"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Bram cemas.
Dokter tersenyum tipis. "Secara fisik, tidak ada masalah yang serius. Kondisinya stabil. Hanya sedikit kelelahan karena hampir tenggelam. Saya telah memberikan beberapa obat dan menyarankan Nona banyak beristirahat."
Bram mengembuskan napas lega. "Syukurlah."
"Tapi..." Raut wajah dokter berubah sedikit serius.
Bram yang baru saja lega kembali menegang. "Kenapa, Dok?"
"Justru ada hal lain yang membuat saya heran," lanjut dokter.
Bram dan Herman saling berpandangan.
"Seumur saya menjadi dokter keluarga Bapak, baru kali ini Nona Levia mau diperiksa tanpa mengeluh."
"Hah?" Bram melongo.
"Biasanya baru melihat tas dokter saja beliau sudah cemberut."
Herman spontan mengangguk. "Itu memang benar, Dok."
Dokter tersenyum kecil. "Tadi Nona bahkan bertanya apakah dirinya mengidap penyakit akibat obesitas."
Bram tampak terkejut. "Via bertanya begitu?"
"Iya. Nona juga meminta saya menjelaskan pola makan yang sehat dan cara menurunkan berat badan."
Bram sampai mengerjapkan mata beberapa kali. "Itu... benar anak saya?"
"Belum selesai." Dokter terkekeh pelan. "Yang paling membuat saya terkejut, Nona juga bertanya tentang kesehatan Bapak."
Bram membeku. "Saya?"
"Iya. Nona bilang tidak ingin Bapak sakit dan ingin membantu menjaga kesehatan Bapak."
Bram tidak langsung menjawab. Dadanya mendadak terasa sesak. Bukan karena sakit. Melainkan karena haru. Sudah bertahun-tahun ia menunggu putrinya memerhatikan dirinya, bukan hanya Vandra.
Ia menoleh pada Herman dengan mata berkaca-kaca. "Her, akhirnya putriku peduli padaku."
Herman mengangguk dengan seutas senyuman. "Selamat, Pak."
Dokter menepuk pelan bahu Bram. "Pak Gultom. Saya tidak tahu apa yang terjadi setelah kejadian di sungai tadi. Tapi kalau memang pengalaman itu membuat Nona Levia berubah menjadi lebih dewasa..." Dokter tersenyum hangat. "...bukankah itu kabar yang patut disyukuri?"
Bram menunduk. Sudut matanya mulai memanas. "Iya...."
Suaranya lirih. "Saya hanya takut perubahan ini tidak bertahan lama."
Dokter mengangguk pelan. "Jangan terburu-buru menyimpulkan apa pun. Untuk sementara, jangan tekan Nona dengan pertanyaan tentang kejadian tadi. Biarkan Nona beristirahat. Kalau memang ini awal perubahan yang baik, tugas kita adalah mendukungnya."
Bram menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. "Terima kasih, Dok."
Saat Herman mengantar dokter, Bram menoleh ke arah pintu kamar putrinya yang masih tertutup.
Di dalam hatinya ia berdoa, "Kalau memang ini kesempatan kedua untuk Via... semoga kali ini dia benar-benar menemukan kebahagiaannya."
Bram akhirnya mengangkat tangan dan mengetuk pintu kamar putrinya.
Tok. Tok.
Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Yah, ada apa?" tanya Vivian yang kini hidup sebagai Levia.
Bram tersenyum tipis, lalu menyodorkan sebuah ponsel. "Ini. Tadi ponselmu dititipkan Bu Ratih ke Pak Herman."
Levia menerimanya. "Terima kasih, Yah."
Bram mengangguk. "Kalau ada apa-apa, bilang sama Ayah."
"Iya, Yah."
"Kalau begitu Ayah ke ruang kerja dulu."
"Iya."
Namun Bram tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan pintu, seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapannya penuh keraguan. Ia masih belum terbiasa melihat putrinya yang mendadak berubah begitu drastis.
"Masih ada yang ingin Ayah bilang?" tanya Levia.
Bram tersenyum kecil. "Enggak. Kamu istirahat saja."
Meski masih berat hati, akhirnya ia berbalik dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Levia memerhatikan punggung pria itu hingga menghilang di balik belokan lorong.
"Aneh juga...."
Ia mengangkat kedua bahunya pelan, lalu menutup pintu kamar.
Begitu ponsel diarahkan ke wajahnya, layar langsung menyala. Kunci layar terbuka otomatis melalui pengenalan wajah.
Namun, yang pertama kali menyambutnya bukan deretan aplikasi, melainkan wajah Kapten Arvandra Jayasena yang memenuhi layar.
Vivian sampai berkedip beberapa kali.
"Serius?" Ia mendekatkan ponsel ke wajahnya. "Orang itu lagi."
Tatapan Vandra yang dingin seolah sedang menatap balik ke arahnya.
Vivian menggeleng pelan. "Segitunya, ya...."
Baru setelah itu pandangannya beralih ke deretan aplikasi di layar. Matanya langsung berhenti pada ikon mobile banking.
