Mayor Aris adalah definisi komandan militer sempurna: tegas, seram, dan disiplin tinggi. Di markas, bisikan namanya saja sudah cukup membuat para prajurit gemetaran. Namun, reputasi "Mayor Galak" itu mendadak runtuh setiap kali ia berhadapan dengan Mayang—gadis pintar, super periang, centil, jujur, polos, sekaligus ceroboh tingkat dewa.
Sifat Mayang yang berbanding terbalik 180 derajat dengan Aris membuat hari-hari sang Mayor tak pernah tenang. Dari tingkah Mayang yang blak-blakan menggoda Aris di depan anak buahnya, hingga kecerobohan manis yang selalu sukses memicu kepanikan sang Mayor. Di balik keusilannya, kejujuran dan kepolosan Mayang justru menjadi tempat Aris melupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Kabar Buruk dari Lereng Gunung
BAB 7: Kabar Buruk dari Lereng Gunung
Hari keempat sejak Batalyon berangkat ke hutan latihan, hujan deras mengguyur kota dan wilayah pegunungan sekitarnya tanpa henti sejak dini hari.
Langit tertutup awan hitam pekat, membawa angin kencang yang membenturkan ranting-ranting pohon mahoni di sepanjang jalan kompleks.
Di rumah bernuansa krem, Mayang duduk di sofa ruang tamu dengan gelisah.
Televisi yang menyala di depannya menyiarkan berita cuaca ekstrem yang melanda wilayah pegunungan lokasi yang persis menjadi tempat latihan Mayor Aris dan pasukannya.
"Diberitakan, badai angin dan curah hujan tinggi memicu tanah longsor kecil di lereng Pegunungan Selatan. Jaringan komunikasi di beberapa titik dilaporkan terputus total..." suara pembawa berita di televisi terdengar samar-samar di antara deru hujan di luar.
Mayang meremas ujung bantal sofa di pangkuannya.
Kacamatanya yang agak miring memantulkan cahaya layar televisi. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Mayor Aris, keceriaan yang biasanya meluap-luap dari wajah Mayang lenyap, berganti dengan rasa cemas yang menghimpit dada.
"Mbak Rina..." panggil Mayang dengan suara pelan saat Mbak Rina melangkah masuk dari dapur membawa cangkir teh hangat.
Mbak Rina menatap adiknya, lalu menghela napas panjang melihat wajah Mayang yang pucat.
Ia meletakkan cangkir di meja dan duduk di samping Mayang, mengelus bahu gadis itu lembut.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, Mayang. Pak Mayor itu perwira terlatih. Pasukannya juga sudah terbiasa dengan medan berat," bujuk Mbak Rina mencoba menenangkan.
"Tapi Mbak... di berita bilang sinyalnya putus total. Terus ada longsor kecil," gumam Mayang, matanya tak lepas dari layar televisi.
"Mas Mayor kan paling suka sok kuat. Nanti kalau beliau kedinginan atau ketindihan ranting pohon bagaimana?"
Mbak Rina terkekeh tipis, walau raut cemas di matanya juga tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Pak Mayor itu manusia besi, Mayang. Kamu pikir beliau seperti kamu yang gampang tersandung angin?"
Meskipun Mbak Rina berusaha mencairkan suasana, dada Mayang tetap merasa tidak tenang. Firasat aneh terus bergetar di dalam hatinya.
Sementara itu, jauh di lereng pegunungan yang diguyur hujan lebat, suasana di posko Batalyon sangat mencekam.
Tenda-tenda latihan terombang-ambing ditiup angin kencang.
Air hujan mengalir deras membentuk selokan-selokan kecil di tanah lumpur. Lampu darurat di meja komando berkedip-kedip kusam.
"Komandan! Jalur logistik utama di sektor tiga tertutup material longsor ringan!
Radio komunikasi ke markas pusat mati total karena pemancar di puncak tersambar petir!" seru Kapten Yoga setengah berteriak menembus suara gemuruh hujan di luar tenda.
Mayor Aris berdiri tegap di depan meja peta.
Seragam PDL-nya basah kuyup, rambut cepaknya meneteskan air, namun tatapan matanya tetap tenang, tajam, dan penuh kendali.
Di saat seluruh perwira mulai tegang, wibawa Aris justru menjadi jangkar yang menenangkan semua orang.
"Sertu Budi! Ambil lima personel, bersihkan jalur logistik sektor tiga! Pastikan tidak ada prajurit yang terjebak di pos pantau bawah!" perintah Aris tegas dengan suara bass yang berwibawa.
"Siap, Komandan!"
"Yoga, siapkan pemancar cadangan manual. Kita harus kirim sinyal status aman ke markas Batalyon sebelum jam enam sore agar keluarga di kompleks tidak panik!" lanjut Aris.
Kapten Yoga mengangguk sigap. Namun saat melihat Aris hendak merapikan jas hujan dan mengambil jas lapangan untuk turun langsung mengecek sektor tiga, Yoga menahan langkah sahabatnya itu.
"Aris, kamu dari semalam belum tidur. Biar aku yang turun ke sektor tiga!" ujar Yoga khawatir melihat wajah Aris yang sedikit pucat.
"Ini tanggung jawab saya sebagai Komandan," balas Aris tanpa bantahan.
Saat Aris merogoh saku dalam kemeja dinasnya untuk memastikan dokumen latihan aman dari air, jarinya tersentuh oleh sesuatu yang kering.
Sebuah kertas memo kuning yang terlipat rapi menjadi bentuk pesawat terbang surat dari Mayang yang sengaja disimpannya di saku paling dalam agar tidak basah.
