Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Jodohku, Tuan Muda Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:621
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB


Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?

Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.


Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!


Karya Author// DILARANG PLAGIAT//

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat untuk Sang Matriark dan Duel Teh Hangat

Wajah Madame Victoria West yang tadinya pucat karena syok kini berubah drastis menjadi merah padam. Selama puluhan tahun memimpin garis keturunan keluarga West dengan tangan besi, tidak pernah ada satu pun manusia—bahkan para direktur eksekutif senior atau rekan bisnis multinasional—yang berani membentak atau berbicara dengannya dengan nada setenang dan sedingin itu, apalagi seorang gadis muda berlatar belakang biasa yang ia sebut sebagai "gadis desa".

"K-kau...!" Madame Victoria menunjuk Reina menggunakan tongkat peraknya dengan tangan yang gemetar hebat karena amarah yang meluap-luap. "Gadis kurang ajar! Berani sekali kau merendahkan tradisi keluarga West di hadapanku?! Jino! Lihat bagaimana istrimu yang tidak berpendidikan ini memperlakukan orang tua?!"

Jino melangkah maju satu langkah, menempatkan tubuhnya sepenuhnya menutupi Reina, seolah menjadi perisai hidup bagi istrinya. Auranya berubah menjadi dingin kelam, jauh lebih menakutkan daripada sebelumnya.

"Nenek yang memulai ini semua," jawab Jino datar, suaranya sarat akan ketegasan mutlak tanpa secuil pun rasa hormat palsu. "Aku sudah memilih jalanku, dan aku tidak peduli dengan silsilah keluarga atau ancaman dewan direksi yang Nenek banggakan. Jika Nenek datang ke sini hanya untuk menghina istriku, maka pintu keluar terbuka sangat lebar untuk Nenek dan Nona Aurelia."

Aurelia Vanya, yang sejak tadi berdiri di samping sang nenek dengan senyuman sinis, langsung memasang ekspresi terkejut sekaligus tidak terima. Ia maju mendekati Madame Victoria, mencoba membakar emosi sang matriark lebih jauh lagi.

"Madame, Anda lihat sendiri kan? Tuan Muda Jino sudah dibutakan oleh pesona murahan wanita ini!" ucap Aurelia dengan nada manja yang dibuat-buat, mencoba mencari simpati. "Jika dibiarkan, reputasi keluarga West bisa hancur di tangan gadis desa yang tidak tahu adat ini. Biar aku yang urus—"

"Cukup, Aurelia," potong Reina dengan suara yang sangat tenang, namun memiliki daya cengkeram psikologis yang membuat Aurelia seketika terdiam.

Reina melangkah keluar dari balik punggung Jino. Ia meletakkan mangkuk keripik kentangnya di atas meja konsol terdekat dengan gerakan elegan, lalu melipat kedua tangannya di dada. Manis di bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang jauh lebih tajam daripada silet.

"Nona Aurelia, ya?" ucap Reina, menatap tajam gadis blasteran itu dari atas sampai bawah. "Kau capek-capek berdandan mahal, memakai gaun desainer terkenal, dan datang kemari pagi-pagi buta cuma untuk menjadi 'pemanis buatan' yang ditolak mentah-mentah oleh suamiku? Tidakkah kau punya harga diri, Nona? Menawarkan diri pada pria yang jelas-jelas tidak menginginkanmu itu rasanya seperti apa, sih? Mau kuajari cara mencari pacar sendiri tanpa harus numpang jalur perjodohan kolot?"

Wajah Aurelia langsung berubah pucat pasi, lalu memerah padam karena malu bercampur amarah yang tertahan. Mulutnya terbuka dan tertutup beberapa kali, tidak mampu menemukan satu kata pun untuk membalas serangan verbal Reina yang telak dan mematikan.

Madame Victoria mendengus keras, napasnya memburu karena tidak sanggup lagi menahan tekanan darahnya. "Keluarga West tidak akan pernah mengakui pernikahan ini! Aku akan pastikan kalian berdua hidup menderita tanpa sepeser pun warisan!" ancam sang matriark dengan suara bergetar penuh kebencian.

