Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Tara lalu menoleh ke arah Sarif yang sedang membaca berkas di sofa. "Bang..."
"Hm?"
"Kalau uangnya aku habiskan gimana?"
Sarif bahkan tidak mengangkat kepala. "Berarti sebulan kita makan nasi jatah."
Tara langsung duduk tegak. "Nasi yang bau itu?"
Sarif akhirnya menoleh sambil menahan senyum. "Iya."
Tara terlihat ngeri.."Aku nggak mau!"
Sarif tertawa kecil melihat reaksi istrinya..Memang beberapa waktu lalu Tara pernah mencium aroma nasi jatah yang dibawa beberapa anggota dari dapur umum. Menurutnya tidak buruk, tetapi aroma khasnya cukup berbeda dari nasi yang biasa dimasak Bu Nina di rumah.
Tara langsung memeluk ATM itu erat-erat. "Nggak jadi. Aku akan menjaga uang ini dengan segenap jiwa dan raga."
"Bagus."
"Aku akan membuat laporan keuangan."
Sarif mengangguk. "Silakan."
"Aku akan buat tabel. Pokoknya aku akan jadi bendahara terbaik." Tara menyipitkan mata. "Abang kok jawabnya silakan terus?"
"Karena uangnya memang sudah kuserahkan ke bendahara."
Tara langsung tertawa..Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah serius. "Bang. Kalau aku berhasil hemat, ada bonus nggak?"
Sarif mengangkat alis.."Bonus apa?"
Tara tersenyum lebar. "Makan di luar."
Sarif terkekeh. "Boleh."
Mata Tara langsung berbinar.."Nah, ini baru motivasi kerja." Sejak malam itu, Tara benar-benar menjaga keuangan rumah tangga dengan penuh semangat. Setiap kali tergoda membeli sesuatu yang tidak perlu, ia langsung teringat ancaman nasi jatah. Dan entah mengapa, bayangan nasi jatah itu jauh lebih ampuh daripada nasihat pengelolaan keuangan mana pun. Baginya, hidup hemat masih menyenangkan. Tapi hidup hemat sambil makan nasi yang menurutnya beraroma aneh? Tidak, terima kasih. Itu sebabnya, selama berbulan-bulan berikutnya, Sarif sering mendapati istrinya begitu teliti menghitung pengeluaran rumah tangga, seolah sedang menjalankan operasi penyelamatan ekonomi keluarga.
Tinggal di lingkungan asrama membuat Tara melihat kehidupan keluarga prajurit dari sudut pandang yang berbeda. Di balik barisan rumah dinas yang rapi dan para prajurit yang selalu tampak gagah mengenakan seragam loreng, ada banyak keluarga yang hidup dengan sederhana.
Gaji prajurit digunakan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, tabungan, hingga berbagai keperluan rumah tangga. Karena itu, para istri terbiasa hidup hemat dan pandai mengatur keuangan. Tidak sedikit yang memiliki usaha kecil-kecilan seperti berjualan makanan, menjahit, membuka warung, atau menerima pesanan kue untuk membantu menambah penghasilan keluarga. Dari mereka, Tara belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari besarnya gaji, melainkan dari kemampuan bersyukur dan saling mendukung dalam rumah tangga.
Tara menyadari bahwa dirinya termasuk beruntung. Selain berstatus sebagai perwira dokter, penghasilan Sarif relatif lebih baik dibandingkan banyak prajurit lain di satuannya. Di luar pekerjaannya sebagai anggota TNI, keluarga Sarif juga memiliki beberapa usaha yang telah dirintis sejak lama.
Namun, karena padatnya jadwal dinas, Sarif hampir tidak memiliki waktu untuk mengurus usaha-usaha tersebut secara langsung. Selama ini, pengelolaannya lebih banyak dibantu oleh keluarga dan orang-orang kepercayaannya.
Meski begitu, keadaan tersebut tidak pernah membuat Sarif hidup berlebihan. Ia tetap menjalani kehidupan dengan sederhana, sebagaimana nilai yang ditanamkan keluarganya sejak kecil. Sikap itulah yang membuat Tara semakin menghormati suaminya. Ia tidak pernah melihat Sarif membanggakan pangkat, jabatan, ataupun harta yang dimilikinya.
