Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

H-1

Beberapa hari pun berlalu. Dan selama beberapa hari itu, Evelyn lebih sering mengurung diri di mansion besar milik keluarga Danesha. Bukan karena rajin belajar. Sama sekali bukan.

Melainkan karena dia takut keluar lalu tiba-tiba muncul berita: "Mahasiswi baru ditemukan mengenaskan setelah salah ngajak ngobrol psikopat."

Jadi demi keselamatan jiwa dan raganya, Evelyn memilih hidup damai di rumah. Rutinitasnya pun sangat... tidak jelas.

Bangun siang. Makan. Main game. Nonton film. Renang. Tidur lagi. Gym sebentar biar tidak merasa bersalah.

Lalu ngemil sampai malam. Dan entah bagaimana... hari-hari absurd itu berjalan cukup cepat. Kini malam sebelum hari pertama kuliah akhirnya tiba.

Evelyn sedang duduk santai di sofa ruang keluarga yang super besar sambil menonton TV. Seluruh wajahnya tertutup masker hitam skincare seperti hantu gagal debut. Di tangannya ada sebungkus keripik besar yang sudah hampir habis.

Kres.

Kres.

"Hmm...” Ia mengunyah santai sambil menatap berita malam di televisi.

Namun yang aneh, setelah kasus pembunuhan berdarah di mall beberapa hari lalu... tidak ada lagi berita korban baru. Tidak ada pembunuhan. Tidak ada mayat. Tidak ada headline mengerikan. Kota ini mendadak terasa terlalu tenang. Dan justru itu yang membuat Evelyn makin curiga.

"Kok malah serem ya...” Ia memeluk bantal sambil meringis. "Kalau psikopat diem tuh biasanya lagi nyusun combo."

Kres.

Keripik lain masuk mulut.

"Jangan bilang dia lagi nyari korban premium..."

Tak lama-

TING!

Ponselnya berbunyi. Evelyn mengambil HP sambil tetap memakai masker hitam yang membuatnya mirip penjahat skincare internasional.

Nama kontak yang muncul:

Reon Hartmann - Manajer Utama

Evelyn langsung duduk lebih tegak."...anjay." Ia membuka pesan itu.

Reon Hartmann

[Permisi nona, sesuai arahan Tuan Danesha, mulai bulan ini perusahaan properti distrik pusat akan berada di bawah pengawasan Anda sebagai tahap pembelajaran sebelum Anda resmi memegang posisi yang lebih besar di masa depan.]

[seluruh dokumen dan laporan sementara sudah kami siapkan.]

Hening.

Evelyn berkedip pelan. Lalu menunjuk dirinya sendiri. "... gue?" Ia membaca ulang pesannya sekali lagi.

Dan sekali lagi. Beberapa detik kemudian... "ANJAY GUE JADI CEO." Keripik di tangannya hampir jatuh. "Minggu lalu gue masih rebutan cuti sama HRD padahal..."

"Sekarang malah disuruh pegang perusahaan." Ia langsung membalas dengan penuh semangat palsu ala orang profesional.

Evelyn

[Okeee siap]

Tak lama kemudian pesan balasan muncul lagi.

Reon Hartmann

[Baik nona. Nanti saya akan mengirimkan jadwal rapat dan agenda pengenalan perusahaan untuk Anda.]

Belum sempat ia mengeluh lebih

jauh...

Evelyn menatap layar HP dengan ekspresi kosong.

"...rapat...anjir." Ternyata jadi orang kaya juga tetap kena rapat. Dunia memang tidak adil.

TING TONG.

Bel rumah berbunyi. Mata Evelyn langsung berbinar. “Asik makanan gue dateng juga!"

Ia buru-buru bangkit dari sofa sambil masih memakai masker hitam di wajahnya.

Langkahnya santai menuju pintu depan mansion. Begitu pintu dibuka, seorang pria berdiri di sana membawa paper bag makanan.

Memakai jaket driver ojek online lengkap dengan helm hitam. Namun... entah kenapa Evelyn merasa aura pria itu tidak asing. Terlalu tenang. Terlalu dingin. Dan matanya... terasa familiar.

