3. Levia yang Berbeda

Setelah sedikit lebih tenang, Vivian membersihkan diri.

Setelahnya, ia berdiri di depan lemari pakaian Levia. Begitu pintunya dibuka, ia langsung menghela napas panjang.

Hampir semua pakaian di dalamnya berukuran besar dengan model yang menurutnya terlalu monoton. Potongannya longgar tanpa membentuk siluet tubuh, sementara perpaduan warnanya terlihat kurang serasi.

Sebagai seorang desainer, nalurinya langsung terusik.

"Astaga... siapa yang milihin baju-baju ini? Bukannya bikin pemakainya lebih percaya diri, modelnya malah bikin tubuh terlihat makin besar."

Ia menggeleng pelan.

"Sudahlah. Ini cuma sementara. Setelah tubuh ini langsing, aku bakal mendesain pakaian yang benar-benar cocok buat Levia."

Setelah memilih pakaian yang menurutnya paling layak dikenakan, Vivian segera berganti baju.

Tok. Tok. Tok.

"Via, ini Ayah."

Suara Bram Gultom terdengar dari balik pintu. Vivian segera membukanya.

Di depan pintu, Bram tersenyum hangat sambil membawa secangkir teh jahe yang masih mengepulkan uap.

"Ayah buatin teh jahe. Biar badanmu hangat." Bram langsung masuk, lalu meletakkan minuman itu di meja nakas.

Vivian terdiam sejenak. Entah kenapa, dadanya terasa menghangat.

"Inikah rasanya diperhatikan oleh seorang ayah?" batinnya.

Di kehidupan sebelumnya, ayah kandungnya hanya tahu meminta uang. Jangankan membuatkan minuman hangat, menanyakan apakah ia sudah makan saja tidak pernah. Matanya mendadak terasa panas.

"Terima kasih, Yah." Vivian menerima cangkir itu dengan senyum tulus.

"Mulai sekarang... karena aku hidup di tubuh Levia, aku bakal nganggep beliau sebagai ayahku." Tekadnya dalam hati. "Lagipula, siapa yang gak mau punya ayah sebaik ini?"

Bram justru terdiam menatap putrinya. Biasanya, setelah melakukan hal nekat seperti ini, Levia akan menangis sambil mengadu bahwa Vandra tetap bersikeras menceraikannya. Namun sekarang, putrinya justru tampak tenang. Sorot matanya pun terasa berbeda.

"Yah?" Vivian memiringkan kepala. "Kenapa Ayah lihatin aku kayak gitu?"

Bram tersenyum tipis lalu menggeleng. "Nggak apa-apa."

Belum sempat ia berkata lagi, Herman muncul di depan pintu. "Pak Bram, dokter sudah datang."

Bram mengangguk, lalu kembali menatap Vivian. Meski ragu, ia tetap bertanya, "Via, kita cek dulu kesehatanmu, ya?"

Vivian berpikir sejenak. "Diperiksa dokter? Bagus juga," pikirnya. "Seenggaknya aku bisa tahu apakah tubuh ini memiliki penyakit akibat obesitas."

"Iya, Yah," jawab Vivian akhirnya.

Untuk kesekian kalinya Bram terdiam. Putrinya benar-benar berbeda. Biasanya Levia paling benci diperiksa dokter. Sekarang justru mengiyakan tanpa protes sedikit pun.

"Apa karena kejadian di sungai tadi benar-benar mengubahnya?"

"Pak Gultom?"

Suara Herman membuyarkan lamunannya.

"Ah, iya," sahut Bram sedikit tersentak. " Silakan panggil dokternya masuk."

Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun memasuki kamar sambil membawa tas hitam berisi peralatan medis. Rambutnya mulai memutih, tetapi sorot matanya masih tajam.

"Selamat sore, Nona Levia."

Levia tersenyum tipis. "Selamat sore, Dok."

Dokter itu sempat terdiam. Biasanya, jangankan menyapa. Levia selalu mengeluh setiap kali ia datang.

"Pak Gultom, biar saya periksa Nona Levia dulu."

Bram mengangguk. "Baik, Dok."

Ia memberi isyarat kepada Herman untuk keluar bersamanya.

Pintu kamar pun tertutup.

Dokter mulai memeriksa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, hingga memeriksa pupil mata Levia.

"Hasil pemeriksaan awalnya cukup baik. Hanya saja tubuh Anda masih lemas karena hampir tenggelam."

Levia mengangguk pelan. "Dok, boleh saya tanya sesuatu?"

