2. Hidup Sebagai Levia

Vivian masih syok. Berkali-kali ia memegang pipinya yang tembam, lalu menepuk dan mencubitnya sendiri.

"Aduh!"

Perih. Berarti ini bukan mimpi.

"Ya Tuhan... ujian macam apa ini?" gumamnya mengusap wajahnya frustrasi.

Wanita paruh baya yang tadi memarahi Vandra tiba-tiba memeluknya erat.

"Syukurlah kamu selamat, Via. Jangan bikin ibu takut lagi."

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian, ia perlahan melepaskan pelukan wanita itu.

"Maaf, Bu... saya bukan anak Ibu. Saya juga tidak kenal Ibu."

Keheningan seketika menyelimuti tepian sungai.

Semua orang saling berpandangan.

"Apa katanya?"

"Dia bilang gak kenal Bu Ratih."

"Kok bisa? Padahal Bu Ratih itu sayang banget loh sama dia."

"Iya. Dari kecil juga sudah dianggap anak sendiri."

"Maklum, Bu Ratih sama almarhumah ibunya Levia 'kan sahabatan."

"Sejak ibunya Levia meninggal, Bu Ratih yang paling sering merawat dan nemenin dia."

"Pantas Bu Ratih sedih banget lihat Levia begini."

"Mungkin kepalanya kebentur."

"Kayaknya amnesia deh."

Bu Ratih...

Nama itu membuat Vivian tertegun.

Potongan-potongan cerita dalam novel kembali bermunculan di kepalanya.

Ratih Jayasena. Ibu Vandra.

Sahabat mendiang ibu Levia sejak muda. Karena tidak pernah memiliki anak perempuan, Ratih menyayangi Levia seperti putrinya sendiri. Bahkan setelah Levia menikah dengan Vandra, kasih sayang itu tidak pernah berubah.

Itulah sebabnya Ratih selalu berusaha menjadi penengah setiap kali Levia dan Vandra bertengkar.

Di tengah kerumunan, terdengar suara seorang pria memanggil dengan cemas.

"Via!"

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menerobos kerumunan, diikuti seorang pria jangkung berkacamata. Napasnya memburu. Begitu melihat Vivian terduduk di tepi sungai, wajah tegangnya sedikit mengendur.

"Syukurlah...."

Tanpa pikir panjang, pria itu berlutut dan memegang kedua bahu Vivian.

"Via, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit? Coba ayah lihat."

Vivian spontan menepis tangannya. "Maaf, Pak. Jangan pegang-pegang saya sembarangan."

Pria itu terdiam. Tangannya menggantung di udara. Sorot matanya berubah kosong, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Via... ini Ayah."

Vivian menggeleng pelan. "Maaf... saya benar-benar gak kenal Bapak."

Wajah pria itu memucat. Ia menoleh kepada semua orang yang berada di sana, termasuk Vandra dan ibu Vandra.

"Via kenapa?"

Ratih menghela napas pelan. "Kami juga tidak tahu, Pak Gultom. Sejak diselamatkan, bicaranya aneh."

Seorang warga ikut menyahut.

"Mungkin amnesia, Pak Gultom. Soalnya hampir tenggelam."

Pak Gultom...

Nama itu langsung menyentak ingatan Vivian.

Bram Gultom. Ayah Levia.

Pria yang dalam novel digambarkan sangat mencintai istrinya hingga tak pernah menikah lagi setelah sang istri meninggal. Semua kasih sayangnya dicurahkan kepada putri semata wayangnya karena Levia adalah satu-satunya peninggalan wanita yang paling ia cintai.

Meski tidak setuju Levia memaksa Vandra menikah, pada akhirnya ia tetap mengabulkan keinginan putrinya.

Karena terlalu memanjakan Levia, gadis itu tumbuh menjadi sosok keras kepala yang selalu ingin mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

"Ya ampun.... Ini bener-bener dunia novel." Ia memegang dahinya. "Ini bener-bener gak lucu."

Ingin rasanya ia menangis. Tetapi harga dirinya sebagai desainer ternama menahannya.

Gultom segera menoleh kepada pria paruh baya jangkung yang berdiri tak jauh di belakangnya.

"Pak Herman, cepat hubungi dokter keluarga. Minta dia langsung datang ke rumah."

"Baik, Pak."

Di sisi lain, Vandra hanya mendengus pelan. "Kalau pura-pura amnesia supaya aku batalin gugatan cerai, sia-sia."

Ucapan itu langsung menyulut emosi Vivian. Ia berdiri, meski sedikit sempoyongan karena masih lemas sekaligus belum terbiasa dengan tubuh obesitas.

