Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 21: Ruang Tidur yang Asing
...MENGULANG LUKA...
...Bab 21: Ruang Tidur yang Asing...
Mobil mewah itu akhirnya berhenti di halaman depan mansion keluarga Edgar. Tanpa menunggu Julian membukakan pintu atau sekadar berjalan bersisian, Valencia langsung turun dan melangkah lebar masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya begitu tenang namun mantap, seolah ingin segera mengakhiri malam yang melelahkan ini.
Julian menyusul di belakang dengan rahang terkatup rapat. Di dalam foyer yang megah, beberapa pelayan membungkuk hormat, tetapi atmosfer dingin di antara pasangan suami istri itu membuat tak ada satu pun pekerja yang berani bersuara.
Valencia naik ke lantai dua, menuju kamar utama mereka. Saat melangkah masuk, dia langsung menuju lemari pakaian, mengambil gaun tidur yang nyaman dan satu set pakaian ganti untuk esok hari, lalu memasukkannya ke dalam tas bahu kecil.
Julian yang baru saja menutup pintu kamar membeku melihat tindakan istrinya. Keningnya berkerut dalam, rasa panik yang kaku kembali menyengat dadanya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Julian dengan suara bariton rendah yang menegang.
Valencia berbalik, menatap pria bertubuh 190 sentimeter itu dengan binar mata jernih tanpa riak emosi. "Saya akan tidur di kamar tamu malam ini."
"Tidak ada yang tidur di kamar tamu," potong Julian cepat, langkah lebarnya langsung memangkas jarak di antara mereka. "Ini kamar kita, Valencia."
Sebuah senyum tipis, sarat akan kegetiran dan sindiran halus, terulas di bibir Valencia. "Kamar kita? Dulu, ketika saya selalu menunggu Anda pulang sampai larut malam di tempat tidur ini, Anda justru lebih sering menghabiskan malam di ruang kerja atau bahkan tidak pulang sama sekali. Anda yang membuat kamar ini terasa asing untuk saya."
Kata-kata itu terucap begitu tenang, tetapi sanggup menghantam dada Julian dengan telak. Pria itu tertegun, lidahnya mendadak kaku untuk membela diri. Ingatan masa lalu menghantamnya kembali—bagaimana dia selalu membiarkan Valencia sendirian di kamar dingin ini demi alasan kesibukan bisnis dan ego pribadinya.
"Itu... itu dulu," racau Julian kaku, suaranya melunak secara tidak wajar sewaktu dia berusaha menahan Valencia. "Mulai malam ini, aku akan tidur di sini."
Valencia menatap wajah suaminya yang tampak frustrasi dan serba salah. Dulu, kata-kata itu adalah impian terbesarnya. Namun sekarang, setelah mengalami kepahitan dan kehancuran di kehidupan sebelumnya, kehadiran Julian di ranjang yang sama justru hanya memberikan penekanan yang menyiksa.
"Tapi saya tidak lagi menginginkannya, Tuan Edgar," bisik Valencia halus, namun ketegasannya tak tergoyahkan.
Valencia menggeser tubuhnya melewati Julian tanpa menyentuh pria itu sedikit pun. Dia meraih gagang pintu kamar utama, lalu berbalik sekilas.
"Selamat malam, Tuan Edgar. Tolong jangan ganggu waktu istirahat saya."
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang halus namun tegas.
PRANG!
Bunyi nyaring pecahan kaca membentur dinding seketika memecah keheningan kamar utama. Julian, dengan deru napas memburu dan amarah yang meledak, baru saja meraih gelas kristal di atas nakas lalu melemparnya hingga hancur berkeping-keping di lantai.
Gurat kekalahan dan kepanikan yang sempat singgah di wajah tampannya perlahan menghilang, tergantikan oleh topeng keangkuhan yang tebal.
Sudah cukup... aku terlalu memanjakannya, batin Julian tajam. Pria itu kembali mengeras, memasang raut wajah paling dingin yang dia miliki—berusaha menepis kenyataan pahit bahwa sang penguasa Edgar Group telah terkunci di balik kehampaan pilihannya sendiri.