"Tentu."

"Selain obesitas, apa saya punya penyakit lain? Misalnya diabetes, asam urat, kolesterol, atau gangguan jantung?"

Tangan dokter yang sedang mencatat hasil pemeriksaan langsung berhenti. Ia menatap Levia beberapa detik. Pertanyaan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut wanita ini.

"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

Levia tersenyum canggung. "Saya cuma... ingin mulai menjaga kesehatan."

Dokter itu masih tampak heran, tetapi kemudian menjawab dengan jujur. "Sejauh hasil pemeriksaan rutin terakhir, Anda belum menderita diabetes maupun penyakit jantung. Namun, berat badan Anda memang meningkatkan risikonya. Kalau pola hidup tidak berubah, kemungkinan terkena penyakit metabolik di masa depan cukup besar."

"Syukurlah." Levia mengembuskan napas lega. "Lalu... kalau saya ingin diet, apa yang harus saya lakukan?"

Kali ini dokter benar-benar menurunkan bolpoinnya. "Nona... Anda ingin diet?"

"Iya."

"Bukan karena Kapten Vandra?" tanyanya penuh selidik.

Levia spontan menggeleng. "Bukan." Ia menjawab dengan mantap. "Saya ingin sehat."

Dokter tersenyum tipis. "Itu alasan yang jauh lebih baik."

Ia lalu menjelaskan pola makan yang seimbang, mengurangi makanan tinggi gula dan lemak, memperbanyak protein serta sayur, dan mulai berolahraga secara bertahap agar tubuh tidak kaget.

Levia mendengarkan dengan saksama. Sesekali ia mengangguk sambil mengingat setiap penjelasan dokter.

"Oh ya, Dok."

"Ya?"

"Ayah saya sehat, 'kan?"

Dokter mengernyit. "Maksud Anda Pak Gultom?"

"Iya," jawab Vivian. "Saya lihat beliau sering bekerja. Umurnya juga sudah tidak muda lagi. Saya tidak mau Ayah sakit."

Dokter terdiam. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Levia tanpa berkedip. Sebagai dokter keluarga, ia tahu betul bagaimana Bram Gultom selalu mengutamakan putrinya.

Bahkan saat Levia berkali-kali membuat ulah, pria itu tidak pernah benar-benar marah. Sebaliknya, Levia hampir tidak pernah bertanya tentang kesehatan ayahnya. Hari ini, justru Levia sendiri yang menanyakannya.

"Pak Gultom memang memiliki tekanan darah tinggi dan kolesterol."

Senyum di wajah Levia perlahan memudar. "Apa itu berbahaya?"

"Selama beliau menjaga pola makan, rutin minum obat, mengurangi stres, dan berolahraga ringan, kondisinya bisa tetap terkontrol."

Levia mengangguk pelan. "Nanti saya bantu mengawasi beliau."

Dokter tersenyum hangat. "Itu akan sangat membantu."

 

Di luar kamar.

Bram Gultom mondar-mandir dengan wajah gelisah.

Herman hanya memerhatikan dari balik kacamatanya sambil berdiri tenang.

"Her, menurutmu Via kenapa?"

Herman menggeleng. "Saya juga belum tahu, Pak."

"Dia berubah drastis." Bram berhenti melangkah. "Jujur... aku senang melihat perubahan itu. Tapi... Entahlah. Rasanya seperti melihat Via, tapi juga bukan Via yang biasanya."

Herman tersenyum kecil. "Mungkin kejadian tadi membuat Nona Levia tersadar."

Bram menghela napas panjang. "Atau..." Ia menatap pintu kamar dengan wajah serius. "Jangan-jangan anakku kesurupan hantu air."

Herman sampai berkedip beberapa kali. "Pak... Bapak biasanya paling tidak percaya hal-hal mistis."

"Iya, sih," sahut Bram. "Tapi perubahan Via terlalu aneh."

Herman menahan tawa. "Kalau benar kesurupan, masa hantunya malah membuat Nona berubah jadi lebih baik?"

Bram ikut terdiam. "Iya juga, ya."

"Kalau begitu..." Herman mengulum senyum. "...mudah-mudahan hantu itu betah."

"Her!"

Herman langsung terkekeh pelan. "Bercanda, Pak."

Akhirnya Bram ikut tersenyum meski hanya sesaat.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Dokter keluar sambil melepas kacamatanya.

Bram segera menghampiri. "Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"

 

...✨"Tekad untuk berubah lahir bukan karena ingin dipuji orang lain, melainkan karena menghargai hidup yang masih diberi kesempatan."...

