4. Misi Mengubah Takdir

"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bram cemas.

Dokter tersenyum tipis. "Secara fisik, tidak ada masalah yang serius. Kondisinya stabil. Hanya sedikit kelelahan karena hampir tenggelam. Saya telah memberikan beberapa obat dan menyarankan Nona banyak beristirahat."

Bram mengembuskan napas lega. "Syukurlah."

"Tapi..." Raut wajah dokter berubah sedikit serius.

Bram yang baru saja lega kembali menegang. "Kenapa, Dok?"

"Justru ada hal lain yang membuat saya heran," lanjut dokter.

Bram dan Herman saling berpandangan.

"Seumur saya menjadi dokter keluarga Bapak, baru kali ini Nona Levia mau diperiksa tanpa mengeluh."

"Hah?" Bram melongo.

"Biasanya baru melihat tas dokter saja beliau sudah cemberut."

Herman spontan mengangguk. "Itu memang benar, Dok."

Dokter tersenyum kecil. "Tadi Nona bahkan bertanya apakah dirinya mengidap penyakit akibat obesitas."

Bram tampak terkejut. "Via bertanya begitu?"

"Iya. Nona juga meminta saya menjelaskan pola makan yang sehat dan cara menurunkan berat badan."

Bram sampai mengerjapkan mata beberapa kali. "Itu... benar anak saya?"

"Belum selesai." Dokter terkekeh pelan. "Yang paling membuat saya terkejut, Nona juga bertanya tentang kesehatan Bapak."

Bram membeku. "Saya?"

"Iya. Nona bilang tidak ingin Bapak sakit dan ingin membantu menjaga kesehatan Bapak."

Bram tidak langsung menjawab. Dadanya mendadak terasa sesak. Bukan karena sakit. Melainkan karena haru. Sudah bertahun-tahun ia menunggu putrinya memerhatikan dirinya, bukan hanya Vandra.

Ia menoleh pada Herman dengan mata berkaca-kaca. "Her, akhirnya putriku peduli padaku."

Herman mengangguk dengan seutas senyuman. "Selamat, Pak."

Dokter menepuk pelan bahu Bram. "Pak Gultom. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah kejadian di sungai tadi. Tapi kalau memang pengalaman itu membuat Nona Levia berubah menjadi lebih dewasa..." Dokter tersenyum hangat. "...bukankah itu kabar yang patut disyukuri?"

Bram menunduk. Sudut matanya mulai memanas. "Iya...."

Suaranya lirih. "Saya hanya takut perubahan ini tidak bertahan lama."

Dokter mengangguk pelan. "Jangan terburu-buru menyimpulkan apa pun. Untuk sementara, jangan tekan Nona dengan pertanyaan tentang kejadian tadi. Biarkan Nona beristirahat. Kalau memang ini awal perubahan yang baik, tugas kita adalah mendukungnya."

Bram menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Dok."

Saat Herman mengantar dokter, Bram menoleh ke arah pintu kamar putrinya yang masih tertutup.

Di dalam hatinya ia berdoa, "Kalau memang ini kesempatan kedua untuk Via... semoga kali ini dia benar-benar menemukan kebahagiaannya."

Bram akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar putrinya.

Tok. Tok.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

"Yah, ada apa?" tanya Vivian yang kini hidup sebagai Levia.

Bram tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah ponsel. "Ini. Tadi ponselmu dititipkan Bu Ratih ke Pak Herman."

Levia menerimanya. "Terima kasih, Yah."

Bram mengangguk. "Kalau ada apa-apa, bilang sama Ayah."

"Iya, Yah."

"Kalau begitu Ayah ke ruang kerja dulu."

"Iya."

Namun Bram tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapannya penuh keraguan. Ia masih belum terbiasa melihat putrinya yang mendadak berubah begitu drastis.

"Masih ada yang ingin Ayah bilang?" tanya Levia.

