Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Di dalam kamar yang remang-remang, Armand berdiri gemetar di samping tempat tidur.

Matanya yang sembap menatap lekat sebuah bingkai foto pernikahan di atas meja kayu kecil—potret dirinya dan Sarah yang sedang tersenyum manis beberapa tahun lalu.

"Kamu menjualku, Sarah..." gumam Armand lirih, suaranya parau menahan perih yang tak tertahankan.

Rasa malu, kekecewaan, dan kehancuran harga diri berkelindan menjadi satu, merenggut seluruh akal sehatnya.

Dalam kegelapan pikiran yang melingkupinya, Armand mengambil selembar kain panjang yang terpajang di sudut lemari.

Tangannya yang bergetar hebat mengikatkan kain itu pada kasau atap rumahnya.

Ia menatap kursi kayu di bawahnya, lalu melangkah naik ke atas dengan tatapan kosong.

Tanpa ragu, ia mengalungkan kain itu ke lehernya dan mendobrak kursi tersebut hingga terpelanting.

BRAKKKK!

Suara benturan keras dari dalam kamar mengagetkan Nadya yang masih duduk terpaku di ruang tamu.

Ia langsung bangkit dari duduknya dengan jantung yang berdegup kencang.

"Armand, kamu kenapa?!" seru Nadya panik, berlari mendekati pintu. "Armand!! Buka pintunya!!"

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya terdengar suara gesekan dan guncangan yang tak wajar.

Mengumpulkan seluruh tenaga, Nadya mendorong keras dan mendobrak pintu kamar yang terkunci itu hingga terbuka.

Mata Nadya membelalak horor saat melihat tubuh Armand sudah terkulai tergantung dengan kain yang melilit lehernya.

"ARMAND!!" jerit Nadya histeris.

Panik luar biasa menguasai dirinya. Tanpa memedulikan rasa takut, Nadya berlari menerjang masuk dan sekuat tenaga memegang kaki Armand, mengangkat beban tubuh pria itu tinggi-tinggi agar ikatan di lehernya melonggar dan pasokan udaranya tidak terputus sepenuhnya.

"TOLONG!! TOLONG!!" teriak Nadya sekuat tenaga menuju arah pintu depan yang terbuka.

"TOLONG ADA YANG GANTUNG DIRI!"

Warga sekitar yang mendengar jeritan histeris itu berhamburan masuk ke dalam rumah.

Beberapa pria dewasa langsung membantu mengangkat tubuh Armand dan memotong kain yang menjerat lehernya.

Tubuh Armand yang lunglai dan tak sadarkan diri diletakkan di atas lantai.

"Dia masih bernapas! Cepat bawa ke rumah sakit!" seru salah seorang warga.

"Masukkan ke mobil saya, Pak! Cepat!" perintah Nadya tegas sambil berlari membukakan pintu sedan mewahnya di luar.

Beberapa warga membopong tubuh Armand dan membaringkannya di jok belakang. Nadya langsung melompat ke kursi pengemudi, menekan pedal gas dalam-dalam, dan melajukan mobilnya membelah kegelapan malam menuju Rumah Sakit Terdekat demi menyelamatkan nyawa pria itu.

Di balik kemudi sedan mewahnya, jemari Nadya mencengkeram erat roda setir hingga buku-buku jarinya memutih.

Sesekali matanya melirik cemas ke arah kaca spion tengah, menatap tubuh Armand yang terbaring lemah tak sadarkan diri di jok belakang.

"Armand, bertahanlah. Kamu tidak boleh jatuh hanya karena Sarah," bisik Nadya dengan suara bergetar dipenuhi rasa bersalah dan kecemasan yang membakar.

"Bertahanlah, Armand!"

Air mata menetes membasahi pipi Nadya. Ia menyapu lelehan bening itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya, berusaha mempertahankan fokusnya ke jalanan.

Tanpa ragu, Nadya menekan pedal gas lebih dalam, membuat deru mesin mobilnya makin kencang membelah kesunyian malam menuju rumah sakit terdekat.

Hanya dalam hitungan menit, sedan hitam itu berhenti mendadak tepat di depan pintu masuk Instalasi Gawat Darurat.

Nadya langsung melompat keluar dari mobil dan berhamburan masuk ke dalam area penerimaan pasien.

"Suster! Tolong! Ada pasien kritis!" jerit Nadya histeris memanggil para petugas medis.

Beberapa perawat dengan sigap berlari keluar membawa brankar dorong.

Bersama Nadya dan petugas keamanan, mereka dengan cepat memindahkan tubuh Armand yang terkulai lunglai dari jok belakang sedan ke atas brankar.

"Pasien mengalami trauma di bagian leher akibat jeratan, napas lemah!" seru seorang perawat memberi arahan cepat sambil mendorong brankar tersebut melintasi koridor.

Nadya berlari kecil mengikuti roda brankar yang tergesa-gesa.

Matanya tak lepas dari wajah pucat Armand yang kini dipasangi masker oksigen, terus berdoa di dalam hati agar nyawa pria itu masih bisa terselamatkan sewaktu dorongan brankar menerobos masuk ke dalam ruang UGD.

"Maafkan aku, Armand." ucap Nadya lirih di depan pintu UGD yang tertutup rapat, menyandarkan tubuhnya yang terasa lemas pada dinding rumah sakit yang dingin.

