Pantas saja dia tak diharapkan dan dibenci oleh keluarganya. Ternyata dia adalah anak yang lahir dari rahim orang ketiga.
Mutiara Anjani, Seorang gadis yang selalu terlihat kuat dihadapan orang lain. Tiada yang tahu bahwa gadis itu menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Semua tertutup oleh sikapnya yang ceria dan terkadang angkuh itu.
Semua orang yang pernah dekat dengannya menjauh perlahan karena hadirnya orang baru termasuk sahabatnya sendiri. Dia menjadi sendiri, Hingga seorang pria hadir menjadi pendukungnya serta satu-satunya pria yang berjanji akan selalu menjaganya sampai nanti.
••••••
"Aku selalu merasa sendiri, Aku ingin melupakan segalanya dan tidak ingin mengingat rasa sakit ini lagi.." Mutiara Anjani.
"Tapi perlu diketahui, Bahwa akulah yang akan menjagamu sampai nanti.." Muhammad Al Ghazi Maulana...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-benar Dipecat
"Kau, Aku pecat!
"Ap.. Apa?"
"Aku tidak memecatmu untuk berhenti bekerja dari rumah ini. Aku hanya memecatmu untuk tidak perlu menjagaku lagi..
Semua yang ada disana terkejut dengan ucapan Mutiara, Yang dengan tegas mengatakan kalau Rio tak perlu bekerja untuk menjadi bodyguardnya lagi. Untuk apa bekerja dengannya, Kalau masih mau menjaga orang lain.
Bagi Mutiara, Papanya tidak perlu buang-buang uang hanya untung orang yang tidak bisa menjalankan amanahnya dengan baik.
Yang dijaga orang lain tapi yang menggaji Papanya, Kok enak banget...
Tak hanya Rio, Mereka-mereka yang dulu selalu dekat dengannya kini lebih mementingkan orang lain. Bagaimana bisa orang yang dulu terlihat tulus itu bisa menjadi semunafik ini?
"Tiara, Kalau kau marah jangan..
Ucapan Atta terpotong karena Mutiara sudah lebih dulu pergi meninggalkan orang-orang itu. Mutiara tak mau mendengar apapun lagi dari mereka. Dia lelah, Dia capek, Dia bertahan karna terpaksa saja. Ia berusaha kuat dihadapan semuanya bukan karena memang kuat. Tapi karena sebuah keterpaksaan yang sebenarnya dia sendiri sudah tak mampu memikulnya.
Jujur, Mutiara sudah muak dengan sikap orang-orang yang dulu pernah dekat dengannya itu. Sementara kini, Semuanya menjauh karena adanya orang baru.
Bahkan mereka langsung menganggap orang baru itu adalah orang baik. Sementara dirinya yang dikenal sejak lama langsung dianggap orang jahat. Dan semua itu hanya karena perubahan sikap Mutiara yang berubah angkuh dan arogan.
Sifat angkuh, Datar dan dingin yang Mutiara tunjukkan bukanlah sifatnya dia yang sebenarnya. Mutiara hanya ingin melindungi dirinya sendiri. Dia akan buktikan kalau dirinya bisa berdiri di atas kakinya sendiri meski tanpa mereka.
"Non Tiara..." Mutiara tersenyum melihat Bibi Yani. Hanya wanita ini yang selalu peduli dan perhatian padanya. Mutiara memeluk Bibi sebentar saja..
"Tiara mau ke kamar dulu ya, Bi. Tiara capek banget, Butuh istirahat." Mutiara mengurai pelukannya kemudian berlalu pergi kedalam kamarnya.
Bibi hanya menatap punggung Nonanya, itu. Ada rasa iba dalam hatinya. Bi Yani adalah salah satu orang yang menjadi saksi dalam kisah percintaan Galih dan Anjani.
Wanita itu juga termasuk saksi kematian Anjani. Yang dimana wanita itu dipaksa memberikan jantung serta matanya untuk Diandra. Bi Yani adalah orang pertama yang menyaksikan semuanya termasuk ikut menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
Bahkan sampai sekarang, Mutiara tidak tahu tentang rahasia besar yang tersimpan dengan rapat itu. Diandra, Wanita yang Mutiara kira adalah ibu kandungnya. Wanita yang selalu Mutiara harap akan mau mengakuinya sebagai seorang putri. Padahal yang sebenarnya Diandra tidak pernah mengandung dan melahirkan Mutiara sama sekali..
Andai Galih mengizinkan Bi Yani memberitahukan tentang rahasia besar ini. Mungkin sudah sejak lama Bi Yani berkata Jujur.