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Tatapan Vandra tetap datar. "Aktingmu makin bagus."

Vivian sampai ingin menjambak rambutnya sendiri. "Ini orang kenapa pede banget sih? Apa tiap hari mandi pakai deodoran rasa percaya diri?"

Bram Gultom mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. "Sudah."

Ia menatap Ratih dengan wajah penuh rasa bersalah. "Maaf, Bu Ratih. Saya akan bawa Via pulang dulu. Biarkan dokter memeriksanya."

Ratih tampak ragu. "Tapi... bagaimana kalau kondisinya memburuk di jalan? Sebaiknya langsung ke rumah sakit saja."

"Dokter keluarga kami akan datang," kata Gultom. "Setelah itu, kalau memang perlu dirawat, saya sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit."

Ratih akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong kabari kami bagaimana keadaan Via."

Vandra tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berbalik, seolah keadaan Levia sudah bukan urusannya lagi.

Melihat sikap pria itu, Vivian justru merasa lega. "Syukurlah," batinnya. "Semoga dia cepat nyeraiin aku... eh, maksudnya Levia. Aku takut nge-freeze dan jadi boneka salju kalau deket-deket sama dia."

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.

Vivian duduk di kursi belakang mobil dengan tubuh masih lemas. Sesekali ia melirik pria paruh baya yang duduk di sampingnya.

Bram Gultom terus menggenggam ponselnya dengan gelisah. Beberapa kali pria itu hendak bertanya, tetapi mengurungkannya.

Vivian justru tenggelam dalam ingatannya. Sedikit demi sedikit isi novel yang pernah dibacanya kembali bermunculan.

Ia diam-diam melirik Gultom. "Levia beruntung banget punya ayah kayak beliau...." Bibirnya melengkung pahit. "Beda banget sama aku."

Ayah kandung Vivian masih hidup. Namun pria itu lebih suka berjudi dan bermalas-malasan daripada bekerja. Setiap kali Vivian mendapat proyek besar sebagai desainer, ayahnya selalu datang meminta uang tanpa pernah memedulikan lelahnya mencari nafkah.

Sejak kecil, Vivian sering berandai-andai memiliki seorang ayah yang benar-benar menyayanginya.

Ia segera menggeleng pelan. "Sudahlah.... Kehidupan itu udah tamat. Yang harus aku pikirin sekarang adalah gimana caranya bertahan hidup di dunia ini."

Ia kembali mengingat alur novel.

Setiap Vandra mau mengajukan gugatan cerai, Levia kehilangan harapan. Berkali-kali mengancam bunuh diri demi menggagalkan perceraian hingga akhirnya benar-benar menceburkan diri ke sungai.

Vivian menarik napas panjang. "Kalau aku ngikutin alur novel, ujung-ujungnya aku juga bakal mati."

Tidak. Ia sudah mati satu kali. Ia tidak ingin mengulanginya.

Mobil perlahan memasuki halaman sebuah rumah. Vivian yang semula melamun langsung membelalak.

Pagar besi tinggi terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah rumah bergaya klasik modern dengan taman yang luas dan terawat. Air mancur menghiasi halaman depan, sementara beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi.

"Lho...." Vivian spontan menoleh ke kanan dan kiri. "Bukannya di novel cuma dibilang anak pengusaha biasa? Ini... biasa dari mananya?"

Rumah ini bahkan lebih mewah daripada rumah beberapa kliennya.

"Apa penulis novelnya lupa menjelaskan? Atau memang ada banyak hal yang tidak pernah ditulis?"

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.

"Via, ayo masuk."

Suara Gultom membuyarkan lamunannya.

Vivian mengikuti pria itu hingga tiba di sebuah kamar. Begitu pintu terbuka, Gultom berkata dengan nada lembut, "Kamu ganti baju dulu. Jangan sampai masuk angin atau flu."

Vivian mengangguk. Sedangkan Gultom berbalik pergi.

Vivian masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Ia menyapukan pandangannya ke kamar luas itu. Langkahnya langsung terhenti di depan cermin yang berdiri setinggi badan.

Perlahan ia mendekat. Wanita di dalam cermin ikut mendekat. Pipi bulat. Dagu berlapis. Lengan besar. Pinggang nyaris tak terlihat.

Vivian menelan ludah. "Ya Tuhan...."

Ia memutar tubuhnya perlahan. Dari samping... Sama. Dari belakang... Tetap sama.

"Ini bener-bener aku?"

Pandangan Vivian jatuh ke sebuah timbangan digital di sudut kamar. Dengan ragu ia menaikinya.

Beep! Angka di layar menyala.

112, 5 kg.