Bram tersenyum kecil. "Enggak. Kamu istirahat saja."

Meski masih berat hati, akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Levia memerhatikan punggung pria itu hingga menghilang di balik belokan lorong.

"Aneh juga...."

Ia mengangkat kedua bahunya pelan, lalu menutup pintu kamar.

Begitu ponsel diarahkan ke wajahnya, layar langsung menyala. Kunci layar terbuka otomatis melalui pengenalan wajah.

Namun, yang pertama kali menyambutnya bukan deretan aplikasi, melainkan wajah Kapten Arvandra Jayasena yang memenuhi layar.

Vivian sampai berkedip beberapa kali.

"Serius?" Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya. "Orang itu lagi."

Tatapan Vandra yang dingin seolah sedang menatap balik ke arahnya.

Vivian menggeleng pelan. "Segitunya, ya...."

Baru setelah itu pandangannya beralih ke deretan aplikasi di layar. Matanya langsung berhenti pada ikon mobile banking.

"Mari kita lihat... seberapa kaya sebenarnya Levia."

Ia menekan ikon aplikasi tersebut. Layar meminta kata sandi.

"Hm...." Levia berpikir sejenak. "Kalau melihat tingkat obsesinya... Jangan-jangan..."

Ia memasukkan tanggal lahir Vandra.

Klik.

Aplikasi langsung terbuka.

Levia membelalak. "Astaga...."

Jumlah saldo yang terpampang membuatnya terdiam beberapa saat.

Rp18.742.000.000.

"Hampir sembilan belas miliar?" Ia menelan ludah. "Levia... ternyata kamu bukan cuma bucin. Tapi juga tajir."

Ia buru-buru melihat mutasi rekening. Tak ada transaksi mencurigakan.

Sebagian besar hanya transfer dari perusahaan milik Bram Gultom, keuntungan investasi, dan bunga deposito.

"Syukurlah."

Setelah merasa sedikit tenang, Levia membuka galeri. Detik berikutnya, sudut bibirnya langsung berkedut.

Foto Vandra. Foto Vandra lagi. Masih foto Vandra. Sebagian besar diambil diam-diam dari kejauhan.

Ada saat Vandra sedang latihan. Sedang membaca buku. Sedang minum. Bahkan sedang mengikat tali sepatu pun ada.

"Ya ampun...."

Ia menemukan sebuah album khusus. Isinya ratusan foto candid Vandra.

Levia bergidik. "Astaga... segininya?"

Ia memejamkan mata sambil memijat pelipis. "Levia... kamu sudah di level mengkhawatirkan. Stadium akhir. Pantesan sampai bunuh diri cuma karena mau diceraiin."

Tanpa berpikir panjang, ia mengganti wallpaper bergambar Vandra dengan foto langit biru yang tersimpan di galeri. Ponsel kemudian diletakkannya di atas meja.

Levia menatap bayangannya sendiri di cermin. Tatapannya kini jauh lebih mantap.

"Mulai hari ini... Levia yang baru gak bakal ngejer Kapten Arvandra Jayasena." Ia mengepalkan kedua tangan. "Misi pertamaku... menyelamatkan hidup Levia."

Lalu ia tersenyum tipis. "Dan misi berikutnya... Menjadi desainer terbaik di dunia ini."

Tok. Tok. Tok.

"Non, saya masuk, ya."

Pintu kamar perlahan terbuka.

Vivian menoleh.

Seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun melangkah masuk sambil membawa nampan. Di atasnya tersusun sepotong black forest, beberapa donat dengan berbagai macam toping, dan segelas cokelat hangat dengan krim tebal. Gadis itu tersenyum ramah.

"Nona jangan sedih terus.Katanya makanan manis bisa bikin mood lebih baik. Ini makanan kesukaan Nona."

Vivian spontan menelan ludah. "Astaga... Kalori semua."

Begitu melihat wajah gadis itu, sepotong ingatan kembali menyerbu kepalanya.