Bi Yani merasa kasihan terhadap Nonanya. Gadis itu tidak tahu kalau yang dipanggil Mama selama ini bukan ibu kandungnya. Melainkan wanita yang menerima jantung dan mata dari ibu kandung Mutiara yang sebenarnya.
Andai Mutiara tahu yang sebenarnya, Mungkin hati gadis itu akan hancur. Bukan hanya hatinya yang hancur tapi dunianya. Kenapa dunia bisa setega ini? Bibi, Dia saja masih belum berani mengungkapkan rahasia tersebut. Selain belum berani ia juga takut kalau nanti akan jadi sebuah bomerang yang akan meledak hebat sehingga mampu menghancurkan semuanya.
Bibi melangkah kearah jendela kaca. Dapat Bibi Yani lihat orang-orang yang disana tengah makan bersama. Semuanya tengah berkumpul, Kecuali Mutiara dan Galih.
Mereka semua tertawa bahagia seolah tak ada beban. Mereka tidak memikirkan perasaan Mutiara yang mungkin saja sekarang tengah hancur.
Mata Bibi tertuju pada tiga pria yang dulu begitu dekat dengan Nona nya. Kendra, Fathan dan Rio. Tiga pria itu dulu adalah orang paling dekat dengan Mutiara. Kendra dan Fathan, Mereka adalah sepasang Om dan keponakan.
Fathan adalah adik bungsu Papa Kendra. Nenek Kendra hamil lagi setelah puluhan tahun usai melahirkan ayah Hazel. Dan jaraknya memang cukup jauh hingga lahirnya Fathan ini bersamaan dengan lahirnya Kendra dan juga Hazel, Putri dari kakak kedua Fathan sendiri.
Selain itu, Orangtua Kendra atau lebih tepatnya ialah Papa dari pria itu adalah sahabat baik Galih.
Kedekatan orangtua Kendra dan Galih, Papa Mutiara membuat orangtua Kendra sering mengajak Kendra putranya dan ponakannya bermain dirumah ini. Dan dari itulah awal Mutiara bersahabat dengan dua orang pria tampan itu.
"Jangan dengarkan apa yang dikatakan Tiara.. Palingan dia juga lagi ngambek.." Kata Atta, Rio hanya tersenyum tipis saja.
"Iya Rio.. Mungkin Tiara lagi marah aja. Kalau bukan sama kamu siapa lagi dia mau dijaga.. Palingan besok juga ngambek udah hilang.." Jelita ikut menimpali ucapan Atta dengan senyum manisnya.
Dalam hati Rio juga membenarkan ucapan Jelita. Wanita yang berprofesi sebagai model itu tersenyum senang.
Sejak awal mengenal Atta dan datang kerumah ini hanya Mutiara saja yang tak suka padanya. Terlebih Mutiara sepertinya tahu tentang rahasianya yang selama ini wanita itu sembunyikan.
Akan tetapi, Siapa yang mau percaya? Mutiara dibenci oleh keluarga ini. Dan Jelita akan buat gadis itu semakin tersisihkan kalau sampai berbuat macam-macam.
"Tiara juga kayaknya gak suka aku ada disini deh. Kendra sih, Harusnya kamu tadi jangan ajak aku.." Ucap Hazel tiba-tiba, Gadis itu menunduk dengan sedih. Mencari perhatian saja mungkin..
"Kalau kamu gak diajak sama siapa kamu dirumah. Lagian kemana aja kemarin dia, Kenapa tiba-tiba ilang beberapa hari..
"Kan udah bilang katanya tadi Tiara dirumah sakit..
"Hallah.. Palingan juga dia sok cari perhatian bilang begitu.." Sahut Atta yang menganggap adiknya hanya mencari perhatian saja. Padahal apa yang dikatakan Mutiara memang benar. Mereka saja yang tidak tahu..
"Dia berubah sekarang..
"Iya, Aku juga kayaknya gak nyangka aja kalau sikap Tiara biasa berubah seperti itu.. " Sahut Fathan seraya menghela nafas panjang. Semua mengira sikap Mutiara berubah, Padahal bukan Mutiara yang berubah, Tapi mereka.
"Udah-udah. Ngapain sih kalian bicara tentang dia terus. Lebih baik kita makan.." Diandra mencoba melerai pembicaraan para anak muda itu tentang Mutiara.
Semua yang berada disana langsung terdiam begitu saja. Mereka semua itu tahu kalau wanita paruh baya itu tak suka pada Mutiara. Entah apa alasannya, Tidak ada yang tahu. Padahal Mutiara putrinya kan? Diandra bukan hanya tak suka, Tapi lebih tepatnya membenci gadis yang tidak tahu apapun itu.
