Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Reyhan berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati meja VIP tempat Arif dan Shinta duduk.
"Kalung seindah itu hanya pantas dipakai oleh wanita paling sempurna sepertimu, Shinta," ucap Reyhan sok romantis.
"Bukan begitu... pengawal udik?" sindir Reyhan menatap Arif penuh ejekan dan tatapan merendahkan.
"Kau yang di kampus mengaku sebagai tunangannya, kenapa sekarang kau diam saja seperti patung?"
"Oh, aku lupa, kau kan cuma orang miskin yang numpang makan gratis di rumah Keluarga Liem."
Hahaha.
Tawa ejekan dari anak buah Reyhan dan beberapa kerabat Keluarga Kusuma langsung terdengar menyahuti hinaan tersebut.
Shinta mengepalkan tangannya di bawah meja menahan amarah melihat Arif direndahkan di depan banyak orang.
"Jaga mulut kotor mu Reyhan! Kalau aku mau, aku bisa membelinya sendiri!" bentak Shinta bersiap mengangkat papan lelangnya.
Namun tangan Arif dengan cepat menahan tangan gadis itu agar tetap di bawah meja.
Arif berdiri dari kursinya dengan sangat tenang, membuat suasana meja itu tiba-tiba menjadi hening.
"Barang murah seperti itu kau banggakan sebagai hadiah untuk calon istriku?" suara Arif terdengar berat dan sangat meremehkan.
Arif mengangkat tangan kanannya dengan santai dan menyebutkan angka yang membuat seluruh ballroom membeku.
"Seratus miliar."
Prang!
Gelas anggur di tangan Hermawan jatuh pecah berantakan ke lantai saking terkejutnya pria paruh baya itu.
"S-seratus miliar?!" jerit pembawa acara wanita itu dengan suara bergetar nyaris pingsan.
Mata Reyhan melotot nyaris copot menatap wajah santai Arif yang baru saja menyebutkan angka mustahil tersebut.
"Kau gila! Kau pasti cuma asal sebut harga untuk mencari sensasi kan?!" teriak Reyhan menuding wajah Arif panik.
"Panitia! Cek saldo orang gila ini! Dia pasti penipu yang mau mengacaukan acara lelang amal kita!" tuntut Reyhan berteriak pada petugas keamanan.
Beberapa petugas keamanan dan ketua panitia lelang bergegas berlari menghampiri meja Arif.
"Maaf Tuan, sesuai peraturan lelang, tawaran di atas lima puluh miliar harus diverifikasi kemampuan bayarnya secara langsung," ucap ketua panitia sopan tapi ragu.
Shinta mulai panik dan memegang erat ujung jas Arif dengan tangan gemetar.
Dia tahu Arif memang memegang kartu hitam milik ayahnya, tapi limit kartu itu bulan ini hanya sisa tiga puluh miliar.
"Udik, apa yang kau lakukan? Kartu hitam ayahku tidak akan cukup membayar itu," bisik Shinta panik dan takut Arif dipermalukan.
Namun Arif sama sekali tidak terlihat panik, dia tersenyum menenangkan ke arah gadis itu.
Arif merogoh saku dalam jas tuxedonya dan mengeluarkan sebuah kartu logam berwarna emas gelap.
Di atas kartu itu terdapat ukiran naga menelan matahari yang terlihat sangat kuno namun memancarkan kemewahan mutlak.
Itu adalah Kartu Naga Akasa, kartu akses dana darurat tanpa batas yang dipegang oleh pemimpin Biro Akasa.
Trak.
Arif melempar kartu emas itu ke atas meja tepat di depan ketua panitia lelang.
"Gesek saja di mesinmu, dan sekalian potong seratus lima puluh miliar untuk uang tip kalian," perintah Arif dengan nada bosan.
Ketua panitia itu mengambil kartu logam berat itu dengan tangan gemetar dan keringat dingin.
Dia berlari ke meja administrasi dan memasukkan kartu itu ke mesin verifikasi khusus perbankan internasional tingkat VVIP.
Tiiit. Tiiit.
Layar mesin verifikasi itu tiba-tiba menyala hijau terang dengan logo bank sentral dunia muncul di layarnya.