Ninis.

Anak pembantu yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Gultom.

Sejak kecil, Levia selalu menganggap Ninis sebagai saudara sendiri. Apa pun yang dimilikinya, hampir selalu ia bagi dengan gadis itu.

Namun...

Satu kenangan lain tiba-tiba muncul.

>"Kalau Kak Vandra tetap nolak, ya bikin saja dia bertanggung jawab. Yang penting nanti kalian menikah dulu. Perasaan bisa datang belakangan."

Vivian membeku. "Bukankah.. Ide menjebak Vandra itu berasal dari Ninis?"

Ia perlahan mengangkat kepala. Tatapannya berhenti pada senyum manis gadis itu.

"Aku gak tahu kenapa... senyum gadis ini gak terlihat setulus yang aku bayangin."

 

...✨"Perubahan sejati dimulai ketika kita berhenti mengejar seseorang dan mulai memperbaiki diri sendiri."...

..."Jangan terlalu sibuk mengejar orang yang tak peduli, hingga lupa menghargai mereka yang selalu peduli."✨...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

asih

asih

Saya curiga kalàu niinis ini yg buat via JD obesitas dan membuat via tergila² ma vandra padahal aslinya DIA sendiri yg menginginkan vandra dan kekayaan via .. Karna DIA iri tuh ma via hidupnya enak di Manja ayahnya 😂😂😂
emang penyakit iri g Ada obatnya disini yg Jadi hantunya Nini 👻👻

2026-08-02

1

Anitha

Anitha

nah benar tebakan Vivian kalo si Ninis itu tidak tulus dan malah memanfaatkan kebaikanLevia,mungki n saja si Ninis yang ingin memiliki Vandra😄

2026-08-03

1

Uthie

Uthie

Wahhh.. makin seru menyimak nya 👍👍👍😍

dan penasaran nii sama si Ninis, jangan2 dia yg jadi bikin Via gendut dan malah bikin kapten semakin membencinya 🤨

2026-08-02

1

lihat semua
Episodes
1 1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2 2. Hidup Sebagai Levia
3 3. Levia yang Berbeda
4 4. Misi Mengubah Takdir
5 5. Senyum Penuh Kepalsuan
6 6. Firasat Seorang Ibu
7 7. Sebelum Keberangkatan
8 8. Di Ambang Perpisahan
9 9. Orang Asing di Ruang Tamu
10 10. Satu Tahun untuk Berubah
11 11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12 12.Tatapan yang Telah Hilang
13 13.Masakan Pertama Levia
14 14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15 15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16 16. Yang Datang Karena Khawatir
17 17. Malam yang Tak Terduga
18 18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19 19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20 20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21 21. Dulu, Bukan Sekarang
22 22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23 23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24 24. Niat Baik yang Palsu
25 25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26 26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27 27. Ayah yang Selalu Ada
28 28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29 29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30 30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31 31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32 32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33 33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34 34. Jangan Sampai Menyesal
35 35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36 36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37 37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38 38. Batas yang Mengubah Segalanya
39 39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40 40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41 41. Jarak yang Mulai Terasa
42 42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43 43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44 44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45 45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46 46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47 47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48 48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49 49. Di Balik Perubahan Levia
50 50. Foto yang Mengundang Curiga
51 51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52 52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53 53. Masih Istriku
54 54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55 55. Keraguan yang Terucap
56 56. Mulai Tertinggal
57 57. Sweet memories
58 58. Kesempatan yang Ditunggu
59 59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60 60. Pertanyaan yang Terlambat
61 61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62 62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63 63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64 64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65 65. Aku yang Mulai Tertinggal
66 66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67 67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68 68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69 69. Kepulangan Sang Kapten
70 70. Bukan Karena Kamu Berubah
71 71. Pulang ke Rumah Istri
72 72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73 73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74 74. Tak Lagi Yakin
Episodes