Namun Evelyn terlalu fokus pada makanannya. “Pesanan saya kan mas?" Ia langsung mengambil paper bag itu dengan wajah bahagia. "Berapa totalnya?"

Pria itu menatapnya datar beberapa detik sebelum menjawab singkat. "Sesuai aplikasi."

Suaranya rendah. Tenang. Dan lagi-lagi terasa tidak asing.

Namun otak Evelyn yang dipenuhi ayam crispy jelas tidak bekerja maksimal malam itu.

"Oh iya..." Ia malah menggaruk tengkuk yang sebenarnya tidak gatal. Karena... dia lupa total pesanannya berapa. "...hehe lupa."

Akhirnya Evelyn merogoh saku hoodie-nya asal. Dan menemukan tiga lembar uang seratus ribuan. Tanpa pikir panjang langsung ia serahkan semuanya.

"Nih mas. Kembaliannya ambil aja ya. Terima kasihh~"

Lalu-

BRAK.

Pintu langsung tertutup lagi. Santai. Tanpa sadar sama sekali. Sedangkan di luar mansion... pria itu berdiri diam beberapa saat sambil memegang uang tiga ratus ribu tadi.

Hening. Tatapannya perlahan bergeser ke pintu yang baru saja tertutup. Lalu... sudut bibirnya terangkat tipis. Hampir tidak terlihat.

Beberapa detik kemudian, pria itu kembali berjalan pergi meninggalkan mansion besar itu. Sementara di dalam rumah, Evelyn sudah duduk santai lagi di sofa. Bahagia. Membuka ayam crispy pesanannya.

Setelah selesai makan dan hampir menghabiskan satu ember kecil ayam crispy sendirian, Evelyn akhirnya kembali ke kamarnya.

Langkahnya malas-malasan.

Perut kenyang membuat rasa kantuk mulai menyerang perlahan.

Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur besar itu dengan posisi miring sambil memeluk bantal. "Haaa..."

Tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Besok. Hari pertama kuliah.

Dan entah kenapa itu terasa jauh lebih menegangkan dibanding fakta kalau ada psikopat berkeliaran di kota ini.

"Gimana kalau gue nyasar..."

"Gimana kalau gue salah kelas..."

"Gimana kalau ternyata tugas hari pertama langsung presentasi..."

Tubuh Evelyn langsung menggigil ngeri. "Enggak. Itu lebih serem dari pembunuh."

Ia membalik tubuh malas-malasan. Dan saat itulah matanya menangkap sebuah bingkai foto kecil di atas nakas samping tempat tidur. Evelyn meraihnya perlahan. Di dalam foto itu...

terlihat seorang gadis kecil tersenyum sambil menggendong seekor kucing putih berbulu tebal. Rambutnya panjang. Tatapannya lembut. Dan senyumnya terlihat sangat bahagia.

Evelyn menatap foto itu cukup lama.

"...lucu."

Entah kenapa dadanya terasa sedikit hangat. Mungkin itu Evelyn Adreena waktu kecil.

Atau mungkin... kenangan terakhir sebelum hidupnya berubah sepi. Evelyn mengembuskan napas kecil lalu menaruh kembali bingkai itu ke tempat semula.

Tak lama kemudian, rasa kantuk akhirnya menang. Dan malam itu pun berlalu perlahan.

\=\=\=

Keesokan paginya. Untuk pertama kalinya sejak transmigrasi, Evelyn bangun lebih pagi tanpa teriak “mampus telat".

Dan itu sebuah pencapaian besar. Kini gadis itu sedang sibuk bersiap di depan cermin. Di atas kasur sudah ada berbagai barang yang ia siapkan: alat tulis, tablet, powerbank, parfum, snack, dan... beberapa alat pertahanan diri. Mulai dari alarm mini, pepper spray, sampai semacam stik kecil besi lipat.

Evelyn memasukkan semuanya ke tas dengan ekspresi serius. "Kalau ada psikopat minimal gue bisa mukul sekali."

Setelah semuanya siap, ia mulai melihat penampilannya sendiri di cermin. Dan hasil akhirnya...

sangat jauh dari kata "mahasiswi populer". Masker hitam. Kacamata bulat. Rambut dikepang sederhana. Pakaian oversized longgar. Tidak mencolok sama sekali.