"V-verifikasi berhasil... saldo tidak terbatas!" teriak ketua panitia itu lewat mikrofon saking syoknya melihat layar mesin.
Ledakan keterkejutan yang jauh lebih besar langsung memenuhi seluruh ruangan hotel mewah tersebut.
Reyhan mundur dua langkah dengan tatapan kosong hingga tubuhnya menabrak kursi di belakangnya.
Bruk.
Kakinya lemas tidak bertulang melihat kenyataan yang baru saja menghancurkan kewarasan dan kesombongannya.
Hermawan berlari menghampiri putranya dengan wajah pucat pasi seperti mayat hidup.
Pemuda yang mereka kira gembel miskin ternyata memiliki kartu tingkat dewa yang bahkan seluruh konglomerat Jakarta tidak akan sanggup memilikinya.
Arif berjalan memutar meja dan berdiri tepat di hadapan Reyhan yang sedang gemetar ketakutan.
"Kau masih mau menawar kalung itu, Tuan Muda Kusuma?" ejek Arif menyeringai sangat dingin.
"Atau kau mau menangis memanggil papamu lagi seperti anak balita yang kehilangan mainannya?"
Reyhan tidak bisa menjawab, bibirnya bergetar hebat dan nafasnya tersengal-sengal menahan rasa malu yang membakar harga dirinya.
Hermawan buru-buru menarik lengan putranya dan membungkuk dalam-dalam ke arah Arif.
"M-maafkan kelancangan putra saya Tuan! Kami sama sekali tidak bermaksud menyinggung Anda!" ucap Hermawan membuang gengsinya.
"Bawa anak manjamu ini pergi dari pandanganku sebelum aku berubah pikiran dan membeli perusahaanmu malam ini juga," ancam Arif dengan suara pelan namun mematikan.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Hermawan menyeret Reyhan keluar dari ballroom dengan tergesa-gesa diiringi tatapan merendahkan dari seluruh tamu.
Tuan Muda yang berniat mempermalukan orang lain itu kini keluar seperti anjing yang ketakutan.
Ketua panitia berlari kembali ke meja Arif dan mengembalikan Kartu Naga Akasa itu dengan kedua tangan yang bergetar penuh hormat.
"I-ini kartu Anda Tuan, dan kalung Air Mata Samudra akan segera kami bungkus untuk Anda," ucap ketua panitia itu.
Arif menerima kartunya dan memasukkannya kembali ke dalam saku jas.
"Tidak usah dibungkus, pakaikan saja langsung ke leher calon istriku," perintah Arif santai.
Dua petugas membawa kalung berlian biru itu dan dengan sangat hati-hati memakaikannya ke leher jenjang Shinta.
Kilau berlian biru itu terlihat sangat sempurna berpadu dengan gaun malam safir yang dipakai gadis tersebut.
Shinta mematung menatap pantulan dirinya di layar kaca ponselnya, dia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Pemuda yang sering dia panggil udik ini baru saja menghabiskan seratus lima puluh miliar tanpa berkedip sedikit pun untuk melindunginya.
"K-kau... uang sebanyak itu dari mana?" tanya Shinta terbata-bata menatap Arif dengan mata berkaca-kaca campur aduk.
"Guruku meninggalkan sedikit uang saku untukku bertahan hidup di ibu kota," bohong Arif tersenyum geli.
"Sedikit uang saku kau bilang?!" protes Shinta tak percaya, tapi senyum manis akhirnya merekah di bibirnya.
Malam itu, di bawah tatapan kagum dan iri dari ratusan pasang mata, Arif menggandeng tangan Shinta keluar dari ballroom bagaikan seorang pangeran sejati.
Pertunjukan pamer harta Keluarga Kusuma telah dihancurkan rata dengan tanah tanpa sisa.
Namun, Arif tahu persis karakter orang serakah seperti Hermawan Kusuma.
Mereka tidak akan berhenti hanya karena dipermalukan di depan umum, mereka pasti akan membalas dendam lewat jalur gelap.
Dan saat mereka melakukannya, Arif sudah menyiapkan neraka yang sebenarnya untuk menyambut mereka.