Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Bukan hanya kamu yang menderita

Hari-hari berikutnya berjalan dalam rutinitas yang membunuh rasa. Rumah dua lantai berdesain modern itu terasa seperti sangkar kaca yang megah namun terasa dingin.

Fadil menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, pergi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit dan pulang larut malam ketika seluruh rumah sudah dalam keadaan gelap.

Jika tak sengaja berpapasan di lorong atau meja makan, percakapan mereka terbatas pada hal-hal mendasar yang disampaikan dengan nada dingin dan lugas.

Hingga suatu sore, ketika hujan deras mengguyur ibu kota dan guruh bersahut-sahutan di udara, bel pintu depan berbunyi nyaring secara berturut-turut.

Aura yang sedang melipat pakaian di ruang tengah langsung tersentak. Ia mengeringkan jemarinya dan melangkah menuju pintu utama. Saat gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, napas Aura langsung tercekat di tenggorokan.

Di bawah naungan teras yang basah oleh cipratan air hujan, tengah berdiri seorang pria dengan pakaian yang setengah basah kuyup. Wajahnya yang biasa hangat kini tampak tirus, dengan lingkaran hitam pekat mengelilingi matanya yang menyiratkan keputusasaan yang mendalam.

"Farhan..." bisik Aura dengan suara yang bergetar, lalu mundur setengah langkah karena terkejut.

"Aura," suara Farhan yang terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Tangannya meraih bingkai pintu, dan menatap Aura dengan sorot mata yang hampa dan hancur. "Tolong... beri aku waktu lima menit. Jangan usir aku, Ra. Tolong."

Aura mengepalkan tangannya di balik pintu, dadanya bergemuruh hebat menyaksikan pria yang di cintainya kini ada di hadapannya. "Farhan, kamu tidak boleh ke sini. Tempat ini... aku sudah—"

"Kenapa, Ra?!" potong Farhan, suaranya meninggi menembus suara gemuruh hujan, menyiratkan rasa sakit yang menumpuk selama berhari-hari. "Kenapa kamu melakukan ini padaku?! Kamu mematikan ponselmu, kamu menghilang dari rumahmu, dan saat aku menemukanmu, kamu... kamu sudah menjadi istri pria lain! Katakan padaku, Ra! Apa salahku?! Apa janji-janji kita selama ini sama sekali tidak ada artinya buat kamu?!"

DUARR!!

Air mata yang dipendam Aura sejak beberapa hari lalu kembali menetes. "Farhan, ini tidak sesederhana yang kamu bayangkan... Ada alasan yang tidak bisa aku jelaskan."

"Alasan apa yang bisa membenarkan kamu mengkhianati cinta kita, Aura?!" Balas Farhan sambil melangkah maju, lalu jemarinya yang dingin meraih pergelangan tangan Aura dengan erat. "Ikut aku sekarang. Kita bicarakan ini baik-baik. Aku tau kamu tidak mencintai pria itu! Dengar aku, Ra..."

"Lepaskan tangannya!"

Tiba-tiba sebuah suara berbariton tinggi dan sarat akan ancaman menggelegar dari arah jalan setapak teras.

Aura dan Farhan tersentak bersamaan. Di sana, di bawah payung hitam yang dipegang pengemudinya, Fadil berdiri tegap dengan kemeja kerja yang masih rapi. Matanya tajam menyapu pemandangan di hadapannya dengan amarah yang meledak seketika.

Fadil melangkah lebar menerobos hujan dan menepis kasar tangan Farhan dari pergelangan tangan Aura, lalu menarik tubuh Aura ke belakang punggungnya dengan gerakan protektif yang dingin.

"Mas Fadil..." cicit Aura panik, saat merasakan ketegangan luar biasa dari otot-otot bahu pria di hadapannya.

"Siapa kamu berani-beraninya menyentuh istriku di rumahku sendiri?!" bentak Fadil, seraya menatap Farhan dengan sorot mata yang mengintimidasi.

Farhan mengusap air hujan di wajahnya, dan tidak mundur sedikit pun. Ia menatap Fadil dengan keberanian yang terlahir dari keputusasaannya. "Aku pria yang seharusnya menikah dengannya tahun ini! Kamu mengambilnya secara paksa, Fadil! Kamu memanfaatkan situasi ini untuk mengorbankan masa depan Aura!"

"Heh!" Fadil terkekeh sinis, sebuah tawa gelap yang membuat suasana makin mencekam. Ia lalu maju satu langkah dan menantang Farhan. "Mengambilnya secara paksa? Tanya pada wanita di belakangku ini. Dia yang secara sukarela mengenakan gaun pengantin itu, duduk di meja akad, dan mengucap janji di hadapan Tuhan untuk menjadi istriku. Dia memilih kehormatan keluarganya dibanding dirimu."

Kalimat Fadil bagaikan belati yang merobek dada Farhan. Farhan lalu menatap Aura dari balik bahu Fadil, seakan mencari bantahan di mata wanita itu. Namun, Aura hanya bisa menunduk dalam tangisnya yang pecah tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

"Pergi dari rumahku sekarang," ancam Fadil dengan suara yang rendah namun terdengar mematikan. "Sebelum aku memanggil keamanan kompleks untuk menyeretmu keluar secara kasar. Dan ingat, Farhan... sekali lagi kamu mendekati Aura atau mengganggu ketenangan keluargaku, aku pastikan kariermu dan namamu hancur di kota ini."

