Indonesia
NovelToon NovelToon
Ketika Hati Berubah Arah

Ketika Hati Berubah Arah

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:881
Nilai: 5
Nama Author: Fina Indri

Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.

Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.

Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.

Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?

Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal yang Mulai Terbiasa

Pagi itu, Almeera kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Ia bangun lebih awal, merapikan tempat tidur, kemudian bersiap untuk pergi ke kampus.nTidak ada yang terlalu berbeda dari pagi sebelum sebelumnya.

Namun tanpa ia sadari, beberapa kebiasaan kecil mulai berubah. Ia tidak lagi terburu buru meninggalkan rumah.

Ia juga mulai membiasakan diri sarapan sebelum berangkat. Ketika turun ke lantai bawah, Mama sudah menyiapkan makanan.

“Meera, sini sarapan dulu” panggil Mama.

“Iya, Mah” jawab Almeera.

Almeera duduk di meja makan.

Mama memperhatikan putrinya sebentar.

“Sekarang Mama tidak perlu mengingatkan kamu terus” ucap Mama.

Almeera tersenyum.

“Kan aku sudah besar” jawab Almeera.

“Dari dulu juga kamu bilang begitu,” ucap Mama.

Almeera tertawa kecil.

“Tapi sekarang aku mulai membuktikannya” jawab Almeera.

Mama mengangguk.

“Bagus kalau begitu” ucap Mama.

Setelah selesai sarapan, Almeera berdiri.

“Aku berangkat dulu, Mah” ucap Almeera.

“Hati hati” jawab Mama.

“Iya” jawab Almeera.

Sesampainya di kampus, Almeera langsung menuju kelas. Eliza sudah menunggunya di depan ruangan.

“Kamu makin rajin datang pagi” ucap Eliza.

Almeera tertawa.

“Jangan bilang begitu. Nanti aku balik telat lagi” jawab Almeera.

Eliza menggeleng.

“Kamu memang susah dipuji” ucap Eliza.

“Bukan begitu” jawab Almeera.

Mereka kemudian masuk ke kelas.

Perkuliahan berjalan seperti biasa.

Setelah dosen selesai menjelaskan materi, mahasiswa diberikan waktu untuk mengerjakan latihan secara mandiri.

Almeera membuka catatannya.

Ia membaca kembali materi yang baru saja dijelaskan.

Beberapa bagian masih belum ia pahami.

Ia mengangkat tangan.

“Pak, boleh saya bertanya?” tanya Almeera.

Dosen mengangguk.

“Silakan” jawab dosen.

Almeera kemudian menyampaikan bagian yang belum ia pahami.

Dosen menjelaskan kembali dengan contoh yang berbeda.

Setelah mendengarkan penjelasan tersebut, Almeera mengangguk.

“Oh, sekarang saya paham” ucap Almeera.

“Kalau masih ada yang kurang jelas, tanyakan” ucap dosen.

“Baik, Pak. Terima kasih” jawab Almeera.

Eliza yang duduk di sebelahnya tersenyum.

“Kamu sekarang sering bertanya” ucap Eliza.

“Daripada pura pura paham” jawab Almeera.

Eliza tertawa.

“Benar juga” ucap Eliza.

Setelah kelas selesai, mereka berjalan menuju kantin.

Namun baru beberapa langkah, Almeera melihat Rafael dan Daffa sedang berjalan dari arah berlawanan.

Daffa langsung menyapa.

“Almeera, Eliza,” panggil Daffa.

Almeera menoleh.

“Iya?” jawab Almeera.

“Mau ke kantin?” tanya Daffa.

“Iya,” jawab Eliza.

“Kami juga,” ucap Daffa.

Akhirnya mereka berjalan bersama menuju kantin.

Sesampainya di sana, mereka memilih meja yang cukup kosong.

Almeera duduk bersama Eliza, sementara Rafael dan Daffa duduk di seberang.

“Rafael, tugas mata kuliah kemarin sudah selesai?” tanya Daffa.

“Sudah. Tinggal dikumpulkan,” jawab Rafael.

Almeera ikut mendengar percakapan mereka.

“Cepat sekali,” ucap Almeera.

Rafael menoleh.

“Karena tugasnya tidak terlalu banyak,” jawab Rafael.

“Kalau tugas kami rasanya tidak pernah sedikit,” ucap Almeera.

Daffa tertawa.

“Memang beda kelas,” ucap Daffa.

Eliza mengangguk.

“Belum lagi kalau dosennya tiba tiba kasih tugas tambahan,” jawab Eliza.

Mereka kemudian berbicara mengenai perkuliahan masing masing.

Percakapan berlangsung ringan.

Tidak ada pembicaraan mengenai masa lalu.

Tidak ada pembicaraan mengenai hubungan.

Hanya percakapan sederhana antara teman teman yang sedang beristirahat setelah kelas.

Setelah selesai makan, Almeera dan Eliza kembali menuju gedung fakultas.

Di tengah perjalanan, Eliza memperhatikan Almeera.

