Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.9k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Puluh Lima

Pagi itu, rumah baru Azka sudah berubah seperti kapal yang baru saja dihantam badai.

Kardus-kardus berserakan di ruang keluarga. Beberapa koper masih terbuka. Bantal, selimut, pakaian, sampai peralatan dapur yang kemarin dibeli Mama memenuhi sudut-sudut ruangan.

“Yang ini masuk kamar.”

“Yang itu jangan ditaruh di situ.”

“Azka, hati-hati! Itu vas!”

“Sudah, Ma!”

“Jangan dibanting!”

“Ma, aku nggak banting!”

Suara Mama terdengar bersahut-sahutan dengan suara Azka sejak pagi.

Reatha yang sedang membawa beberapa pakaian hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka. Berbeda dengan dirinya, Azka justru terlihat sangat bersemangat.

Pria itu bahkan rela mengangkat kardus-kardus berat sendiri. Sesekali ia mengomel ketika menemukan barang yang tidak tahu harus diletakkan di mana.

“Ini punya siapa?” tanya Azka sambil mengangkat sebuah kardus kecil.

“Punyaku,” jawab Reatha.

“Isinya apa?” tanya Azka lagi.

“Buku.”

Azka langsung menatap kardus itu seolah benda tersebut baru saja menghina harga dirinya.

“Buku sebanyak ini?” tanya Azka lagi.

Reatha mengangguk.

“Kenapa nggak pakai e-book?” Lagi-lagi ia bertanya.

“Lebih enak baca buku langsung.”

Azka menghela napas panjang. “Pantas berat.”

Reatha terkekeh. Namun, di balik senyumnya, ada sesuatu yang terus mengganjal di dada.

Rumah ini memang indah. Bahkan terlalu indah untuk sebuah pernikahan yang sejak awal hanya dibangun di atas kebohongan.

Reatha menatap sekeliling. Ini rumah mereka. Setidaknya untuk satu tahun. Setelah itu? Ia harus pergi.

Begitu Raisa kembali, semuanya akan selesai. Kontrak itu berakhir. Perannya sebagai istri Azka juga berakhir. Ia harus menghilang dari kehidupan pria itu.

Dan anehnya, Reatha merasa sedikit lega. Sebab sejak awal Azka sudah berjanji kepadanya bahwa ia tidak akan menyentuhnya. Azka masih mencintai Vania.

Jadi, ketika nanti Reatha pergi, tidak akan ada hubungan apa pun yang tersisa di antara mereka. Tidak ada kenangan sebagai pasangan sungguhan. Tidak ada anak. Tidak ada alasan bagi Azka untuk mencarinya. Seharusnya begitu.

Namun, entah mengapa pikiran itu justru membuat dada Reatha terasa sedikit nyeri.

“Raisa!” panggil Azka.

Reatha tersentak. Azka berdiri beberapa langkah di depannya.

“Kenapa melamun?” tanya Azka.

“Nggak apa-apa.”

“Kamu capek?”

Reatha menggeleng. “Cuma sedikit.”

Azka mengangguk. “Kalau capek, istirahat. Biar aku yang beresin.”

Reatha menatapnya sejenak. Pria ini ... kenapa belakangan ini semakin sulit untuk dianggap sebagai orang asing? Menjelang siang, rumah itu akhirnya selesai dibereskan. Mama bahkan memastikan semuanya benar-benar lengkap sebelum pulang.

Dua orang pembantu sudah datang untuk membantu mengurus rumah. Sementara seorang satpam akan berjaga di rumah tersebut.

“Mulai besok kalian nggak perlu repot-repot urus rumah sendirian,” ujar Mama puas.

Reatha mengangguk. “Terima kasih, Ma.”

Mama langsung merangkul bahunya. “Jangan sungkan. Anggap saja ini rumah kalian," ucapnya.

Kalimat sederhana itu kembali membuat hati Reatha mencelos. Ia hanya mampu tersenyum. Setelah memastikan semuanya beres, Mama dan Papa akhirnya bersiap pulang. Mereka menatap Azka dan Reatha bergantian.

“Ya sudah, Mama sama Papa pulang dulu," ucap Mama.

Azka mengangguk sebagai jawaban. Reatha juga ikut tersenyum.

“Besok Mama datang lagi," ucap Mama.

“Lho, kok besok datang lagi?” tanya Azka.

Mama menyipitkan mata. “Kenapa? Keberatan?” Mama balik bertanya.

“Bukan begitu, Ma," balas Azka.

Mama terkekeh. “Sudah, sana. Mama tahu kalian pasti mau istirahat.”

Reatha langsung salah tingkah. “Ma!”

Papa yang sejak tadi diam malah tertawa. “Sudahlah, jangan ganggu anak-anak.”

Mama melambaikan tangan. “Kalau begitu, selamat beristirahat.”

Setelah mobil Mama dan Papa menghilang dari halaman, Reatha mengembuskan napas lega. Rumah mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Ia menoleh kepada Azka. “Capek?”

“Lumayan.”

“Aku juga.”

Azka menguap. “Kalau begitu, istirahat.”