Farhan mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan menahan amarahnya. Ia lalu menatap Aura sekali lagi dengan pandangan yang penuh kecewa, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi menembus lebatnya hujan tanpa menoleh lagi.

"Farhan..." batin Aura seraya menatap kepergian belahan jiwanya itu.

Saat bersamaan, Fadil langsung berbalik dan mencengkram lengan Aura dengan cukup kuat hingga wanita itu meringis. Pria itu menyeret Aura masuk ke dalam rumah dan membanting pintu depan hingga berdentum keras.

BAM!!

"Sudah kubilang, jangan pernah buat keributan!" bentak Fadil, napasnya memburu di ruang tamu. "Kamu sengaja memanggilnya ke sini untuk mempermalukanku, Aura?!"

"Aku tidak pernah memanggilnya, Mas!" jerit Aura sambil melepaskan cengkraman Fadil dari lengannya. "Dia datang sendiri! Aku bahkan tidak tau dia tau rumah ini!"

"Tapi kamu membiarkannya menyentuhmu! Kamu membiarkannya berdiri di depan pintu rumahku!" suara Fadil menggelegar.

"Karena aku merasa bersalah, Mas!" tangis Aura pecah, matanya menatap Fadil dengan keteguhan di antara derai air mata. "Aku menghancurkan hidupnya! Aku merenggut kebahagiaannya demi menyembunyikan kebusukan rahasia keluargamu dan keluargaku! Kamu pikir cuma kamu yang terluka di sini?! Kamu pikir cuma kamu yang menderita?!"

Fadil terpaku sejenak. Kata-kata Aura menghantam dinding pertahanan amarahnya. Pria itu menatap wajah Aura yang basah oleh air mata, dan dada wanita itu yang naik-turun karena menahan sesak atas kesedihannya.

Untuk pertama kalinya, Fadil melihat betapa dalamnya luka yang ditanggung oleh wanita yang selama ini ia anggap sebagai 'pelaku' dalam skenario ini.

Fadil kemudian melepaskan pandangannya, dan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, lalu berbalik membelakangi Aura.

"Masuk ke kamarmu," ucap Fadil, suaranya kembali dingin meski ketegangannya telah memudar. "Jangan pernah biarkan pria itu menginjakkan kaki di rumah ini lagi."

Bersambung...

1
sunaryati jarum
Makin harmonis,semoga damai selalu kedepannya, Kesya juga dapat jodoh yang mau menerima keadaannya
sunaryati jarum
Semoga apa yang menjadi keyakinan Aura tentang Farhan,benar
sunaryati jarum
Alhamdulillah Farhan sudah move on dari Aura, semoga menjadi keluarga yang harmonis
sunaryati jarum
Ana- ana wae ngidamnya Aura
Aurora: xixixi... untung suaminya Siaga dan sayang benget 🤗😃
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
🤣🤣kelamaan pakai jubah, bisa² jadi Fadil panggang😅😅
Aurora: Wkwkkw... bisa jadi bisa jadi😅🤣🤣
total 3 replies
sunaryati jarum
🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Selamat untuk kalian kabar ini yang emak tunggu, semoga sehat kamu Nak Aura dan janinmu
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... buah cinta yang ditunggu telah hadir membawa kebahagiaan mereka berdua dan seluruh keluarga besar😊
𝐀⃝🥀Weny
selamat untuk kalian.. jaga kandunganmu ya Aura 😊
Aurora: ok sip, dengan setiap dukunganmu aku selalu bersemangat 😅😅😃🤗
total 7 replies
𝐀⃝🥀Weny
itulah buah dari kesabaran dan keikhlasan😊sekarang memetik kebahagiaan 😊
Aurora: yes ituuu.
total 3 replies
sunaryati jarum
Semoga bulan madunya menyenangkan ,dan request emak dikabulkan
sunaryati jarum
Semoga segera ada kabar baik untuk Aura,ada benih Nak Fadil yang sedang tumbuh di rahimnya
𝐀⃝🥀Weny
thor kenapa mengiris bombai di depanku sih🥹😭😭😭
sunaryati jarum: Bukan sedih tapi terhura
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor up lagi sangu turu😅😅😅
sunaryati jarum
Tindakan kamu sudah benar demi hati Aura,dan kesembuhan ingatan Kesys
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... semoga Keisya menerima kenyataan bahwa Fadil memang bukan tunangannya lagi 😊
Aurora: bisa jadi bisa jadi 😃
total 7 replies
falea sezi
heleh prettt trauma🤣
falea sezi
bukan polos tp goblokkk si aura🤣🤣 g usa debat emank. goblok ngapain ngurusin anak kakk nya wong kakk mu aja bangke
sunaryati jarum
Waduh ,ingatan Kesya cuma Fadil dan mau menikah sebulan lagi.Padahal sudah hampir satu tahun.Untung Fadil sudah teguh dan membentengi diri tidak ada cinta lagi pada Kesya
𝐀⃝🥀Weny
wah waaaah... bahayaaaa, untung aja Fadil sudah punya prinsip🤭
Aurora: wkwkwk... boleh deh😅😅🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!