Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan Keras di Menara Bayangan

​Matahari baru saja terbit di atas Akademi Sihir Grandoria, memancarkan sinar keemasan yang menembus embun pagi. Namun bagi Tim Vanguard, tidak ada waktu untuk menikmati keindahan suasana. Sejak subuh, mereka telah berdiri di area latihan terlarang yang terletak di bawah Menara Bayangan—sebuah fasilitas tersembunyi yang biasa digunakan oleh para penyihir veteran kerajaan.

​Kepala Sekolah Alaric berdiri di tengah arena batu melingkar, memegang tongkat kayu berukir naga tua. Di sekelilingnya, lima lingkaran sihir berwarna perak merayap di tanah, memancarkan tekanan mana yang begitu berat hingga membuat udara di sekitarnya terasa tebal.

​"Latihan biasa tidak akan cukup untuk menghadapi anggota Ordo Umbra," kata Alaric dengan suara berat yang menggelegar di seluruh ruangan subterranean itu. "Di sini, aku tidak akan memperlakukan kalian sebagai murid. Kalian adalah prajurit garis depan."

​Monica menyeka rambut hitamnya yang dikuncir kuda, menatap lurus ke arah sang Kepala Sekolah.

"Kami siap, Tuan Alaric. Apa yang harus kami lakukan pertama kali?"

​Alaric tersenyum tipis, lalu menghentakkan tongkatnya ke tanah.

​Wush!

​Seketika, tekanan mana di dalam arena melonjak hingga lima kali lipat. Tubuh Reno langsung terdorong berlutut, sementara Kazuma dan Elena menahan napas dengan wajah memerah menahan beban gravitasi sihir yang mendadak menindih mereka.

Danis bahkan hampir jatuh terjerembab sebelum berhasil menyeimbangkan posisinya menggunakan kedua belatinya sebagai penopang di tanah.

​"Hal pertama yang harus kalian kuasai adalah Resonansi Mana Sempurna," panggil Alaric. "Di Lembah Kelam, kalian berhasil menggabungkan mana untuk satu serangan nekat. Tapi akibatnya, kalian langsung pingsan dan tak berdaya. Dalam pertempuran sesungguhnya, kehabisan mana berarti kematian!"

​"Bagaimana cara mengatasinya?" tanya Monica. Ia menjadi satu-satunya yang masih bisa berdiri tegap, meski kakinya gemetar hebat akibat menahan gelombang sihir Alaric.

​"Kalian harus belajar mengalirkan mana secara berkelanjutan tanpa merusak sirkulasi darah kalian sendiri," jawab Alaric.

Ia menunjuk ke arah lima pilar batu di sekeliling arena. "Masing-masing pilar ini mewakili elemen murni. Monica, kau harus memimpin mereka untuk menyelaraskan frekuensi sihir kalian hingga kelima pilar itu menyala serentak dengan warna emas."

​Latihan dimulai dengan penuh penderitaan. Selama seminggu pertama, Tim Vanguard terus-menerus gagal.

Setiap kali Kazuma mencoba mengalirkan energi apinya ke dalam arus sihir Monica, perbedaan frekuensi menyebabkan ledakan kecil yang mempental mereka berlima ke dinding arena. Elena yang terbiasa dengan akurasi ketat sering kali kehilangan kendali atas mana anginnya ketika Reno menyalurkan energi pertahanan yang terlalu dominan.

​Namun, Monica tidak menyerah. Sebagai ketua, ia memposisikan dirinya sebagai "katup penyeimbang". Setiap kali arus mana dari rekan-rekannya terlalu bergejolak, Monica menggunakan sihir air dan cahayanya untuk meredam kekasaran energi tersebut sebelum disatukan.

​"Sekali lagi!" teriak Monica di hari kesepuluh. Wajahnya bersimbah keringat, jubah birunya basah kuyup, tetapi matanya bersinar dengan ketetapan hati yang memikat. "Reno, atur ritme detak jantungmu! Kazuma, kurangi intensitas apimu sepuluh persen! Elena, Danis, ikuti aliranku!"

​Keempat temannya mengangguk tanpa ragu. Mereka memejamkan mata, membiarkan ikatan batin yang telah terjalin selama bertahun-tahun mengambil alih.

​Reno menarik napas dalam, memancarkan aura pertahanan yang hangat dan stabil. Kazuma menyelaraskan api merahnya menjadi benang-benang energi yang halus. Elena dan Danis mengalirkan sihir angin dan bayangan mereka bagai aliran sungai yang tenang. Monica lalu membuka tangannya, menyerap seluruh aliran itu ke dalam kristal safirnya.

​Srrr... BZZZZT!

​Cahaya emas murni memancar dahsyat dari tongkat Monica. Kelima pilar batu di sekeliling arena menyala serentak, memancarkan garis-garis lingkaran sihir raksasa yang menutupi seluruh langit-langit Menara Bayangan. Tekanan udara yang tadinya berat mendadak berubah menjadi sejuk dan menenangkan.

​Kepala Sekolah Alaric menatap pemandangan itu dengan mata membelalak takjub. "Luar biasa... Kalian berhasil menguasai Sirkulasi Resonansi dalam waktu kurang dari dua minggu."

​Monica menurunkan tongkatnya, terengah-engah namun tersenyum puas. Di belakangnya, Reno, Kazuma, Elena, dan Danis berdiri dengan bangga. Mereka tidak lagi merasa kelelahan seperti saat di gerbang Lembah Kelam; sebaliknya, aliran mana dalam tubuh mereka kini terasa jauh lebih luas dan padat dari sebelumnya.

​"Ini baru tahap awal," kata Monica seraya membetulkan kuncir kuda rambutnya dan menatap rekan-rekannya dengan penuh rasa percaya diri.

"Kita masih punya waktu sebelum mereka kembali. Mari kita lanjutkan ke tahap berikutnya!"

​Di balik dinding-dinding tua Akademi Grandoria, Tim Vanguard terus menempa diri mereka, siap bertransformasi menjadi benteng terkuat yang tak terintimidasi oleh kegelapan apa pun.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!