Indonesia
NovelToon NovelToon
Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Saniya, Ibu Tiri Luar Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Orang Disabilitas / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:228k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.

Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.

Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?

Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beli bayi Gajah : 32

Saniya mengedipkan matanya dengan ritme cepat, berulang beberapa kali saat menjawab pertanyaan Yarash. “Tadi gak sengaja ketemu teman, Mas. Terus diajak ngobrol sambil ditraktir makan. Maaf, gak ngabarin kamu.”

Baru dia ingat kalau ponselnya masih mode senyap. “Pengaturan suara handphone ku belum dikembalikan ke normal.”

Selama jam belajar, Saniya memang melakukan hal tersebut, agar tidak mengganggu konsentrasi murid yang memiliki pendengaran normal.

Yarash tatap sedikit lama wajah yang pada kelopak terlihat sedikit sembab, namun dia tak berkata apa-apa.

“Papi, ayo beli cucuku lagi!” Ardan sudah kehilangan rasa sabar, seni menunggu bukanlah bakatnya.

Perhatian Saniya beralih ke balita yang memeluk kaki ayahnya sambil bergelantungan. “Mas Yarash dan Ardan mau pergi, ya?”

“Rencananya iya. Tadi saya sengaja pulang cepat, mau menepati janji yang sudah tertunda berulang kali. Di perjalanan menghubungi Suci supaya mempersiapkan Ardan, biar begitu sampai rumah bisa langsung berangkat. Saya kira kamu sudah pulang,” jelasnya jujur.

Hati Saniya tersentil, merasa tidak nyaman karena membuat kesalahan beruntun. Enggan jujur perihal pertemuan dengan Fahmi Basya, membiarkan suami dan anaknya menunggu tanpa kabar, terakhir ponselnya di silent.

“Gimana kalau kita pergi sekarang, Mas?” ia ingin memperbaiki kesalahan dengan bertanggung jawab.

”Lain kali saja. Kamu pasti lelah sepulang mengajar, lanjut berbincang dengan teman. Istirahatlah.” Yarash mengernyit, pahanya digigit balita mulai tantrum lagi.

Ardan menarik ujung kaos ayahnya sampai molor. “Papi tipu-tipu. Aku tu mau sekalang bukan nanti-nanti!”

Huwwaaa! Huwwaaa!

Sebelum berguling-guling di lantai, lebih dulu dia duduk jangan sampai membanting badan di lantai keras.

“Kan, kan … aku jadinya ngilel. Lihat itu encesku!” disela tangis, dia menggerutu lantaran air liurnya menetes ke lantai.

“Ardan, ayo Tante temeni beli hewan, kita pergi sekarang. Ayo!” tanpa berdiskusi dulu dengan suaminya yang memilih diam sambil memperhatikan sang putra, Saniya telah mengambil keputusan.

Suara tangis dibuat-buat langsung berhenti, tumit yang menendang lantai menghentikan aksi. Tangannya terangkat. “Talik ini. Aku tu capek!”

Saniya naik ke teras, membungkuk dan menarik tangan Ardan sampai dia berdiri.

“Benelan, kan? Nda tipu-tipu?” tuntutnya meminta kepastian.

Saniya mengambil selembar tisu dari dalam tas, lalu mengelap air mata, keringat dan ingus di wajah tampan putranya. “Iya bener, tapi abang Ardan harus menepati janji, cuma boleh beli satu saja, oke?”

“Mau banyak-banyak,” ia protes.

“Kan kemarin sudah bilang iya, beli satu dulu. Inget?” ia mengingatkan sambil menyisir rambut Ardan menggunakan jari.

Kepalanya mengangguk, tetapi mulut menampik. “Lupa. Telus lupa aku tu.”

“Ya sudah, Tante mau tidur saja kalau seperti itu,” candanya setengah menggoda.

“Papi! Ibu tili nakal. Kilim ke balak sana, Pi.” Ardan menarik-narik jari kiri tangan ayahnya. Mengadu.

“Ayo kita pergi sekarang. Kamu kalau mau ganti baju, kami tunggu disini,” ucap Yarash dengan suara formal.