Jino tersenyum dingin—senyuman miring yang begitu sinis. "Silakan ambil semua warisan itu, Nenek. Aku membangun West Corporation dengan keringatku sendiri, bukan dengan belas kasihan dari tradisi kuno keluarga. Dan asal Nenek tahu, kekayaanku saat ini bahkan lebih dari cukup untuk membuat tujuh turunan keluarga West tetap hidup mewah tanpa harus bergantung pada dewan direksi."

Skakmat. Kalimat itu sukses membuat Madame Victoria kehilangan kata-kata sepenuhnya. Pria di hadapannya ini bukan lagi cucu penurut yang bisa diatur sesuka hati seperti beberapa tahun lalu; Jino telah berubah menjadi singa alfa yang siap menerkam siapa saja yang berani mengusik ratunya.

Melihat situasi yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan posisinya terpojok telak, Madame Victoria akhirnya menghentakkan tongkatnya ke lantai dengan kasar.

"Baik! Kalian akan menyesali keputusan ini!" seru Madame Victoria dengan napas terengah-engah. Ia menatap Aurelia. "Aurelia, kita pergi dari tempat menjijikkan ini sekarang juga!"

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aurelia yang wajahnya sudah menahan malu teramat sangat langsung memapah sang nenek keluar dari penthouse. Kedua wanita aristokrat itu bergegas melangkah menuju lift dengan langkah tergesa-gesa, meninggalkan pintu utama yang terbuka lebar.

Ding. Lift tertutup rapat, membawa serta sisa-sisa drama pagi hari itu turun ke lantai bawah.

Begitu suara lift terdengar menjauh, keheningan kembali menyelimuti ruang tengah penthouse. Reina membuang napas panjang lewat mulutnya, lalu menggeleng-gelengkan kepala pelan sambil merapikan sedikit kerah bajunya.

"Wah, drama pagi hari yang luar biasa," komentar Reina santai, lalu mengambil kembali mangkuk keripik kentangnya. "Energi Nenek buyutmu itu hebat juga ya di usia senja. Cocok kalau dijadikan inspirasi tokoh antagonis utama di novel wuxiamu—eh, novel wuxiaku."

Jino, yang sejak tadi tegang, tiba-tiba menghela napas panjang. Aura membunuh di tubuhnya seketika mencair. Pria itu menoleh menatap istrinya, lalu menarik tubuh Reina ke dalam dekapannya dengan erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.

"Kau tidak apa-apa?" bisik Jino cemas, suaranya terdengar lembut dan tulus. "Maafkan aku... aku tidak menyangka Nenek akan senekat itu datang kemari untuk mempermalukanmu."

Reina tersenyum, melingkarkan lengannya di punggung Jino dan menepuk-nepuknya lembut. "Hei, santai saja, Tuan West. Aku kan bukan gadis desa kemarin sore yang gampang ciut cuma karena dibentok nenek-nenek berdandan Chanel. Justru aku merasa kasihan sama si Aurelia itu, datang-datang malah pulang bawa malu."

Jino terkekeh pelan—sebuah suara bariton yang begitu menenangkan. Ia melepaskan pelukannya sejenak, lalu menunduk untuk mengecup bibir Reina dengan penuh rasa cinta dan kekaguman.

"Kau benar-benar istri paling luar biasa di dunia ini," gumam Jino penuh syukur. "Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa meruntuhkan pertahananku selain dirimu."

"Tentu saja," balas Reina bangga sambil menyeringai kecil. "Makanya, jangan macam-macam sama aku, atau kulempar kamu ke kandang singa beneran."

Jino tertawa lepas. Badai keluarga pagi itu berhasil dilewati dengan kemenangan mutlak di pihak mereka. Dan di dalam pelukan sang suami yang kini telah sepenuhnya berpihak padanya, Reina menyadari bahwa tidak ada rintangan sebesar apa pun yang mampu memisahkan mereka berdua lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!