"Mari kita lihat... seberapa kaya sebenarnya Levia."
Ia menekan ikon aplikasi tersebut. Layar meminta kata sandi.
"Hm...." Levia berpikir sejenak. "Kalau melihat tingkat obsesinya... Jangan-jangan..."
Ia memasukkan tanggal lahir Vandra.
Klik.
Aplikasi langsung terbuka.
Levia membelalak. "Astaga...."
Jumlah saldo yang terpampang membuatnya terdiam beberapa saat.
Rp18.742.000.000.
"Hampir sembilan belas miliar?" Ia menelan ludah. "Levia... ternyata kamu bukan cuma bucin. Tapi juga tajir."
Ia buru-buru melihat mutasi rekening. Tak ada transaksi mencurigakan.
Sebagian besar hanya transfer dari perusahaan milik Bram Gultom, keuntungan investasi, dan bunga deposito.
"Syukurlah."
Setelah merasa sedikit tenang, Levia membuka galeri. Detik berikutnya, sudut bibirnya langsung berkedut.
Foto Vandra. Foto Vandra lagi. Masih foto Vandra. Sebagian besar diambil diam-diam dari kejauhan.
Ada saat Vandra sedang latihan. Sedang membaca buku. Sedang minum. Bahkan sedang mengikat tali sepatu pun ada.
"Ya ampun...."
Ia menemukan sebuah album khusus. Isinya ratusan foto candid Vandra.
Levia bergidik. "Astaga... segininya?"
Ia memejamkan mata sambil memijat pelipis. "Levia... kamu sudah di level mengkhawatirkan. Stadium akhir. Pantesan sampai bunuh diri cuma karena mau diceraiin."
Tanpa berpikir panjang, ia mengganti wallpaper bergambar Vandra dengan foto langit biru yang tersimpan di galeri. Ponsel kemudian diletakkannya di atas meja.
Levia menatap bayangannya sendiri di cermin. Tatapannya kini jauh lebih mantap.
"Mulai hari ini... Levia yang baru gak bakal ngejer Kapten Arvandra Jayasena." Ia mengepalkan kedua tangan. "Misi pertamaku... menyelamatkan hidup Levia."
Lalu ia tersenyum tipis. "Dan misi berikutnya... Menjadi desainer terbaik di dunia ini."
Tok. Tok. Tok.
"Non, saya masuk, ya."
Pintu kamar perlahan terbuka.
Vivian menoleh.
Seorang gadis berusia sekitar dua puluh lima tahun melangkah masuk sambil membawa nampan. Di atasnya tersusun sepotong black forest, beberapa donat dengan berbagai macam toping, dan segelas cokelat hangat dengan krim tebal. Gadis itu tersenyum ramah.
"Nona jangan sedih terus.Katanya makanan manis bisa bikin mood lebih baik. Ini makanan kesukaan Nona."
Vivian spontan menelan ludah. "Astaga... Kalori semua."
Begitu melihat wajah gadis itu, sepotong ingatan kembali menyerbu kepalanya.
Ninis.
Anak pembantu yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah keluarga Gultom.
Sejak kecil, Levia selalu menganggap Ninis sebagai saudara sendiri. Apa pun yang dimilikinya, hampir selalu ia bagi dengan gadis itu.
Namun...
Satu kenangan lain tiba-tiba muncul.
>"Kalau Kak Vandra tetap nolak, ya bikin saja dia bertanggung jawab. Yang penting nanti kalian menikah dulu. Perasaan bisa datang belakangan."
Vivian membeku. "Bukankah.. Ide menjebak Vandra itu berasal dari Ninis?"
Ia perlahan mengangkat kepala. Tatapannya berhenti pada senyum manis gadis itu.
"Aku gak tahu kenapa... senyum gadis ini gak terlihat setulus yang aku bayangin."
...✨"Perubahan sejati dimulai ketika kita berhenti mengejar seseorang dan mulai memperbaiki diri sendiri."...
..."Jangan terlalu sibuk mengejar orang yang tak peduli, hingga lupa menghargai mereka yang selalu peduli."✨...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 74 Episodes
Comments
asih
Saya curiga kalàu niinis ini yg buat via JD obesitas dan membuat via tergila² ma vandra padahal aslinya DIA sendiri yg menginginkan vandra dan kekayaan via .. Karna DIA iri tuh ma via hidupnya enak di Manja ayahnya 😂😂😂
emang penyakit iri g Ada obatnya disini yg Jadi hantunya Nini 👻👻
2026-08-02
1
Anitha
nah benar tebakan Vivian kalo si Ninis itu tidak tulus dan malah memanfaatkan kebaikanLevia,mungki n saja si Ninis yang ingin memiliki Vandra😄
2026-08-03
1
Uthie
Wahhh.. makin seru menyimak nya 👍👍👍😍
dan penasaran nii sama si Ninis, jangan2 dia yg jadi bikin Via gendut dan malah bikin kapten semakin membencinya 🤨
2026-08-02
1