Evelyn mengacungkan jempol ke cermin. "Sip. Culun maksimal."

Namun masalahnya... walaupun tampilannya dibuat sederhana, aura Evelyn Adreena tetap terlalu mahal untuk disebut culun. Malah jadinya seperti anak orang kaya yang sengaja low profile.

Evelyn mengambil tasnya lalu berjalan keluar mansion. Pagi itu udara terasa cukup sejuk. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, ia benar-benar akan menjalani kehidupan sebagai "Evelyn Adreena Danesha”.

Bukan sekadar bertahan hidup. Melainkan masuk kuliah.

Perjalanan menuju universitas berlangsung cukup lancar. Dan begitu mobilnya memasuki gerbang kampus-mata Evelyn langsung membelalak kagum. "...gede banget."

Universitas itu terlihat megah. Gedung-gedung modern berdiri tinggi. Taman luas terbentang rapi. Mahasiswa berlalu-lalang memenuhi area kampus dengan suasana hidup yang ramai.

Bahkan air mancurnya saja terlihat mahal. "Ini kampus apa markas final boss..." Evelyn memarkirkan mobilnya perlahan di area parkiran mahasiswa.

Dan baru saja turun-beberapa mahasiswa senior langsung menyambut para mahasiswa baru dengan ramah.

Untungnya... kampus ini tidak menerapkan ospek aneh-aneh. Tidak ada bentakan. Tidak ada disuruh nyanyi. Tidak ada lari keliling lapangan sambil pakai atribut absurd.

"Syukurlah...Kalau enggak gue pulang." Saat Evelyn masih melihat sekitar bingung-seorang senior laki-laki menghampirinya sambil tersenyum ramah.

"Mahasiswa baru?" Evelyn mengangguk cepat. "Iya kak..." Cowok itu cukup tinggi dengan wajah tampan dan gaya santai.

Dan entah kenapa... visual orang-orang di dunia novel ini benar-benar tidak masuk akal.

Evelyn sampai melongo sepersekian detik.

“...anjir. NPC aja ganteng." gumamnya.

"Hah?"

"Eh nggak maksudnya pagi kak." jawab evelyn.

Cowok itu tertawa kecil bingung. "Kelas jurusan apa?"

"Manajemen Bisnis Internasional." jawab Evelyn.

"Oh, gedungnya lumayan jauh dari sini." Cowok itu menunjuk arah gedung besar di kejauhan. "Kalau mau aku antar aja sekalian."

Evelyn langsung mengangguk semangat. “Mau kak. Jujur aku takut nyasar."

Akhirnya mereka berjalan bersama menyusuri area kampus. Sepanjang jalan, Evelyn sibuk melihat sekitar seperti anak desa pertama kali study tour. Kadang melihat gedung. Kadang melihat mahasiswa lain.

Kadang melongo lihat cafe kampus. "Ini kampus apa mall..."

Cowok itu tertawa kecil mendengarnya. "Kamu lucu juga ternyata." "Orang pertama yang reaksinya begini."

Evelyn langsung menunjuk cafe besar di dekat fakultas lain.

"Itu beneran cafe?"

"Iya."

"...dalem kampus?"

"Iya."

"Anjir kampus sultan."

Cowok itu sampai menahan tawa. "Kamu namanya siapa?"

"Evelyn."

Cowok itu terlihat berpikir sebentar. "Evelyn Adreena Danesha?"

Evelyn langsung menoleh. "...hah? Kakak tahu?"

Cowok itu mengangguk santai. "Lumayan terkenal kok. Anak keluarga Danesha kan?"

Evelyn langsung awkward sendiri. "Oh... Ketahuan miskin palsu gue."

"Hm?"

"Eh nggak."

Mereka terus berjalan sambil mengobrol ringan. Dan tanpa Evelyn sadari- beberapa mahasiswa lain mulai melirik ke arahnya diam-diam. Bukan hanya karena penampilannya.

Tapi karena nama belakang yang ia bawa. Dan di tempat lain... seseorang juga sedang memperhatikan data mahasiswa baru tahun ini.

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!