Bibi mengusap dadanya mendengar obrolan orang-orang yang ada disana. Padahal dulu Mutiara begitu begitu dilindungi oleh mereka. Tapi kenapa sekarang justru seolah menjauh menganggap kalau Nonanya yang berubah dan yang paling jahat.
"Padahal Nona berubah sikap juga karena sikap kalian.. " Bibi menggelengkan kepalanya lalu pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mutiara terdiam didalam kamarnya. Sebelah tangannya menyentuh bekas operasi yang lukanya terletak dibawah perutnya. Bekasnya masih terasa nyeri sekali. Karena memang sebenarnya Mutiara belum diperbolehkan pulang oleh dokter. Namun karena merasa tidak betah, Mutiara memaksa untuk segera pulang saja.
Alasan Mutiara memaksa pulang juga karena dia rindu Papanya. Dan sekarang, Begitu sampai dirumah Mutiara bukannya disambut oleh Papanya, Mutiara justru disambut dengan sesuatu yang selalu membuat hatinya nyeri.
Orang-orang yang dulu pernah dekat dengannya kini telah dekat dengan orang lain. Bahkan Bodyguard yang dulu sangat ia percaya, Kini tak lagi ingin menjaganya dan lebih memilih menjaga orang lain.
Ddrrttt..
" Halo..
"Maaf, Nona.. Tadi saya sedang keluar sehingga tidak bisa mengangkat telepon dari anda..
"Tidak apa-apa.. Aku menelfonmu karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan..
"Apa Nona?
"Aku butuh seorang bodyguard. Kamu mau kan bekerja denganku? Katanya Tuan muda ini butuh pekerjaan.." Candanya pada Ghazi yang ada diseberang sana.
"Hahaha baik Nona.. Saya memang sedang butuh pekerjaan. Kapan saya bisa mulai bekerja?
"Besok. Kau bisa jemput aku berangkat kuliah..
"Baik, Terima kasih Nona...
"Hm.. Jangan lama-lama ya..
"Okey Nona...
Panggilan terputus begitu saja. Mutiara melihat langit-langit kamarnya seraya menarik nafas panjang.
Rio, Dulu pria itu adalah seoranb bodyguard yang selalu menjaga.dan selalu perhatian padanya. Akan tetapi setelah pria itu mengenal Jelita, Semuanya berubah. Jelita adalah seorang model yang namanya cukup terkenal. Dan Rio sangat mengidolakannya.
Hanya karena Mutiara tak suka dengan hadirnya Jelita diruma ini. Rio justru ikut tak suka dengan Mutiara yang menurut Rio selalu membuat masalah dengan idolanya itu.
"Sekarang aku udah bebaskan kamu. Kamu gak perlu jaga aku lagi.." Mulai sekarang, Mutiara tidak butuh orang-orang itu. Mutiara tidak butuh orang yang munafik untuk bertahan dengannya.
Ddrrttt...
"Papa?" Mutiara langsung menggeser icon hijau tersebut setelah melihat bahwa Papanya lah yang menelfon.
"Halo Pa..
"Kamu sudah pulang Nak..?
"Iya...Tiara udah pulang..
"Kemana aja kamu selama ini? Ya Allah Papa bingung cari-cari kamu. Katanya kamu dirumah sakit? Sakit apa putri Papa?.." Mutiara tersenyum, Papa nya begitu khawatir dengannya.
"Tiara baik-baik aja Pa.. Tiara cuma demam. Mungkin karena capek.." Kilah Mutiara yang tak ingin Papanya tahu tentang operasi ginjalnya itu.
"Oh, Begitu ya, Ohya sayang.. Bibi tadi hubungi Papa.. Katanya kamu pecat Rio?.." Mutiara memejamkan matanya. Bibinya mengadu.
"Iya Pa.. Rio udah gak bisa jaga Tiara lagi. Dia lebih suka jaga tunangan kak Atta.. Tapi Papa jangan khawatir. Tiara udah punya penggantinya kok..
"Papa sih terserah kamu aja. Yang penting kamu selalu baik-baik saja.." Mutiara tersenyum, Setetes air mata mengalir dipipinya. Diantara yang lain hanya Papanya yang punya kasih sayang yang penuh terhadapnya.
Tanpa disadari, Seseorang pria berjas rapi berdiri didepan pintu kamar Mutiara. Pria itu adalah Rio. Dia datang kekamar Mutiara berniat ingin mengantar makanan untuk Nonanya, Yang baru saja memecatnya itu. Tapi siapa yang menyangka kalau Rio justru mendengar apa yang Mutiara bicarakan dengan Papanya tentang bodyguard baru..
"Jadi ini alasan anda memecat saya Nona, Karena anda sudah punya pengganti saya?
•
•
•
TBC
lanjut thor ditunggu kelanjutannya, semangattttt💪💪