Justru yang lebih sering ia dengar adalah nasihat agar rezeki dikelola dengan bijak, tidak boros, dan selalu disyukuri. Tara pun bertekad untuk tidak terlena dengan kenyamanan yang kini ia rasakan. Ia tidak ingin lupa bahwa di sekelilingnya masih banyak keluarga prajurit yang berjuang dengan penuh kesederhanaan, dan ia berharap bisa terus belajar hidup rendah hati serta menggunakan setiap rezeki yang mereka miliki untuk hal-hal yang bermanfaat bagi keluarga maupun orang lain.
Salah satu hal yang paling disyukuri Tara sejak tinggal di lingkungan asrama adalah kehangatan para ibu Persit di sekitarnya. Sebagai pendatang baru yang masih belajar beradaptasi, ia sempat khawatir akan merasa canggung.
Namun, kekhawatiran itu perlahan menghilang karena para ibu menyambutnya dengan begitu ramah. Mereka tidak segan mengajari Tara berbagai hal, mulai dari kebiasaan di lingkungan satuan, tata cara mengikuti kegiatan organisasi, hingga hal-hal sederhana yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Jika Tara bingung mengurus suatu administrasi atau lupa jadwal kegiatan, selalu ada saja yang dengan sabar mengingatkan dan membimbingnya tanpa membuatnya merasa malu.
Tidak hanya itu, budaya saling berbagi juga terasa begitu kental. Hampir setiap minggu ada saja ibu yang mengetuk pintu rumah dinas sambil membawa semangkuk sayur, sepiring gorengan yang baru matang, semur, opor, atau kue buatan sendiri. Mereka datang bukan karena diminta, melainkan karena sudah terbiasa saling memperhatikan. Kadang setelah memasak, mereka sengaja membuat porsi lebih banyak untuk dibagikan kepada tetangga.
Tara yang awalnya sungkan menerima akhirnya ikut terbiasa. Jika ia memasak rendang, ayam kecap, atau membuat kue hasil belajar dari ibunya, ia pun membalas dengan membagikannya kepada rumah-rumah di sekitar. Sedikit demi sedikit, hubungan mereka terasa seperti keluarga besar. Tidak ada rasa sungkan untuk saling membantu ketika ada yang sakit, ada suami yang sedang bertugas keluar daerah, atau ada keluarga yang membutuhkan pertolongan.
Kehangatan itulah yang membuat Tara tidak lagi merasa jauh dari kampung halamannya. Ia menemukan keluarga baru di lingkungan asrama, tempat para istri prajurit saling menguatkan, saling berbagi, dan membuktikan bahwa kebersamaan sering kali lahir dari perhatian-perhatian kecil yang dilakukan dengan tulus.
Beberapa bulan setelah menikah, Tara mulai benar-benar memahami arti kalimat yang dulu sering diucapkan Sarif, "Kalau ada tugas, jangan tunggu aku pulang cepat." Ada hari-hari ketika Sarif bisa makan siang di rumah. Namun ada pula masa-masa ketika ia hampir tidak pernah meninggalkan klinik batalyon karena seluruh tenaga kesehatan harus bekerja ekstra.
Saat itu, satu kompi baru saja kembali dari penugasan pengamanan. Meski sebagian besar anggota kembali dalam keadaan selamat, tidak semuanya pulang dengan kondisi yang sama seperti saat berangkat. Ada yang mengalami cedera akibat latihan dan mobilisasi, ada yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan setelah bertugas di lapangan, dan ada pula yang mengalami trauma akibat insiden yang mereka alami selama operasi.
Sejak pagi, Sarif bersama tim kesehatan batalyon nyaris tidak memiliki waktu beristirahat. Ia memimpin pemeriksaan kesehatan, mengevaluasi kondisi setiap prajurit, memastikan korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut segera mendapat tindakan, sekaligus mengoordinasikan ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis lapangan agar selalu siap digunakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan kembali. Di sela-sela kesibukan itu, ia juga harus berdiskusi dengan tenaga medis lain mengenai proses pemulihan beberapa anggota yang memerlukan pendampingan lebih lama.
Menjelang siang, Tara datang ke klinik batalyon sambil membawa rantang berisi makan siang. Ia mengintip dari balik pintu.