Aris memegang kertas itu sejenak di balik saku jasnya.
Rasa hangat dari ingatan akan keceriaan gadis itu seketika merayap di dadanya, mengusir rasa dingin yang menggigit tulang.
"Pulang latihan nanti harus tetap utuh, tetap ganteng, dan jangan sampai kurus!"
Kalimat konyol di dalam surat itu bergema di kepalanya.
Aris menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menyunggingkan senyum yang sangat tipis hampir tak terlihat di balik remang-remang lampu tenda.
"Saya akan kembali dalam satu jam," kata Aris pada Yoga sebelum menembus kegelapan hujan di luar.
Pukul lima sore di kompleks asrama. Hujan di kota mulai mereda menjadi gerimis tipis.
Mayang tidak bisa tahan lagi hanya diam di rumah.
Menggunakan payung berwarna kuning terang dan sepatu bot karet merah, ia nekat melangkah menuju gerbang utama Batalyon untuk mencari informasi.
Dua prajurit piket di pos penjagaan kaget melihat Mayang berjalan mendekat di tengah gerimis.
"Mbak Mayang? Kenapa hujan-hujan begini ke gerbang?" tanya Sertu Budi yang bertugas shift sore.
Mayang memegang gagang payungnya erat-erat.
"Mas Budi... berita di TV bilang di pegunungan ada longsor dan sinyal putus. Mas Mayor dan pasukan di sana aman, kan?"
Sertu Budi dan rekannya saling pandang. Mereka paham rasa cemas warga kompleks, terutama gadis di depan mereka ini.
"Mbak Mayang tenang saja. Baru lima menit lalu radio pemancar darurat dari Komandan berhasil terhubung ke markas pusat," terang Sertu Budi ramah.
"Komandan Mayor Aris dan seluruh pasukan dinyatakan aman 100 persen. Jalur yang tertutup longsoran kecil sudah dibersihkan oleh Komandan sendiri. Besok sore latihan selesai dan mereka bakal kembali ke Batalyon!"
Mendengar kata-kata itu, seolah-olah beban berat seberat seribu ton yang mengimpit dada Mayang seketika terangkat menguap ke udara!
"Beneran, Mas Budi?!
Mas Mayor aman?!
Tidak lecet, tidak tertimpa pohon?!" seru Mayang melompat kecil, membuat air genangan di bawah bot karetnya memercik ke mana-mana.
"Beneran, Mbak! Komandan itu sehat walafiat, malah beliau yang memimpin pembersihan jalur," jawab Sertu Budi tertawa melihat kehebohan Mayang yang mendadak kembali normal.
"Alhamdulillah ya Allah!" Mayang mengelus dadanya lega. Senyum lebarnya yang khas kembali memancar terang, mengalahkan mendung sore itu.
"Makasih ya Mas Budi informasinya! Besok sore aku bakal sambut Mas Mayor di gerbang dengan karpet merah!"
Sertu Budi hanya bisa terkekeh geleng-geleng kepala saat melihat Mayang berjalan pulang sambil menari-nari kecil mengayunkan payung kuningnya.
Malam harinya, di dalam tenda yang mulai kering di tengah hutan, Mayor Aris duduk di tepi tempat tidurnya.
Di tangannya, cangkir seng berisi teh jahe hangat asapnya mengepul halus.
Kapten Yoga melangkah masuk membawa radio portabel yang sudah berfungsi.
"Sinyal berita aman sudah diterima markas pusat, Ris. Semua keluarga di kompleks sudah dikabari," kata Yoga sambil mendudukkan diri di kursi lipat.
Aris menyesap teh jahe hangatnya pelan. "Bagus."
"Oya," lanjut Yoga dengan nada menggoda yang sangat kentara, "tadi Sertu Budi kirim laporan radio dari pos gerbang. Katanya, ada seorang gadis berkacamata tebal pakai sepatu bot merah dan membawa payung kuning nekat hujan-hujan ke gerbang cuma buat menanyakan keadaanmu."
Uhuk!
Mayor Aris yang sedang meneguk teh jahe seketika tersedak pelan.
Beliau berdeham keras, berusaha merapikan raut wajah kaku dan dinginnya, walau rona merah di ujung telinganya jelas tidak bisa dibohongi sama sekali.
"Yoga, jangan bicara sembarangan," tegur Aris kaku.
Kapten Yoga tertawa lepas.
"Aku serius! Katanya gadis itu sampai melompat-lompat gembira waktu tahu kamu aman. Ris,... seumur-umur aku kenal kamu dari zaman taruna, baru kali ini ada cewek yang segitunya memperhatikan kamu."
Mayor Aris tidak membalas.
Beliau memutar-mutar cangkir teh di tangannya, menatap uap hangat yang membumbung tinggi. Di balik ketegasannya, ada rasa hangat yang menyeruak hebat di dalam dadanya.
Gadis ceroboh itu... benar-benar memikirkannya.
Aris merogoh saku kemeja dinasnya, meraba pesawat kertas kuning dari Mayang yang masih tersimpan utuh di sana.
"Besok kita pulang lebih awal," perintah Aris mendadak pada Yoga.
"Lho? Bukannya jadwal kepulangan jam empat sore?" tanya Yoga heran.
Aris berdiri, membelakangi Yoga dan menatap kegelapan hutan di luar tenda.
"Jam satu siang kita bergerak kembali ke Batalyon."
Senyum tipis yang tak terlihat oleh Yoga terukir di bibir sang Komandan.
Pria tegas itu rupanya sudah tidak sabar untuk kembali dan melihat senyuman heboh gadis berkacamata tebal itu secara langsung.