Indonesia
NovelToon NovelToon
TAWANAN MUSUHKU

TAWANAN MUSUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

​Sepanjang perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang, suara isak tangis Luna memecah keheningan di dalam kabin mobil. Dengan air mata yang terus membasahi pipinya, Luna tak henti-hentinya memohon dengan suara serak.

​"Moreno... gue mohon, lepasin gue..." bisik Luna menyatukan kedua telapak tangannya. "Gue janji bakal cari uang buat gantiin semua utang Papa... tapi tolong jangan gini..."

​Namun, Moreno terus menatap lurus ke jalanan di depannya. Wajah tegas bergaris tajam itu sama sekali tak menunjukkan simpati. Ia menaikkan kecepatan mobilnya, membuat deru mesin sport itu makin menderu garang.

​"Bisa diam gak?" potong Moreno dingin tanpa menoleh sedikit pun. "Suara lo berisik."

​Luna tersentak, terisak pelan.

​"Lo gak capek nangis terus dari tadi?" lanjut Moreno dengan nada datar yang menusuk.

"Terima kenyataan, Luna. Mulai malam ini, detik ini, lo itu milik gue secara mutlak. Gue berhak melakukan apa aja sama lo, dan lo gak punya kuasa buat menolak."

​"Tapi gue bukan barang—"

​"Gak usah membantah!" tekan Moreno, melirik Luna sekilas dengan tatapan mata yang sanggup membekukan darah.

​Mobil itu mendadak melambat saat berhenti di lampu merah. Moreno memutar tubuhnya menghadap Luna, memangkas jarak hingga Luna bisa merasakan aura intimidasi yang pekat menekan dadanya.

​"Satu hal lagi yang wajib lo tanamkan di otak lo," desis Moreno dengan intonasi rendah namun penuh ancaman mematikan.

"Jangan pernah sekali-kali berpikir buat kabur dari gue. Kalau lo berani melangkah satu senti aja buat lari... gue gak akan segan-segan menghancurkan bisnis Papa lo sampai tak tersisa, dan gue sendiri yang bakal mencabut alat medis ibu lo di rumah sakit."

​DEG!

​Kata-kata itu terlempar bagai belati yang menusuk langsung ke jantung Luna. Tubuh Luna seketika gemetar hebat. Seluruh persendiannya serasa meleyot, meninggalkan rasa dingin yang membakar dari ujung kaki hingga kepala.

​Tatapan mata Moreno yang kelam dan tanpa ampun membuktikan satu hal: pria di hadapannya ini tidak pernah main-main dengan ucapannya.

​Isak tangis Luna terhenti seketika. Tenggorokannya terkunci rapat, tak berani lagi mengeluarkan sepatah kata pun.

Dengan bibir yang gemetar dan dada yang sesak, Luna memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela, menerima takdir pahit bahwa hidupnya kini sepenuhnya berada di bawah cengkeraman sang iblis.

Mobil sport milik Moreno akhirnya berhenti sempurna di area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen mewah yang terisolasi. Suasana di basemen itu begitu lengang dan sunyi, menambah kesan mencekam bagi Luna.

​"Turun," perintah Moreno singkat seraya mematikan mesin mobil.

​Luna menelan ludah, jemarinya mengepal erat di atas pangkuan. Dengan tubuh gemetar, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

​Sebelum mereka memasuki lift pribadi, Moreno menghentikan langkahnya, menatap Luna dari atas ke bawah. "Mulai hari ini, lo bakal tinggal di sini. Di apartemen pribadi gue."

​Luna memberanikan diri mendongak. Dengan suara pelan dan bergetar, ia bertanya ragu, "Sam... sampai kapan gue harus tinggal di sini?"

​Moreno menyunggingkan senyum miring yang begitu dingin. "Sampai gue bosan sama lo. Dan percaya sama gue... gue bukan orang yang gampang bosan."

​Jawaban itu menghantam dada Luna bagai pukulan telak. Tenggorokannya terasa kelu, lidahnya tak sanggup lagi merangkai kata.