Saniya dapat merasakan perubahan sikap tak kentara itu, tetapi tidak dapat menerka penyebabnya.

“Tunggu sebentar ya, Mas. Aku cuma mau ganti baju saja.” Saniya masuk ke dalam rumah.

Yarash memanggil Suci, memberi perintah mengganti pakaian Ardan yang sudah kusut.

“Ndak mau masuk, nanti Papi tinggalin aku!” Ardan menolak. Teringat momen sering ditinggal pergi oleh ayahnya yang harus ke gudang atau mengurus hal penting di luar rumah.

Suci pun tidak memaksa, dia yang masuk untuk mengambil baju ganti.

Di dalam kamar, Saniya telah mengenakan rok mengembang panjang semata kaki, untuk atasan kaos pendek satu size diatas yang biasa dikenakannya.

Luka melepuh di perut sudah mengering, sebagian mengelupas tinggal menghilangkan bekasnya saja, dan tidak lagi terasa sakit, sehingga Saniya kini bisa bebas memakai pakaian yang diinginkannya.

Setelah memastikan penampilannya sederhananya sempurna, Saniya keluar dari kamar, berusaha bersikap biasa padahal hatinya masih belum kembali baik-baik saja.

“Itu Ibu tili. Ayo pelgi, Pi!” Ardan minta digendong sang pengasuh yang ikut jalan-jalan ke toko hewan peliharaan.

Yarash menahan tangan putranya, lalu berbicara dengan nada serius. “Ardan inget kan kalau ditempat ramai tidak boleh apa, Nak?”

Balita yang kembali memakai baju disetrika rapi, rambut disisir berdiri, kacamata tergantung pada kaos, dan sepatu sport, mencoba mengingat-ingat apa yang tadi diajarkan ayahnya.

“Ndak boleh bilang Ibu tili, tapi Mami,” jawabnya mantap.

Saniya bergeming, ada perasaan aneh mencoba merasuk ke sanubari.

“Coba sekarang panggil Mami, Papi mau dengar!” pinta Yarash.

“Ndak mau. Belum banyak olang,” jawabnya cerdik.

Yarash pun menghela napas panjang, lupa kalau putranya sangat keras kepala. “Sus, tolong nanti bantu jaga lisan Ardan, jangan sampai dia asal bicara.”

“Baik, Pak.” Suci mengangguk, lalu berjalan ke mobil.

Lek Lawi membukakan pintu teruntuk bos kecilnya yang tidak mau melihat ke arahnya.

Saat Ardan sudah duduk, dia pun menyeletuk. “Aku tu mau beli bayi Gajah.”

“Weleh … nanti tidurnya sama siapa anakan Gajahnya?” lek Lawi meladeni.

“Sama Papi,” apapun itu, nama ayahnya wajib dibawa.

“Terus kalau eek, siapa yang nyebokin?” pancing pria berkumis segaris.

“Ya lek Lele sama mang Susu,” tanpa berpikir lama, mulutnya langsung ceplos.

Lek Lawi sudah menduga, bagian yang tidak enak, susah, pasti dilimpahkan ke dia.

“Kamu itu memang cerdik, tahu banget siapa donaturnya,” gumamnya pelan, lalu menutup pintu mobil.

Saniya sudah duduk di samping kursi pengemudi, dan suaminya bersiap melajukan mobil.

Jarak dari rumah ke toko hewan peliharaan, tidak begitu jauh, cuma sekitar 20 menitan saja.

Di dalam mobil, Ardan terus mengajak ngobrol, menanyakan banyak hal, yang lebih sering menjawab yakni, Suci.

Kedua orang tuanya seolah banyak pikiran, saling terdiam.

Menjelang pukul setengah lima sore, Yarash sudah sampai di pet shop besar. Memiliki hutan mini bertembok tinggi dan atapnya ditutup jaring kawat rapat baru ditimpa seng galvalum.

“Ayo! Ayo!” Ardan menarik jari ayahnya, lalu berhenti sebentar, berbalik badan, dan langsung tidak sabaran menyaksikan langkah ibu tiri ketinggalan di belakang.

