnya pepohonan luput dari pengamatannya.

Pria itulah yang pertama kali berteriak meminta tolong hingga menarik perhatian warga dan Vandra.

Ninis menggigit bibirnya kesal. "Kenapa harus ada orang itu?"

Kini Levia bukan hanya gagal mati. Wanita itu bahkan berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda.

Tatapan Ninis mengeras. "Apa sebenarnya yang terjadi sama kamu, Levia?"

Ia menarik napas panjang, lalu kembali memasang senyum ramah sebelum melangkah meninggalkan lorong.

Ninis kembali ke dapur, mengambil segelas air putih, lalu berjalan menuju ruang kerja Bram Gultom.

Tok. Tok.

"Masuk."

Ninis membuka pintu dengan senyum ramah. "Pak, ini air putihnya. Sudah waktunya minum obat."

Bram mengangkat wajah dari berkas-berkas di mejanya. "Oh... terima kasih, Nis."

Ninis meletakkan gelas di atas meja, lalu mengambil botol obat yang sudah disiapkan di sampingnya.

"Dokter tadi juga bilang Bapak jangan telat minum obat."

Bram tersenyum tipis. "Kamu selalu ingat."

"Itu sudah kewajiban saya, Pak."

Bram meminum obatnya, lalu meneguk air putih. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Ninis tidak langsung pergi. Ia berdiri sambil memainkan ujung celemeknya, seolah sedang ragu mengatakan sesuatu.

"Ada apa?" tanya Bram.

Ninis buru-buru menggeleng. "Enggak kok, Pak."

"Kalau ada yang ingin disampaikan, bilang saja."

Ninis menundukkan kepala. "Saya cuma... senang lihat Nona sudah selamat."

Bram mengangguk pelan. "Saya juga."

"Tapi..." Ninis menggigit bibirnya pelan. "Saya takut perubahan Nona cuma sementara."

Bram terdiam.

"Nona sudah sering janji mau berubah, Pak." Ninis buru-buru menambahkan, "Bukan maksud saya menjelekkan Nona. Saya cuma takut Bapak nanti kecewa lagi."

Bram mengembuskan napas pelan. "Kalau memang begitu, biarlah. Dia tetap satu-satunya anak saya."

Ninis kembali berkata dengan nada hati-hati. "Kadang saya kasihan lihat Bapak."

Bram menatapnya.

"Bapak selalu mengalah demi Nona. Padahal... Bapak juga capek."

Bram tersenyum tipis. "Namanya juga orang tua. Anak seburuk apa pun tetap anak."

Kalimat itu membuat Ninis sesaat kehilangan senyumnya. "Saya tahu, Pak. Bapak terlalu baik."

Bram menggeleng pelan. "Bukan terlalu baik." Ia memandang foto mendiang istrinya yang berdiri di sudut meja. "Dulu saya pernah berjanji pada istri saya. Saya akan menjaga Levia apa pun yang terjadi."

Ninis mengepalkan jemarinya di balik celemek. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."

"Iya."

Setelah pintu tertutup, senyum ramah di wajah Ninis perlahan memudar.

"Kenapa...? Kenapa Bapak selalu membela Levia? Padahal selama ini yang nemenin Bapak setiap hari itu aku. Yang mengingatkan minum obat, menyiapkan makan, dan dengerin keluh kesah Bapak juga aku. Kenapa di mata Bapak, aku tetep gak pernah bisa gantiin Levia?"

Ninis menggigit bibirnya kuat-kuat. "Kalau saja Levia gak pernah dilahirkan..."

 

...✨"Kasih sayang orang tua sejati tidak pernah bisa direbut, karena cinta mereka bukan hadiah yang dapat dipindahkan kepada orang lain."...

..."Tidak semua nasihat lahir dari ketulusan. Ada yang terdengar baik, tetapi diam-diam mengarahkanmu menuju kehancuran."...

..."Tidak semua yang menemanimu sedang mendukungmu. Ada yang berjalan di sisimu hanya untuk memastikan kau tersesat."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha

Anitha

ngaco kamu Ninis,memangnya kamu itu siapa, ya sudah kewajiban kamu sebagai Pelayan di situ untuk melayani majikanmu dengan baik,ya jelas saja Pak Gultom akan me.bela Levia karena ia Putri kandung satu-satunya dasar anak Pembantu tidak tahu diri,malah mau mencelakai Levia biar kamu bisa menggantikannya,mimpimu ketinggian Niniiiss🤣

2026-08-03

1

kymlove...

kymlove...

eh.. sarap!!!! lha elu siapa?? mau di pandang sebagai apa??? kan udah jelas kamu itu babu!! lha. emang udah kewajiban mu perhatian ngingetin majikan!!! emang dasar definisi gak tau diri sih si ninis ini!!