..."Kasih sayang orang tua sering kali terasa biasa, sampai suatu hari kita menyadari betapa berharganya perhatian sederhana yang mereka berikan."...

..."Perubahan terbesar bukan terjadi saat hidup memberimu kesempatan kedua, melainkan saat kamu memutuskan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anitha

Anitha

bagus dong Vivian masuk ke tubuh Levia,sikapnya jadi lebih tenang dan dewasa,sangat berbeda dengan Levia sebelumnya.

2026-08-03

1

asih

asih

putrinya anda baik² saja Pak

ya via kerusupan hantu Pak, bukan hantu air melainkan hantu cantika sang designer 🤣🤣🤣

2026-08-02

1

Uthie

Uthie

Semoga hantu nya betah 😁👍

2026-08-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2 2. Hidup Sebagai Levia
3 3. Levia yang Berbeda
4 4. Misi Mengubah Takdir
5 5. Senyum Penuh Kepalsuan
6 6. Firasat Seorang Ibu
7 7. Sebelum Keberangkatan
8 8. Di Ambang Perpisahan
9 9. Orang Asing di Ruang Tamu
10 10. Satu Tahun untuk Berubah
11 11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12 12.Tatapan yang Telah Hilang
13 13.Masakan Pertama Levia
14 14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15 15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16 16. Yang Datang Karena Khawatir
17 17. Malam yang Tak Terduga
18 18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19 19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20 20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21 21. Dulu, Bukan Sekarang
22 22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23 23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24 24. Niat Baik yang Palsu
25 25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26 26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27 27. Ayah yang Selalu Ada
28 28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29 29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30 30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31 31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32 32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33 33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34 34. Jangan Sampai Menyesal
35 35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36 36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37 37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38 38. Batas yang Mengubah Segalanya
39 39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40 40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41 41. Jarak yang Mulai Terasa
42 42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43 43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44 44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45 45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46 46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47 47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48 48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49 49. Di Balik Perubahan Levia
50 50. Foto yang Mengundang Curiga
51 51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52 52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53 53. Masih Istriku
54 54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55 55. Keraguan yang Terucap
56 56. Mulai Tertinggal
57 57. Sweet memories
58 58. Kesempatan yang Ditunggu
59 59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60 60. Pertanyaan yang Terlambat
61 61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62 62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63 63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64 64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65 65. Aku yang Mulai Tertinggal
66 66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67 67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68 68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69 69. Kepulangan Sang Kapten
70 70. Bukan Karena Kamu Berubah
71 71. Pulang ke Rumah Istri
72 72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73 73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74 74. Tak Lagi Yakin
Episodes

Updated 74 Episodes

1
1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2
2. Hidup Sebagai Levia
3
3. Levia yang Berbeda
4
4. Misi Mengubah Takdir
5
5. Senyum Penuh Kepalsuan
6
6. Firasat Seorang Ibu
7
7. Sebelum Keberangkatan
8
8. Di Ambang Perpisahan
9
9. Orang Asing di Ruang Tamu
10
10. Satu Tahun untuk Berubah
11
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12
12.Tatapan yang Telah Hilang
13
13.Masakan Pertama Levia
14
14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16
16. Yang Datang Karena Khawatir
17
17. Malam yang Tak Terduga
18
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20
20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21
21. Dulu, Bukan Sekarang
22
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23
23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24
24. Niat Baik yang Palsu
25
25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26
26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27
27. Ayah yang Selalu Ada
28
28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31
31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33
33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34
34. Jangan Sampai Menyesal
35
35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36
36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37
37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38
38. Batas yang Mengubah Segalanya
39
39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40
40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41
41. Jarak yang Mulai Terasa
42
42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43
43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44
44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45
45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46
46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47
47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48
48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49
49. Di Balik Perubahan Levia
50
50. Foto yang Mengundang Curiga
51
51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52
52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53
53. Masih Istriku
54
54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55
55. Keraguan yang Terucap
56
56. Mulai Tertinggal
57
57. Sweet memories
58
58. Kesempatan yang Ditunggu
59
59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60
60. Pertanyaan yang Terlambat
61
61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62
62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63
63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64
64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65
65. Aku yang Mulai Tertinggal
66
66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67
67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68
68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69
69. Kepulangan Sang Kapten
70
70. Bukan Karena Kamu Berubah
71
71. Pulang ke Rumah Istri
72
72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73
73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74
74. Tak Lagi Yakin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!