Dia berlari kencang, hampir tersungkur dikarenakan gagal mengerem, beruntung Saniya cukup cepat menangkap badan Ardan.

“Buluan Mami, ayo kita beli bayi Gajah.” Diayun-ayunkan tangan wanita yang termenung.

Hatinya menghangat mendengar untuk pertama kalinya Ardan memanggil mami.

“Mami!” Ardan berteriak membuyarkan lamunan sang ibu tiri.

“Iya, ayo!” Digenggamnya jemari kecil itu.

Yarash tersenyum tipis, ikut senang sekaligus bangga. Ardan memang bisa diandalkan meski sering bertingkah spontanitas.

'Keluarga seperti ini yang sedang aku usahakan, dan selalu ku dambakan.’ Yarash berjalan di sebelah kanan, bagian tengah diisi oleh Ardan yang berpegangan pada tangan kedua orangtuanya, lalu pinggir kiri ada Saniya.

Diam-diam Suci memvideokan menggunakan kamera ponsel berharga belasan juta rupiah. Reward dari Yarash karena dia sudah merawat Ardan sedari balita itu masih dalam kandungan ibunya.

Beberapa foto candid sewaktu Ardan menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidah, lalu tertawa hingga tampak barisan gigi rapi, pun diabadikan.

“Mbak Suci ikut bahagia Sayang. Mamimu adalah orang baik, peduli, tulus, dan penyabar,” ucapnya. Mengikuti sang majikan yang sudah masuk ke dalam toko.

“Om, om, aku tu mau beli bayi Gajah! Tolong ambilin!”

.

.

Bersambung.

1
Kaka Shanum
mau tau minuman itu apa titatitut?...itu minuman racun yang bikin kamu bakalan klepek2 dan jatuh cinta sama ibu tili saniya😂😂😂😂
kaylla salsabella
idih si Fauziah
mudahlia
𝚠𝚊𝚑 𝚠𝚊𝚑 𝚢𝚊𝚛𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚓𝚞𝚔𝚒𝚗 𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚊𝚞𝚛𝚊" 𝚞𝚑𝚞𝚒𝚒𝚒𝚒𝚒
kaylla salsabella
ooo kirain dari fahmi🤣🤣🤣
kaylla salsabella
notif nya si Fahmi
mudahlia
𝚊𝚜𝚝𝚊𝚐𝚑𝚏𝚒𝚛𝚞𝚕𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚊𝚙𝚊 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢 𝚙𝚊𝚜 𝚑𝚊𝚖𝚒𝚍𝚞𝚗 𝚗𝚢𝚊
novel destiny
eehhh mas suamiii... maen nyosor aeeee 😙🫣
mudahlia
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/𝚎𝚝𝚜 𝚍𝚒 𝚕𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚌𝚎𝚖𝚋𝚞𝚛𝚞
novel destiny
aduh mas suami.. mulai nyaman kah.??
mulai posesif kah? 🫣
kaylla salsabella
boleh
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
ini rombongan dahayu yg mendayu,lanjut mak kisahnya😘😘😘😘😘😘
kaylla salsabella
wiiih HP apel krowak ya🤭🤭
sutiasih kasih
skrg papi yarash trgeser sm mami saniya😂😂😂
sutiasih kasih
lnjutkn ardan.... kpan lgi km ngerjain kakakmu yg mulutnya macam mercon🤣🤣🤣
sutiasih kasih
di kira lgi bikin kue apa...
dasar bocil... ada aja kelakuannya😂😂😂
sutiasih kasih
ampun... angkat tangan dgn kelakuan ank mami saniya yg paling ganteng🤣🤣🤣🤣
yuyun Rahayu
ya ampun kak Cublik kok smapi bilang selebar gawang bola disini aku ngakak🤣🤣
Fera Susanti
pahit Tatiana..sepahit omongan kamu😔
Betri Betmawati
racun itu tita minum lh biar hilang semua nya😁😁 canda
memang ayah dan suami idaman banget ya mas yarash
Betri Betmawati
mungkin kah benih cinta mulai tumbuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!