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan... ini bukan diet lagi." Ia mengembuskan napas panjang. "Ini proyek nasional."

Ucapan itu membuat dirinya sendiri tertawa getir.

 

...✨"Tidak semua kesempatan kedua datang dalam kehidupan yang lebih baik. Kadang, ia datang dalam kehidupan yang menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik."...

..."Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada takdir. Justru dari situlah keberanian untuk mengubahnya dimulai."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

mery harwati

mery harwati

Program diet super ketat Elvara tolong dibocorkan pada Levia 😀
Jadi Vandra sang tentara akan jatuh cinta pada Levia (klo Raska ngejar Elvara, klo Levia ngejar Vandra 😀) 💪

2026-08-09

1

Anitha

Anitha

Berat badannya sama hampi sama dengan Gasekil🤣

Ceritanya mirip dengan cerita Belvina

2026-08-03

1

asih

asih

proyek besar via kalau berhasil q minta tips nya ya .. Mai nurunin BB jadi 53 aja susah bener

2026-08-01

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2 2. Hidup Sebagai Levia
3 3. Levia yang Berbeda
4 4. Misi Mengubah Takdir
5 5. Senyum Penuh Kepalsuan
6 6. Firasat Seorang Ibu
7 7. Sebelum Keberangkatan
8 8. Di Ambang Perpisahan
9 9. Orang Asing di Ruang Tamu
10 10. Satu Tahun untuk Berubah
11 11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12 12.Tatapan yang Telah Hilang
13 13.Masakan Pertama Levia
14 14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15 15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16 16. Yang Datang Karena Khawatir
17 17. Malam yang Tak Terduga
18 18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19 19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20 20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21 21. Dulu, Bukan Sekarang
22 22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23 23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24 24. Niat Baik yang Palsu
25 25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26 26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27 27. Ayah yang Selalu Ada
28 28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29 29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30 30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31 31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32 32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33 33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34 34. Jangan Sampai Menyesal
35 35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36 36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37 37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38 38. Batas yang Mengubah Segalanya
39 39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40 40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41 41. Jarak yang Mulai Terasa
42 42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43 43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44 44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45 45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46 46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47 47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48 48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49 49. Di Balik Perubahan Levia
50 50. Foto yang Mengundang Curiga
51 51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52 52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53 53. Masih Istriku
54 54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55 55. Keraguan yang Terucap
56 56. Mulai Tertinggal
57 57. Sweet memories
58 58. Kesempatan yang Ditunggu
59 59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60 60. Pertanyaan yang Terlambat
61 61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62 62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63 63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64 64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65 65. Aku yang Mulai Tertinggal
66 66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67 67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68 68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69 69. Kepulangan Sang Kapten
70 70. Bukan Karena Kamu Berubah
71 71. Pulang ke Rumah Istri
72 72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73 73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74 74. Tak Lagi Yakin
Episodes

Updated 74 Episodes

1
1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2
2. Hidup Sebagai Levia
3
3. Levia yang Berbeda
4
4. Misi Mengubah Takdir
5
5. Senyum Penuh Kepalsuan
6
6. Firasat Seorang Ibu
7
7. Sebelum Keberangkatan
8
8. Di Ambang Perpisahan
9
9. Orang Asing di Ruang Tamu
10
10. Satu Tahun untuk Berubah
11
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12
12.Tatapan yang Telah Hilang
13
13.Masakan Pertama Levia
14
14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16
16. Yang Datang Karena Khawatir
17
17. Malam yang Tak Terduga
18
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20
20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21
21. Dulu, Bukan Sekarang
22
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23
23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24
24. Niat Baik yang Palsu
25
25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26
26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27
27. Ayah yang Selalu Ada
28
28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31
31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33
33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34
34. Jangan Sampai Menyesal
35
35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36
36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37
37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38
38. Batas yang Mengubah Segalanya
39
39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40
40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41
41. Jarak yang Mulai Terasa
42
42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43
43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44
44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45
45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46
46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47
47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48
48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49
49. Di Balik Perubahan Levia
50
50. Foto yang Mengundang Curiga
51
51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52
52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53
53. Masih Istriku
54
54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55
55. Keraguan yang Terucap
56
56. Mulai Tertinggal
57
57. Sweet memories
58
58. Kesempatan yang Ditunggu
59
59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60
60. Pertanyaan yang Terlambat
61
61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62
62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63
63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64
64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65
65. Aku yang Mulai Tertinggal
66
66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67
67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68
68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69
69. Kepulangan Sang Kapten
70
70. Bukan Karena Kamu Berubah
71
71. Pulang ke Rumah Istri
72
72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73
73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74
74. Tak Lagi Yakin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!