Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.
Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.
Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.
Ia salah besar.
Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:
**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**
Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.
Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.
Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.
Kali ini, dialah yang memegang pisau.
*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Rahasia Kecil Rangga
Tiga hari setelah Bu Lina melihat bekas di pergelanganku, tak seorang pun di rumahnya memaksaku bercerita.
Itulah sebabnya aku kembali.
Siang itu warung penuh oleh pelanggan yang baru pulang bersilaturahmi. Bu Lina berdiri di depan panci rawon, sementara aku membantu membungkus kerupuk dan menerima pesanan. Aku sudah pulang ke rumah pada hari kejadian dengan alasan berjalan pagi. Ibu lebih sibuk mengeluhkan sikapku yang pergi tanpa izin daripada bertanya kenapa aku pucat.
Bagus. Lebih mudah bersembunyi di tempat orang tak mau melihat.
"Sekar, tolong ambil stok sedotan di gudang atas," kata Bu Lina. "Kardusnya dekat kamar Angga."
"Siap, Bos."
"Kalau ketemu kaus kaki anak itu, buang saja. Sudah termasuk limbah berbahaya."
"Bu!" protes Rangga dari depan warung.
Aku naik sambil tertawa. Rumah keluarga Saputra menyatu dengan warung, lantai bawah untuk usaha dan dapur, lantai atas untuk kamar. Gudang yang disebut Bu Lina ternyata penuh tumpukan kardus. Aku membuka pintu pertama dan menemukan mie instan. Pintu kedua terkunci.
Pintu ketiga langsung terbuka.
Itu bukan gudang.
Kamar Rangga berantakan dengan cara yang sangat Rangga: helm di atas kursi, kabel bersimpul di meja, jaket tergantung pada gagang lemari. Di bawah jendela ada kardus besar bertuliskan SUKU CADANG MOTOR.
Aku hendak keluar ketika melihat ujung kertas merah muda menyembul dari tutupnya.
Rasa ingin tahu memang salah satu jalan tercepat menuju dosa kecil.
Kubuka kardus itu.
Bukan suku cadang.
Puluhan buku gambar tersusun di dalamnya. Sampul paling atas menampilkan seorang perempuan berambut pendek sedang memegang payung biru, sementara seorang laki-laki mengejarnya sambil membawa dua gelas es cendol. Di sudut bawah tertulis nama pena: R. Saputra.
Aku membuka halaman pertama.
Komik romantis.
Gambarnya bagus. Sangat bagus. Dialognya penuh adegan saling mengejek, salah paham konyol, dan catatan kecil tentang makanan favorit tokoh perempuan. Di bawah beberapa sketsa ada tulisan tangan Rangga yang rapi: jangan buat dia menangis terlalu lama; tokoh laki-laki harus datang membawa seblak; cinta yang baik tidak membuat orang ketakutan.
Aku menutup mulut agar tawa tidak terdengar sampai bawah.
"Apa yang kamu lakukan?"
Aku menoleh.
Rangga berdiri di pintu dengan wajah seperti baru menyaksikan rumahnya terbakar.
"Aku menemukan suku cadang paling romantis se-Bandung."
Ia menerjang. Aku menyambar satu buku dan melompat ke sisi lain kasur.
"Balikin, Kar."
"Tunggu. Aku belum sampai adegan tokoh laki-lakinya kehujanan demi membeli cilok."
"Sekar."
"Wah, serius sekali." Aku mengangkat buku tinggi-tinggi. "Haruskah aku foto lalu kirim ke grup WhatsApp keluarga? Judul pesannya: sisi tersembunyi Rangga Saputra."
"Jangan berani-berani."
Ia memutari kasur. Aku mundur sambil membuka halaman acak.
"Ini apa? Buku harian? 'Hari ini dia marah karena sambalnya kurang. Wajahnya seperti kucing kehujanan.' Siapa dia?"
"Tokoh fiksi."
"Namanya Kembang. Sangat fiksi."
Rangga meraih buku itu. Aku menghindar, tetapi betisku menabrak tepi kasur. Tubuhku jatuh telentang, lalu Rangga ikut kehilangan keseimbangan. Tangannya menahan tubuh di kedua sisi kepalaku.
Kami berhenti bernapas pada saat yang sama.
Wajahnya begitu dekat sampai aku bisa melihat garis tipis bekas luka di dagunya, oleh-oleh jatuh dari sepeda saat SMP. Tawa lenyap dari matanya. Tatapannya turun sesaat ke bibirku.
Jantungku berdegup salah irama.