Updated 74 Episodes

1
1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut
2
2. Hidup Sebagai Levia
3
3. Levia yang Berbeda
4
4. Misi Mengubah Takdir
5
5. Senyum Penuh Kepalsuan
6
6. Firasat Seorang Ibu
7
7. Sebelum Keberangkatan
8
8. Di Ambang Perpisahan
9
9. Orang Asing di Ruang Tamu
10
10. Satu Tahun untuk Berubah
11
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
12
12.Tatapan yang Telah Hilang
13
13.Masakan Pertama Levia
14
14. Masakan Penuh Kasih Sayang
15
15. Perubahan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
16
16. Yang Datang Karena Khawatir
17
17. Malam yang Tak Terduga
18
18. Perubahan yang Membuatnya Ragu
19
19. Perubahan yang Membuatnya Bimbang
20
20. Saat Hati Mulai Takut Kehilangan
21
21. Dulu, Bukan Sekarang
22
22. Dulu Kau Mengejarku, Kini Aku Menunggumu
23
23. Kembali Menjadi Putri Ayah.
24
24. Niat Baik yang Palsu
25
25. Musuh yang Selama Ini Dipercaya.
26
26. Ketika Mimpi Mendapat Restu
27
27. Ayah yang Selalu Ada
28
28. Dulu Mengejar, Kini Dicari
29
29. Dulu Diabaikan, Kini Dirindukan
30
30. Ketika Vandra Mulai Bertanya
31
31. Bukan Lagi Perempuan yang Dulu
32
32. Ketika Orang Lain Melihat Kesempatan
33
33. Ketika Kesempatan Itu Kembali
34
34. Jangan Sampai Menyesal
35
35. Satu Telepon Setelah Tujuh Bulan.
36
36. Ketika Perhatian Berbalik Arah
37
37. Sesuatu yang Seharusnya Tak Ditemukan
38
38. Batas yang Mengubah Segalanya
39
39. Di Balik Ancaman yang Mendekat
40
40. Ketika Dia Tak Lagi Menunggu
41
41. Jarak yang Mulai Terasa
42
42. Ketika Rasa Penasaran Mulai Tumbuh
43
43. Yang Ingin Bebas, Kini Takut Kehilangan.
44
44. Ketika Brenda Mulai Diperhitungkan
45
45. Langkah Baru, Ancaman Lama
46
46. Peluang Baru dan Kecurigaan Lama
47
47. Gerak-Gerik yang Mulai Terbaca
48
48. Bukan Hanya Soal Kontrak
49
49. Di Balik Perubahan Levia
50
50. Foto yang Mengundang Curiga
51
51. Ketika Orang Lain Mulai Melihat Nilainya
52
52. Dulu Ingin Pergi, Kini Takut Kehilangan
53
53. Masih Istriku
54
54. Perubahan yang Mulai Terlihat
55
55. Keraguan yang Terucap
56
56. Mulai Tertinggal
57
57. Sweet memories
58
58. Kesempatan yang Ditunggu
59
59. Ketika Kecurigaan Menjadi Bukti
60
60. Pertanyaan yang Terlambat
61
61. Saat Ia Tak Lagi Menunggu
62
62. Saat Kepercayaan Memiliki Batas
63
63. Nama yang Mulai Diperhitungkan
64
64. Posisi yang Pernah Kutinggalkan.
65
65. Aku yang Mulai Tertinggal
66
66. Yang Kubenci Bukan Dirimu
67
67. Bukan Lagi Saingan yang Sama
68
68. Dulu Menunggumu, Kini Menunggu Jawabanmu
69
69. Kepulangan Sang Kapten
70
70. Bukan Karena Kamu Berubah
71
71. Pulang ke Rumah Istri
72
72. Kepulangan yang Tak Sesuai Bayangan
73
73. Ketika Jarak Tak Lagi Menjadi Alasan
74
74. Tak Lagi Yakin

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!