Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Rencana Terakhir

Malam sebelum penandatanganan, bengkel tua itu berubah menjadi ruang perang kecil, peta lantai Andratama Tower terpampang di dinding, ditandai dengan berbagai warna oleh Wulan berdasarkan hasil penelusuran sistem keamanan gedung yang sudah mereka kenal dari kunjungan-kunjungan sebelumnya.

"Ruang rapat pribadi ada di lantai dua puluh delapan," jelas Wulan, menunjuk sebuah titik di peta. "Akses terbatas — lift khusus dengan kartu otorisasi eksekutif, dijaga dua pos keamanan bersenjata di lobi lantai itu."

"Kita tidak bisa masuk lewat jalur normal," gumam Bara. "Praetora tidak punya kontrak keamanan di gedung Andratama sendiri, hanya untuk acara-acara khusus seperti penandatanganan pertama."

Raka menatap peta itu lama, menyusun kemungkinan yang tersisa. "Kalau kita tidak bisa masuk secara diam-diam, kita masuk secara terbuka — lewat pintu yang sudah disediakan untuk kita sendiri."

"Maksudmu?" tanya Cinta, yang malam itu ikut hadir meski Ridwan sempat mengingatkan risikonya.

"Handoko akan datang sebagai pihak yang menandatangani," jelas Raka. "Kalau dia membawa penasihat hukum independen, tidak ada alasan sah bagi mereka menolak kehadiran itu — apalagi kalau penasihat itu adalah purnawirawan jenderal terhormat seperti Ridwan."

Ridwan mengangguk, memahami perannya dalam rencana itu. "Aku bisa masuk sebagai penasihat pribadi Handoko, memastikan proses penandatanganan berjalan sesuai hukum. Itu hak sah setiap pihak dalam transaksi bisnis besar semacam ini."

"Dan begitu di dalam," lanjut Raka, "Pak Ridwan akan memastikan Handoko punya kesempatan mengajukan pertanyaan yang akan memaksa Setiawan atau Wirawan mengakui sesuatu yang bisa direkam sebagai bukti paksaan."

Wulan mengeluarkan sebuah perangkat kecil, hampir tak terlihat, berbentuk seperti kancing jas biasa. "Aku sudah menyiapkan ini untuk Pak Handoko — merekam audio dan video kualitas tinggi, tersembunyi sempurna di balik kancing jasnya. Kalau Wirawan atau Setiawan mengancam secara langsung di ruangan itu, kita akan punya bukti paksaan yang sah secara hukum, cukup untuk membatalkan kontrak apa pun yang ditandatangani di bawah tekanan."

"Bagaimana dengan aku dan Bara?" tanya Raka.

"Kalian tidak akan bisa masuk ke ruang rapat itu sendiri," jawab Wulan. "Tapi aku menemukan celah lain — sistem pendingin gedung Andratama menggunakan kontraktor yang sama dengan beberapa gedung lain di kawasan itu, termasuk kontraktor asli yang biasa masuk lewat area teknis di lantai bawah tanah. Aku sudah menyiapkan identitas darurat untuk kalian berdua, mirip dengan operasi di Cendana."

"Kita masuk lewat bawah, bergerak ke atas lewat tangga darurat, dan menunggu di dekat ruang rapat," Bara menyimpulkan, "siap bergerak kalau situasi memburuk di dalam."

Raka mengangguk setuju, meski satu kekhawatiran masih mengganjal pikirannya. "Kalau Wirawan benar-benar berencana menariku ke tempat yang sepenuhnya ia kendalikan, seperti kata-kata yang ia sampaikan ke Setiawan, dia mungkin sudah mengantisipasi kemungkinan aku mencoba masuk dengan cara ini."

"Maka kita bergerak dengan asumsi itu benar," jawab Bara tegas. "Waspada penuh, sejak detik pertama kita masuk gedung itu."

Malam semakin larut, satu per satu anggota tim mulai beristirahat sejenak sebelum hari yang menentukan, tapi Raka dan Cinta tetap terjaga di sudut bengkel yang lebih sepi, jauh dari peta dan rencana yang sudah tersusun rapi.

"Aku ingin ikut besok," kata Cinta, suaranya tegas meski Raka bisa mendengar ketakutan yang tersembunyi di baliknya. "Bukan masuk ke ruang rapat, aku tahu itu tidak mungkin. Tapi aku ingin berada di dekat gedung itu, bukan menunggu jauh di rumah Pak Ridwan tanpa tahu apa yang terjadi."

Raka menatap istrinya lama, memahami betapa sulitnya menahan seseorang yang ia cintai jauh dari bahaya, sementara orang itu sendiri menolak untuk terus bersembunyi. "Kau bisa menunggu di van bersama Wulan, mengawasi dari jarak aman. Tidak lebih dekat dari itu."

"Sepakat," Cinta mengangguk, lalu menggenggam tangan Raka erat. "Apa pun yang terjadi besok, aku ingin kau tahu — aku tidak menyesal sedikit pun menikah dengan seseorang yang punya begitu banyak rahasia. Karena di balik semua rahasia itu, aku menemukan seseorang yang bersedia mempertaruhkan segalanya demi orang-orang yang ia cintai."

Raka memeluk istrinya erat, membiarkan dirinya sejenak melupakan semua rencana dan risiko yang menunggu esok hari, hanya untuk merasakan kehangatan sederhana yang selama tiga tahun terakhir menjadi satu-satunya alasan ia terus bertahan dalam bayang-bayang.

"Besok," katanya pelan, "kita akan mengakhiri ini. Satu cara atau lainnya."

Di luar jendela kecil bengkel, malam kota terus berjalan seperti biasa, tak menyadari bahwa esok siang, di salah satu gedung tertingginya, sebuah pertarungan yang telah dimulai tiga tahun lalu akhirnya akan mencapai titik yang tidak bisa lagi dihindari oleh siapa pun yang terlibat.

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!