Setengah jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa.

Pintu ruang UGD akhirnya terbuka, dan seorang dokter melangkah keluar sambil melepas masker medisnya.

"Keluarga Pasien Armand?" panggil dokter tersebut.

Nadya langsung menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat.

"Saya, Dok. Bagaimana kondisinya?"

"Pasien sudah melewati masa kritisnya.

Beruntung penanganan awal dilakukan dengan sangat cepat sehingga jalur napasnya tidak rusak permanen. Namun, kondisinya masih sangat lemah dan butuh pemantauan ketat. Akan lebih baik jika beliau menjalani rawat inap," jelas dokter penuh ketenangan.

Nadya menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun.

"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik."

Tanpa memikirkan biaya, Nadya segera berjalan menuju bagian administrasi dan mendaftarkan Armand untuk masuk ke ruang perawatan VVIP.

Ia ingin memastikan pria itu mendapatkan fasilitas serta kenyamanan terbaik selama proses pemulihan.

Tak berapa lama, beberapa perawat memindahkan brankar Armand menuju ruangan VVIP yang luas dan tenang di lantai atas.

Saat Nadya berjalan mengekor di belakang rombongan perawat, ponsel di dalam tasnya berdering nyaring.

Nama sang ayah tertera di layar. Dengan jemari bergetar, ia menggeser tombol hijau.

"Ayah, bisa ke rumah sakit sekarang?" bisik Nadya dengan nada bergetar menahan tangis.

Di ujung telepon, suara sang ayah mendadak panik dan penuh kecemasan.

"Sayang, kamu kenapa?! Kamu sakit apa? Kenapa bisa ada di rumah sakit?"

"Ayah, aku tidak apa-apa, kok. Bukan aku yang sakit," sahut Nadya berusaha menenangkan, meski matanya kembali menahan kaca-kaca air mata.

"Nanti Nadya cerita semuanya kalau Ayah sudah sampai di sini. Nadya tunggu di ruang VVIP nomor 402, ya."

Nadya duduk terpaku di kursi tunggu luar ruang perawatan VVIP, menatap lantai koridor rumah sakit yang mengkilap sambil meremas jemarinya sendiri. Rasa bersalah dan lelah bergemuruh di dadanya.

Tak berselang lama, suara langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian malam.

Ayah Nadya datang dengan napas memburu dan wajah yang dipenuhi kepanikan luar biasa.

"Nadya!" seru sang ayah cemas, langsung menghampiri putrinya dan memeriksa keadaan Nadya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit? Kenapa bisa menyuruh Ayah datang ke rumah sakit malam-malam begini?"

Nadya menggelengkan kepalanya pelan,

menatap sang ayah dengan sorot mata yang menyiratkan beban berat.

"Ayah, duduklah dulu," ucap Nadya lirih, lalu menarik tangan ayahnya untuk duduk di sampingnya.

Dengan suara bergetar, Nadya menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ia mulai dari insiden tak sengaja saat dirinya menyerempet Sarah di jalan, pertemuan tak terduga dengan teman masa kecilnya itu yang hidup dalam keputusasaan, hingga penawaran gila Sarah yang menjual suaminya sendiri—Armand—seharga dua miliar rupiah demi melepaskan diri dari kemiskinan.

Nadya juga menceritakan puncak kengerian malam itu: bagaimana Armand yang harga dirinya hancur lebur nekat mencoba mengakhiri hidupnya di kamar mandi, hingga akhirnya berhasil ia selamatkan dan dibawa ke rumah sakit.

Sang ayah mendengarkan dengan napas tertahan, matanya membelalak tak percaya mendengar rentetan kejadian tragis yang menimpa putri semata wayangnya dalam kurun waktu satu malam.

Setelah keheningan sesaat pasca cerita itu selesai, sang ayah menghela napas panjang, menatap putrinya dengan pandangan sarat makna.

"Lalu, apa rencanamu sekarang, Nad? Kamu mau menikah dengan lelaki itu?" tanya sang ayah hati-hati, memastikan ia tidak salah tangkap.

Nadya menengadah, menatap lurus ke dalam mata ayahnya dengan keyakinan yang perlahan-lahan mengeras di dadanya.

"Iya, Ayah," jawab Nadya tegas.

"Aku akan menikahi Armand. Bukan karena iba, dan bukan pula karena paksaan. Aku ingin menunjukkan kepada Sarah, dan kepada dunia, bahwa harga diri dan kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa diukur dengan uang sebanyak apa pun."

Sang ayah terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir putrinya.

Namun, sebuah kerutan kekhawatiran kembali muncul di keningnya yang mulai berkerut.

"Keputusanmu besar, Nad. Tapi bagaimana, kalau lelaki itu menolak?" tanya sang ayah pelan, mengingatkan kenyataan pahit bahwa Armand baru saja mengalami kehancuran rumah tangga yang membuatnya hampir bunuh diri.

Mendengar pertanyaan itu, Nadya tertegun. Ia memandang wajah ayahnya lekat-lekat, menyadari bahwa ada satu rintangan besar lain yang menanti di balik pintu ruang VVIP tempat Armand terbaring lemah.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!