Kemudian tubuhku mengingat berat lain dalam gelap.
Napas tercekat. Tanganku mendorong dada Rangga lebih keras daripada yang kumaksud.
Ia langsung menjauh.
"Maaf." Kedua tangannya terangkat. "Aku nggak sengaja."
Aku duduk dan menarik napas. Rangga tidak bertanya kenapa wajahku mendadak pucat. Ia hanya mengambil buku yang jatuh di lantai, lalu duduk sejauh mungkin di kursi.
"Kamu baik-baik saja?"
"Iya. Cuma kaget."
"Aku nggak akan mendekat lagi."
Kesungguhannya membuat dadaku perih. "Bukan salahmu."
"Tetap saja." Ia menggosok tengkuk. "Soal buku itu, kamu boleh menertawakan aku. Tapi jangan kirim ke grup. Ibu bisa mencetaknya lalu menjual di warung."
Tawa kecil lolos dari bibirku. "Ide bagus. Bonus kerupuk satu bungkus."
"Kar."
"Baik. Aku diam." Aku memeluk buku itu ke dada. "Dengan satu syarat."
Matanya menyipit. "Aku tahu pasti ada pemerasan."
"Seblak level tiga dan es cendol."
"Level tiga? Perutmu baru sehat."
"Dua."
"Satu."
"Kita sedang negosiasi atau kamu jadi dokter pengganti Mas Bara?"
"Aku sedang menyelamatkan warung dari tagihan rumah sakit."
Akhirnya kami sepakat pada level dua, dengan syarat aku tidak boleh mengunggah satu foto pun. Aku membantu menyusun kembali buku-buku itu. Di bagian paling bawah ada satu buku bersampul biru yang tidak ia izinkan kusentuh.
"Yang itu kenapa?"
"Belum selesai."
"Tokohnya juga bernama Kembang?"
"Turun, Sekar. Ibu menunggu sedotan."
Aku tidak langsung bergerak. "Kenapa disembunyikan? Gambarmu bagus."
Rangga memasang tutup kardus, lalu duduk di atasnya seperti penjaga harta karun. "Bagus menurut orang yang mau memeras penciptanya bukan ukuran objektif."
"Aku serius. Kamu bisa unggah ini. Bahkan bisa dapat uang."
Ia memandangi ujung sepatunya. Baru kali itu kulihat Rangga kehilangan kata-kata karena sesuatu yang bukan lelucon. "Bapak sudah kerja dari pagi sampai malam. Ibu buka warung. Mas Bara jadi dokter. Masa aku bilang mau menggambar orang jatuh cinta sambil makan cilok?"
"Kenapa nggak? Setidaknya orang-orang di komikmu bahagia."
"Mereka bahagia karena aku bisa menghapus halaman kalau hidupnya berantakan."
Kalimat itu membuat kami sama-sama diam. Aku menyentuh tutup kardus. "Kalau suatu hari kamu unggah, kirim tautannya ke aku dulu. Aku akan jadi pembaca pertama. Tapi komentarku tetap kejam."
Rangga mengangkat wajah. Senyumnya datang perlahan, lebih jujur daripada semua ejekannya. "Nah, itu justru yang kutakutkan."
Aku menemukan stok sedotan di kamar sebelah. Saat turun, Bu Lina melihat wajah merah putranya dan buku gambar yang gagal disembunyikan di balik punggung.
"Akhirnya ketahuan juga?" tanyanya santai.
Rangga menatap ibunya tidak percaya. "Ibu tahu?"
"Siapa yang beli kertas gambarmu waktu sekolah?"
Aku tertawa sampai perutku sakit. Untuk pertama kalinya sejak malam hujan itu, tawa tersebut tidak terasa dipinjam.
Malam tetap tidak ramah. Aku masih terbangun ketika pintu berderit atau hujan menyentuh jendela. Namun siang itu, duduk di depan warung sambil melihat Rangga mengancam akan merebut ponselku, aku ingat bahwa tubuhku masih mampu merasa ringan.
Ia menyerahkan segelas es cendol sebagai uang tutup mulut.
"Ingat," katanya. "Rahasia ini cuma boleh kamu yang tahu."
Aku mengangkat gelas. "Aman. Kehormatan komikus romantis berkedok tukang antar akan kujaga."
Rangga mendengus, tetapi pandangannya tertahan di wajahku sedikit lebih lama dari biasanya.
Berbeda dari tatapan Damar, tatapan itu tidak membuatku ingin lari.
Aku belum tahu bahwa bukan kotak komik itulah rahasia terbesar Rangga.