Reatha mengangguk. Mereka berjalan menuju kamar masing-masing. Seperti sebelumnya, keduanya tetap tidur terpisah. Pernikahan mereka hanya ada di atas kertas. Tidak lebih.

Keesokan paginya, Reatha bangun lebih awal. Meskipun ada dua pembantu, ia merasa tidak enak jika hanya duduk diam. Lagipula, ia memang terbiasa mengurus semuanya sendiri. Ia berjalan ke dapur lalu membuka lemari es.

“Nasi masih ada," ucap Reatha pada diri sendiri. Reatha tersenyum. “Bikin nasi goreng saja.”

Tak lama kemudian, suara minyak mendesis memenuhi dapur. Reatha sibuk mengiris daun bawang ketika terdengar suara langkah kaki dari belakang.

“Raisa?” panggil seseorang.

Reatha menoleh. Azka berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan. Wajahnya masih terlihat mengantuk.

Pria itu menguap. “Kamu ngapain?” tanyanya.

“Masak.”

Azka mengerutkan kening. “Kenapa kamu masak? Kan ada Bibi.”

Reatha kembali mengaduk nasi goreng. “Aku yang mau.”

“Pagi-pagi sudah rajin.”

“Aku bosan juga nggak ada kerjaan.”

Azka mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia mengintip wajan.

“Nasi goreng?”

“Iya.”

“Bisa dimakan?” tanya Azka.

Reatha langsung melotot. “Kalau nggak mau makan, jangan makan.”

Azka tertawa kecil dan membalas, “Aku cuma tanya.”

“Kalau rasanya aneh, jangan salahkan aku.”

“Tenang. Aku siap jadi korban," ujar Azka.

Reatha menahan tawa. “Drama banget," ujar gadis itu.

Beberapa menit kemudian, dua piring nasi goreng tersaji di meja makan. Azka mengambil satu suapan. Reatha memperhatikannya diam-diam.

Azka mengunyah. Lalu diam. Reatha mulai gugup.

“Kenapa?” tanya Reatha.

Azka masih diam.

“Jangan bilang asin.”

Azka menggeleng.

“Pedas?”

“Enggak.”

“Terus?” tanya Reatha.

Azka akhirnya menatapnya dan menjawab, “Enak.”

Reatha mengerjap. “Serius?”

“Iya.”

Azka mengambil suapan kedua. “Enak banget malah.”

Senyum kecil muncul di wajah Reatha. “Syukurlah.”

“Besok masak lagi," kata Azka.

Reatha langsung menggeleng. “Jangan mentang-mentang enak terus nyuruh-nyuruh.”

Azka terkekeh. “Bukannya kamu bilang bosan tak ada kerjaan, makanya aku beri kerjaan?”

“Iya, tapi bukan berarti aku mau jadi koki pribadi kamu.”

“Padahal aku mau daftar jadi pelanggan tetap," balas Azka.

Reatha tertawa kecil. Untuk beberapa menit, suasana di meja makan terasa seperti rumah tangga sungguhan. Sederhana dan hangat. Dan justru itulah yang membuat Reatha semakin takut.

Tiba-tiba ponsel Azka yang diletakkan di atas meja berdering. Nama Vania muncul di layar.

Senyum di wajah Reatha perlahan menghilang. Azka menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon.

“Halo.”

Suara Vania langsung terdengar dari seberang. “Azka, kamu ke mana saja? Sudah tiga hari kamu nggak menghubungiku!”

Azka mengusap wajah. “Aku sibuk.”

“Sibuk apa?” tanya Vania.

“Banyak urusan.”

Vania terdengar semakin kesal. “Aku bahkan sudah tanya sekretaris kamu di perusahaan. Katanya kamu masih cuti.”

Azka terdiam. “Aku memang benar-benar sibuk, Vania," ucap pria itu lagi.

“Sibuk dengan apa?” Kembali Vania bertanya.

Azka menarik napas. “Sudah kubilang, aku sibuk.”

“Sibuk dengan istrimu!" seru Vania.

Tangan Reatha yang memegang sendok mendadak berhenti. Azka juga terdiam.

Suara Vania terdengar lagi. “Selama ini kamu bilang pernikahan itu cuma sementara. Kamu bilang kamu nggak akan menyentuh dia. Kamu bilang kamu tetap mencintaiku.”

Reatha menundukkan kepala. Benar. Itulah yang sejak awal mereka sepakati. Namun, kalimat berikutnya membuat Azka tiba-tiba berubah.

“Kalau memang aku sibuk dengan istriku, kamu mau apa?” tanya Azka.

Suara Vania mendadak sunyi. Azka menatap kosong ke depan. Kemudian, dengan nada yang jauh lebih tegas, ia berkata,

“Apa kamu mau kita putus?” tanya Azka lagi. Diseberang sana, Vania tampak sangat terkejut mendengar ucapan kekasihnya itu.

1
Akasia Rembulan
feeling orang tua itu ngga pernah salah Azka..
Nar Sih
cerita yg bagus mama,asyik di bca nya👍🥰
Nar Sih
jls lah reata disana org istri nya
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!