“Kamu kelihatan lebih tenang sekarang” ucap Eliza.

Almeera menoleh.

“Memangnya dulu aku bagaimana?” tanya Almeera.

“Dulu kamu seperti selalu ingin melakukan semuanya sekaligus” jawab Eliza.

Almeera tersenyum kecil.

“Mungkin karena dulu aku tidak tahu cara berhenti” jawab Almeera.

“Sekarang?” tanya Eliza.

“Sekarang aku belajar biar tahu gimana cara berhenti” jawab Almeera.

Eliza mengangguk.

“Pelan pelan ya” ucap Eliza.

“Iya” jawab Almeera.

Sore harinya, Almeera pulang lebih awal.

Sesampainya di rumah, ia melihat Mama sedang duduk di ruang tengah sambil memegang ponsel.

“Assalamu'alaikum, Mah” panggil Almeera.

Mama menoleh.

“Sudah pulang?” tanya Mama.

“Sudah,” jawab Almeera.

Almeera kemudian duduk di sebelah Mama.

“Ayah sudah menghubungi Mama?” tanya Almeera.

Mama mengangguk.

“Tadi siang. Katanya pekerjaannya di luar negeri masih belum selesai,” jawab Mama.

Almeera mengangguk.

“Ayah kapan pulang?” tanya Almeera.

“Belum tahu pasti. Katanya masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan” jawab Mama.

Almeera menghela napas kecil.

“Aku kangen Ayah” ucap Almeera.

Mama tersenyum.

“Nanti kalau Ayah sudah selesai, pasti pulang” jawab Mama.

“Iya” jawab Almeera.

Ayah Almeera memang sedang berada di luar negeri untuk mengurus pekerjaan. Sudah beberapa waktu ia tidak berada di rumah.

Meskipun komunikasi tetap berjalan, suasana rumah terasa sedikit berbeda tanpa kehadirannya. Almeera kemudian berdiri.

“Aku mau ke kamar dulu, Mah” ucap Almeera.

“Iya” jawab Mama.

Di kamar, Almeera mengganti pakaian lalu duduk di meja belajar.

Ia membuka buku yang beberapa hari lalu dipinjamnya dari perpustakaan.

Namun sebelum membaca, ponselnya berbunyi.

Pesan masuk dari Eliza.

Eliza: Meera, besok jadi ke perpustakaan?

Almeera membalas.

Almeera: Jadi. Kenapa?

Eliza: Mau cari buku buat materi kuliah.

Almeera: Oke. Nanti kita cari bareng.

Setelah mengirim pesan, Almeera meletakkan ponselnya.

Ia kembali membaca.

Beberapa halaman berlalu.

Kemudian pikirannya berhenti pada satu hal.

Dulu, ia sering merasa bahwa hidup harus selalu ramai agar tidak terasa kosong.

Ia selalu ingin keluar.

Selalu ingin bertemu seseorang.

Selalu ingin mendapatkan perhatian.

Namun sekarang, ia mulai menemukan kenyamanan dalam hal hal sederhana.

Membaca.

Belajar.

Berbicara dengan Mama.

Menghabiskan waktu bersama Eliza.

Bahkan duduk sendirian tanpa merasa harus mencari seseorang.

Almeera tersenyum kecil.

Mungkin inilah yang selama ini tidak ia pahami.

Bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian.

Dan kehilangan seseorang tidak berarti hidupnya ikut berhenti.

Malam hari, Almeera kembali membuka buku catatannya. Ia menulis

Dulu aku takut sendirian.

Aku selalu merasa harus punya seseorang agar hidupku terasa lengkap.

Sekarang aku mulai mengerti bahwa aku tetap bisa menjalani hari meskipun tidak ada seseorang yang terus berada di sampingku.

Ia berhenti sejenak.

Kemudian melanjutkan.

Mungkin ini bagian dari prosesku.

Belajar menikmati hidup tanpa terus mencari seseorang untuk mengisi kekosongan.

Almeera menutup buku tersebut.

Ia kemudian berdoa sebelum tidur.

Hari itu tidak memberikan perubahan besar.

Tidak ada kejadian yang mengubah hidupnya.

Namun Almeera mulai memahami bahwa perubahan memang tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar.

Kadang perubahan justru terlihat dari hal hal kecil yang mulai terasa biasa.

Bangun lebih pagi.

Tidak mudah marah.

Berani bertanya.

Mau mendengarkan.

Mau belajar.

Dan yang paling penting, mulai nyaman dengan dirinya sendiri.

Almeera mematikan lampu kamar.

Ia kemudian berbaring dan memejamkan mata.

Besok mungkin akan sama seperti hari ini.

Kuliah.

Belajar.

Bertemu teman.

Pulang ke rumah.

Namun Almeera tidak lagi merasa bosan dengan rutinitas itu.

Karena sekarang ia tahu, hidup bukan hanya tentang menunggu sesuatu yang besar terjadi.

Kadang, menjalani hari dengan lebih baik pun sudah merupakan sebuah kemajuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!