Pikiran-pikiran buruk mulai menari-nari di kepalanya—membayangkan hal-hal mengerikan apa saja yang akan dilakukan Moreno terhadapnya selama berada di penjara berlapis kemewahan ini.

​Lift berdenting halus saat mencapai lantai teratas. Mereka tiba di koridor eksklusif yang hanya menuju satu unit penthouse.

​Moreno melangkah maju, memindai kartu akses dan mengusap layar smart lock di pintu kayu jati berukuran besar itu. Suara kunci elektronik terdengar terbuka.

​"Masuk," suruh Moreno dingin sambil mendorong pintu lebar-lebar.

​Luna ragu sejenak, namun ancaman Moreno soal ibunya kembali terngiang. Dengan langkah berat, Luna akhirnya melangkah melewati ambang pintu, memasuki ruangan megah bernuansa hitam-abu yang terasa begitu dingin.

Tak lama kemudian, Moreno ikut melangkah masuk di belakangnya, lalu menutup pintu rapat.. mengunci Luna sepenuhnya dari dunia luar.

Sementara itu, di tempat terpisah, Adrian sedang duduk di dalam mobilnya seraya mengusap layar ponsel berkali-kali. Dahinya berkerut rapat. Sejak sore tadi, belasan pesan WhatsApp yang ia kirimkan ke ponsel Luna hanya menunjukkan centang satu, tanpa ada tanda-tana dibaca.

​Rasa penasaran mulai merayapi benak Adrian. Sejak jam istirahat di kantin tadi siang, Luna seolah lenyap ditelan bumi. Saat jam pulang kampus tiba, Adrian bahkan sempat menunggu di dekat gerbang utama, namun sosok gadis itu sama sekali tidak terlihat.

​"Nggak aktif lagi..." gumam Adrian gusar saat mencoba menekan tombol panggil dan hanya disambut suara operator.

​Adrian menyandarkan punggungnya ke sandaran jok, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi secara teratur. Pikirannya berputar menimbang-nimbang sosok Luna. Ada sesuatu yang sangat tidak cocok.

​Sebagai pria dari kalangan atas, mata Adrian cukup jeli. Meski Luna berpura-pura menjadi anak kosan yang panik takut jadi "fakir miskin" dan tinggal di gang sempit pemukiman kumuh, penampilan gadis itu sama sekali tidak menipu.

Kemeja linen yang dipakainya, sepatu kets yang membalut kakinya, hingga tas yang ia bawa—semuanya adalah barang-barang branded bertaraf desainer ternama.

​"Gadis kaya yang menyamar... atau gadis berharga yang sedang bersembunyi?" batin Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh teka-teki.

​Tak ingin membuang waktu, Adrian menyambar ponselnya lalu menekan satu nomor kontak rahasia.

​"Cek identitas mahasiswi bernama Luna di kampus gue. Gue butuh data latar belakang keluarganya malam ini juga," perintah Adrian singkat dan dingin sebelum mematikan sambungan.

​Tidak butuh waktu lama, ponsel Adrian bergetar menandakan sebuah dokumen digital telah masuk. Adrian langsung membuka berkas tersebut dan memindai baris demi baris informasi di layarnya.

​Seketika, mata Adrian membelalak. Raut wajahnya yang biasa tenang berubah terkejut bukan main.

​"Luna... anak tunggal Alan Damaris? Presdir Damaris Group?" bisik Adrian tak percaya.

​Satu pertanyaan besar langsung memenuhi kepalanya. Jika Luna adalah putri tunggal dari salah satu konglomerat besar di ibu kota, lalu kenapa dia harus melarikan diri dan bersembunyi di apartemen kecil di ujung gang sempit itu?

1
piercing
novel stuck with you up tidak? kalau up lanjut aku mau baca
Meow: Halo kak terima kasih atas atensinya novel stuck with you akan update 1-2 hari lagi 🙏
total 1 replies
piercing
masih ori ga lu ren? 🐊
piercing
jangan kasih ampun! plok2 segera🌚🌚🌚
piercing
cie 🐊
piercing
semangat ya.. harus sampai ending☻️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!