2026-08-02

2

asih

asih

tuhh bener la si nini yg jadi biang segalanya g tau balas budi huhh .

sekarang kamu rasain nanti via yg baru akan lebih baik dia g akan terpengaruh sama kamu nini

2026-08-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2 2. Hidup Sebagai Levia
3 3. Levia yang Berbeda
4 4. Misi Mengubah Takdir
5 5. Senyum Penuh Kepalsuan
6 6. Firasat Seorang Ibu
7 7. Sebelum Keberangkatan
8 8. Di Ambang Perpisahan
9 9. Orang Asing di Ruang Tamu
10 10. Satu Tahun untuk Berubah
11 11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12 12.Tatapan yang Telah Hilang
13 13.Masakan Pertama Levia
14 14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15 15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16 16. Yang Datang Karena Khawatir
17 17. Malam yang Tak Terduga
18 18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19 19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20 20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21 21. Dulu, Bukan Sekarang
22 22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23 23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24 24. Niat Baik yang Palsu
25 25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26 26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27 27. Ayah yang Selalu Ada
28 28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29 29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30 30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31 31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32 32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33 33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34 34. Jangan Sampai Menyesal
35 35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36 36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37 37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38 38. Batas yang Mengubah Segalanya
39 39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40 40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41 41. Jarak yang Mulai Terasa
42 42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43 43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44 44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45 45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46 46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47 47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48 48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49 49. Di Balik Perubahan Levia
50 50. Foto yang Mengundang Curiga
51 51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52 52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53 53. Masih Istriku
54 54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55 55. Keraguan yang Terucap
56 56. Mulai Tertinggal
57 57. Sweet memories
58 58. Kesempatan yang Ditunggu
59 59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60 60. Pertanyaan yang Terlambat
61 61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62 62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63 63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64 64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65 65. Aku yang Mulai Tertinggal
66 66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67 67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68 68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69 69. Kepulangan Sang Kapten
70 70. Bukan Karena Kamu Berubah
71 71. Pulang ke Rumah Istri
72 72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73 73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74 74. Tak Lagi Yakin
Episodes

Updated 74 Episodes

1
1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2
2. Hidup Sebagai Levia
3
3. Levia yang Berbeda
4
4. Misi Mengubah Takdir
5
5. Senyum Penuh Kepalsuan
6
6. Firasat Seorang Ibu
7
7. Sebelum Keberangkatan
8
8. Di Ambang Perpisahan
9
9. Orang Asing di Ruang Tamu
10
10. Satu Tahun untuk Berubah
11
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12
12.Tatapan yang Telah Hilang
13
13.Masakan Pertama Levia
14
14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16
16. Yang Datang Karena Khawatir
17
17. Malam yang Tak Terduga
18
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20
20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21
21. Dulu, Bukan Sekarang
22
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23
23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24
24. Niat Baik yang Palsu
25
25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26
26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27
27. Ayah yang Selalu Ada
28
28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31
31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33
33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34
34. Jangan Sampai Menyesal
35
35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36
36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37
37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38
38. Batas yang Mengubah Segalanya
39
39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40
40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41
41. Jarak yang Mulai Terasa
42
42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43
43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44
44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45
45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46
46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47
47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48
48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49
49. Di Balik Perubahan Levia
50
50. Foto yang Mengundang Curiga
51
51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52
52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53
53. Masih Istriku
54
54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55
55. Keraguan yang Terucap
56
56. Mulai Tertinggal
57
57. Sweet memories
58
58. Kesempatan yang Ditunggu
59
59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60
60. Pertanyaan yang Terlambat
61
61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62
62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63
63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64
64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65
65. Aku yang Mulai Tertinggal
66
66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67
67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68
68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69
69. Kepulangan Sang Kapten
70
70. Bukan Karena Kamu Berubah
71
71. Pulang ke Rumah Istri
72
72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73
73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74
74. Tak Lagi Yakin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!